LIAMARLO

LIAMARLO
Pria bertopeng



Sejak dulu, Kak Liam memanglah misterius.


Namun, kemisteriusannya hilang karena sifatnya yang sangat jahil kepadaku.


Saat makan, Aku terus kepikiran tentang kematian Putra Mahkota Alter dan apa yang telah dilakukan oleh Kak Liam.


Imajinasiku yang liar ini, seolah olah mengambarkan kejadian yang harus tak terjadi pada keduanya.


Sepanjang serapan, Aku selalu berfikir postif tentang luka dan darah yang ada di rambut Kak Liam.


Sarapan telah usai, Aku langsung kembali kekamarku.


Aku melihat Kak Liam yang masih tertidur pulas dikasurku.


Ucapan Ayah menimbulkan kecurigaan di pikiranku.


Aku melihat lengan Kak Liam dari selimutku yang terbuka.


"Apa ?" Aku terkejut melihat luka yang tadi pagi kulihat, kini telah menghilang dari lengan Kak Liam tanpa berbekas.


"Apa Aku salah lihat ya .... Tadi pagi ?" Batinku.


Kak Liam membuka matanya sebelum Aku membangunkannya.


"Sudah selesai sarapan ?" Tanyanya dengan suara serak sambil duduk.


"Iya Kak" Jawabku yang masih berdiri ditempat.


"Jangan lupa berak setelah sarapan" Kata Kak Liam sambil berdiri dan berjalan kearah jendela untuk mengambil Jubah birunya yang Ia gantung.


"Lagi-lagi jangan lupa berak. Apa nggak ada yang lain gitu Kak ?" Tanyaku.


"Ya... Lalu apa lagi yang dilakukan setelah makan ? nggak mungkinkan kalau Kau tidur lagi?" Tanyanya.


Aku menghela napas


"Gantilah dengan nasehat yang lebih baik untuk membangun diriku agar lebih dewasa Kak" Kataku.


"Ya sudah. Jangan dewasa dulu, Dewasa itu menyakitkan. Nikmati saja hidupmu yang sekarang ini dan tetaplah panggil Aku Kakakmu" ucapnya tanpa melihatku.


"Yaelah, sok sok an ngelarang Aku untuk Dewasa. Lah Kakak sendiri sifatnya masih kayak bocah gitu" Gumamku.


"Hah ?" Tanya Kak Liam sambil melihat kearahku dan mengenakan jubah birunya.


"Ha?! Enggak Kak" Jawabku.


"Oh iya Kak. Apa Kakak tau kalau Putra Mahkota Alter meninggal ?"


Aku memancing Kak Liam.


"Apa ?!!" Kak Liam menunjukkan ekspresinya seperti ekspresi pelayan tadi pagi.


Dari ekspresi yang diberikan Kak Liam, Aku langsung menyimpulkan kalau Ia tidak tau dengan kematian Putra Mahkota Alter.


"Ayah juga tadi mencari Kakak, Beliau ingin bertanya tentang hal ini dengan Kakak" Kataku.


"Oh, Aku akan menemuinya setelah Kalian melayat. Aku akan keluar dulu" Kata Kak Liam sambil membuka jendela kamarku.


"Kak! Tunggu!" Panggilku sambil menarik jubahnya karena Kak Liam berancang untuk melompat dari jendela.


"Ada apa ?" Tanyanya sambil menatapku.


Aku melihat mata birunya yang berpupil merah.


Sepoian angin hangat menyepoi rambut putih Kak Liam yang halus.


"Kenapa Kakakku yang satu ini sangat tampan?" Sekejap Aku melamun.


"Hei, Ada apa ?" Tanya Kak Liam yang menyadarkan lamunanku.


Aku langsung melepaskan jubah Kak Liam yang kupegang.


"Ah! Anu Kak, Kenapa nggak lewat pintu depan saja ? Ini kan bahaya Kak" Kataku.


Senyuman Kak Liam mengembang dan Aku melihat pipi Kak Liam yang sedikit merona.


Kak Liam langsung memegang kepalaku.


"Aku tidak akan mati hanya karena melompat dari lantai dua. Ketemu lagi nanti malam. Syuuut" Ucap Kak Liam sambil melepas tangannya dan melompat begitu saja.


"Hah?!" Aku yang syok langsung melihat kebawah.


Dan Kak Liam melambaikan tangannya padaku.


"Sialan. Kenapa kakinya tidak patah saja saat turun tadi" Lirihku sambil membelas lambaiannya.


"Jangan dicoba coba ya" Kata Kak Liam dan langsung pergi mengendap endap.


"Ah, sudahlah... yang penting bukan Kak Liam yang membunuh Putra Mahkota Alter demi Aku. Bisa jadi, diluar sana memang ada orang yang sudah merencanakan pembunuhan itu"


Aku menutup jendela dan langsung bersiap untuk melayat.


Aku dan Ayahku pergi melayat sedangkan, Kak Kyle yang merupakan Putra Mahkota Kerajaan Nelzefvia tetap dikerajaan menggantikan Ayah hanya saat Kami pergi saja.


Kami melakukan perjalan Kekerajaan Nelzefvia hampir 6 jam perjalanan.


Jalan yang Kami tempuh merupakan jalan pintas.


Bila Kami melewati jalan biasa mungkin akan memakan 9 jam perjalanan.


Banyak sekali yang kulihat saat diperjalan.


Aku jarang keluar dari Kerajaan Nelzefvia, bila itu bukanlah hal yang penting dan mendadak.


Aku meminta Ayahku untuk langsung pulang setelah melayat.


Ayahku menyetujuinya.


Aku ingin pulang cepat bukan karena ditunggu oleh Kak Liam.


Tapi, Aku tidak kerasan berada diluar Istana apa lagi hingga keluar dari kerajaan.


Disana banyak sekali yang melayat.


Aku disambut oleh Ratu Kerajaan Alter.


"SREEEEKKKKK!!!!!!" Rambut hitamku yang digelung langsung dijambak olehnya.


"Ahk!! AYAH!" Teriakku memanggil Ayahku yang tak jauh dariku.


"LAURA!!" Ayahku yang mendengar teriakanku langsung berlari kearahku.


"INI SEMUA KARNA MU! PUTRA KESAYANGANKU MATI KARNA MU!!!!!!" Teriak Ratu Kerajaan Alter itu.


Disana, tidak ada yang memisahkan kami.


Tamu tamu yang melayat hanya menontonku.


Ayahku datang dan menolongku.


Jambrakannya terlepas dari rambut kepalaku setelah Ia ditenangkan oleh Suaminya sendiri. Yakni, Raja kerajaan Alter.


Kulit kepalaku terasa sangat sakit.


"Steve mati bukan karena Putri Laura, Dia mati karena sudah takdirnya" Kata Raja Alter itu.


Ayahku mengusap kepalaku..


"Baginda, maafkan Istri Saya, Dia pasti syok dengan kematian putra Kami" Kata Raja Alter sambil membungkuk dihadapan Kami.


Ayahku tidak menjawabnya dan langsung membawaku kembali ke kereta kuda.


"Kita Pulang" Ucap Ayah.


"Ayah, kenapa Ayah marah ?" Tanyaku.


"Harusnya, Dia meminta maaf kepadamu. Bukan kepadaku" Jawab Ayahku.


Kereta kuda mulai dijalankan.


Kami telah melewati empat jam perjalanan.


Hari semakin malam, suasana dingin dan senyap mulai terasa.


Aku mulai mengantuk karena bosan.


"BRAKKKKKK!!!!!! TRASHHH!" Suara hantaman keras dan tebasan pedang terdengar.


Rasa kantukku menghilang karena guncangan dari kereta kuda.


"AAAAAAAAA!!!!" Suara teriakan prajurit yang kudengar.


Aku mencium bau anyir.


"Ada apa ini ?!" Tanya tegas Ayahku didalam kereta kuda sambil mengintip keluar jendela.


Ayahku, ditodongi pedang oleh seorang berjubah dan mengenakan topeng penutup wajah.


Aku langsung membelalakan mataku karena terkejut.


"Siapa Kalian?! Tanya Ayahku sambil mencolet lenganku.


Ayahku memberi kode untuk mengambilkan pedangnya dibelakang tempat dudukku.


Aku mengerakkan tanganku perlahan.


Dikeadaan seperti ini, sangatlah tidak menguntungan bagi pihak Kami.


"Keluar dan angkat tangan kalian" ucap sosok bertopeng itu.


Sedikit lagi, Aku hampir meraih pedang Ayah.


"Tep!" Aku berhasil mengambil pedang Ayah.


Namun, sesuatu yang dingin menyentuh leherku.


"Jatuhkan pedangmu. Bila Kau tak ingin terpisah dengan Kepalamu cantik~" Suara laki laki dibelakangku sambil mengalungkan pedang kecilnya dileherku.


DEGH! DEGH!


Jantungku memompa dengan cepat.


Ayahku melihatku sambil membelalakan matanya.


"Ayah, jangan pikirkan Aku. Ini pedangnya" Lirihku sambil sedikit mengangkat pedang ayahku yang berat.


"Treesh..." Sosok bertopeng dibelakangku menekan pedang mananya kearah keleherku.


Rasa gatal dan perih mulai terasa dileherku.


"Turunkan pedangnya!" Tegas pria bertopeng dibelakang Ayahku.


"Jatuhkan pedangnya Laura" Pinta Ayahku dengan raut yang sangat khawatir.


"Turunkan pedangnya Putri~~" Kata bernada Pria dibelakangku.


Aku melepaskan pedang Ayahku yang sudah kulepaskan sarungnya dihadapan Ayah.


Ayahku tersenyum padaku.


Dan dengan cepat, Ayahku langsung mengambil pedang itu dan tanpa pikir panjang.


"SYUUUUT!!" Ayah langsung melepar pedangnya kearah sosok bertopeng dibelakangku.


"JLEB! CRAT! BRAKKK!!!!" Pedang perak Ayahku, Langsung menembus kepala sosok beropeng itu, dan darahnya sedikit muncrat mengenai pipiku, serta sosok bertopeng itu menghantam pohon dibelakang jendela kereta kuda Kami.


Tragisnya, Ayahku tidak menghiraukan pria bertopeng dibelakangnya.


"JLEEEBBBB" Pedang besi milik pria bertopeng dibelakang Ayah menembus dada Ayah dari belakang.


"Sialan, kenapa Kau membunuh rekanku ?" Tanya pria bertopeng putih dibelakang Ayah.