
"Maafkan Kak Liam ya Kak, karena telah merepotkan Kakak dengan hal yang harusnya tidak perlu Kakak lakukan" Kataku yang tidak enak pada Kak Dera.
"Tidak masalah Putri, Pangeran Liam melakukan ini untuk melindungi Anda. Segala sesuatu harus dipersiapkan sebelum hal buruk terjadi. Saran Saya, sebisa mungkin Anda hindari Pelayan kepercayaan Raja Nelzefvia" Kata Kak Dera.
"Kenapa ?" Tanyaku.
"Sudah, Anda makan dulu. Kata Pangeran Liam, Anda sedang sakit. Jadi, lekas sembuh dan selamat malam" Kata Kak Dera sambil membungkuk dan pergi.
...***...
Keesokan paginya.
Hari ini, seperti yang dikatakan oleh Kak Liam sebelumnya kalau, Kakek mengadakan Sayembara untuk pemilihan calon penerusnya.
Aku sedang duduk disamping Kakek untuk menikmati sayembara ini.
Di sayembara ini, bukan hanya dihadiri oleh Kakek saja melainkan, dihadiri juga oleh para wali Saudara saudaraku yang ikut serta dalam sayembara ini.
Awalnya, Kak Liam tidak ingin mengikuti acara seperti ini.
Tapi, Aku memaksanya.
Menurutku sendiri, Kak Liam adalah seorang laki laki yang cocok menjadi penerus Kakek, Kak Liam juga terkenal akan ketangkasan Ia dalam mengayunkan pedang dan menyusun strategi lebih baik dari Kak Kyle.
"Ah, Jadi rindu dengan Kak Kyle. Bagaimana ya kabarnya sekarang ? Apa Dia baik baik saja ?" Gumamku.
"Hei Laura! Ngelamunin apa ?" Tanya Kak Liam yang tiba tiba muncul dari sampingku.
"DEGH!" Aku terkejut tiba tiba Kak Liam muncul.
"Brak!" Aku langsung berdiri.
"Huah?! Hep!" Aku langsung menutup mulutku.
"Ehem..." Aku bedehem.
"Anda membuat Saya terkejut Pangeran" Kataku dengan bahasa dan sikap yang formal.
Kak Liam mendekatkan mulutnya didekat telingaku.
"Lucu sekali, Kenapa Kau bersikap formal padaku saat diluar ? Hemmm? ~~" Tanya bernada Kak Liam.
Aku menatap Kak Liam sambil melototkan mataku.
"Berisik! Gini gini Aku seorang Putri! Aku juga harus memiliki pandangan yang baik mata orang lain" Tegasku dengan lirih.
"Wih, ternyata Kau memang Laura. Huegeggege" Lirih Kak Liam sambil terkekeh kecil.
"Mau naik kuda ? Angap Aku sebagai pangeran berkuda putihmu yang sementara" Tanya Kak Liam.
Aku tersenyum.
"Nanti saja Kak, setelah semua acara sampai prngangkatannya selesai" Kataku.
"Eh ? Acara ini sampai pengangkatnya selesai kapan Kek ?" Lirih Kak Liam sambil berjalan kearah Kakek.
"Dua hari lagi. Setelah perjamuan untuk menenangkan fisik dan mental Kalian" Jawab Kakek.
"Baiklah, Tiga hari lagi. Kau harus naik kudaku. Kalau begitu, Aku akan bersemangat untuk mengakhiri hari ini! Drap!" Tegas Kak Liam sambil lari.
"Dia itu, membuat malu saja" Batinku.
"Laura....." Panggil Kakek.
Aku melihat Kakek yang sedang melihat Kak Liam yang berlari menjauh.
"Ada Apa Kek ?" Tanyaku.
"Sayangi Kakakmu seperti Kau menyayangi dirimu. Dia sangat menyayangimu loh. Jadi, jangan buat Dia gelisah." Kata Kakek.
"Iya Kek" Kataku.
"Tadi malam, Liam memaksa untuk tidak ikut makan malam karena Liam melihatmu sakit" Kata Kakek yang masih melihat kearah Kak Liam yang berbincang dengan saudaranya yang lain.
"Degh!"
Aku terkejut dan sekaligus tertawa dalam batin.
"Kemudian, Aku bertanya padanya dengan nada sedikit membentak. Apa Kau menyukai adikmu ?" Kata Kakek.
Aku sedikit membelalakan mataku.
"Dia berkata, Aku hanya peduli padanya, Karena Aku ingin menjadi Kakak yang baik untuknya. Dia sangat menyayangi mu. Hingga Dia mencari kusir pribadimu untuk mengawasi para pelayanku yang menyiapkan makananmu kemudian kembali ikut makan malam" Cerita Kakek.
"Eh.....? Kalau begini, berarti Kak Liam dan Arlo, beda orang ?" Batinku.
Aku, lumayan penasaran tapi, Aku merasa sedikit lega.
"Jadi Laura pesan Kakek, Kau harus jaga kesehatanmu ya, dan jangan buat Liam khawatir" Kata Kakek sambil melihatku.
"Baik Kek" Kataku.
Dikepalaku, muncul banyak sekali pertanyaan yang ingin kutanyakan.
Masa iya, Arlo bisa kagebunshin - nya Pak Kades dari Konoha ?
Itu sangat tidak mungkin.
Atau, jangan jangan Kak Liam adalah sosok yang menyamar menjadi Arlo ? Dan, yang sempat kutemui bersama Kak Liam dirumah tua itu adalah Arlo yang Asli ?
Ini bisa jadi, bukankah Kak Liam sempat menunjukkan padaku kalau Dia bisa sulap ?
Sulap yang Ia tunjukkan itu, bukankah diperoleh dari energi sihir ?
"Laura..." Kakek membangunkanku dari lamunan yang sangat mengasah otak barusan.
"Ah! Iya Kek?!" Aku sangat terkejut.
"Ngelamunin Apa ?" Tanya Kakek.
"Ah, itu Kek, hanya berfikir, Siapa yang akan menjadi penerus Kakek" jawabku sambil tersenyum.
Kakek membalas senyumanku.
"Walau Liam kemungkinan besar menang, Dia pasti tidak ingin mendudukki tahtaku" Kata Kakek.
"Eh ? Bagaimana Kakek bisa tau ?" Tanyaku.
"Bukankah Kakek sudah bilang, Kalau Kakakmu sangat mencintai Nenek dan ikut ikutan sifat nenekmu juga. Dari suka cokelat, suka kehutan, sifatnya yang suka bercanda, suka berakting yang sering membuat Kakek jantungan, dan masih banyak lagi" Kata Kakek.
"Kek, sebenarnya, Kenapa Kakak sampai sebegitunya pada nenek ?" Tanyaku.
"Ah! Ya.... Biar, Kakakmu yang menjawab itu. Kalau Kakek yang cerita, Dia pasti bakalan merajuk pada Kakek. Hohoho..." Lirih Kakek sambil memainkan kumis putih abu abunya.
"Kek, Apa Kakek sampai sekarang masih berteman pada.... Ah tidak jadi Kek" Aku menunda pertanyaanku karena ditempat seperti ini, tidak cocok untuk bertanya tentang Arlo padanya.
"Tidak apa apa, bertanyalah dengan lirih. Kau mau menanyakan tentang Arlo ?" Lirih Kakek.
Aku mengangguk.
"Kami masih berteman. Tapi, Kakek rasa hanya Kakek yang menganggap Ia teman. Lalu, Arlo itu orangnya menjengkelkan" Kata Kakek sambil melihat kedepan
Ya, Aku percaya itu.
"Kek, Aku dengar. Arlo dan Kak Liam sama sama mencintai Nenek. Apa Arlo dan Kak Liam punya suatu hubungan ?" Tanyaku.
Kakek langsung melihatku.
Dari raut Kakek, Aku melihat Ia sedikit terkejut.
"Liam dan Arlo tidak memiliki hubungan apa apa. Hanya sebuah kebetulan saja mereka terlihat mirip" Kata Kakek yang tidak melihatku.
Aku tak ingin lanjut bertanya lagi.
Kurasa, pertanyaan barusan sedikit membuat Ia marah padaku.
Acara Pagi ini dimulai dengan pemanasan para Pangeran dengan memacu kuda mereka sambil mencari hewan liar yang bisa digunakan untuk jamuan para tamu yang hadir.
"Apa Kali ini Kakek malas mengeluarkan uang untuk menjamu para tamu ? Pelit sekali" Batinku sambil sedikit melirik Kakek.
Untuk pemanasan Kali ini, sesuai yang diinformasikan.
Hasil perburuan dilihat dari kelayakan untuk dimakan, ukuran dan berapa banyak luka di hewan yang diburu.
Mereka tetap akan mendapatkan poin maksimal 5 poin untuk pemanasan dan 5 poin tambahan bagi yang mendapatkan hewan buruan yang sesuai dengan poin poin diatas.
Untuk babak pemanasan, Kakek hanya memberi waktu dua setengah jam untuk berburu.
Para Pangeran mulai memacu kudanya dan memasuki hutan dibelakang Istana atau didepan Kami semua.
Dua jam telah berlalu, Enam Pangeran telah kembali.
Aku tidak melihat adanya kehadiran Kak Liam.
Apa, Kak Liam akan baik baik saja ?
Kurang Lima belas menit kemudian,
Kak Liam masih tak Kunjung kembali.
Sepuluh orang Pangeran telah kembali.
Tinggal Kak Liam dan Pangeran Gevand yang belum kembali.
"Tenang saja Laura. Semua cucu cucu Kakek adalah orang Kuat. Mereka pasti sedang perjalan kemari" Lirih Kakek untuk menenangkanku.
Akhirnya, sepuluh menit kemudian, Aku baru melihat Kak Liam dan Pangeran Gevand yang berjalan sambil menarik kuda milik Pangeran Gevand yang sedang membawa seekor kancil diatasnya.
"Lah, Kuda Kakak dimana ?" Lirihku yang melihat Kak Liam kembali tanpa membawa Kuda.
"Bruak!" Pangeran Gevand langsung melepaskan ikatan kuda yang Ia pegang.
"Eh ? Apa yang terjadi ?" Para tamu yang melihat Pangeran Gevand menjatuhkan kancil yang Ia buru itu terkejut.
"Drap! Andreaassss Sialan! Kemari Kau !!!!!" Pangeran Gevand sangat marah dan langsung berlari sambil mengeluarkan Pedangnya kearah Cucu ke empat Kakek yang berusia 20 tahun itu.
"Gevand! Hentikan!" Tegas Kak Liam sambil berlari dan menarik kera baju milik Pangeran Gevand hingga Pangeran Gevand terjatuh.
Baju putih agak biru muda dan celana abu abu Kak Liam terlihat sangat kotor seperti habis terjatuh.
"Liam! Lepaskan Aku!" Teriak Pangeran Gevand yang sangat marah.
"Ada apa ini ? Kenapa Dia sangat marah begitu ?" Batinku.
"Brak!" Kakek langsung berdiri.
"Gevand! Apa yang terjadi ?! Kenapa Kau datang marah marah pada Andreas ?!" Tanya Tegas Kakek.
Semua pandangan menuju Kekakek.
Pangeran Gevand langsung duduk dan bertekuk lulut.
"Maafkan Saya Paduka Raja! Pangeran Andreas telah.... DUAAAAGH!" Ucap Pangeran Gevand yang belum usai karena Kak Liam memukul tengkuk Pangeran Gevand hingga Pangeran Gevand pingsan.
"Bruk!"
Kak Liam membungkuk dihadapan Kakek.
"Maafkan Pangeran Gevand atas tingkahnya yang kekanak kanakan, Baginda. Pangeran Gevand baru saja terhantuk dahan karena kecerobohannya dan menyalahkan Pangeran Andreas yang dibelakangnya" Kata Kak Liam sambil kembali berdiri tegak dan melihat kekakek.
"Lalu, Dimana hasil buruanmu dan dimana kudamu ?" Tanya Kakek.
"Anjing buruan Saya, diambil oleh Babi biadab yang telah menyerang kuda Saya hingga Kuda Saya terperosok dijebakan babi itu" Jawab Kak Liam.
"Hah ? Babi ngambil anjing ? Nggak kebalik?" Batinku.
"Begitu, Baiklah. Istirahat 15 menit setelah itu kembali. Jangan lupa bangunkan Gevand" Kata Kakek.
"Terima kasih Baginda, Atas kebaikkan Anda" Jawab Kak Liam sambil membungkuk.