
"Lusa, Seluruh keluarga Dynantya akan berkumpul disini. Penjagaan akan diperketat. Dan setelah ini Aku akan memanggil beberapa orang terbaik Dynantya untuk mengusut dan mencari pelaku itu yang bersembunyi diantara kita semua" Lajut kata Kakek sambil berdiri.
"Laura, Kembalilah keruanganmu. Setelah ini akan ada guru privat yang akan mengajarimu" Kata Kakek.
"Baik Kek. Terima kasih" Kataku sambil membungkuk dan pergi.
...***...
Diruangan belajar....
"Selamat Siang Putri, Saya Guru Privat baru Anda, nama Saya, Akihiro Albert" Kata sosok laki laki muda dihadapanku.
Aku berdiri dan sedikit membungkukkan badanku.
"Selamat Siang Guru, Saya Nelzefvia Laura. Mohon bantunya" Kataku.
"Baiklah Putri, Anda bisa memanggil nama Saya Hiro saja, Kita seumuran" Kata Dia dengan santai sambil duduk di kursi didepanku.
"Eh ?! Seumuran? Hebat sekali...." Lirihku.
Dia tersenyum.
"Tentu saja Saya harus hebat. Saya adalah anak dari guru terbaik dinegri ini. Dan sekarang Saya menjadi Guru sekaligus teman Anda" Ucapnya.
"Kita akan bermain sesekali dihari minggu" Lirihnya.
"Baik!" Tegasku.
"Dia typeku ! Tinggi, manis, pintar, berambut hitam, dan Ugh! Huahhhhh!!!! nggak bisa dijelasin!!!!" Batinku yang gak jelas.
"Baiklah, sekarang sebelum masuk pelajaran, ada beberapa hal yang ingin Saya tau"
Aku menyimaknya.
"Pertama, pelajaran apa yang anda sukai ?" Tanyanya.
"Sejarah"
"Lalu, pelajaran apa yang Anda benci ?" Tanyanya.
"Sejarah dan matematika" Jawabku.
"Eh ? bukankah Anda suka dengan pelajaran sejarah ? Lalu kenapa Anda juga membencinya ?" Tanya Hiro.
"Sejarah menyenangkan saat dapat cerita mengenai masa lalu, tapi, sejarah juga membuat orang pusing karena misteri yang terjadi dimasalalu. Seperti matematika yang padahal sudah ilmu pasti dan rumusnya sudah diketahui dan terlah ditetapkan. Tapi entah kenapa itu membuatku kesulitan dan kepalaku serasa ingin ku copot dan ku tukar otakku dengan otaknya Kak maksud Saya, Pangeran Liam"
"Sial.... Aku terlalu banyak bicara hingga Aku lupa kalau Aku seorang Putri....." Batin ku.
"Ahahhaaa.... Saya juga begitu. Saya suka dan tidak suka dengan pelajaran bahasa, karena didalam bahasa masih ada anak pinaknya yang terkadang membuat Saya kesulitan. Tapi, semua ini tetap Saya jalani. Karena apa ? Saya ingin seperti Ayah Saya yang menjadi Guru terbaik dinegri ini" Jelas Hiro.
"Wah, Pasti Ayah Anda akan bangga dengan ketekunan Anda ini" Kata ku.
"Ya, Saya harap, begitu" Jawabnya sambil sedikit menunduk.
"Eh ?....." sekilas ekspresi yang dikeluarkan Hiro seperti ekspresi sedih.
"Ehm! Kalau begitu, pertanyaan selanjutnya, Mau pembelajaran yang seperti apa ? Fokus serius atau serius dan bercanda seperti kerja kelompok ?" Tanyanya.
Ya Aku pilih yang enak dong!.
"Seperti kerja kelompok" Jawabku.
"Baiklah, kalau begitu. Kita mulai kerja kelompoknya" Kata Hiro
...***...
Jam dinding terus berjalan.
Hiro benar benar mengajar layaknya seorang teman dikelas.
Aku suka metode pembelajaran yang seperti ini.
"Baik lah, Istirahat 15 menit dulu" Kata Hiro.
"Anu... Hiro.." Panggil ku.
"Iya ? Kenapa?" Tanyanya dengan halus.
"DEGH ! Anjay......" Batin ku.
"Itu, Apakah Saya akan mendapatkan pelajaran keputrian dari Hiro juga ?" Tanyaku.
"Ya, Saya kalau belajar dulu, mungkin bisa mengajari Anda. Memang biasanya apa yang diajarkan saat dikelas keputrian ?" Tanyanya.
"Menenun, memasak, cara makan dan minum, ya intinya pembelajaran yang dilakukan oleh seorang putri" Jawabku.
"Ah! Sepertinya Saya tidak bisa mengajarkan hal itu. Tapi, Saya bisa mengajarkan hal lain yang bisa berguna dimasa depan" Katanya sambil sedikit tersenyum.
"Hal Apa itu ?" Tanyaku.
"Eh ? Apa mengajarkan sesuatu yang berguna dimasa depan bisa membuatnya malu seperti ini?" Batinku.
"Ya, untuk sekarang Anda istirahat dulu" kata Dia sambil duduk ditempat lain dan membaca buku lain yang Ia bawa.
"Baik"
"Orang pintar memang berbeda sekali ya, Istirahat digunakan untuk membaca buku. Lah, Aku, Istirahatku kuisi apa coba ?" Batinku sambil melihat keluar jendela.
"Putri, bila Anda ingin keluar sebentar tidak apa apa. Saya akan memanggil Anda setelah ini" Kata Hiro.
"Ya, terima kasih" Jawabku.
" Yah, Jadi Kangen sama Scarlette dan Veronicca . Apa Kakek mau mengundang mereka dan keluarganya lusa ya?" Batinku.
"Hah......" Menghela napas panjang.
"Apa mereka baik baik saja di Nelzefvia?" Batinku.
"Putri, Apa Anda merasa bosan ?" Tanya Hiro yang sudah ada disampingku.
Aku agak terkejut karena Ia berada di sampingku.
"Ah tidak! Saya tidak merasa bosan!" Tegasku.
"Syukurlah. Saya pikir Anda merasa bosan. Kalau Anda merasa bosan, katakan saja. Saya tidak terlalu paham dengan wanita, Jadi bila ada yang mengajal katakan saja" Kata Hiro sambil menyenderkan pungungnya di tembok dekat jendela.
"Ah, baik" Kata ku sambil melihat Kak Liam yang sedang berlatih tarung dengan Pangeran Gevand.
"Pangeran Liam, Dia adalah sosok gambaran kesempurnaan dinegri ini. Bukan hanya terkenal dengan ketampanannya, Ia juga terkenal akan kepintaran dan ketangkasannya. Ia cocok untuk menjadi raja yang berikutnya. Benarkan Putri ?" Tanya Hiro.
"Iya, Dia memang sempurna. Tapi, sesempurnanya orang, Dia pasti memiliki titik lemah" Kataku.
"Apa Anda tau, beberapa orang dinegri ini menuduh Pangeran Liam sebagai Arlo. Beberapa orang juga membencinya karena hal itu" Kata Hiro.
"Anda sendiri, Apa membenci Pangeran Liam ?" Tanyaku.
"Ya, sedikit" Jawabnya.
Aku kaget.
"Apa yang Anda benci ?" Tanyaku.
"Aku tidak bisa mengalahkannya dibidang manapun. Dia pintar, tangkas,cepat tanggap, kuat, Dia hebat disegala hal. Saya tidak mungkin bisa mengalahkan Dia yang berada dipuncak teratas" Kata Hiro.
Dia merasa iri ?
"Tapi, Saya juga menyukainya" Kata Hiro.
"Degh!" Aku terkejut tidak main dan langsung melihatnya.
" Kau menyukai Pangeran Liam ? Lope lope gitu ?" Tanyaku sambil membuat tanda hati dijari jariku.
"Eh?! Nggak gitu! Maksud Saya! Saya suka bila Pangeran Liam mau menjadi rival Saya !" Tegas gelagapan Hiro.
"Baik! Mari jadi rival" Kata Kak Liam yang tiba tiba ada di balik jendela.
"Huah! Pangeran !/ Kak!" Teriak Hiro dan Aku bersamaan.
"Minggir Laura" Kata Kak Liam sambil berancang melompat.
Aku langsung minggir.
"Tep!" Kak Liam melompati jendela.
"Siapa namamu ?" Tanya Kak Liam sambil melihat Hiro.
"Akihiro Albert" Jawab Hiro.
"Grep!" Kak Liam menarik kera Hiro.
"Kak...." Lirihku.
Aku melihat tangan Hiro yang gemetar.
"Baiklah Akihiro, Hari ini Kau rivalku. Kau tidak akan kubiarkan melangkah sesenti didepanku" Ancam Kak Liam.
"Ah, Sa... Saya juga.... ti tidak akan mem..membiarkan An..da melangkah leb...bih jauh lagi..." Hiro berkata dengan terbata bata dan memukul pelan dada Kak Liam.
"Itu tidak mungkin, Aku pasti yang lebih terdepan" Kata Kak Liam sambil melepas kera Hiro.
"Benarkan Laura ?" Tanya Kak Liam sambil menunjukan jari jarinya yang membentuk hati padaku.
"Astaga..... Kak Liam salah paham" Batinku.
"Iya Kak" Jawabku sambil membalas jari bentuk hati Kak Liam.