
"Laura, Andreas.... terima kasih telah menyelamatkanku. Tapi tumben, biasanya Liam bersamamu Laura. Dimana Dia ?" Tanya Kyle.
Andreas berhenti tertawa dan Laura langsung diam di tempat.
Andreas duduk dari tidurnya.
"Raja Dynantya mati di bunuh musuh. Sedangkan Pangeran Liam mati atas keinginannya sendiri" Jawab Andreas.
"Hah?!" Kyle terkejut dan langsung melihat kearah Andreas.
...***...
Pertanyaan Kyle mengingatkan kejadian yang menimpa keluarga di Dynantya.
Laura terdiam sambil membiarkan Andreas bercerita tentang kejadian terserbut pada Kyle.
Kyle benar benar tidak percaya hal itu terjadi pada Liam dan Kakeknya.
Andreas juga berkata kalau Aelius sempat berkata kalau Liam adalah putranya dan bukan cucunya.
Kyle menutup wajahnya mendengar kebenaran itu yang menimpa Liam.
Kyle benar benar menyesal karena telah menyakiti Liam selama ini.
"Percuma saja menyesal sekarang. Pangeran Liam sendiri yang meminta Arlo untuk membunuhnya. Saya berani berkata begini, karena Saya berada disana saat kejadian tersebut" Kata Andreas.
"Lalu, bagaimana dengan kondisi Pangeran yang lainnya ?" Tanya Kyle.
"Pangeran yang lain pasti aman bersama Arlo dan Gevand. Lalu, Pangeran William dan Zaverias memanggil bantuan dari Kerajaan Alter untuk mengevakuasi warga dan menutup jalan akses ke Dynantya" Jawab Andreas.
Kyle berusaha untuk duduk.
Andreas membantu Kyle duduk.
"Apa tujuan Kalian berdua kemari untuk meminta bantuan pada Kerajaan Nelzefvia?" Tanya Kyle.
"Iya. Kami memang berniat meminta bantuan ini dari Anda" Jawab Andreas.
"Maafkan Aku. Aku tidak bisa membantu kalian. Prajuritku sudah banyak yang mengundurkan diri. Ditambah lagi, saat ini Aku hanya bisa membebani kalian saja" Kata Kyle sambil melihat kaki Kanannya yang sudah tak terasa lagi.
"Kak Kyle. Sekarang Kak Kyle tidak perlu mengkhawatirkan Kami. Kak Kyle sendiri, baru saja mengalami kejadiaan yang buruk. Aku turut berduka atas kematian Ratu Viona" Kata Laura sambil menunduk.
Kyle memegang kepala adik perempuannya itu. Maafkan Kakak ya... Kakak bukan Kakak yang baik untukmu dan Liam. Walau Liam harusnya menjadi Pamanku, harusnya Aku berlakuan baik padanya" Kata Kyle sambil mengusap kepala adiknya.
Laura menangguk sambil meneteskan air matanya.
"Putri, jangan banyak menanggis. Lama lama matamu bengkak dan nanti malah terlihat seperti mata kuda nil. Benarkan Raja Kyle ?" Tanya Andreas sambil melihat Kyle.
Andreas berniat menghibur Laura dengan caranya sendiri.
"Benar. Kau nanti malah terlihat seperti Kuda nil yang bergaun" Jawab Kyle yang terkekeh.
Kyle benar benar terpukul atas kematian orang orang terdekatnya.
Terutama, Istrinya sendiri.
Umur pernikahan mereka belum sampai satu bulan.
Tapi, Kyle harus merelakan kepergian Istrinya tersebut.
Kyle tak ingin menampakkan kesedihannya di hadapan Laura yang berhati rapuh.
Kyle juga mengetahui kalau, Laura sangat menyayangi Liam melebihi dirinya.
Bagi Kyle , menghibur Laura adalah yang terbaik untuk sekarang.
Laura yang berusia 17 tahun masih terlihat sangat kecil di mata Kyle.
Kyle juga menyadari kalau ia akan kehilangan penglihatan mata kirinya dan akan kehilangan kaki kanannya akibat pertarungan barusan.
Di tempat lain, William yang telah memegang tanggung jawab penuh atas prajurit Kerajaan Alter yang dikirim untuk membantu Nelzefvia atas keinginan Raja Alter sendiri telah dihadang oleh Pengikut Alan yang kini menjadi pengikut Dera.
Pengikut Dera tidak tau kalau Dera telah mati terbunuh dan mereka juga tidak tau atas kebangkitan Alan.
William yang berdiri di barisan depan menyuruh pasukan bantuan yang Ia bawa untuk berhenti di tempat.
"Turunkan senjata Kalian ! Maka, Kamu tidak akan menyerang kalian!" Tegas salah satu pengikut Dera.
William bersiap mengeluarkan pedangnya dan 100 prajurit yang di bawa oleh William juga mempersiapkan diri mereka.
"Jangan halangi jalan Kami ! Cepatlah menyingkir ! Bila tidak Kami akan menggunakan cara Kami untuk mengalahkan Kalian !" Tegas William.
Pasukan yang di bawa oleh William menyadari ada yang aneh dengan kumpulan orang orang yang menghadang mereka.
"Ini berbahaya. Mereka baru saja keluar dari perbatasan Nelzefvia. Apakah mereka telah mengalahkan Kyle dan berniat menguasai Kerajaan Alter ?" Batin William.
"Tetaplah berwaspada. Mereka adalah musuh. Kemungkinan besar mereka kemari untuk menguasai kerajaan Alter" Jawab William.
"Mereka tidak bersenjata. Kenapa Kita tidak langsung menyerangnya ?Mereka tidak membawa senjatakan ?" Tanya Prajurit disebelah William.
"Mereka pengguna sihir. Kita tidak bisa menyerangnya dari jarak dekat. Bila kita menyerangnya, itu sama seperti bunuh diri" Jawab William.
"Gawat, ini sangat gawat. Apa yang harus Aku lakukan ?" Batin William sambil melihat kebelakangnya.
...***...
Di tempat Alan....
"BRUK !" Alan terjatuh terlungkup.
Ia mendongakkan kepalanya dan melihat langit langit istana.
"Apakah ini cara yang terbaik untuk menyelesaikan tujuanku ?" Batin Alan.
Alan memegang perutnya yang berlubang dan sudah tidak mengeluarkan darah lagi.
"Lelah, Apakah Aku bunuh diri saja ? Aku tidak akan bisa menang kalau di kondisi yng seperti ini" Kata Alan sambil duduk.
"TAP TAP TAP" Alan mendengar suara langkah kaki yang mendekat.
Alan melihat ke segala arah untuk mencari tempat persembunyian.
Ia melihat jendela yang terbuka di dekatnya.
Alan bergerak perlahan menuju jendela itu untuk menyelamatkan dirinya.
Tapi sayangnya,.....
"KREEEK....." Arlo membuka pintu ruangan itu dan melihat Alan yang berniat untuk kabur.
Alan melirik kebelakang.
"Sial ! TEP!" Batin Alan dan langsung melompat keluar jendela itu.
Jendela itu, mengarah ke gudang persediaan prajurit.
"Tunggu !" Tegas Arlo sambil berlari dan melompat ke jendela tersebut.
Gelap dan berdebu
Itu adalah kondisi gudang itu.
Arlo tidak merasakan aura milik Alan.
"Sialan, Dia menyembunyikan auranya" Batin Arlo sambil berjongkok di tempat.
Dalam kondisi ini, sangat merugikan bagi Arlo.
Sebab, bisa saja Alan mengetahui posisi Arlo dan langsung -
"WUSHHHT!!!"
Ternyata benar, Alan menyerang Arlo dengan sihirnya dari jarak jauh.
Untung saja Arlo berjongkok dan sempat melihat dari mana serangan itu berasal.
Arlo mengeluarkan bola api dari tangan kanannya dan langsung mengarahkannya di arah serangan itu berasal.
"BAMMM!!!!" Serangan Arlo mengenai dinding gudang dan serangan Arlo itu menghancurkan sebagian dinding.
Cahaya dari ruangan sebelah masuk kedalam gudang itu, melewati diding yang hancur.
Alan langsung melompat keluar melewati dinding yang berlubang itu.
"Sialan ! Dia dari tadi kenapa menghindar dariku. Apakah Dia menyadari kalau dirinya tidak akan menang bila dalam kondisi itu ?" Batin Arlo sambil mengejar Alan.
"BRAK !" Alan berlari keluar dari ruangan itu dan menutup pintu dengan kasar.
"Ini benar benar gawat. Aku tidak ingin mati dibunuh Dia untuk yang kedua kalinya. Itu sangat memalukan sekali" Batin Alan sambil berlari dan memegang perutnya yang mulai terasa sakit lagi.
Alan terus berlari sambil memegang perutnya yang terasa ngilu.
Alan melihat cela kecil diantara dinding dengan peti persediaan makanan.
Alan langsung masuk ke dalam cela itu dan bersembunyi didalam sana.
Ia benar benar menghindari Arlo dan menghilangkan aura miliknya agar tidak ditemukan oleh Arlo