
Raja dan pedagang itu langsung melihat ke Alan yang matanya sudah kembung dengan air mata.
Raja itu, melepas sarung tangannya dan langsung mengusap Air mata Alan menggunakan tangannya.
"Aku, bisa saja melaporkan mu pada petinggi kerajaan ini karena menyembunyikan dia" Kata Vian (Raja utara)
Pedagang itu tidak dapat berkutik lagi.
"Baiklah, Dengan berat hati, Saya bersedia menjual Dia dengan empat kali harga aslinya" Kata pedagang itu sambil tersenyum.
"Tentu"
Akhirnya, Alan di bawa oleh Vian.
Awalnya, Vian tidak tau kalau Alan ini sebenarnya laki laki.
Saat di kereta kuda, Alan menceritakan segalanya tentang dirinya.
Vian tersenyum lebar sambil memegang pundak Alan.
"Jadilah, penerusku. Kau tidak ingin mati kubunuh kan ?"
Alan benar benar terkejut mendengarnya.
Rasa percaya terhadap orang lain di diri Alan, mulai Ia ragukan.
Sehari setelah kedatangan Alan di Kerajaan Nord atau dikenal sebagai kerajaan ujung Utara Negri Ardan, Ia harus bangun lebih pagi sebelum bangunnya prajurit.
Itu adalah aturan yang diberikan oleh Vian, Raja Kerajaan Nord.
Sayangnya dihari pertama itu, Alan bangun kesiangan karena kecapekan.
"BYUURRR!!!!!" Air segelas menyiram wajah Alan yang masih tertidur.
Alan langsung membuka matanya dengan paksa dan di ikuti dengan debaran jantungnya yang mempa dengan cepat.
Alan langsung berdiri dan membungkuk.
"Maafkan Saya Baginda !" Tegas Alan dengan tubuh yang masih lemas dan gemetaran.
"Panggil Aku Ayah" Kata Vian.
"Maafkan Saya Ayah !"
"Mulai besok, bangunlah lebih pagi dari para Prajurit"
"Baik Ayah ! Saya akan bangun lebih pagi dari yang Lain !" Tegas Alan yang masih membungkuk.
"Ya sudah, bersiaplah. Aku tunggu di lapangan 15 menit dari sekarang. Kau sudah telat untuk sarapan. Jadi, jata makanmu akan datang nanti siang" Ucap Vian sambil keluar dari Kamar Alan.
Alan langsung berdiri tegak.
"Tidak apa apa. Aku masih bisa minum air hingga menunggu waktu makan siang" Batin Alan sambil bersiap untuk ke lapangan.
Vian berniat melakukan pengangkatan pada Alan minggu depan.
Untuk sekarang, Ia fokus pada pelatihan pedang, tata krama, tata makan, tata jalan, tata bicara, tata berpakaian, hingga tata budaya kerajaan Nord sebagai seorang Pangeran muda.
Alan datang kelapangan lebih dari waktu yang ditentukan oleh Vian.
"Kau telat Alan" Ucap Vian sambil memegang pedang Kayu yang panjangnya hampir satu meter.
"Maaf Ayah ! Tadi Saya kesulitan untuk memakai celana ini !" Jawab jujur Alan yang memang ini pertama kalinya Ia mengenakan celana yang di penuhi oleh pengikat untuk melindungi lutut dan bagian vitalnya.
"Alasan yang tidak masuk akal. Sebagai seorang Pangeran Kau harus tepat waktu. Karena Kau terlambat, Kau harus mendapatkan hukuman, agar tidak mengulangi ini" Ucap Vian.
Alan langsung membelalakan matanya.
"PRAKKKKK!!!!!!" Vian memukulkan pedang Kayunya tepat dibagian bawah tengkuk Alan di dekat telinga kirinya.
"NGGGGUUUUNGGGGG...." Pandangan Alan langsung menghitam dan di ikuti dengan telinganya yang berdengung cukup lama
Alan langsung jatuh berlutut.
Ia mengedipkan matanya berulang kali karena pandangannya mulai kembali namun, masih kabur.
"Berdiri" Ucap Vian yang tidak berbelas kasih pada bocah malang itu.
Alan ingin marah dan membalas perbuatan Vian itu.
Tapi, apa dayanya.
Dia hanya menumpang.
Sewaktu waktu, Dia bisa di keluarkan kapan saja di kerajaan asing ini.
Hari demi hari berlalu.
Alan mulai terbiasa dengan sifat tegas Vian.
Setelah pengangkatan Alan sebagai Anak angkat Vian dan Pangeran Nord, kelakuan Vian pada Alan semakin menjadi jadi, saat Vian mulai mengajarkan Ilmu sihir pada Alan.
Alan mulai merasa kesakitan sejak belajar sihir.
Vian tidak pernah mendengarkan keluhan putra angkatnya itu.
Yang Ia tau, Alan selalu bercanda hingga tertawa bersama dengan prajurit prajurit yang membuatnya merasa iri.
Ia, ingin bercanda juga dengan Putra angkatnya itu.
Karena rasa irinya memuncak, Vian mulai melarang Alan berbicara dengan orang selainnya dan membuat jadwal harian untuk Alan penuh.
Sampai sampai, Alan hanya memiliki waktu dua jam untuk tidur.
Alan tidak bisa marah pada Vian.
Sebab, Vian telah memberikan apapun yang di inginkan Alan tanpa memintanya.
Tapi, Sampai kapan Alan akan sanggup menahan sikap Ayah tirinya itu ?
Hari itu, Alan mendengar kabar kalau Kerajaan Xexilia akan melakukan penyerangan terhadap Kerajaan Nord karena terjadi perselisihan daerah kekuasaan.
Dikabarkan, Kalau Kerajaan Nord secara tidak adil mencantumkan nama desa perbatasan antara keduanya di dalam peta wilayah Kekuasaan Nord.
Bagi Alan yang kini berusia 18 tahun dan telah menyadang gelar Putra Mahkota Nord, Itu adalah hal kecil dan sepeleh yang dibesar besarkan oleh pihak kerajaan Xexilia.
"Kenapa harus perang ? Apakah Kita tidak bisa bernegosiasi dengan mereka ? Bila Kita berperang, Akan ada banyak nyawa yang akan menjadi taruhannya Ayah" Ucap Alan yang berada di ruangan rapat bersama Ayahnya dalam menyusun Strategi penyerangan dan penyergapan.
Vian langsung melihat kearah Alan dan mengerutkan Alisnya.
"Kau masih kecil Alan. Kau tidak tau apa apa tentang hal ini. Jadi, dengarkan dan perhatikan saja" Ucap Vian.
"Maafkan Saya Ayah"
Kerajaan Nord telah mempersiapkan Strateginya dan mulai memasang jebakan di sekitar area tempur yang pembuatannya di bantu dengan sihir milik Alan dan Vian.
Sayangnya, itu tidak berjalan mulus sesuai harapan Kerajaan Nord sendiri.
Perperangan ini, dimenangkan oleh Kerajaan Xexilia,
Kekalahan Nord, di sebabkan oleh jebakan yang gagal meledak di area tempur.
Alan, dituduh telah bersekutu dengan Kerajaan Xexilia dengan memasukkan rapal yang salah di dalam jebakan itu.
Di malam hari yang sama setelah kekalahan Nord untuk yang pertama kalinya, Alan langsung di kurung dalam dinding sihir milik lima Prajurit yang di utus oleh Vian.
Alan yang tidak tau apa apa langsung marah besar kepada para Prajurit yang menyergapnya dari belakang.
Saat sampai di tempat Vian berada, Dinding sihir milik Alan langsung melenyap dan berganti sihir pengikat yang membuatnya tidak bisa bergerak maupun mengeluarkan sihirnya.
Mengeluarkan sihir, hanya akan membuat energi sihir milik Alan terkuras.
Alan dipaksa berlutut oleh para prajurit yang membawanya.
"KAU, BENAR BENAR TIDAK BERBALAS BUDI !" Tegas Vian sambil mengarahkan pedang sihirnya ke arah Alan.
"Apa- Apa maksud Ayah ?!" Tanya Alan sambil melihat wajah murka Vian.
"Kenapa Kau berlagak bodoh ?! Padahal, Aku sangat menyayangimu layaknya anakku sendiri. Aku melatihmu dengan tanganku sendiri. Dan apakah ini balas budimu padaku ?" Tanya Vian.
Alan benar benar tidak tau maksud Vian.
"Ayah, Aku ben-" Ucap Alan yang belum usai sambil berusaha berdiri.
Kaki Vian melesat dengan kencang kearah Kepala bagian kanan Alan.
Seketika, Alan langsung membelalakan matanya yang merah menyala.
"PRUAKKKK!!!"
"Bruk"
Alan langsung terjatuh dan merasakan rasa sakit yang luar biasa di telinga kanannya.
Telinga kanan Alan mengeluarkan darah akibat hantaman keras dari Vian serta, kepala bagian kirinya yang keluar darah akibat Ia terjatuh dengan cukup keras.
"Jangan panggil Aku Ayah dengan mulut kotormu itu. Kau bukan Anakku lagi." Ucap Vian yang membuat Alan terkejut dan langsung membelalakan matanya.
Alan dan para prajurit diam di tempat.
Seketika, Ia merasakan kosong dan gelap.
"Kenapa ?" Tanya Lirih Alan mendengar ucapan Vian.
Vian tidak mendengarnya karena suara Alan yang terlalu kecil.
Vian menjambak rambut cokelat sedikit keemasan Alan.
Mata Alan yang berair membuat Vian tambah emosi.
Alan, menahan tanggisnya.
Tidak hanya sekali, hal ini terus saja berulang kali terjadi pada Alan.
"Aku, menarik gelarmu sebagai Putra Mahkota Nord..."
"Aku, tidak pernah meminta gelar itu dari mu"
"Pilihlah, Mati dihadapan semua warga sebagai penghianat atau Pergi dari sini atas hal mati karena musuh ?" Tanya Vian sambil membelalakan matanya.
Mata Alan langsung sayu.
Alan menunjukkan senyumannya di hadapan Vian dengan tulus.
"Apa Kau bisa membunuhku sebagai Putramu ?"
Alan benar ingin menjerit atas ketidak adilan dunia padanya.
"Omong kosong macam apa itu ? Aku, tidak pernah sekalipun mengangapmu sebagai putraku" Ucap Vian yang membuat Alan sangat terkejut.
Hati Alan, serasa tertusuk ribuan jarum yang tidak terlihat.
Pandangan Alan menjadi kosong.
Rasa bencinya terhadap seorang Raja semakin memuncak.
"Kupikir, Kau berbeda" Ucap Alan pada Vian sambil menyeringai pada Vian.
Vian, menatap mata Alan yang penuh kebencian itu.
Vian merasakan Aura Alan yang mulai menghitam.
Namun, Vian berusaha tetap santai dihadapan Alan.
Lima prajurit yang merasakannya mundur perlahan.
Alan menutup matanya, Air mata menetes dari matanya.
"Aku, mengharapkan kasih sayang yang tulus padamu. Aku tidak peduli dengan gelar ataupun hukuman yang kudapatkan saat di ajari oleh mu. Apa... APA INI YANG KUDAPATKAN SETELAH AKU MENURUTI SEMUA UCAPAN MU ?!" Tanya Teriak Alan.
Vian melepaskan jambrakannya.
"Oh, Raja Nord de Vian yang Agung. Aku tidak pernah memintamu untuk memberikan kerajaanmu padaku. Aku tidak pernah memintamu untuk menjadikanku penerusmu. Aku hanya minta dua hal padamu ! Kasih Sayang dan Kepercayaanmu saja !" Tegas Alan sambil berdiri.
"Kupikir, Kau menghukumku sebagai bukti kasih sayang yang Kau berikan. Ack ! Ternyata, semua itu, hanyalah hayalan yang ku impikan sejak kecil ! Dan sekarang, Boleh kah, Bolehkah Aku menebas lehermu dengan sihir yang Kau ajarkan padaku ?" Tanya Alan yang diakhiri kekehan kecil.
"Lindungi Baginda !" Tegas Prajurit prajurit itu sambil berdiri di hadapan Alan.
"Kenapa ? Kenapa Kalian menghalangiku ? Bukankah Kalian juga menderita karena ulahnya ?" Tanya Alan sambil mencondongkan wajahnya pada prajurit itu.
"Alan, Kau sudah gila !" Tegas Vian.
"Aku memang sudah gila sejak kecil. Kau kan tau sendiri. Aku monster, bukan manusia. Dan Kau, Adalah Iblis yang menciptakan monster sebagai penghancur mu sendiri" Ucap Alan sambil berjalan kearah prajurit.
"Prajurit, tangkap Dia dan bawa Dia ke sel khusus" Ucap Vian.
Kedua lengan Alan, Di pegang oleh prajurit prajurit itu tanpa perlawanan.
"Aku pastikan ! Semua Raja raja yang ada di negri ini Akan ku bunuh dengan kekuatanku ! Dan sihir akan menjadi bukti sebagai janjiku !" Tegas Alan.