LIAMARLO

LIAMARLO
Bercak Darah



Dua hari kemudian.......


Teman temanku dari Kelas Khusus Keputrian Bangsawan mengajakku minum teh di taman pribadiku.


Selama Kak Liam pergi, tidak ada seorang pun yang mencari atau bertanya kemana ia pergi.


"Putri..... Pertemukan Kami dengan Pangeran Nelzefvia dong.......Kami kan teman Anda....."


Sudah kuduga.... Mereka kemari hanya untuk menemui Sisialan yang super usil itu.


"Ah.... Hari ini Pangeran Liam sedang tidak ada di sini. Dia sedang ada urusan...." Jawabku sambil sedikit mengerakkan kipas yang ku pegang.


"Yah..... sia sia dong ya... kemari kalau hanya minum teh saja....eh ?! Kalau gitu bagaimana kalau kita belanja ?"


Hari ini, Aku malas sekali untuk keluar dari istana.


"Iya! Ayo kita belanja, Putri.... Anda membeli gelang itu dimana ?" Tanya yang lain.


"Ini.... hadiah dari Pangeran Liam. Dia membuatnya sediri" Jawabku sambil menunjukkan gelang itu.


"Wah..... Romantis sekali...... Kakak laki lakiku tidak pernah berbuat hal seperti itu. Adanya, Dia selalu mengacau hari hariku. Hah......(Hela napas) Padahal Kakakku itu diam saat diluar" Kata temanku yang mengajakku belanja tadi.


Sisialan itu juga begitu


"Hari ini, Saya malas sekali untuk belanja. Bagaimana Kalau kita curhat curhatan saja?" Tanyaku.


"Ya....itu ide bagus Putri. Saya dengar Anda dijodohkan oleh Putra Mahkota Kerajaan Alter. Apa itu benar ?"


"Itu benar" Jawabku sambil menaruh pelan kipas yang kupegang.


"Ah....Enaknya...... Udah dijodohkan, dapat yang tampan dan Keluarga yang sangat terpandang juga....." Kata salah temanku itu.


"Kapan penjodohan resmi Anda akan diadakan Putri ?" Tanya yang lain.


"Raja bilang, Bulan depan" Jawabku.


"Wah..... Satu bulan pasti terasa lama untuk Putri menunggu penjodohan resminya. Anda harus jaga berat badan Anda" Nasehat temanku.


"Ndas mu ¹ ! sebulan itu lama! Bagiku sebulan itu terasa seperti tiga hari Sumanti !" Batinku sambil tersenyum pada mereka bertiga.


* ¹ Ndas mu : Kepalamu dalam bahasa jawa kasar.


"Hey..... apa Kalian sudah dengar ? Tadi malam ditemukan Dua jasad pria dan wanita di pinggir hutan loh...." Mereka ganti topik lagi.


"Jasad?" Tanya ku.


"Eh, iya loh..... Saya sampai merinding mendengarnya. Ada kabar katanya mereka berdua itu pasangan kekasih yang mau melakukan hal yang tak sewajarnya dihutan itu. Dan yang paling membuat Saya bergidik ngeri, Jasad keduanya terpisah dengan kepala mereka. Ada isu, Penyihir hutan Arlolah yang melakukannya karena melihat dari sisa sihir yang ada dipotongan lehernya" lanjut yang lain.


"Ih..... Kalian berdua jangan membicarakan hal itu. Bagaimana kalau penyihir Arlo menemui kalian?" Tanya temanku yang penakut ini sambil memelukku.


"Scarlette. Isu ini memang belum tentu benar. Tapi.... siapa tau Dia menghisap Aura kehidupan dua orang itu dan menebaskan sihirnya untuk menghilangkan jejak. Lagi pula, Tahun berapa ini ? Sihir itu sudah dianggap kuno. Siapa juga yang bisa menggunakan sihir di Zaman ini ?" Kata temanku yang menceritakan cerita itu.


"Arlo itu tidak ada Scarlette. Dia hanyalah mitos. Lagipula, mana ada manusia yang hidup selama itu" kataku sambil mengelus rambut pirang Scarlette yang memelukku.


"Putri.... Anda tidak percaya dengan mitos tentang penyihir Arlo ?Bagaimana kalau dia benar benar ada ?" Tanya Scarlette.


"Kalau Dia ada, Saya ingin melihat wajahnya, yang dirumorkan memiliki wajah yang rupawan itu" Jawabku.


"Putri.... Anda sudah memiliki dua Kakak tampan dan calon tunangan yang tampan, kenapa Anda masih ingin melihat yang lain ?" Tanya salah satu temanku.


"Veronica..... Bagi Putri Nelzefvia, Pria tampan itu adalah segalanya, Sebab...."


"Saat masih kecil sudah tampan, Remaja tambah tampan, semakin dewasa akan tampan parah dan akan mati dengan tampan" Kata ketiga temanku ini dengan bersamaan.


"Ah?!" Aku terkejut.


"Ahahahahaha...." Kami berempat langsung tertawa bersamaan.


Malam hari telah tiba


Aku telah terlelap dalam tidurku.


"Laura.... Laura....." Panggil seseorang.


Aku terbangun dari tidurku.


Aku melihat Kak Liam yang duduk disebelah kasurku sambil mengusap rambutku.


"Kakak sudah pulang ?" Tanyaku sambil duduk dan menghidupkan lampu kamarku.


Kak Liam tersenyum padaku.


"Apa habis makan Kau sudah berak ?" Tanya Kak Liam dengan enaknya.


"Hah ? Kakak kemari hanya untuk menanyakan hal itu ?" Tanyaku.


"Ya. Lalu, apa dua hari ini tidak ada yang menganggumu ?" Tanyanya lagi.


"Tidak Kak. Tapi, Kenapa akhir akhir ini Kak Liam bertingkah aneh seperti ini ?" Tanyaku.


"Hah ? Aneh ? Darimananya aneh ?" Tanya Kak Liam.


"Yah... Aneh saja. Kak Liam itu jarang seperti ini padaku"


Kak Liam tersenyum lagi.


"Laura, tidak ada yang boleh membuat mu menanggis selain Aku" Kata Kak Liam sambil membuka tudung jubahnya.


Aku melihat bercak merah dirambut Kak Liam yang berwarna putih.


"Kak, rambut Kakak kenapa ?" Tanya ku sambil menujuk rambut Kak Liam yang berbecak merah.


Kak Liam langsung membelalakan matanya.


Sekejap Aku melihat ekspresi Kak Liam yang terkejut.


"Oh, Aku habis terhantuk pinggiran jendelamu saat memanjat kemari. Kayaknya.... kepalaku terluka" Jawab santai Kak Liam sambil mengosok rambut putihnya dengan jubahnya.


Sifat Kak Liam memanglah sangat ceroboh dimanapun Ia berada.


"Kenapa Kakak ceroboh sekali. Ini lantai dua, untung Kakak hanya terhatuk pinggiran jendela. Lalu, bagaimana bila Kakak terjatuh dari ketinggian 2 lantai ? Ceroboh sekali....." Celotehku.


"Kak ! Kenapa Kakak nggak mandi dikamar Kakak ?!" Tanyaku sambil berdiri.


"Aku..... tidak suka sendirian" Jawabnya sambil berhenti.


"Hah ? Aku sudah berusia 17 tahun loh Kak ? Apa Kakak tidak malu ada Aku disini ?" Tanya ku sambil mendatangi Kak Liam yang berhenti di ambang pintu kamar mandi.


"Laura, walau Kau berumur 17 tahun. Bagiku, Kau masih kecil"


Jawab Kak Liam sambil melihat kearahku.


"Idih! Apaan sih Kak. Lalu kapan Aku terlihat dewasa dimata Kakak ?" Tanyaku.


"Saat Kau menemukan Pangeran berkuda putihmu, Aku berjanji akan mengangapmu sebagai orang dewasa dan Aku tidak akan menganggumu lagi" Jawab Kak Liam sambil masuk kekamar mandi.


Aku terdiam mendengar jawaban Kak Liam.


Keesokan harinya.....


Aku terbangun dan melihat Kak Liam yang tidur didekat jendela.


Aku langsung mendatangi Kak Liam untuk membangunkannya.


Aku melihat tubuh Kak Liam yang tak berlengan baju penuh luka.


Aku sangat terkejut.


Baru kali ini Aku melihat lengan Kak Liam yang selalu diselimuti oleh perban dibuka.


"Kak.... Tidurlah diatas.... ini sudah pagi...."


Aku membangukan Kak Liam.


Kak Liam terbangun dan membuka perlahan mata birunya.


"Laura, Aku pinjam tempat tidurmu. Aku sangat mengantuk. Tolong bangunkan Aku setelah sarapan selesai" Kata Kak Liam sambil berdiri dan berjalan kekasurku.


"Kakak tidak ikut sarapan lagi ?" Tanyaku.


"Tidak" Jawab Kak Liam sambil tidur dikasurku.


"Nanti Ayah pasti mengkhawatirkan Kakak gimana ?" Tanya ku.


"Dia tidak akan mengkhawatirkanku" Jawab Kak Liam dengan suara yang pelan dan menutupi tubuhnya dengan selimut hingga menutupi kepalanya.


"Tok tok tok" Suara ketukan pintu.


"Iya" Aku sedikit membuka pintu kamarku


"Putri, Anda dipanggil Baginda Raja untuk menghadap" Kata Kepala Pelayan itu.


"Baik, Saya akan bersiap dulu" Kataku.


"Izinkan Saya menata Kamar Anda" Izin Kepala Pelayan itu.


"Degh!"


"Ah! Biar Aku saja yang menata Kamarku!" Tegasku.


"Biar Saya saja, Putri. Anda harus cepat bersiap untuk menemui Raja" Katanya sambil berjalan maju.


"Tunggu! biar Aku saja! Aku ingin menata Kamarku sendiri untuk hari ini! Aku habis ini bertunangan dengan Putra Mahkota Alterkan ?!" Tegasku sambil menghalangi jalannya.


Kepala pelayan itu membelalakan matanya


Aku tidak melihat Ekspresi senang dari raut wajahnya.


"Baiklah Putri, Saya pamit undur diri" Dia pergi begitu saja.


"Apa.... Aku salah bicara ?"


Tapi untung saja, Kepala Pelayan itu langsung pergi.


Aku bersiap dan langsung keruangan Ayah.


Sampai disana.....


"Grep!"


Aku dipeluk oleh Ayahku


Aku sangat terkejut


"Ayah, Kenapa Ayah tiba-tiba memelukku ?" Tanyaku.


Ayahku melepaskan pelukannya.


"Nak, baru saja Ayah dapat kabar. Kalau, Putra Mahkota Alter mati, dan pertunangan kalian dibatalkan" Jawab Ayahku.


"Apa ?" Aku sangat terkejut.


"Dia mati karena diserang oleh seseorang"


Aku terkejut bukan karena kematian Putra Mahkota Alter.


Tapi, Aku teringat ucapan Kak Liam dua hari yang lalu yang ingin menemui Putra Mahkota Alter dan bercak darah dirambut putihnya serta, lengan Kak Liam yang penuh dengan luka yang masih basah tadi malam.


"Terakhir kali, Aku melihat Liam dua hari yang lalu, dan Dia menolak perjodohanmu dengan Putra Mahkota Alter. Dia nekat untuk menemui Putra Mahkota Alter untuk membatalkan perjodohan Kalian. Apa Kau tau dimana Liam berada ?" Tanya Ayahku.


"Ayah, Apa Ayah berniat menyalahkan Ka! Ah maksud Saya Pangeran Liam ?" Tanyaku.


"Tidak. Aku hanya Akan bertanya saja pada Liam. Lagi pula, akhir akhir ini sering terjadi pembunuhan disekitar hutan dan Liam tidak pernah terlihat diistana setiap malam hari" Jelas Ayahku.


"Ayah, malam hari Saya sering melihat Pangeran Liam ke makam Ibu. Jadi, tidak mungkin Pangeran Liam ada sangkut pautannya dengan pembunuhan dihutan" Jelasku.


"Itu memang benar. Ayah hanya ingin memastikan keadaan Liam saja. Liam itu berbeda" Kata Ayah.


"Sekarang, mari sarapan setelah itu bersiaplah. Kita akan ke Kerajaan Alter" Lanjutnya.


Aku mengikuti ucapan Ayah tanpa memberitahu dimana Kak Liam berada.