
"Apa maksudmu ?" Tanya Arlo sambil melepaskan tanganku.
"Kau berjanji untuk membuatku senang bila Aku menerima cintamu. Kenyataannya, yang Aku dapatkan adalah kematianmu. Dan, itu tidak akan membuatku bahagia Arlo" Kataku sambil memegang tangan Arlo yang melepas tanganku.
Pandangan mata Arlo menjadi sayu.
"Aku hanya ingin merasakan kebahagiaan dengan orang yang kusukai. Aku selama ini menderita. Maafkan Aku karena tidak memikirkan perasaanan mu" Kata Arlo.
...***...
"Jadi, Kau menolakku ?" Tanya Arlo.
"Iya" Jawabku.
Arlo tersenyum.
"Baiklah. Walau Kau menolakku. Tetaplah izinkan Aku untuk menyukaimu. Dan, setiap hari Aku akan bertanya padamu agar Kau menjawab cintaku" Kata Arlo.
"Idih maksa" Kataku.
"Laura, sebenarnya tujuanku kemari untuk meminta darahmu" Kata Arlo.
Kakek, berpesan padaku agar memberi Arlo darah milikku, asal Aku tidak menjawab cintanya.
"Baiklah, tapi, jangan menaruh harapan untukku" Kataku.
Arlo tersenyum kemudian memegang tangan kiriku.
"Eh?" Aku terkejut.
Dia meniupkan hembusan nafasnya ditangan kiriku.
"Jangan sampai terpesona dengan ku loh" Kata Arlo sambil tersenyum dan menunjukkan wajahnya yang memerah padaku.
"Berisik! Mau mau hisap darahku apa enggak ?" Tanyaku yang sedikit kesal pada Arlo.
"Baiklah" Kata Arlo.
Aku melihat Arlo membuka mulutnya.
Taring panjangnya terlihat.
"Crat!" Dia langsung menggigitkan taringnya di telapak tangan kiriku.
Aku membelalakan mataku karena terasa sedikit sakit.
"Ini memang terasa sakit. Tapi, Sakit yang Ia derita lebih menyakitkan daripada ini"
Hembusan nafas Arlo terasa ditelapak tanganku.
Aku merasa geli, dan Aku ingin sekali memukul wajah orang ini.
Aroma Rambut Arlo, dan aroma Kak Liam saat memelukku tercium sama seperti aroma embun pagi mengenai rumput.
"Itu menenangkan sekali" Batinku sambil melihat Arlo yang masih menghisap darahku.
Sebenarnya, Aku sangat keberatan sekali melakukan ini.
Tapi, Dia telah menolong Kakek.
"Arlo, Apa benar cerita yang beredar tentangmu dinegri ini ?" Tanyaku.
"Slink" Arlo menjilat telapak tanganku.
"Hei! Apa yang Kau lakukan ?!" Tanyaku sambil mendorong dagu Arlo.
"Menghilangkan bekas gigitanku. Lalu, cerita yang mana yang beredar tentangku yang kau tanyakan ?" Tanya Arlo sambil mendonggakkan dagunya karena kudorong.
"Tentang Ibumu yang mengutukmu karena Kau melecehkannya" Kataku sambil menarik tangan kiriku.
"Oh, Wanita itu memang mengutukku. Tapi, Aku tidak melecehkan wanita tua itu. Dia bukan seleraku" Kata Arlo.
"Hah ? Lalu ?" Tanyaku.
"Aku adalah korbannya. Ibuku adalah seorang ahli sihir yang sangat kukagumi. Dia adalah sosok wanita yang sangat tegas dan disiplin pada Kami. Aku juga, memiliki seorang adik perempuan dan juga seorang kekasih. Kekasihku adalah teman adikku, Aku sangat mencintainya" Kata Arlo sambil mengusap bibirnya yang terdapat sisa darahku.
"Sejak Aku dikutuk, Pemerintahan Negri Ardan melarang semua orang untuk belajar sihir dengan cara menutup dan meniadakan Academi Sihir. Dan membuat aturan baru yaitu, Akan menghukum mati siapapun yang menggunakan sihir" Lanjut Arlo.
"Oh, pantas saja zaman sekarang sudah tidak ada yang bisa menggunakan sihir" Lirihku sambil mengosok bahuku.
"Lalu, Apa yang sebenarnya terjadi hingga Kau dikutuk oleh Ibumu?" Tanyaku.
"Aku masih belum siap menceritakannya padamu. Kau istirahatlah. Tidak baik bagi seorang putri tidur terlalu larut" Kata Arlo.
Aku melihat jam dinding.
"Ini masih jam tujuh. Jangan menyuruhku tidur sekarang" Kataku.
"Kau harus tidur. Atau Kau mau ku nina bobo kan ?" Tanya Arlo.
"Sialan. Aku bukan bayi. Aku juga sangat heran padamu, Kau itu mirip sekali dengan Kak Liam. Dari aromamu, tingkahmu, dan juga, kenapa Kalian berdua suka mengalihkan pembicaraan serius" Kataku.
"Eh, Aku tidak mengalihkan pembicaraan, Aku hanya, eh apa maksudmu dengan aromaku dan Liam ?" Tanya Arlo sambil melihatku.
"Degh!"
"Benarkah ?" Tanya Arlo sambil mencium lengannya.
"Arlo, Beberapa hari yang lalu, Aku mendengar pelayan kami bercerita kalau Kau bisa berubah wujud menjadi siapapun. Apa itu benar ?" Tanyaku.
"Ya, itu benar. Aku bisa berubah menjadi kakekmu, Wush...." Kata Arlo sambil berubah menjadi Kakek.
"Wih, hebat...." Kataku sambil menepuk tanganku.
Arlo berdiri dihadapanku.
"hehe....Aku juga, bisa berubah menjadi dirimu. Wush..." Kata Arlo sambil berubah menjadi diriku.
Aku bertepuk tangan karena, Dia sangat hebat bisa meniru diriku tapi, mata dia masih tetap merah.
"Lihatlah, Aku juga memiliki boing boing sepertimu" Kata Arlo sambil memegang dadanya.
Wajahku langsung memerah.
"Sialan! jangan melakukan itu pada tubuhmu yang meniruku!! Duaggggh!!!" Teriakku sambil memendang perut Arlo yang berdiri dihadapanku.
"BRUUUUK!!!!! Ugh! Wush......" Arlo terjatuh dan kembali kewujudnya.
Aku berdiri.
"Menjijikkan sekali" Kataku.
Arlo duduk.
"Maafkan Aku" Kata Arlo sambil mengosok perutnya.
Aku berjalan kearah jendela dan Aku melihat hujan telah reda.
"Hujannya sudah reda. Kau pulanglah, habis ini Kak Liam pasti kembali untuk makan kue cokelatnya. Bila Dia melihatmu disini Dia pasti akan marah" Kataku sambil membuka jendela.
"Baiklah. Besok Aku akan kemari" Kata Arlo sambil berjalan kearahku.
"Jangan kemari lagi" Kataku.
"Kenapa ?" Tanyanya.
"Ya, intinya jangan kemari lagi" Kataku sambil melihatnya.
"Ya, walau Kau melarangku, Aku akan tetap kemari" Kata Arlo sambil keluar dari jendela.
"Sudah! Pergilah!" tegasku.
"Baik baik, WUSHHH" Ucap Arlo sambil menghilang dihadapanku.
"Eh ?" Aku terkejut melihat Arlo yang menghilang dihadapanku.
"Ah, Iya..... Aku lupa bertanya kenapa Dia menghisap darah orang seperti vampir saja ?" lirihku.
"Wushhhh!" Arlo kembali muncul dihadapanku.
Aku membelalakan mataku karena terkejut.
"Karena, Darah yang kuhisap bisa memberi kekuatan untukku. Maafkan Aku karena kembali lagi. Aku kembali untuk mengambil pakaianku yang tertinggal dikamar mandi" Kata Arlo sambil masuk melompati jendela.
Arlo berjalan masuk kekamar mandi dan mengambil pakaiannya.
"Besok Aku akan mengembalikan pakaian ini. Terima kasih. Wush...." Kata Arlo sambil berjalan kearahku dan menghilang.
"Hah?! Menjengkelkan !!!! Kenapa Aku repot repot untuk membukakan jendela untuk membiarkan Dia masuk karena hujan ?!!!! Padahal Dia bisa pergi dengan sihirnya!!!!!" Teriak lirihku sambil menendang nendang tembok karena Aku sangat kesal.
"Tok! tok!" Suara ketukan pintu.
"Ya ?" Jawabku sambil mendatangi pintu kamarku yang diketuk.
"Saya membawakan makan malam untuk Anda" Suara Laki laki diluar kamarku.
"Eh ? Apa ini suara Kak Dera?" Batinku.
Aku melihat Kakiku yang bercelana pendek.
"Tunggu sebentar" Kataku sambil mengambil rok panjang dan rompi dengan lengan panjang.
Aku langsung membukakan pintu setelah Aku memakainya.
"Ini Putri, Silahkan dinikmati" Kata Dera.
"Tumben, Kakak yang ngantar. Biasanya, Pelayan yang kemari ?" Tanyaku sambil menerima makanan dari Kak Dera.
"Pangeran Liam memaksa Saya untuk mengawasi Pelayan yang menyiapkan makanan Anda dan mengantarkan makanan ini langsung pada Anda. Alasannya, Pangeran Liam takut dimakanan Anda dimasuki sesuatu yang bisa berbahaya untuk Anda. Oleh karena itu, Pangeran Liam menyuruh Saya melakukan ini" Jelas Kak Dera.
Aku tersenyum.
"Maafkan Kak Liam ya Kak, karena telah merepotkan Kakak dengan hal yang harusnya tidak perlu Kakak lakukan" Kataku yang tidak enak pada Kak Dera.
"Tidak masalah Putri, Pangeran Liam melakukan ini untuk melindungi Anda. Segala sesuatu harus dipersiapkan sebelum hal buruk terjadi. Saran Saya, sebisa mungkin Anda hindari Pelayan kepercayaan Raja Nelzefvia" Kata Kak Dera.
"Kenapa ?" Tanyaku.
"Sudah, Anda makan dulu. Kata Pangeran Liam, Anda sedang sakit. Jadi, lekas sembuh dan selamat malam" Kata Kak Dera sambil membungkuk dan pergi.