LIAMARLO

LIAMARLO
Dia pasti bercanda



"Aku sudah bukan keluarga Kyle. Tapi, Aku senang bila Kau menganggapku Kakakmu" Kata Kak Liam sambil tersenyum dan menunduk.


Aku tak paham maksud Kak Liam.


"Ibu, dan Kau selalu ada untukku. Jadi, jangan menjauh dariku. Aku tak suka sendirian" Kata Kak Liam yang masih tersenyum dan tak melihatku.


Ucapan Kak Liam terdengar seperti ucapan Arlo.


...***...


"Kak, Siapa sebenarnya Kakak ?" Tanyaku sambil melihat Kak Liam.


"Aku, Liam. Aku hanya manusia biasa yang ingin mendapatkan kehangatan. Laura, Apa Kau percaya kalau Aku bisa sihir?" Tanya Kak Liam sambil tersenyum melihat kearahku.


Kebiasaan Kak Liam, Ia tidak pernah melanjutkan topik yang selalu menceritakan tentang dirinya.


"Kak Lanjutkan cerita Kakak yang tadi" Pintaku.


"Eh ? Kau percaya ceritaku barusan ?" Tanya Kak Liam sambil menunjukkan senyuman menjengkelkannya.


"Hah ? Kakak barusan bohong ?" Tanyaku.


Kak Liam berdiri.


"Ternyata, benar ucapan Kakek dan Ibu. Aku sangatlah pintar berakting" Kata Kak Liam sambil membelakangkan poni rambutnya.


"Hah ? Sialan! Aku tadi sampe sempet percaya ! Swingg!" Aku langsung mengambil bantal didekatku dan melemparkannnya kearah Kak Liam.


"Lagi lagi! Kalau Kak Liam cerita Aku tidak akan langsung mempercayaimu sialan!" Teriakku.


"Ahahahahhahha.... Maafkan Aku. Aku tidak akan mengulanginya lagi" Kata Kak Liam yang menangkap bantal yang kulempar.


"Cih! menjengkelkan!" Tegasku sambil mengambil bantal ditangan Kak Liam.


"Hei Laura, Lihatlah Aku bisa main sulap loh" Kata Kak Liam.


"Idih! Palingan juga sulap nyembunyiin bola" Ejekku.


"Hehehe.... kau meremehkan Aku ya ?" Tanya Kak Liam sambil berjalan kearahku.


Kak Liam berdiri didepan ku.


"Lihatlah. Kedua tanganku kosongkan ?" Tanya Kak Liam sambil menunjukkan kedua telapak tangannya yang kosong dan terlihat tangannya sedikit penuh bekas luka sayatan.


"Iya. Lalu ?" Tanyaku.


"Sekarang matikan lampunya" Kata Kak Liam sambil menutup kedua telapak tangan kanannya dengan telapak tangan kirinya.


"Untuk apa ?" Tanyaku.


"Sudah lakukan saja. Aku tidak akan melakukan hal yang macam macam" kata Kak Liam.


"Baiklah....." Aku mematikan lampunya.


Mata Kak Liam terlihat lebih bercahaya digelapnya kamarku.


"Sekarang.... Kupu kupu" Kata Kak Liam sambil membuka telapak tangannya yang Ia katupkan.


"Wah" Seekor kupu kupu yang sangat bercahaya berwarna biru terang keluar dari telapak tangan Kak Liam.


"Cantik. Bagaimana bisa Kakak melakukannya ?" Tanyaku yang sangat kagum dan mengarahkan telunjuk kananku kekupu kupu yang mendarat di telunjuk Kak Liam.


"Aku keren kan ?" Lagi lagi, Dia menyombongkan dirinya setelah ku puji.


"Kupu kupunya keren. Kakak tidak" Jawabku sambil menyentuh kupu kupu ditelunjuk Kak Liam.


"Wush!" Kupu kupu itu melenyap.


"Eh? Kok hilang ? Buat lagi Kak ! Ajarin Aku!" Pintaku.


"Enggak. Aku mau tidur. Kapan kapan saja" kata Kak Liam sambil berjalan kearah lampu.


Kak Liam menghidupkan lampunya.


"Kak ajarin. Nanti Kukasih kue cokelat deh" Paksaku.


"Bruk!" Kak Liam menjatuhkan tubuhnya dikasur.


"Nggak Aku nggak mau ngajari itu" Kata Kak Liam.


Aku duduk dikasur.


"Apa Kak Liam marah karena ejekanku tadi ?" Tanyaku.


"Tidak. Aku hanya ingin tidur malam ini. Pertunjukannya kapan kapan saja Aku tunjukkan lagi" Kata Kak Liam sambil kembali duduk.


"Kak, Kak nggak kehutan lagi ?" Tanyaku.


"Hah....(hela napas) Aku lagi malas keluar. Aku capek sekali hari ini" Kata Kak Liam.


"Oh Iya! Laura! Lusa, Kakek ngadain acara untuk mencari pewaris Kerajaan Dynantya. Kau nggak ikut ? Siapa tau Kau bisa jadi pewaris dan memegang nama Ratu" Kata Kak Liam.


"Cih! Aku nggak mau jadi penerus Kakek itu. Biar cucu Kakek yang Lain saja" Kata Kak Liam.


Kakekku tidak memiliki anak laki laki.


Ibuku adalah putri tertua dikeluarga Dynantya dari Enam putri Dynantya yang lain.


Jumlah cucu Kakek ada 15 orang yang terdiri dari Satu perempuan dan Empat belas laki laki.


Ya, Aku adalah satu satunya Cucu perempuan Kakek.


"Aku tidak tertarik dengan harta yang dimiliki Kerajaan Dynantya" Kata Kak Liam.


"Kak! Intinya Kakak harus ikut! Kak Liam nggak perlu mengejar harta Kakek. Kakak hanya jangan boleh kalah kekuatan bertarung dengan cucu laki laki Kakek yang lain. Aku nggak ingin punya Kakak yang direndahkan oleh orang Lain" Kataku yang membujuk Kak Liam agar ikut berpartisipasi diacara itu.


"Kalau Aku berhasil mengalahkan Dua belas cucu laki laki Kakek, Apa yang akan Aku dapatkan darimu ?" Tanya Kak Liam.


"Eh, Kenapa minta hadiah dariku ?" Tanyaku.


"Kan Kau yang meminta agar Aku ikut di acara itu. Bila Aku menang, Aku harus dapat sesuatu yang spesial dari mu Lah !" Kata Kak Liam sambil tersenyum menunjukkan wajahnya yang memerah.


"Baiklah. Kakak mau minta apa kalau menang ?" Tanyaku.


"Satu kecupan dipipi dan sebuah pelukan hangat" Jawab Kak Liam sambil meringis.


"Hah ? Nggak usah ikut Kak. Aku doa kan semoga Kakak kalah" Kataku.


"Jahat sekali. Aku akan tetap ikut. Bila Aku menang, Aku akan minta hadiah itu darimu. Dan selamat malam" Kata Kak Liam yang langsung menjatuhan dirinya kembali Kekasur dan langsung tidur.


Aku tersenyum


Aku, mulai terbiasa dengan sifat Kak Liam yang terkadang terlihat kekanak kanakan.


Karena sudah malam, Aku langsung tidur.


Malam hari saat Aku tertidur.


"Laura...." Suara lirih Kak Liam membangunkan ku.


Aku tidak langsung melihat Kak Liam, melainkan Aku melihat jam Alarm ku yang masih pukul 02.30


"Aku suka padamu"


Aku langsung membelalakan mataku dan tak berani melihat Kak Liam dibelakangku.


"Dia pasti ngelindur" Batinku.


"Aku bodoh sekalikan ? Bisa bisanya Aku menyukai seseorang yang menganggapku sebagai Kakaknya"


Apa maksud Kak Liam ? Apa Dia lagi bercanda.


"Maafkan Aku Laura, Aku ingin sekali memilikimu" Lirih Kak Liam.


Suara Kak Liam terdengar seperti menahan tangis.


"Laura, Apa Kau masih tidur ?" Tanyanya.


Aku menutup mataku.


Kak Liam mendekat kearahku.


Jantungku sangat berdebar.


"Haha, Lagian, Kalau Kau mendengar ini Kau pasti akan menjauh i ku besok" Kak Liam sambil membetulkan rambutku yang menutup i wajahku.


"Tes" Susuatu menetes dipipiku.


Mungkin, ini adalah air mata Kak Liam.


"Cup!" Kak Liam mencium pipiku.


Jantungku tak bisa tenang.


"Dadaku terasa sesak saat Kau berada didekat kusir itu. Tapi, bila kau memang punya perasaan padanya Aku tidak masalah. Tetaplah menjadi Laura yang memanggilku Kak Liam" Kata Kak Liam dan kembali ketempatnya.


Aku langsung membuka mataku.


Wajahku terasa sangat panas dan Aku tidak bisa mengontrol detakan jantungku.


"Sialan ! Sialan! Sialan! Apa yang barusan terjadi ?! Sejak kapan Kak Liam jadi begini ?" Teriak batinku.


Suara kokokan ayam jantan mulai terdengar.


Akhirnya, Aku tidak bisa tidur karena ulah Kak Liam.


Sepanjang jam alarmku yang terus bergerak, Aku terus kepikiran dengan ucapan yang Kak Liam ucapkan.


"KRINGGGGGGGGG" Suara jam Alarm ku berbunyi dan Aku langsung duduk dan mematikan jam Alarmku.