LIAMARLO

LIAMARLO
MASA LALU bag.4 Arlo



Tak kehabisan akal.


Arlo langsung mencekik adiknya dan kedua tangan Yve yang baru terlepas langsung Ia pengang dikedua pergelangan tangan Yve menggunakan tangan kanannya.


Arlo melepas cekikannya.


"Yve ! Apa Kau sudah gila ?!" Arlo sangat marah pada Yve.


Ibu Arlo datang dan membuka pintu.


Ia melihat Arlo dan Yve diposisi yang seperti itu.


Ibunya langsung menjatuhkan barang bawaannya.


Arlo dan Yve melihat kearah pintu.


"Ibu !" Arlo sangat terkejut.


Ibunya langsung membelalakan matanya sambil berjalan cepat kearah Arlo dan -


"PLAKK!!!!!" Wajah Arlo ditampar oleh Ibunya.


Tangan kiri Arlo yang masih mencekik Leher Yve langsung di tarik oleh Ibunya hingga Arlo terjatuh dari sofa.


"Ibu....." Yve memulai aktingnya dan menanggis sambil memeluk ibunya.


"Bu ! Yve sudah gila bu !" Tegas Arlo.


Ibu Arlo mencium bau alkohol.


"Duaaaghh!!!" Ibu Arlo langsung menendang wajah Arlo sambil memeluk Yve.


"Kau mau jadi pemabuk seperti Ayahmu Arlo ?!" Ibunya sangat murka.


"Tidak bu ! Aku tidak tau kalau itu Alkohol! Yve yang memberikannya padaku bu !" Jelas Arlo.


"Kau mabuk Arlo ! Jangan memfitnah adikmu ! Dan apa yang Kau lakukan pada adikmu ?! Kau mau memperkosanya ?!" Ibunya sangat marah.


"Bu.... Aku sangat takut pada Kak Arlo" Yve menanggis sambil memeluk dan melirik Arlo.


"Bu! Apa yang ibu lihat tidak benar ! Yve yang melakukan itu duluan ! Aku hanya ingin menyadarkan Yve saja bu!" Tegas Arlo sambil berdiri.


"Arlo, Kau memang tidak ada bedanya dengan Ayahmu" Kata Ibunya Arlo sambil berlinang air mata.


"Bu! jangan menagis. Ini benar benar tidak seperti apa yang Ibu lihat" Kata Arlo sambil mendekat ke Ibunya.


"Keluar dari sini Arlo ! Kau tidak pantas disebut sebagai manusia ! Kau akan terus hidup hingga Kau menyesali apa yang telah Kau lakukan pada Yve !" Secara tak langsung, Ibu Arlo mengutuknya.


"Bu! Aku tidak bersalah ! Yv-" Arlo belum menyelesaikan ucapannya.


Ibu Arlo langsung mengeluarkan Pedang Sihirnya yang berwarna Biru.


"Aku mengutukmu. Kau tidak akan bisa mati hingga Kau benar benar mendapatkan balasan cinta dari orang yang paling Kau cintai" Ucap kutukan Ibunya Arlo.


"DEGH!" Suara jantung Arlo.


Yve terlihat tersenyum.


Arlo sangat tidak menyangka hal ini akan terjadi dan menimpanya.


Bersujud di kaki Ibunya.


"Bu, tolong percayalah padaku.... Aku anakmu, Aku juga Kakak Yve, Aku tidak akan melakukan hal tercela itu pada Yve bu" Kata Arlo.


"Arlo, Aku sudah melihat sendiri. Kau tidak pantas menjadi seorang Kakak. Seorang Kakak itu harus melindungi adiknya. Kau malah tidak !" Tegas Ibunya sambil mengibaskan Arlo yang bersujud di kakinya.


Arlo meneteskan air matanya.


"Bu, Aku tidak berbohong...." Lirih Arlo sambil melihat ke Ibunya.


"Buktikan" Kata Ibunya Arlo.


"Permisi, Kak.... Eh, ada apa ini ?" Naysyla tiba tiba datang sambil membawa sekeranjang buah buahan.


"Syla...." Arlo langsung melihat kearah Naysyla yang baru datang.


Yve melepas pelukan Ibunya dan berlari kearah Naysyla yang berdiri diambang pintu.


Yve langsung memeluk Naysyla.


"Yve, Kau kenapa ? Dan kenapa bajumu tidak dikancing ?" Tanya Naysyla yang terkejut tiba tiba dipekuk oleh sahabatnya itu.


"Kak Arlo, Dia mau memperkosaku. Aku sangat takut padanya..." Kata Yve sambil menanggis.


Naysyla terkejut dan langsung melihat ke Arlo.


Jantung Naysyla seperti kertas yang tersobek sobek.


Tidak bisa dituangkan lewat kata kata.


Arlo berdiri.


"Itu tidak benar Syla !" Tegas Arlo sambil mendekat kearah Naysyla.


Arlo dihalang i oleh Ibunya.


"Arlo, Aku belum selesai bicara denganmu. Buktikan bila Kau tidak bersalah" Kata Ibu Arlo.


"Bu, Ibu benar benar tidak percaya denganku ?" Tanya Arlo sambil menatap mata biru Ibunya.


"Yve tidak pernah berbohong padaku. Dia anak yang baik" Jelas Ibunya.


"Bu, Aku juga tidak pernah membohongimu Ibu. Apa Aku bukan anak yang baik ?" Tanya Arlo sambil menunduk.


"Sifatmu mirip dengan ayahmu. Pergilah dari sini. Dan Kau bukan anakku lagi. Kau tidak bisa membuktikan kalau Kau tidak bersalah" Kata Ibunya Arlo.


Arlo melihat kearah Naysyla.


Naysyla terlihat menanggis dan mengalihkan pandangannya.


Kedua Orang Tua Naysyla yang sudah ada didepan rumah Arlo dan datang bersamaan dengan Ibunya Arlo langsung masuk kedalam rumah.


"Syla, Diluar masih ada lelaki yang baik dan pantas untukmu" Kata Ayah Naysyla.


Arlo mundur dua langkah kebelakang.


"Baik ! Baik! Akan kubuktikan bila Aku tak bersalah!" Tegas Arlo sambil melihat Ibunya.


"Aku! Liamarlo menerima kutukan dari Ibuku sendiri ! Aku mengutuk diriku sendiri ! Bila aku memang berniat memperkosa Yve, Aku tidak akan menjadi seorang manusia! melainkan akan menjadi hewan dihadapanmu ! Dan bila Aku berkata jujur ! Mataku akan berwarna merah seperti Ayah dan rambut akan berwarna putih setulus kejujuranku !" Tegas Arlo.


"Wosh!" Energi sihir Arlo langsung meledak keluar dan menghancurkan rumah milik orang tuanya yang terbuat dari Kayu.


Debu berterbangan diudara.


Ibu Arlo melihat Mata Arlo yang berwarna merah.


Ia membelalakan matanya.


Ibu Arlo menyesal mengatakan hal buruk kepada Arlo dan memilih tidak mempercayainya.


"Yve, Keturunanmu, akan selalu menjadi musuhku. Saat itu, Aku akan memusnahkan semua keturunanmu" Kata Arlo sambil melihat Yve.


Arlo pergi melewati Ibunya yang membelalakan matanya.


"Arlo !" Ibunya memanggil.


Arlo berhenti dan melihat kebelakang.


"Kembalilah kemari. Kau anakku" Kata Ibunya.


"Kutukan Ibu sudah tidak bisa ditarik. Kalau kutukan Ibu bisa ditarik, Aku akan kembali" Kata Arlo sambil melanjutkan jalannya.


Setelah kepergian Arlo dari desa terpelosok Kerajaan Dynantya, rumor mengenai Arlo mulai menyebar luas.


Rumor itu berkata kalau "Seorang anak dikutuk oleh Ibunya Karena ingin melecehkan Ibunya"


Arlo tertawa mendengar rumor tidak benar benar itu.


Dan sejak saat itu, Seluruh Kerajaan melarang semua warganya untuk tidak belajar sihir.


Kerajaan mendengar, Arlo dikutuk oleh Ibunya sendiri dengan sihir tingkat tinggi yang dimiliki oleh Ibunya itu.


Dua puluh tahun sejak diberlakukannya aturan baru itu, banyak sekali ahli sihir dan orang orang yang ditangkap dan dibunuh agar tidak menyebarluaskan ilmu sihir.


KEMBALI DIMASA ARLO BERCERITA TENTANG MASA LALUNYA PADA ANERIA


"Ya, Karena kutukan dari Ibuku itu tidak bisa ditarik lagi jadi ya gini, Aku tidak pernah kedesa itu lagi sampai sekarang" Kata Arlo.


"Em... Aku sungguh prihatin dengan kisahmu ini. Maafkan Aku karena membuatmu teringat lagi akan hal ini" Kata Aneria yang merasa tidak enak pada Arlo.


"Ckckck! Santai saja, lagi pula baru ini Aku bercerita tentang diriku pada orang lain. Oh iya, Aku punya sesuatu. Apa Kau mau menerimanya ?" Tanya Arlo.


"Sesuatu ? Apa itu ?" Tanya Aneria.


Arlo mengeluarkan batu sihir berwarna biru langit seperti warna mata Aneria dan titik merah ditengah batu sihir itu.


"Gelang ?" Tanya Aneria sambil menerimanya.


"Batu ini adalah batu sihir. Kau bisa memanggilku saat membutuhkanku. Ingat namaku, Liamarlo. Aku akan langsung datang" Kata Arlo sambil tersenyum pada Aneria.


"Ini sangat cantik" Kata Aneria.


"Oh iya, jangan dipakai saat dikamar mandi ya" Kata Arlo.


"Kenapa ?" Tanya Aneria.


"Itu akan membuat sihirnya melemah" Jawab Arlo.


"Ohw, kupikir Kau akan memata matai saat dikamar mandi" Kata Aneria.


"Ya enggak lah! Gini ini Aku laki laki yang baik" Kata Arlo.


Aneria menepuk kepala Arlo.


"Terima kasih" Ucap Aneria.


Sembilan bulan telah berlalu,


Aelius mendapatkan kabar kalau ada sekelompok sekte yang berusaha menguasai kerajaan kerajaan di negri Ardan.


Aelius juga mendapatkan kabar dari Kepala Prajurit kalau ada sekelompok orang yang bisa sihir sedang menyerang warga Desa.


Di waktu yang bersamaan, Aneria berkata pada Aelius kalau Scarlette, Ibu Dera akan melahirkan.


"Ini gawat, Aku juga mendapatkan kabar kalau ada sekolompok orang menyerang warga. Ini ada hubungannya dengan Sekte yang menyerang Kerajaan kecil" Kata Aelius.


"Aku panggilkan Arlo ? Kita butuh bantuannya" Kata Aneria.


"Jangan, nanti warga desa akan balik menyerang Arlo. Sekarang, Kau urusi persalinan Scarlette. Aku akan memanggil para menteri dan yang lain" Kata Aelius.