
Akhirnya, Kami berenam berangkat Kekerajaan Dynantya menggunakan Dua kereta kuda.
Kami melakukan perjalanan ke Kerajaan dimana pusat hukum, pendidikan dan kemiliteran terbaik di Negri Ardan berada.
...***...
Kami mengambil jalur pintas yang memotong hutan tempat penyihir Arlo yang dimitoskan itu.
Aku, berada dikereta kuda bersama Kak Liam.
Kakek melarang Kak Liam untuk sekereta dengan pelayan yang terluka tadi.
Kak Liam terus menatap keluar jendela selama memasuki hutan.
Selama di perjalanan Aku terus berfikir, Dimana Arlo berada?
Selama satu setengah hari, Kami naik kereta kuda melewati hutan.
Aku tak melihat kehadiran penyihir penjaga hutan itu.
Apa mungkin dia sedang sembunyi ?
Atau, saat itu yang menolongku hanya orang biasa yang pandai sulap ?
Tapi, itu tidak mungkin.
Di tahun 2043 ini, Siapa yang percaya dan siapa yang masih bisa menggunakan sihir selain Arlo ?
Kereta kuda berhenti dijalankan.
Hari sudah mulai gelap,
Suara jangkrik, suara gesekan ranting dan suara pohon yang bergoyang mulai terdengar dan membuatku sedikit merinding.
"Kau bosan ?" Tanya Kak Liam yang tiba tiba memecah kesunyian.
"Ah! enggak Kak! " Jawabku.
Sebenarnya, Aku merasa bosan.
Tapi, Aku takut untuk keluar dari kereta kuda mengingat kejadian saat Aku dikejar oleh pria bertopeng itu hingga memasuki hutan.
"Didalam sana, ada banyak kunang kunang. Mau melihatnya?" Tanya Kak Liam sambil melihatku.
"Kunang kunang ?" Tanyaku.
Dizamanku sekarang, Kunang kunang jarang sekali terlihat, terakhir kali Aku melihatnya saat ibuku masih ada.
"Iya, Kunang kunang. Mau melihatnya ?" Tanya Kak Liam sekali lagi.
"Aku ingin melihatnya, tapi bagaimana bila Arlo muncul ?" Tanyaku dengan lirih.
"Kau, percaya dengan adanya Arlo ?" Tanya Kak Liam sambil melihat keluar kereta kuda.
"Aku tidak percaya dengan mitos Kak. Tapi, Arlo itu berbeda. Kakek bercerita kalau Beliau pernah bertemu Arlo.
Kak Liam langsung melihatku.
"Kakek ?! Dia bercerita tentang Arlo?" Tanya Kak Liam.
"Iya Kak, Sebelum Kakak datang ke kamar pelayan itu" Jawabku.
Aku melihat Kak Liam.
Dari rautnya Ia terlihat marah.
"Apa yang Dia ceritakan tentang Arlo ?" Tanya Kak Liam.
"Tentang insiden Arlo dan Api biru" Jawabku.
"Oh" Lirih Kak Liam dan Ia terlihat kembali tenang.
"Oh ? hanya oh ?" Tanyaku.
"Hah ?" Tanya balik Kak Liam sambil melihatku.
"Hah oh hah oh aja Kak" Kata ku.
"Haha, Jadi Kau mulai percaya dengan Arlo ?" Tanya Kak Liam dan Ia terkekeh kecil.
"Aku, tidak tau Kak" Jawabku.
"Tetaplah menjadi Laura yang tak percaya dangan Arlo" Kata Kak Liam sambil kembali melihat keluar jendela.
"Kak, katanya mau nunjukin tempatnya kunang kunang?" Tanyaku.
"Ayo" Ajak Kak Liam.
Kak Liam terlihat lebih pendiam saat dihutan.
Aku takut ini hanya mimpi.
sesekali Aku mencubit lenganku.
Dan, ini terasa sakit.
Kak Liam meminta izin kepada Kakek untuk membawaku sebentar.
Dan, Kakek langsung mengizinkannya tanpa pikir panjang.
Kak Liam terus berjalan disampingku tanpa banyak bicara.
Aku merasa canggung dan aneh disuasana yang sepi ini.
Sesekali Aku melihat dan melihat warna matanya yang masih biru dengan pupil merah itu.
Aku takut mimpiku menjadi nyata.
Kak Liam melihatku.
Dan Kami saling pandang.
Aku yang terkejut langsung memalingkan wajahku.
"Hemf...." Aku mendengar tawa kecil Kak Liam.
"Kenapa dari tadi Kau memandangiku Laura ? Apa Aku terlihat sangat tampan ?" Tanya Kak Liam.
"Enggak. Setampan tampannya Kakak, bagiku, Kakak biasa saja" Jawabku sambil berhenti.
"Yaelah, pakek ngeles lagi ? udah~~ jujur saja, Kau kagum karena ketampananku yang bertambah dihutan inikan ?" Tanya Kak Liam sambil menyeringai dan memajukan wajahnya kedepan wajahku.
Ya, Aku nggak jadi khawatir dengannya, Dia memang Kakakku.
Aku mendorong wajah Kak Liam dengan tangan kananku.
"Nggak baik loh Kak kalau terlalu pede gitu. Kalo udah jatuh nanti nangges~" Ejekku.
"Ya kali Aku nanggis, Yang bakalan nanggis juga Kamu" Kata Kak Liam sambil tersenyum dan menarik hidungku.
Jadi, terdengar aneh ditelinggaku tapi biarkan saja.
Aku melepas tangan Kak Liam yang menarik hidungku.
"Lagian, Kakak aneh sejak masuk hutan. Kakak jadi lebih pendiem dari sebelumnya" Kataku sambil mengosok hidungku yang terasa panas.
"Eh ? benarkah ? Aku nggak sadar. Tapi, Kau suka dengan Aku yang banyak tingkah ya~~ ?" Tanya bernada Kak Liam.
"Ya! Aku hanya khawatir dengan Kakak!" Tegasku.
"Utuk utuk utuk.... Laura khawatir dengan ku...." Goda Kak Liam sambil mencubit kedua pipiku.
"Aku jijik dengan tingkahnya yang memperlakukanku seperti bayi ini"
"Duaghh!" Aku langsung menedang perut Kak Liam.
Aku sangat kesal padanya.
"Aduh...." Kak Liam langsung memegang perutnya dengan kedua tangannya.
"Kenapa Kau menendangku Laura ?" Tanya Kak Liam.
"Karena Kakak menjengkelkan. Sekarang dimana kunang kunangnya ?" Tanyaku.
Kami, melanjutkan jalan Kami.
"Nah, dibalik sini, banyak kunang kunangnya. Disini juga, tempatku untuk berendam dan mengurangi rasa sakit dipunggungku ini" Kata Kak Liam sambil menunjukkan tempat itu.
Pandanganku tertuju pada Rumah tua yang mirip sekali dimimpiku tempat Arlo berada.
Jantungku berdebar dengan kencang.
Aku takut.
Tanganku sedikit gemetar.
"Laura, Apa Kau sakit ?" Tanya Kak Liam.
"Ah! enggak Kak!" Jawabku sambil tersenyum pada Kak Liam.
Aku tak ingin Kak Liam merasa bersalah karena telah membawaku kemari.
"Tep" Telapak tangan Kak Liam yang terasa kasar menyentuh keningku.
"Kau kedinginan?" Tanya Kak Liam sambil menatapku.
DEGH!
"Enggak Kak. Lihat Kak! Kunang kunangnya banyak. Jadi, inget ayah yah.." Aku mengalihkan pandangan sambil menunjuk kunang kunang dibelakang Kak Liam.
"Ya, jadi inget dengan, Laura! mau masuk kerumah itu ?!" Tanya Kak Liam dengan nada yang bersemangat.
"Akh! Nggak Kak" Kataku.
"Hey~~ Kau takut adik kecil~ ?" Tanya bernada Kak Liam dengan senyumannya yang menjengkelkan dan mengerakkan seluruh jari tangannya.
"Nih, Kalo takut ada lenganku, ada juga pungungku yang sama sama kosong" Kata Kak Liam sambil menunjuk telapak tangannya dan pungungnya.
"Idih! palingan nanti yang bakalan megang erat tanganku palingan juga Kakak!" Tegasku.
"Mau dibuktikan ?" Tanya Kak Liam yang memajukan wajahnya sambil tersenyum.
"Sial, Aku terjebak ucapanku sendiri" Gumamku
"Ayo! cari alasan agar nggak kesana!!" batinku.
" Kak! Sepertinya Aku mendengar suara Kakek memanggil" Kataku.
"Ngak, si tua itu nggak bakalan manggil, Palingan yang manggil setan" Kata Kak Liam yabg berjalan santai didepanku.
"SYUUUT" Ucapan Kak Liam membuatku merinding.
"Hush! Setan itu nggak ada Kak!" Tegasku.
"Kalau Setan memang ada gimana ?" Tanya Kak Liam sambil berhenti ditempat.
"Setan itu hanya ada dipikiran Kak Liam saja" Kataku sambil jalan didepan Kak Liam.
"HUFFH!"
"HUAH!!" Aku terkejut karena tiba tiba Kak Liam membuang nafasnya di belakang leherku.
"KAK!" Tegasku dan langsung melihat kebelakang.
"Degh!" Aku, tidak melihat Kak Liam dibelakangku.
"Sialan! Kak ! Jangan nakut nakutin ! Kalo gini ! Aku adukan ke Kakek!!" Tegasku sambil tolah toleh.
Kalau boleh jujur, Aku takut sekali.
"Drap!" Kak Liam melompat dari atas pohon diatasku.
"Kak!" Teriakku belum usai.
"Tsuuss... diam" Lirih Kak Liam sambil menarik perlahan tanganku.
"Kreeek" Suara langkah kaki terdengar ditelingaku.
"Siapa Kak ?" Lirihku.
"Maaf Laura" Lirih Kak Liam sambil melihatku dan memegang pinggangku.
"Eh?!"
"SYUUUT! GREP! DRAP! JUMP!" Kak Liam langsung mengangkat pinggangku, Kak Liam mengendongku seperti membawa karung sampah dan Ia langsung Lari Kemudian melompat Keatas jendela dilantai dua rumah kosong itu yang terbuka.
"Degh!" Aku terkejut sekali Kak Liam bisa melompat sejauh ini sambil mengendongku.
"Tep!" Kak Liam mendarat diatas loteng dekat jendela yang terbuka itu.
"Kau, baik baik saja Laura ?" Tanya Kak Liam sambil menurunkanku.
Aku masih terkejut.
"Gila... bagaimana bisa ? Kakak Manusia atau manusia super ?" Tanyaku.
"Nanti Aku jelaskan" Lirih Kak Liam sambil mengintip kebawah.
"Ada apa Kak?" Tanyaku sambil ikut ikutan ngintip.
"Tetap sembunyi Laura" Lirih Kak Liam.
Aku, melihat sosok berambut putih yang mamakai jubah merah gelap.
"Arlo?" Tanya lirihku sambil melihat Kak Liam .