
Liam membuang nafas dengan perlahan dan panjang.
"Kau boleh membenciku. Tidak apa apa kok" Kata Liam sambil melihat Laura dengan pupil marahnya yang terlihat membesar dan tersenyum pada Laura.
"Tapi, ingatanku tentang diriku yang lalu, sangatlah Kabur. Aku hanya bisa mengingat sefikit sedikit" Lanjut Liam
...***...
"Grttt!" Laura menggigit keras giginya.
"Hentikan Kak !" Tegas Laura sambil berdiri.
Liam masih melihat Laura.
"GREP!" Laura memeluk Liam yang duduk dihadapannya.
Liam yang berada didekapan Laura langsung membelalakan matanya.
"Aku menyayangi Kakak. Jangan pernah Kakak memperbolehkanku untuk membenci Kakak" Kata Laura.
Liam membalas pelukan Laura.
"Aku sangat mencintaimu Laura. Aku tidak ingin ada orang yang memiliki mu. Aku egoiskan ?" Tanya Liam dengan nada bergetar seperti menahan tangisnya.
"Iya Kakak Liam memang selalu egois. Tapi tidak apa apa. Aku lebih suka Kak Liam yang jujur dan apa adanya seperti sekarang" Kata Laura sambil mengelus halus rambut putih Liam yang mulai terlihat semu keabu abuan.
"Laura, sebenarnya, Aku sangat ketakutan" Kata Liam yang masih bergetar suaranya.
"Kakak takut dengan apa ?" Tanya Laura.
"Aku takut tidur. Setiap Aku tertidur ada sosok yang selalu datang padaku Dia selalu menyeringai didepanku" Kata Liam.
"Itu hanya mimpi Kak. Mungkin Kak Liam sedang kecapekan" Kata Laura.
"Dia datang setiap malam. Matanya yang merah dengan rambutnya yang hitam gelap itu. Seolah oleh Ia ingin melahap dan membunuhku" Kata Liam.
"Tidak apa apa Kak, Jangan dipikirkan. Itu hanya bunga tidur" Kata Laura yang berusaha menenangkan Liam.
"Aku mengantuk dan Aku takut saat Aku tertidur, Aku malah menyakitimu Laura" Kata Liam.
"Jangan Khawatir Kak, Kakak tidurlah didekatku. Aku akan menjaga Kakak selama Kakak tertidur. Bila Kakak bertingkah aneh Aku akan langsung memukul dagu Kakak yang seperti Kakak ajarkan padaku" Kata Laura dengan penuh percaya diri dan sangat yakin.
"Berjanjilah padaku Laura untuk memukulku dengan keras hingga Aku terbangun" Kata Liam.
"Tentu Kak. Sekarang Kakak tidurlah. Aku akan menjaga Kakak" Kata Laura sambil melepaskan pelukannya.
POV LAURA
Ya, Kak Liam mulai tertidur, Dia terlihat benar benar seperti ketakutan.
Aku mulai menepuk nepuk bahu Kak Liam.
Dia terlihat sangat kelelahan.
"Apa akhir akhir ini Kak Liam tidak tidur ?" Batinku sambil menyelimuti Kak Liam dan tidur disampingnya.
Aku benar benar sangat mengantuk.
Aku tetap menepuk perlahan bahu Kak Liam dan Akhirnya, Aku ikutan ketiduran.
"Ne.... Laura, Apa Aku terlihat jahat dimatamu ?" Tanya halus Kak Liam sambil membelakangkan poniku.
Aku langsung terbangun dan membuka mataku dengan Spontan.
"Hey..... Kau benar benar terlihat sangat cantik dari dekat"
Rambut Kak Liam berubah menjadi Hitam dan matanya yang biru itu berubah menjadi merah.
Dia diatas ku.
kedua tanganku dipegangi oleh tanganya.
Dia duduk dipahaku.
"Kau tau, Aku benar benar sangat menyukaimu. Mau melihat bintang bersamaku disetiap malam ?" Tanyanya sambil mendekatkan wajahnya kewajahku.
Aku langsung melihat kekiri.
"Kak, Sadarlah Kak. Apa yang Kakak lakukan ini tidak benar" Kataku.
Aku ingin memukulnya tapi Aku tidak bisa memukulnya.
Ia memegang tangaku dengan erat.
pergelangan tanganku terasa sakit.
"Kak ? Aku bukan Kakakmu. Aku ini orang lain. Seet! Hey lihat Aku" Kata Kak Liam sambil menarik wajahku untuk melihatnya.
"Cup! Hemph!" Dia, mencium bibirku.
Dia benar benar bukan Kak Liam.
Aku berusaha memberontak.
"GERTTT!!" Aku langsung menggigit bibir bagian bawa Kak Liam.
Dia mengusap bibirnya yang berdarah dengan ibu jarinya.
"Lepasin Aku kalo enggak Aku teriak ini!" Tegasku.
Aku sangat ketakutan.
"Hahaha....." Dia mengeluarkan tawa seperti tawa menghina.
"SMIRK!" Dia menyeringai sambil mendekatkan wajahnya dihadapanku.
"Coba saja berteriak, mereka tidak akan mendengarmu" Kata Kak Liam dengan santai.
"KAKEK !!!!!! TOLONG AKUUUU!!!!!!" Teriakku.
"Lucu sekali, Dia tidak akan bisa mendengarkanmu" Kata Kak Liam.
"Tes....." Air mata menetes dari mata Kak Liam yang ada didepan wajahku ini.
Dia menanggis ?
"Hah! Lagi lagi kenapa menanggis? Kau diamlah disana" Kata Kak Liam sambil mengusap kasar air matanya.
Dia bicara sendiri.
Apa yang didepanku ini sosok yang berbeda ? bukan Kak Liam ?
"Kau tau, Dia bukan Liam dan Aku adalah Liam yang sebenarnya. Dia mengurungku dan Dia membuatku digantikan oleh Liam yang mengaku ngaku" Dia berbicara aneh.
Siapa Dia yang dia maksud ?
"Kau tau rasanya dikurung 13 tahun ? Itu tidak enak sekali. Dindingnya sangat tebal. Dan untungnya, Aku melihat lubang sekecil ini. Lalu Aku bisa keluar" Jelas Dia sambil membentuk lingkaran dengan ibu jari dan jari telunjuknya.
Apa maksudnya dikurung 13 tahun ?
"Disana sangat gelap. Aku hanya bisa melihatmu diantara cahaya cahaya yang sangat terang. Aku ingin Kau memelukku dan Aku ingin Kita hidup bersama dan bahagia. Orang orang menyebutnya itu sebagai keluarga" Kata Dia sambil menggusap bibirku yang ada darahnya.
"Kau memang keluargaku Kak! Kau adalah Kakakku! Kak Liam!" Tegasku.
"Aku tidak ingin menjadi Kakakmu. Aku ingin memilikimu" Kata Kak Liam.
Dia membuatku takut.
Aku harus mencari cara agar Dia melepaskanku.
"Apa Kau suka pertunjukan?" Tanyanya.
"Aku tidak suka dengan apa yang Kau suka. Cepat lepaskan Aku !" Tegasku.
"Tes....." Air mata Kak Liam kembali menetes.
Dia tersenyum.
"Semakin Kau memberontak, Kau terlihat seperti kucing kecil yang tak ingin dicium. Imut sekali" Ucapnya sambil mendekatkan wajahnya dan merenganggkan pengangannya.
Aku coba saja, siapa tau Kak Liam yang kukenal akan terbangun.
"Tep! Bangun Kak!" Aku langsung memegang pipi Kak Liam dan menariknya.
Dia hampir terjatuh dan menahan tubuhnya dengan tumpuan kedua tangannya disampingku.
"HEMPH" Aku mencium bibirnya.
*Njir, terasa lembut.
Astaga*.....
Aku melihat mata Kak Liam yang membelalak kemudian menutupkan matanya.
"BRUK!" Tubuhnya terjatuh diatasku.
Tubuh Kak Liam terasa lebih berat dari sebelumnya yang terasa sangat ringan.
Aku melihat kesamping dan mengusap bibirku.
"Memalukan sekali" Lirihku sambil mengusap rambut Kak Liam yang berwarna abu abu dan tidak putih seperti biasanya.
"Maaf ya Kak, Ku pikir hanya mimpi biasa saja" Kataku sambil mengeser Kak Liam untuk kembali tidur ditempatnya.
Aku melihat jam dinding yang masih berada dipukul 02.15.
"Sudah subuh saja" Lirihku
"Siapa sosok tadi ? Apa Aku harus melaporkan ini pada Kakek ? Ah, jangan dulu, ini bisa bahaya untuk Kak Liam. Kak Dera masih belum ditemukan. Aku akan bilang Kekakek setelah pengangkatan Pangeran Gevand saja. Mungkin sekarang beliau sangat sibuk" Batinku sambil duduk dan minum air.
"Ah! Lupa, bekas Kak Liam" Aku baru menginggatnya dan menaruh kembali air itu.
Aku melirik Kak Liam yang tertidur sambil menanggis.
Aku menghela napas.
Kupikir Dia orang yang tidak pernah menanggis dan orang yang selalu menjengkelkan.
Ternyata, Dia juga manusia yang bisa menanggis.