LIAMARLO

LIAMARLO
Kerja Sama para Pangeran



Alan tidak menyangka kalau dirinya akan mengambil alih tubuh Liam.


"Bagaimana ini bisa terjadi? Padahal Aku ini sudah mati" Batin Alan sambil memegang perutnya yang terus mengeluarkan darah tanpa henti.


Itu, karena tekad Alan yang membuat Dia kembali dan menetap di dalam tubuh Liam.


Alan mengelus rambut Dera yang kepalanya telah di penggal oleh Liam.


"Aku tidak bisa menyembuhkan lubang di tubuh ini. Bila di biarkan, luka ini akan membusuk. Apa yang harus Aku lakukan ?" Batin Alan sambil sambil melihat perutnya yang tidak berhenti mengeluarkan darah.


"Tak lama lagi, mereka akan mengepungku di luar. Untuk sekarang, bersembunyi adalah satu satunya cara terbaik untukku" Batin Alan sambil berdiri.


Alan mulai berjalan perlahan menahan rasa yang sangat sakit di perutnya.


Darah Liam terus berceceran di sepanjang jalannya.


"Kalau saja ini luka kecil, mungkin Aku bisa menyembuhkannya" Kata Alan sambil duduk di anak tangga paling atas sendiri.


Ia juga menyadari kalau percuma saja untuk bersembunyi bila masih ada darah yang menetes di lantai.


Alan berusaha menghentikan pendarahannya itu dengan sihir penyembuhannya.


Memang membutuhkan waktu yang lama.


Tapi, Alan berhasil melakukannya.


Di tempat Gevand.


Memang benar dengan apa yang di ucapkan oleh Arlo.


10 Pangeran yang masih ada di sana membantu mengevakuasi warga untuk menuju ke dalam hutan.


Menurut Pangeran Zaverias, itu adalah cara teraman bagi mereka.


Sebab, Zaverias telah menilai Arlo yang tidak seburuk dengan apa yang di katakan oleh Orang orang.


"Semuanya ! Kalian akan aman di dalam hutan ini ! Terus lah berjalan untuk pergi ke Desa ujung Dynantya ! Itu adalah satu satunya tempat yang aman untuk Kalian !" Tegas Gevand pada semua warganya.


Ya, walau Gevand belum mendapatkan gelar Putra mahkota, 9 Pangeran telah mempercayai Gevand untuk memimpin mereka.


"Tapi Pangeran ! Kenapa Kita harus pergi dari sini ?! Bagaimana dengan harta benda Kami ?!" Tegas salah satu warga.


Pangeran Andreas mengarahkan pedangnya di hadapan orang tersebut.


"Diantara nyawamu dengan hartamu, mana yang lebih berharga ?!" Tanya tegas Andreas.


"Nya... nyawa !" Ucap orang itu.


"Kalau begitu ! Ikuti ucapan Pangeran Gevand ! Kota ini tidak aman ! Siapapun yang menentang perintah Pangeran Gevand ! Jangan ikut Kami ! Kalian hanya akan menjadi beban saja di perjalanan nanti !" Tegas Andreas.


Akhirnya, Semua orang menuruti ucapan Andreas dan pergi ke Desa ujung Dynantya melewati hutan.


Arlo berteleport di samping Gevand yang sedang berbicara dengan Zaverias untuk membagi tugas.


Para Prajurit Dynantya telah dikalahkan Oleh pengikut Dera.


Sedangkan pengikut Dera, ada yang menyamar di antara para warga yang di evakuasi.


"Jangan ada yang pergi dari sini !!" Tegas Arlo di samping Gevand.


Gevand dan yang lain sangat terkejut.


"Dia ! Dia ARLO !!!!" Teriak warga yang sangat terkejut.


"Kalian Semua !!!! Diamlah !!!" Tegas Andreas.


"Mohon ketenangannya sebentar. Dari sini Aku yang akan mengambil alih pimpinan untuk Kalian" Kata Arlo.


"Apa ?! Kenapa ?!" Tanya Andreas yang kaget.


"Kami Menolak !!! Kau bisa saja membunuh Kami kapan saja !!!!!" Teriak Warga.


"Pangeran, tolong buat rakyat Anda tenang. Sementara waktu, Kalian akan ku pimpin terlebih dahulu. Aku menjamin dan akan bertangung jawab penuh atas keselamatan kalian" Kata Arlo sambil menatap Gevand dan William yang merupakan Pangeran yang paling tertua diantara mereka.


William langsung mempercayai Arlo.


"Ikuti ucapannya, Gevand. Musuh kita adalah orang yang bisa sihir. Kita tidak bisa berbuat apa apa di kondisi seperti ini. Di tambah lagi, semua Prajurit Dynantya habis di bunuh mereka" Kata William.


Zaverias memegang lengan Gevand.


"Kita membutuhkan bimbingannya. Toling di setujui Pangeran" Kata Zaverias.


"Aku ! Setuju dengan ucapan Penyihir tua itu ! Jelas jelas tadi Dia membantu Kita keluar dari Aula istana !" Tegas Andreas.


"Baik ! Tolong bantuannya !" Tegas Gevand sambil membungkuk.


Gevand langsung melihat calon rakyatnya.


"YANG MAU MATI ! SILAHKAN JANGAN IKUTI KAMI !" Tegas Gevand singkat.


Semua warga langsung terbungkam.


"Baiklah, Para Pangeran tolong berkumpul sebentar. Aku harus membagi tugas Kalian" Kata Arlo.


Sepuluh Pangeran itu langsung berkumpul.


"Disini, Kita bagi tugas. Diantara kalian, Siapa yang dekat dengan Kerajaan Alter ?" Tanya Arlo.


William mengangkat tangan.


"Kalau begitu, Kau pergilah ke Kerajaan Alter untuk meminta bantuan pada Kerajaan lainnya. Ceritakan yang sesungguhnya pada mereka. Dan Sampaikan kematian Aelius. Pergilah bersama satu Pangeran Lainnya yang memiliki hubungan yang bagus dengan Kerajaan Alter" Kata Arlo.


"Andreas, Kau Anggota keluarga cabang dari Kerajaan Alterkan. Ikutlah denganku" Kata William.


"Tidak. Aku akan menjaga warga di sini dan membantu Gevand. Ajaklah Zaverias, Dia pandai bicara" Kata Andreas sambil memegang bahu Zaverias yang munggil.


"Bagaimana Zaverias ?" Tanya William.


"Dengan senang hati, Saya akan membantu Pangeran William" Ucap Zaverias.


"Bagus, Kalau begitu masuklah di portal ini" Arlo langsung membuka Lubang sihirnya.


Kedua Pangeran itu langsung masuk.


"Disini, yang akrab dengan Raja Nelzefvia sekarang siapa ?" Tanya Arlo.


Gevand menunjuk Andreas.


"Bukannya Kau juga Akrab dengan Liam dan Kyle ?" Tanya Andreas.


"Raja Kyle tidak percaya denganku. Kau yang sering bersamanya jadi tolong bantuannya" Kata Gevand.


"Cih! Baiklah" Kata Andreas sambil menggaruk tengkuknya.


"Bagus, Kalau begitu. Jagalah Laura untuk sementara waktu dan Berangkatlah besok pagi dengan Laura" Kata Arlo.


"Kenapa harus besok ? Bukankah lebih cepat lebih baik ?" Tanya Andreas yang sama dengan pertanyaan Laura.


"Aku dengar Kerajaan Dyantya telah memutuskan hubungan dengan Kerajaan Nelzefvia, bila malam ini Kalian kesana hanya akan membuat keributan di sana" Kata Arlo.


"Aku kenal dengan Kyle. Dia tidak seburuk itu. Dia sangat menyayangi Kakeknya. Percayalah padaku. Dia pasti akan menjadi orang pertama yang akan membantu Kita" Kata Andreas.


"Baiklah. Masuklah kesini dan bawa Laura Ke Nelzevia" Kata Arlo.


"Dimana Putri Laura berada ?" Tanya Andreas.


"Di rumahku. Setelah itu, Kau langsung saja Ke Nelzefvia Katakan semuanya yang Kau lihat dan apa yang Kau dengar pada Raja Nelzefvia. Kemudian, Minta bantuan Nelzefvia untuk mengevakuasi warga Dynantya" Kata Arlo.


"Musuh kita hanya satu orang. Kenapa harus memindahkan mereka ke Kerajaan lain ?" Tanya Andreas.


"Sihir, memiliki serangan berskala besar. Bagi kalian yang tidak terbiasa dengan sihir. Bisa menimbukan efek yang sangat parah. Di tambah juga, Diantara Rakyat Dynantya, pasti ada musuh" Lirih Arlo.


Ke tujuh Pangeran dan Andreas mengangguk.


"Baiklah. Aku berangkat sekarang. Gevand, jangan mati dulu" Kata Andreas sambil pergi.


"Tentu" Kata Gevand sambil menunjukkan gigi giginya.


Andreas masuk kedalam portal itu.


"Baiklah, Untuk kalian bertujuh. Temukan musuh kita yang bersembunyi di antara mereka" Kata Arlo.


"Bagaimana caranya ?" Tanya Gevand.


"Suruh mereka memegang batu ini, Ini batu sihir. Bila batu sihirku mengenai orang yang sama sama memilik energi sihir, Batu ini akan langsung mengeluarkan cahaya yang berbeda" Kata Arlo.


"Tapi, Bagaiamana caranya agar tidak ketahuan ?" Tanya salah satu pangeran.


"Santai saja, orang yang memiliki energi sihir, Orang itu akan langsung terikat dengan sihirku. Agar tidak ketahuan, Buatlah kain penutup agar menutupi pandangan musuh yang lainnya" Kata Arlo.


"Ide bagus ! Ayo ! Langsung kerjakan ! lepaskan mantel dan jas kalian semua !" Tegas Gevand.


"Untuk apa Pangeran ?!" Tanya warga.


"Untuk membuat tenda agar bisa istirahat malam ini !" Tegas Gevand.


"Bagus, Cucu cucumu memang bisa diandalkan semua, Aelius" Batin Arlo