
"Jangan di buat sedih Putri. Kalau mau menanggis sini, ada bahuku untukmu" Kata Andreas sambil tersenyum dan menepuk bahunya sendiri.
"jangan macam-macam, Bajul!" Tegas Lirih Kyle sambil menyikut lengan Andreas di sampingnya.
"Saya hanya berusaha untuk menghiburnya" Lirih Andreas sambil menunjukkan senyumannya pada Kyle.
"GREP!"
"Eh ?!" Andreas dan Kyle sama sama terkejutnya.
"Aku ! Benar benar lelah hari ini Pangeran !" Tegas Laura yang memeluk Andreas sambil menanggis.
Andreas membelalakan matanya dan mengangkat kedua lengannya karena sangat terkejut.
Kyle tersenyum sedih melihat Laura yang memeluk Andreas.
"Padahal ada Aku, Kakakmu. Kenapa Kau malah memeluknya, Adikku ?"
Andreas yang sangat terkejut langsung mengangkat wajah Laura yang tengah menanggis.
"Putri ! Kenapa Kau malah memelukku ? Disampingku, Ada Raja Kyle ! Kakakmu !" Tegas Andreas yang merasa tidak enak pada Kyle.
Andreas melihat wajah Laura yang memerah karena menanggis.
"Kenapa Kau bersikap seperti Kak Liam ?! Jangan bersikap sepertinya padaku !" Tegas Laura.
Andreas langsung terdiam.
"Maafkan Saya, Saya tadi hanya berusaha menghibur Putri. Tapi, ada baiknya bila Putri memeluk Raja Kyle. Dia adalah Kakak Putri" Kata Andreas sambil melepas pelukannya Laura.
"Tidak! Jangan biarkan Aku untuk melepaskanmu !" Tegas Laura.
"Putri, Anda bersikap sangat kekanak kanakan sekali" Kata Andreas.
"Biarkan ! Terserah diriku !" Tegas Laura yang semakin mempererat pelukannya.
Kyle memegang bahu Andreas sambil mengangguk.
Kyle membiarkan hal itu.
Jantung Andreas memompa dengan cepat.
Tapi, Andreas tetap bersikap tenang diluar.
"Jantungnya, berdetak dengan kecang" Batin Laura sambil melepaskan pelukannya.
"Kenapa Kau melepas pelukanmu Laura ?" Tanya Kyle sambil melihat Laura yang matanya masih sebam.
Laura duduk di depan mereka berdua sambil mengembalikan celana milik Andreas.
Laura mengeleng.
"Aku sudah terlalu banyak merepotkan Pangeran Andreas. Aku hanya mau berterima kasih saja" Jawab Laura sambil mengikat rambutnya.
Andreas menunduk, Jantungnya yang memompa dengan cepat membuat wajahnya memerah.
Andreas memegang dadanya.
"Kenapa Aku berdebar ? Apa penyakitku kambuh ?" Batin Andreas yang masih menunduk.
"Kak Kyle, Aku akan memanggil Arlo. Jadi, kita tidak perlu menunggu dia lama lama" Kata Laura sambil menunjukkan gelang miliknya yang diberi oleh Liam.
Ya, atau bisa juga di sebut gelang pemberian Arlo untuk Aneria.
"Eh ? Gimana cara memanggilnya ?" Tanya Kyle.
"Aku hanya perlu memanggilnya saja, bila Dia tidak sibuk, Dia pasti akan langsung datang" Jawab Laura sambil tersenyum.
"Eh ?! Kalau Kau tau begitu, harusnya Kau mengatakannya lebih awal !" Tegas Andreas sambil melihat ke arah Laura yang wajahnya masih memerah.
"Ah, maafkan Aku, Aku baru ingat sekar- Eh ?" Ucap Laura yang belum usai karena melihat wajah Andreas itu memerah.
"Apa Pangeran sakit ?" Tanya Laura yang berniat memegang kening Andreas untuk memastikannya.
Andreas mundur kebelakang dan Laura yang melihatnya langsung menurunkan tangannya.
"Kurasa, setelah semua ini selesai, Aku akan tidur" Kata Andreas sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Baiklah, Setelah ini juga ! Kak Kyle harus mencoba kue cokelat kesukaan Kak Liam. Jadi, jangan tinggalkan Aku yah " Kata Laura sambil melihat kearah Kyle dan tersenyum padanya.
Kyle membelalakan matanya, Ia terkejut mendengarkan perkataan Laura barusan.
Laura mendengar semua cerita Kyle dari balik dinding saat berganti pakaian tadi.
Laura memeluk pelahan Kyle dari depan.
Bibir Kyle bergetar, Ia tidak menyangka adik perempuannya itu akan memeluknya.
Rasa sakit yang Ia rasakan di perutnya mulai tidak terasa sakit.
Tapi, Kini Kyle merasa sangat kedinginan.
Senyum tipis terlihat dari raut wajah Kyle.
Andreas yang berada di sampingnya diam melihatnya.
"Ini, adalah yang di Inginkan oleh Raja Kyle, Hah.... Apakah, Putri bisa menerima hal ini ?" Batin Andreas sambil melihat kedepan.
Laura memanggil nama Arlo saat memeluk Kyle.
Kyle membalas pelukan adiknya itu.
Darah Kyle mulai menembus jas yang Ia pakai.
Laura tidak tau kalau Kyle terluka di bagian perutnya itu.
Kyle berfikir, Ia tidak ingin mati dulu untuk sekarang.
Ia ingin memakan masakan yang di janjikan oleh Laura itu.
Air mata menetes dari mata Kyle.
"Kenapa ? Disaat saat seperti ini, Aku harus kehilangan keluargaku ? Selama ini, Aku sudah salah paham pada adik adikku ini"
Kyle, masih mengganggap Liam sebagai adiknya.
Ia, tidak terima bila Liam menjadi pamannya.
Tangan Kyle mulai bergetar.
Ia, merasakan dekapan Laura yang pertama kali memeluknya setelah sekian lamanya.
Di tempat Arlo,
Arlo, benar benar kehilangan jejak Alan.
"Sial ! Kemana si mata merah itu pergi ?!"
Arlo, tidak sadar bila matanya sendiri berwarna merah.
Arlo mengacak acak rambutnya.
"BZZZT !!!!" Arlo merasakan ada yang memanggilnya.
Dan, panggilan itu, berasal dari Laura.
"Duh, Disini belum usai. Bisa bahaya bila ku tinggal sekarang. Apa calon Putra mahkota itu sudah menyelesaikan tugasnya ?" Batin Arlo sambil tengok kanan dan kiri.
Arlo mulai berjalan keluar dari ruangan itu untuk menjemput Gevand.
Ia, harus menyusun rencana lagi untuk melanjutkan perlawanannya dengan Alan.
Alan yang masih sembunyi di tempat sempit itu, masih menunggu waktu yang tepat untuk keluar.
Liam, sudah tidak bisa diharapkan lagi oleh Alan.
Alan mulai keluar dari tempat itu dengan perlahan lahan.
Ia berencana untuk keluar dari istana dan mencari tempat perlindungan yang aman.
Di tempat Zaverias,
Pasukan milik Raja Alter, sudah mulai bergerak menuju Kerajaan Dynantya dan beberapa prajurit yang dikirim untuk mengabari kondisi terbaru Dynantya.
Ini sangat gawat !
Bila Dynantya yang di penuhi oleh teknologi termaju di negri Ardan iti sampai berada di tangan Alan, maka, tujuan Alan untuk menghancurkan semua kerajaan akan berjalan dengan mulus.
Kenapa Alan bersikeras untuk menjadi penguasa Ardan dan Menghancurkan semua kerajaan di negri Ardan ?
Itu karena, masa kecil yang dialami oleh Alan.