
Kami telah kembali ketempat Kakek dan Keesokan harinya,
Siang hari, Kami telah sampai dikerajaan Dynantya dan kurang 30 menit lagi Kami sampai di Istana Dynantya.
...***...
Aku, membiarkan Kak Liam tertidur dipangkuanku.
Aku melihat wajah Kak Liam yang penuh dengan keringat.
Aku memegang kening Kak Liam yang berkeringat itu.
Kening Kak Liam terasa panas.
"Kak Liam demam ?"
Kak Liam membuka matanya yang memerah.
Pupil merah Kak Liam membesar.
"Apa kita sudah sampai ?" Tanya Kak Liam sambil duduk.
"Belum Kak. Kakak kembalilah tidur" pintaku.
"Nanti saja" Kata Kak Liam sambil membetulkan rambutnya yang berantakan.
"Laura," Panggil Kakak Liam sambil melepas jubah milik Arlo yang masih Ia pakai.
"Iya Kak ?" Tanyaku.
"Bolehkah Aku minta tolong ?" Tanya Kak Liam.
"Minta tolong apa Kak ?" Tanyaku.
Kak Liam membuka kemejanya.
"Eh, Apa yang mau dia Lakukan ?"
"Pungungku terasa ada yang aneh. Apa ada sesuatu ?" Tanya Kak Liam.
"Degh!" Aku melihat pungung Kak Liam yang diperban penuh darah.
"Kak, pungung Kakak banyak darahnya" Kataku.
"Eh ? Kena Apa ya ? bentar bentar Aku buka dulu" Kata Kak Liam sambil membuka perban yang Ia ikatkan di punggungnya.
Seluruh perban Kak Liam telah terbuka tidak ada bekas luka sedikitpun di kulitnya kecuali,
Aku melihat pecahan kaca yang menusuk pungung Kak Liam hingga sekitarnya membiru.
"Kak, Kakak beneran mati rasa ?" Tanyaku.
"Hah ? Aku hanya merasa ada sesuatu yang mengajal pungungku dan ini sangat tidak nyaman. Bisa bantu lihat kan ?" Tanya Kak Liam sambil melirik kearahku.
"Ada pecahan kaca di pungung Kakak. Kulit Kakak juga membiru" Kataku.
Entah kenapa Aku jadi mulai terbiasa dengan keistimewaan atau bisa juga disebut juga dengan kekurangan yang dimiliki oleh Kakakku yang satu ini.
"Eh ? Ambilin! Pantas saja dari tadi nggak nyaman dibuat tidur" Kata Kak Liam.
"Ugh! Biar dokter aja ya Kak yang ngambilin" Kataku.
"Enggak! jangan buat Kakek Khawatir!" Tegas Kak Liam.
"Duh, Aku ngak tegaan" Kataku.
"Tolong ya....." pinta Kak Liam.
"Ugh.... Baik lah"
Aku bersedia mencabut pecahan kaca itu.
Aku tak habis pikir.
Kak Liam memiliki penyakit yang parah seperti ini.
Ini sangat merugikan dirinya sendiri dan ini tak bisa disebut lagi sebagai keistimewaan.
Aku mencabut pecahan kaca itu yang masuk dan hampir tak tersisa di punggung Kak Liam.
Darah Kak Liam terus keluar dan untungnya Aku bisa mencabutnya.
Aku menunjukkan pecahan kaca itu kepada Kak Liam.
Kak Liam melihat kearahku sambil tersenyum.
"Terima Kasih, Kalau nggak diambil past..." Ucap Kak Liam belum usai.
"GRUDUG!!" roda kereta kuda disebelah kiri tempat Kak Liam berada terkena batu.
"Syyuuuut! DEGH!" Wajah Kak Liam berada didekat wajahku dan tangan Kanan Kak Liam menahan dirinya agar tidak jatuh mengenaiku.
Bahu Kak Liam yang lebar, ada dihadapanku.
"Ah ..." Aku melihat wajah Kak Liam yang memerah dan menatapku.
"Pangeran, Putri, Maafkan Saya. Saya tak sengaja mengenai batu ditengah jalan. Apa Anda berdua baik baik saja ?" Suara Kak Dera dari depan kereta Kuda.
"Ah! Iya! Kami baik baik saja" Kata Kak Liam yang kembali ketempat duduknya dan mengaruk tengkuknya.
"Suasana apa ini ?" Batinku sambil melihat keluar jendela.
Ini sangat canggung padahal, Kami Kakak beradik.
"Laura, Jangan lupa dengan janjimu" Ingat Kak Liam.
"Iya Kak. Nanti Aku tunggu" Kataku.
"Iya" Jawab Kak Liam sambil tersenyum padaku.
*Kak Liam adalah satu satunya keluargaku selain Kakek.
Kak Kyle sudah tidak bisa diharapkan lagi.
Kini, Aku hanya bisa bergantung pada Kak Liam yang sangat menyayangiku.
Walau Dia sangat menjengkelkan, tapi, Aku tetap menyayanginya Karena, Dia adalah Kakakku yang masih bisa diharapkan.
Aku sangat bersyukur memiliki Kakak seperti Dia*.
Malam Hari setelah makan malam.
Aku duduk diambang jendela Kamarku sambil melihat langit gelap yang penuh bintang.
Silir angin halus menyepoi rambutku.
"Tumben, Dua hari ini tidak hujan"
Cahaya bulan terlihat cukup menerangi malam hari ini yang ramai.
Dari ambang jendela, Aku mendengar suara gitar dan nyanyian para prajurit yang beristirahat.
"Itu pasti Kak Dera yang memainkannya"
"Krekkkk" Suara pintu Kamarku yang terbuka.
"Laura, Kau suka Kue cokelat ? Ayo makan diam diam" Kak Liam membawakanku sanampan jajanan cokelat.
"Dia memang maniak cokelat, Anehnya dia tidak gendut walau banyak makan cokelat"
"Terima kasih Kak. Aku harus jaga berat badanku" Jawabku sambil mendatangi Kak Liam.
"Sudah. Ayo makan! Aku sudah membeli dan membawanya susah payah. Nambah sekilo saja tidak akan merugikanmu" Kata Kak Liam sambil mengarahkan kue cokelat itu kebibirku.
Aku menggeleng.
"Aaaa.... Ayo makan. Sesuap saja" Pinta Kak Liam.
"Cih! Jangan memaksaku" Batinku sambil membuka mulutku.
"Nah gitu! Selanjutnya Makan sendiri ya" Kata Kak Liam yang sudah tak tahan ingin melahap semua Kue cokelat itu.
Kak Liam duduk dikasurku sambil mengambil kue cokelat yang ia pangku.
"Katanya, nggak suka kue cokelat lagi ?" Tanyaku.
Kak Liam melahap kue cokelat yang ada ditangan kanannya.
"Emh? Kwafwan?" Tanya Kak Liam sambil mengunyah makannya dan melihatku.
"Habiskan dulu makanan Kakak lalu bicara" Lirihku.
Kak Liam terlihat menelan makanannya.
"Kapan Aku bilang nggak suka cokelat ?" Tanya Kak Liam.
"Kak, Kurasa ada yang salah dengan kepala Kakak. Lebih baik Kakak ke dokter dulu. Siapa tau Kakak kena lupa ingatan" Kataku.
Kak Liam tersenyum.
"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Apa Kau tau Laura, Kedaaan Kerajaan Nelzefvia sekarang ?" Tanya Kak Liam.
"Belum ada seminggu kita keluar dari Kerajaan Nelzefvia memang ada apa dengan kerajaan itu ?" Tanyaku.
Kak Liam melahap semua donat ditangannya.
lalu berdiri menaruh senampan kue cokelat itu diatas meja belajarku.
Setelah itu Kak Liam meminum air dan kembali duduk Di sampingku.
"Barusan, Kakek mengirim surat kepada Kerajaan Nelzefvia mengenai pemutusan aset dan hubungan dengan Kerajaan Nelzefvia. Tak lama lagi, Kerajaan itu pasti akan hancur" Kata Kak Liam yang sedikit tersenyum.
Aku merasa kasihan pada Kak Kyle.
Walau Dia begitu, Dia tetaplah Kakakku.
"Kak, Bujuk Kakek agar tetap berkerja sama dengan Kerajaan Nelzefvia" Pintaku.
"Aku tidak bisa melakukannya. Masalah antar kerajaan ini diluar kemampuanku. Bila hanya masalah menyangkut keluarga saja Aku masih bisa membujuk si tua itu. Ini adalah kesalahan Kyle sendiri. Kyle sudah bukan keluargaku lagi" Kata Kak Liam.
DEGH!
Aku langsung berdiri.
"Kak! Kenapa Kakak bilang gitu ?! Kak Kyle itu masih keluarga Kita!" Tagas Laura.
"Aku ini orang lain. Aku sudah tidak ada hubungannya dengan keluarga Nelzefvia sejak lama. Kyle mengetahuinya. Itulah alasan Dia dan Ayah membenciku. Tapi, Ibu adalah satu satunya orang yang kuanggap keluarga" Kata Kak Liam.
"Apa maksud Kakak ?" Tanyaku.
"Aku sudah bukan keluarga Kyle. Tapi, Aku senang bila Kau menganggapku Kakakmu" Kata Kak Liam sambil tersenyum dan menunduk.
Aku tak paham maksud Kak Liam.
"Ibu, dan Kau selalu ada untukku. Jadi, jangan menjauh dariku. Aku tak suka sendirian" Kata Kak Liam yang masih tersenyum dan tak melihatku.
Ucapan Kak Liam terdengar seperti ucapan Arlo