LIAMARLO

LIAMARLO
Masa Kecil Alan



Tahun 1997, awal musim hujan di bulan November.


Suara guntur menggelegar dari luar rumah tempat tinggal Alan yang hidup diantara perempuan penjual miras dan tempat penjualan wanita.


Alan saat itu, berusia 8 tahun dan Ia bepakaian layaknya seorang gadis.


"Brak!!!!" Tubuh mungil Alan ditendang oleh laki laki yang sedang mabuk disana.


Hal itu terjadi, karena Alan melempar botol miras ke sosok Laki laki mabuk yang menyeret sosok wanita yang sudah Alan anggap sebagai Kakaknya itu.


"Hentikan ! Dia masih kecil ! Jangan apa apakan Dia ! Aku akan ikut dengan mu !" Tegas wanita itu sambil duduk membelakangi Alan yang kepalanya sudah keluar darah.


"Jangan...." Lirih Alan sambil melihat kearah Pria itu yang jelas jelas berpakaian layaknya seorang raja.


"Plak!!!!" Pria itu menampar wanita di depan Alan.


Tamparan keras pria itu, membuat wanita itu jatuh di lantai kramik yang telah terjatuhi cairan minuman keras itu.


"NGREET !" Rambut hitam sedikit pirang panjang milik Alan di jambak oleh pria itu.


"Akh !" Jambrakkan pria itu membuat kulit kepala Alan terasa sakit.


"Cuih !" Pria itu meludah i wajah Alan.


"Kau cantik, tapi tidak dengan sikapmu yang kurang ajar itu padaku" Ucapnya.


Alan berpakaian dan berdandan layaknya seorang gadis karena laki laki, tidak boleh tinggal dirumah itu.


Alan menggigit keras gigi giginya itu.


Dia paling benci bila dikatakan cantik oleh pria.


Tapi, apa daya dirinya.


Dia sudah membuat masalah sebesar itu.


Dan, Dia tidak ingin membuat yang lain seperti wanita yang menolongnya itu.


"Mata merahmu itu, apa Kau bangsa Iblis ? Buahahhaha ! Bangsa iblis sudah musnah dari dunia ini ! Ikutlah denganku, Dan jadilah gadisku. Aku akan membebaskan wanita itu" Ucap Pria mabuk itu pada Alan.


"Jangan ! Bawa saja Aku dan biarkan Dia disini !" Tegas wanita itu sambil duduk dan memegang kaki pria itu.


"Bagaimana nak ? Kau atau Dia yang ikut denganku ?" Tanya pria itu.


"Kak, biar Aku saja yang keluar dari sini. Terima kasih atas kasih sayang yang telah Kakak berikan padaku" Ucap Alan dengan mata yang terlihat suram dan tidak terlihat bercahaya.


"Alan ! Kau masih kecil ! Dan Kau itu ! Laki laki !!!" Teriak wanita itu sambil mengeluarkan air matanya dan tersenyum lebar dihadapan Alan.


"DEGH!!"


Hal itu adalah hal yang dirahasiakan oleh pemilik rumah itu.


Pandangan semua pelangan tertuju pada Alan termasuk pria itu.


Alan, adalah anak yang ditemukan oleh wanita pemilik rumah itu di dekat sungai.


Jadi, tidak ada yang tau siapa orang tua Alan kecuali Author saja.


Jadi, Alan ini, masih keturunan Yve, adik Arlo.


Demi melindungi Alan atas kebijakan yang berlaku di pasar itu, Pemilik rumah itu membuat Alan seolah olah seperti seorang gadis dan mengajari Alan berdandan sejak kecil.


Alan tidak lupa dengan jati dirinya yang masih laki laki itu.


Alan tersenyum lebar dan langsung-


"Trashhhh!" Pecahan botol yang masih dipegang oleh Alan, Langsung Ia tebaskan di rambutnya yang panjang dan terjambrak itu.


Rambut indah nan halus milik Alan yang terawat itu, terpotong tidak beraturan yang membuat orang orang tambah terkejut.


Alan, benar benar sangat marah pada pria itu.


"Crat !" Tangan kecil Alan, mengarahkan pecahan kaca yang lancip itu di leher Pria itu.


Darah langsung muncrat mengenai wajah Alan.


Tubuh pria itu, langsung terjatuh


Suara teriakan takut dan orang orang yang berhamburan membuat sensasi tersendiri di hati Alan.


Wanita yang berniat menolong Alan itu, membelalakan matanya melihat Alan yang tak terlihat seperti Alan yang Ia kenal.


"Kak, Mau kabur dari sini ?" Tanya Alan sambil mengulurkan tanganya yang penuh dengan darah sambil tersenyum pada wanita itu.


Bola mata wanita itu bergetar dan tubuhnya juga terlihat sangat bergetar.


Wanita itu, menunjukkan ekspresi takutnya pada Alan.


Alan sangat terkejut.


"Kenapa Kak ? Aku, sangat menyayangimu, Ayo pergi bersama" Ucap Alan yang masih tersenyum pada wanita itu.


"Monster ! Penyihir ! Pembunuh ! Menjauhlan dari Ku !!!!!" Teriak wanita itu yang membuat Alan sangat terkejut.


"Kenapa ?" Tanya Alan.


"AKHH !!! SELAMATKAN AKU !!!!" Teriak wanita itu sambil berdiri dan berlari menjauhi Alan yang masih mengulurkan tangannya.


Rasa aneh dan sesak muncul memenuhi hati Alan


Wajah Alan yang tersenyum lebar itu, berubah menjadi wajah datar tanpa ekspresi.


Tangan yang Ia ulurkan itu, Ia jatuhkan begitu saja dan langsung keluar dari tempat Itu tanpa mengajak siapapun.


Alan berlari di hujan yang penuh dengan petir itu.


"Tep!" Tiba tiba, tengkuk Alan langsung dipukul oleh sesorang yang tidak Ia lihat dari mana berasal.


"Brukkk!!!!" Alan, terjatuh di tanah dan langsung tidak sadarkan diri.


Entah berapa lama Alan tidak sadarkan diri.


Saat ia terbangun, Ia sudah dalam keadaan terikat dan mulut yang disekap dengan kain berwarna merah.


Alan mengedipkan matanya yang masih buram sambil melihat kebawah.


Ingatan Alan terasa samar.


Ia baru ingat kalau telah meninggalkan rumah penjualan wanita itu.


Alan mengangkat pandangannya.


Ia melihat banyak sekali anak anak semurannya yang disekap juga di dalam ruangan yang pencahayaanya hanya menggunakan obor.


"KREEEEEKK....." Suara pintu yang terbuka perlahan.


Cahaya dari luar ruangan itu, masuk kedalam dan membuat pandangan Alan menjadi jelas.


Alan langsung membelalakan matanya, ternyata yang di dalam ruangan itu bukan hanya anak anak saja.


Tapi, di ruangan itu ada beberapa remaja yang jauh lebih tua dari Alan.


Orang yang baru masuk itu mengeluarkan cahaya merah terang dari kedua telapak tangannya dan matanya yang berwarna merah bercahaya itu, membuat Alan terkejut.


Dengan jelas, Alan melihat pria itu memakai pekaian layaknya seorang raja yang serba biru dengan liontin perak dijubahnya.


"Perkenalkan, Aku raja dari daerah Utara. Namaku, Vian. Aku, akan membebaskan kalian yang mau berlatih sihir denganku. Dan Aku juga, akan mengangkat siapapun yang berjenis laki laki diantara kalian yang mau menjadi pewarisku" Salam sosok yang masuk itu.


Dari dalam diri Alan, Ia sangat membenci orang yang memakai pakaian seperti seorang raja itu.


Itu mengingatkan Alan pada kejadian sebelum kabur dari rumah itu.


Alan benar benar bodoh amat dengan perkenalan raja dari utara itu dan Alan kembali menutup matanya karena merasa seperti tidak memiliki harapan untuk hidup lagi.


"Adakah yang ingin ikut bersamaku ?"


"Tolong ! Keluarkan Saya dari sini !!!! Saya bersedia menjadi anak Anda!!!!" Suara teriakan anak anak disana.


"Ingin mati saja rasanya....." Batin Alan yang masih memejamkan matanya.


Alan mendengar suara langkah kaki mendekat kearah dirinya.


Suara langkah kaki itu berhenti di hadapan Alan.


"Kenapa Dia diikat begini ?" Tanya Vian.


"Oh, Dia, Dia adalah anak baru Baginda" Jawab lelaki di belakang Vian yang membawa kayu panjang.


Alan membuka sedikit matanya dan Alan melihat sepatu raja itu.


"Dia, Dua hari yang lalu telah membuat seorang petinggi kerajaan harus kehilangan pita suaranya"


"Dua hari ? Jadi, Aku tidak sadarkan selama itu ? Kenapa tidak mati saja diriku ini ?" Batin Alan.


"Oh, jadi bocah ini yang di cari oleh orang orang ? Lalu, apakah Kau harus mengikatnya seperti ini ?"


"Ya, Kami sangat takut untuk mengabungkannya dengan anak anak yang lain. Takutnya, Dia mengamuk dan menyerang mereka"


"Apa, Aku terlihat seperti mons..." Batin Alan yang belum usai.


"Monster ? Kau pikir bocah ini begitu?" Tanya Raja itu.


Alan sangat terkejut mendengarkan ucapan Vian.


"Sekarang Aku bertanya, kenapa Dia melakukan hal itu ?" Tanya Vian sambil memegang kepala Alan.


"Saya tidak tau. Ada orang yang menjualnya kepada Saya dan saat Saya bertanya, Dia menjawab kalau anak ini telah menusuk petinggi kerajaan" Jawab lelaki pembawa rotan panjang itu.


"Lalu, karena Dia terlihat cantik. Saya langsung membelinya tanpa pikir panjang" Lanjut pria itu.


"Kenapa semua orang menganggapku seperti wanita ?" Batin Alan sambil meneteskan air matanya.


"Jadi begitu, bocah ini bukan laki laki ?" Tanya Vian sambil melepas tangannya yang memgang kepala Alan.


Alan, melihat kesempatan untuk terbebas dari sini.


Dengan cepat, Alan langsung mengangkat pandangannya.


"Aku ! Aku bukan perempuan !!! Aku Laki laki !" Tegas Alan dengan suara yang tidak jelas karena mulutnya ditutup dengan kain sambil melihat Raja itu.


Vian dan lelaki yang memegang rotan itu, sangat terkejut melihat warna mata milik Alan yang berwarna merah.


Pria yang memegang rotan itu menjatuhkan rotannya dan langsung memegang pipi Alan dari dekat.


"Maafkan Saya, Saya tidak akan menjual anak ini, Baginda" Ucap Pria yang memegang rotan itu.


"Kenapa ? Aku bersedia membawa Dia dengan harga apapun yang Kau minta asal Kau ingat dengan batasanmu" Kata Vian.


"Maafkan Saya Baginda.Dia perempuan dan buka laki laki" Jawab pria itu sambil berdiri membelakangi Alan.


"Aku, tidak peduli lagi akan hal itu. Aku akan membelinya berapapun yang Kau minta"


Raja itu sangat memaksa karena, Ia tau mata merah adalah ciri khas dari keturunan ahli sihir terbaik di negri ini.


"Saya tidak peduli Anda seorang Raja atau bukan. Ini adalah hak Saya sebagai pedagang. Dan Saya berhak menolak untuk melanjutkan transaksi ini" Kata Pedagang itu.


"Kau sudah tau kan Kerajaanku jauh dari sini dan Aku bukanlah orang yang punya banyak waktu ?" Tanya Raja itu.


"Saya sangat berterima kasih karena Anda menyempatkan waktu untuk kemari" Kata pedagang itu.


"AWA AKU KEĶHUAH DAKHI SINI!!!" Teriak Alan dengan suara tidak jelas


*Bawa Aku keluar dari sini.


Raja dan pedagang itu langsung melihat ke Alan yang matanya sudah kembung dengan air mata.


Raja itu, melepas sarung tangannya dan langsung mengusap Air mata Alan menggunakan tangannya.


"Aku, bisa saja melaporkan mu pada petinggi kerajaan ini karena menyembunyikan dia" Kata Vian (Raja utara)


Pedagang itu tidak dapat berkutik lagi.


"Baiklah, Dengan berat hati, Saya bersedia menjual Dia dengan empat kali harga aslinya" Kata pedagang itu sambil tersenyum.


"Tentu"


Akhirnya, Alan di bawa oleh Vian.