
"Tapi kenapa Kalian mengurungku ? Aku tidak sadar melakukannya" Kata Liam.
Gevand sangat bingung dengan hal ini.
"Kau pikir Aku bodoh ? Aku sudah hidup lebih lama darimu. Kau melakukan hal itu dengan sengaja demi kesenanganmu. Kau iri karena Ibunya Laura lebih perhatian pada Laura yang baru lahir" Kata Arlo.
"Ayah angkatmu dan Kakak angkatmu sangat takut padamu. Aku melakukan itu demi kebaikkan semua orang" Kata Arlo.
"Kebaikan ? Kau berkata demi kebaikan semua orang ? KENAPA SEMUA ORANG DISINI TIDAK MEMIKIRKAN TENTANG PERASAANKU ?! AKU JUGA INGIN BAHAGIA ! AKU TIDAK INGIM HIDUP SENDIRIAN DIDALAM KEGELAPAN DAN KEHAMPAAN !!!" Tegas Liam sambil menghilang pedangnya dan melihat Liam dengan mata yang berkaca kaca.
Liam memegang pedang sihir Arlo.
"Bunuh Aku ! Kalian semua takutkan padaku ?! Kalian tidak ada yang menginginkan keberadaankukan ?! Ayo ! Bunuh Aku....." Kata Liam sambil menarik pedang Arlo untuk membunuhnya.
Tapi, Arlo melenyapkan pedang itu sebelum Liam menariknya kelehernya.
Arlo menarik kepala Liam dan menaruh kening Liam di dadanya.
Liam membelalakan matanya.
"Aneria sangat menyayangimu. Dia rela mati demi melindungimu. Apa Kau akan menyia nyiakan perjuangan Aneria begitu saja ?" Tanya Arlo.
Liam mengeleng.
"Kau tidak sendirian, Aneria dan Aku selalu melindungimu" Kata Arlo.
"Tapi, kenapa Kalian mengurungku ? Dan kenapa Kau memisahkan jiwaku ?" Tanya Liam.
"Aku terpaksa melakukannya Karena Kau hampir bertidak gila" Kata Arlo.
"Maafkan Aku. Harusnya Aku mati saja dari dulu" Kata Liam.
"Jangan Mati ! Aku menyayangi Kak Liam !" Tegas Laura di belakang Arlo.
"Aku, benar benar muak dengan ucapan kalian semua!" Kata Dera dibelakang Liam.
"Ucapan Kalian semua membuatku hampir muntah !" Tegas Dera.
Aelius berjalan di mendekati Dera.
"Dera...." Aelius berniat meminta maaf pada Dera.
Tapi sayangnya, Dera telah di selimuti dengan rasa kebenciannya.
"TRASSH!!!!!" Dera langsung menebaskan pedang sihirnya dan memenggal kepala Aelius.
"Crattt!!!!" Semua orang terkejut termasuk Arlo langsung membelalakan matanya.
"KAKEKK!!!!!" Laura berteriak melihat Kakeknya terpenggal di hadapannya.
Kepala Liam ingin menoleh melihat kakeknya yang merupakan Ayahnya.
Arlo menahan kepala Liam agar tidak melihat Aelius.
Laura pingsan ditempat karena sudah tidak kuasa lagi melihat banyak kematian di depannya.
Gevand mematung ditempat seolah kakinya tertahan oleh sesuatu.
Dera mengusap pipinya yang terdapat cipratan darah Aelius.
Arlo menutup telinga Liam.
"Apa Kau puas karena telah membunuhnya ?" Tanya Arlo pada Dera.
"Tentu saja tidak. Tapi, Ini adalah rencanaku dari awal" Jawab santai Dera sambil tersenyum padanya.
"Kau memang gila. Lalu, apa tujuanmu menyamar sebagai diriku ?" Tanya Arlo.
"Kau pikir, Aku hanya akan diam saja mendengar kisah dirimu yang dahulu pernah melecehkan Ibunya, Ups maksudku... Adiknya sendiri ?" Dera mengatakannya dengan nada yang menjengkelkan dan memancing emosi Arlo.
Arlo membelalakan mata.
"Siapa yang bercerita begitu padamu ?" Tanya Arlo.
"Itu rahasia....." Jawab Dera sambil menutupi bibirnya dengan jari telunjuknya.
"Berarti ! Kau adalah orang yang membunuh dengan cara memenggal kepala orang lain di dekat hutan ?" Tanya Archie.
Liam mendengar semua ini mengangkat kepalanya.
"Ya itu benar. Tanyakanlah pada adikku yang manis itu" Kata Dera sambil duduk dilantai.
"Berisik ! Aku bukan adikmu !!" Tegas Liam.
"Lagi pula ! Mana ada seorang kakak yang membuat adiknya terluka dengan cara menghasut para prajurit dan menuduh adiknya sendiri sebagai Arlo yang menyebabkan pristiwa pemenggalan kepala itu !" Tegas Liam.
"Aku hanya ingin membangunkanmu. Kupikir setelah membunuh Ayah angkatmu dan mencelakai Tuan Putri, Kau akan langsung terbangun. Eh ternyata tidak. Jadi, Aku memutar otakku agar Kau bisa terbangun dari sana" Jawab santai Dera.
Tim Penyidik mencatat bagian inti dari cerita Dera.
"Kau tidak perlu berterima kasih padaku. Aku hanya ingin dua hal darimu adikku. Yang pertama, Aku ingin Kau mengakui diriku sebagai kakakmu dan Aku ingin Kau hidup bahagia seperti permintaan Ibu" Kata Dera.
Arlo mendengarkan ucapan Dera.
"Selama Kau disini, Kau tidak akan pernah bahagia. Kembalilah bersamaku, Aku akan membuatmu sen.. TRASSSSH!!!!!"
Liam yang di penuhi emosi langsung mengibaskan tangannya yang telah diselimuti dengan energi sihir.
"PRAKKKKKK!!!!!" Kepala Dera terpenggal menjadi dua dan pilar Aula yang berada dibelakang Dera ikut terpotong juga.
Semua orang kecuali Arlo terkejut melihat hal itu terjadi lagi dihadapannya.
Arlo heran, Bagaimana bisa Liam mampu mengeluarkan sihirnya dengan mudah.
Padahal, Arlo memberikan sebagian kecil sihirnya pada Liam hanya untuk perlindungan diri yang harus dipelajari bersama dengan seorang guru.
Jawabannya, Liam dengan mudah mengeluarkan sihirnya karena, pewarisan Ilmu dari Alan waktu Liam baru lahir.
Itulah, yang membuat Liam mampu mengelolah energi sihirnya dan mampu mengeluarkan berbagai sihir serta, lingkaran sihir tingkat tinggi tanpa belajar.
"Liam, kenapa Kau membunuhnya ?" Tanya Arlo.
"Apa urusanmu. Dia berusaha membuatku benci pada Kakek" Jawab Liam.
Liam tidak ingin membenci Aelius.
Liam juga berusaha tidak mempercayai kebenaran tentang dirinya tadi yang diucapkan oleh Aelius.
"Aku adalah cucu angkat Raja Aelius dan Aku bukan putranya. Jangan membuat omong kosong tentang keluargaku" Kata Liam sambil mengusap air mata yang mengembung di matanya itu.
"Liam, yang dikatakan oleh Aelius bukanlah hal omong kosong. Kau memang putranya. Dan Aneria, sangat menerimamu di kehidupannya" Kata Arlo.
"Jangan membuat Aneria sedih. Dia ingin keluarganya semua hidup dengan bahagia. Aku adalah saksi hidup, Aneria dan Aelius yang selalu ingin memiliki seorang Putra untuk mewarisi Istana ini. Memang berat bagi Aneria untuk menerima kenyataan yang membuatnya kecewa pada Aelius. Tapi, Aneria telah memaafkan Aelius dan Ibumu. Aneria, benar benar mengingkanmu untuk tetap hidup. Dia bahkan berani mengambil nama depanku untuk nama panggilanmu" Kata Arlo.
Liam melihat Gevand yang mengendong Laura di punggungnya.
"Gevand, Apa yang harus Aku lakukan ? Kau sahabatku. Apakah Aku harus membunuh semua orang di dalam ruangan ini ?" Tanya Liam pada Gevand dengan tatapan kecewa.
Ingatan kedua ingatan masa lalu Liam telah menyatu dengan milik Alan
Saat ini yang ada di depan semua orang adalah sosok Liam yang sebenarnya.
"Dasar bodoh ! Apa yang Kau dapatkan dari membunuh orang lain ? Apakah sebuah kebahagiaan yang akan Kau dapatkan ?" Tanya Gevand.
Liam berjalan kearah Gevand sambil mengambil pedang besi di bawah kakinya.
Arlo menghalangi jalan Liam.
Arlo pikir, Liam akan membunuh Gevand bersama Laura.
"Tolong minggir, Aku tidak akan menyakiti sahabatku sendiri dan Laura, adikku" Kata Liam sambil melihat Arlo.
Liam mengambil jalan lain menuju Gevand.
Arlo hanya melihati dan sudah menyiapkan sihirnya bila tiba tiba Liam menyerang.
Liam memegang tangan Gevand sambil memberikan pedang besi itu ditangan Gevand dan mengarahkan pedang itu di dadanya atau tepat dimana jantungnya berada.
"Apa yang Kau lakukan Liam ?" Tanya Gevand.
"Bunuh Aku. Aku sudah banyak membunuh Orang. Arlo tidak akan mampu untuk membunuhku. Kau adalah sahabatku, Aku percaya padamu. Kau pewaris Kakek, Jadilah raja yang baik untuk Dynantya" Kata Liam sambil meneteskan air matanya.
"TIDAK ! Aku tidak mau membunuhmu ! Apa Kau tidak memikirka Laura ?! Dia berpesan padaku untuk menyelamatkan mu !" Tegas Gevand sambil menahan pedang yang Ia pegang bersama Liam.
"Aku sudah tidak memikirkan Laura, Dia membenciku. Selamatkan diriku dengan cara membunuhku. Aku tidak mungkin tidak bisa menahan Dia lagi" Kata Liam.
Alan tidak hanya mewariskan sihirnya pada Liam, tapi, Dia mewariskan juga ingatan dan semua tujuannya pada Liam.
Liam mulai bisa melihat apa yang telah Alan liat di masa lalu setiap memejamkan matanya.
Alan selalu mendapatka perlakuan buruk dari para raja raja di semua penjuru negeri karena matanya yang berwarna merah.
Alan membohongi pengikutnya yang berniat menguasai negri ini sendirian dengan perkataan ingin menghapus aturan mengenai larangan pemakaian sihir di negri ini.
"Siapa yang Kau maksud dengan Dia Liam ?" Tanya Arlo.