
Tak lama kemudian Aku memperbolehkan Kak Liam masuk.
Kami sangat canggung.
"Aku.... tidak melihat apapun tadi" Kata Kak Liam dengan wajah yang merona sambil mengalihkan padangannya dan mengaruk pipinya.
"Jangan dibahas lagi" Kataku sambil mengunyah makananku.
"Malam ini tidurlah yang nyenyak. Besok Aku akan memanggil Kak Kyle untuk memberitahu kalau Kau sudah siuman" Kata Kak Liam.
Aku mengangguk.
"Kak, apa ada kabar tentang siapa dua pria bertopeng yang menyerang Kami ?" Tanyaku.
"Mereka adalah orang suruhan dari Ratu Kerajaan Alter" Jawab Kak Liam.
Aku membelalakan mataku.
"Dan, dua hari yang lalu Ratu Kerajaan Alter akan dihukum mati karena telah membuat pimpinan Kerajaan Negri ini terbunuh beserta delapan prajuritnya" Lanjutnya.
"Kak, Apa kakak benar benar datang saat Aku memanggil Kakak ?" Tanyaku.
"Aku tidak mendengar panggilanmu. Aku hanya merasakan aroma darahmu yang mengenai batuku" jawab Kak Liam.
Aku telah selesai makan.
"Sudah selesai makan?" Tanya Kak Liam.
"Sudah Kak" Jawabku.
"Jangan lup..." Kata Kak Liam yang belum usai.
"Berak gitu ?!" Tanyaku yang langsung menyela ucapan Kak Liam.
"Hahaha.... bukan, Jangan lupa gosok gigi sebelum tidur" Jawabnya sambil tertawa dan mengosok rambutku.
Dia selalu memperlakukanku layaknya seorang anak kecil.
"Kak, malam ini Kakak tidur dimana ?" Tanyaku sambil memegang tangan Kak Laim untuk melepaskannya dari kepalaku.
"Aku akan tidur disini" Jawabnya.
"Kenapa Kakak tidak tidur dikamar kakak sendiri?" Tanyaku.
"Aku tak suka sendirian" Jawabnya.
"Lalu, kenapa kakak tidak tidur saja bersama Kak Kyle ? Dia kan cowok " Tanyaku.
"Ya... suka sukaku. Aku yang tidur" Kata Kak Liam sambil mengalihkan pandangannya.
"Tapi ini kan kamarku, kenapa harus sesuka suka Kakak ?" Tanyaku.
"Sudahlah, tidurlah. Aku akan menjagamu saat kau tidur. Siapa tau Penyihur Arlo akan kemari dan menghisap darahmu lagi" Kata Kak Liam.
Aku langsung sedikit bergidik ngeri dan langsung berancang untuk tidur.
...***...
Keesokannya Aku terbangun dan Aku, lagi-lagi Aku melihat Kak Liam yang tertidur dilantai tanpa alas.
"Padahal Dia itu seorang pangeran. Tapi, kenapa Dia tidur dilantai begitu?" Batinku.
"Suut!" Tiba tiba Kak Liam langsung terduduk dari tidurnya.
Dan Aku terkejut dengan ulahnya itu.
"Aku ketiduran! Jam berapa ini ?" Tanya Kak Liam.
"Ini sudah pagi Kak, Kenapa Kakak tidak tidur dikasur saja ?" Tanya Ku sambil melihat ke arahnya.
Kak Liam membelalakan matanya sambil melihat kearahku.
"Apa Aku salah bicara ?"
"Kau menyuruhku untuk tidur sekasur denganmu ?" Tanyanya.
"Eh?! Ya enggaklah Kak! yang bener aja!" Tegasku.
"Maksudku itu Kak, kan Kakak bisa membawa kasur lipat yang ada digudang persediaan kebutuhan prajurit" Jawabku sambil berdiri.
"Oh...." Kata Kak Liam.
"Jangan-jangan Kak Liam berharap ya....?" Godaku.
"Untuk apa coba.... Bilang aja Kau berharap!" Tegas Kak Liam sambil berpaling.
Lagi lagi dia berpaling.
"Yaelah..."
"Laura, karena tak lama lagi Kak Kyle akan menjadi penganti Ayah. Pernikahan Kak Kyle di ajukan minggu depan" Kata Kak Liam sambil berdiri dan melihat ku.
"APA ?! Jadi Kak Kyle jadi menikah dengan tunangannya itu ?" Tanyaku yang kaget.
"Iya, Putri dari keluarga utama Kerajaan Veltizen telah menerima percepatan tanggal pernikahan mereka" jelas Kak Liam.
"Ya, begitulah. Aku juga akan ikut pindah" Kata Kak Liam sambil melihatku.
"Eh, Kenapa Kakak ikut pindah ?"
"Laura, Aku ini..." Kata Kak Liam yang belum usai.
"CKLEK!" Tiba tiba seseorang membuka kamarku.
Dan Dia ternyata Kak Kyle.
"Putra Mahkota, Selamat Pagi" Kataku sambil membungkuk pada Kak Kyle.
"Tep! Wusht!" Kak Liam langsung pergi melewati jendela kamarku.
"Laura. Apa Liam berbuat macam macam denganmu ?" Tanya Kak Kyle.
"Tidak Putra Mahkota, Pangeran Liam hanya datang kemari untuk berkunjung dan melihat keadaan Saya saja" Jawabku.
"Padahal Dia itu seorang Pangeran. Kenapa sifatnya seperti orang yang tak punya etika seperti itu" Kata Kak Kyle dengan nada marah.
"Putra Mahkota, apa yang membawa Anda kemari ?" Tanyaku.
"Aku hanya ingin melihat keadaanmu dan ingin Kau menjawab beberapa pertanyaanku. Jangan banyak gerak, istirahatlah dengan nyaman" Kata Kak Kyle.
Aku menuruti ucapan Kak Kyle dan kembali duduk diatas kasurku.
"Laura, apa Kau ingat siapa yang menolongmu ?" Tanya Kak Kyle.
Aku tidak mungkin untuk berkata jujur pada kakakku ini.
"Saya tidak ingat Putra Mahkota" Jawabku.
Aku lebih mempercayai Kak Liam yang selalu membuatku jengkel itu.
"Laura, Jauhi Liam. Dia bukan Kakak yang baik untukmu" Kata Kak Kyle.
"DEGH!" Aku membelalakan mataku.
"Kenapa Putra Mahkota?" Tanyaku.
"Kematian Ayah ini semua karena ulah Liam" Kata Kak Kyle dengan nada tajam.
"Apa maksud Putra Mahkota ?" Tanyaku lagi.
"Ayah berkata kepadaku kalau, kemungkinan besar Liamlah yang membunuh Alter" Jawab Kyle.
"Putra Mahkota, Pangeran Liam adalah adik Anda. Jangan menyalahkan Pangeran Liam tanpa bukti seperti ini. Saya masih menunggu hadiah yang Saya minta dari Anda" Kataku.
Kak Kyle terdiam.
"Tiga hari lagi, Aku akan menjadi Raja Kerajaan ini. Dan Enam hari lagi, Aku akan menikah dengan Viona. Laura, apa Kau sudah siap untuk pindah Di Rumah cabang ?" Tanya Kak Kyle padaku.
"Aku akan memberimu pelayan yang Kau butuhkan dan Kau tak perlu Khawatir dengan kebutuhan mu sehari hari. Tapi, Aku menyarankan mu untuk tetap tinggal disini" Kata Kak Kyle.
"Putra Mahkota, Saya sudah siap untuk pindah dirumah cabang. Anda tidak perlu merasa tidak enak dan tidak perlu memberi Saya pelayan. Saya sudah pernah mengobrol tentang hal ini bersama dengan Ayah. Ayah menyarankan Saya untuk belajar mandiri. Saya masih ingin bermain main, Saya harap Putra Mahkota tidak perlu mencarikan Pria yang cocok untuk Saya, Karena merasa Kasihan kepada Saya" Jelasku.
Kak Kyle menatapku dengan ekspresi terkejut.
Tiba tiba Kak Kyle tersenyum padaku.
"Adikku, Jangan terlalu formal padaku. Aku ingin Kau berbicara santai kepadaku seperti Kau berbicara dengan Liam"
"Tep!" Kak Kyle memegang kepalaku.
"Kau sudah tambah dewasa dan mirip dengan Ibu. Sesekali, panggillah Aku kakak" Kata Kak Kyle.
Wah, Kak Kyle menganggap ku dewasa.
Hanya sisialan itu yang mengangapku seperti bocil.
"Saat pemakaman Ayah, Liam tidak menghadirinya dan malah pergi melompati tembok pemakaman yang setinggi tiga meter. Liam sudah tidak pantas lagi untuk dipanggil sebagai seorang Pangeran" Kata Kak Kyle.
"Dia membuat nama Ayah menjadi buruk atas kelakuannya yang sangat tidak beretika itu" Lanjutnya.
"Putra Mahkota, Itu mungkin cara Pangeran Liam untuk menghibur dirinya sendiri " Kataku.
"Laura, Dari tadi Kau hanya membela Liam saja. Apa Karena Liamlah yang telah menemukan Kalian duluan mangkannya Kau membela Dia ?" Tanya Kak Kyle.
"Putra Mahkota, ini yang membuat Saya tak nyaman dengan Anda" Kataku.
"Apa ?" Tanyanya sambil melihatku.
"Bukan maksud Saya membeda bedakan Anda dengan Pangeran Liam. Saya hanya tak suka memendam rasa tidak suka Saya. Walau Pangeran Liam usil tapi, Dia bisa memahami pendapat yang Saya katakan" Kataku.
"Maafkan Aku. Aku harus pergi. Istirahatlah dengan nyaman Laura. Setelah ini, Dokter akan datang untuk memeriksamu" Kata Kak Kyle dan langsung pergi.
"SRUUK!" Aku menjatuhkan tubuhku diatas kasur.
Jantungku bedegup dengan kencang karena berkata jujur pada Kak Kyle.
Aku melihat kedua tanganku yang bergetar.
"Aku masih ingin tinggal disini. Kenapa aturan kerajaan ini sangat berat untukku"