
Suara kokokan ayam jantan mulai terdengar.
Akhirnya, Aku tidak bisa tidur karena ulah Kak Liam.
Sepanjang jam alarmku yang terus bergerak, Aku terus kepikiran dengan ucapan yang Kak Liam ucapkan.
"KRINGGGGGGGGG" Suara jam Alarm ku berbunyi dan Aku langsung duduk dan mematikan jam Alarmku.
Aku sedikit melirik Kak Liam dibelakangku yang masih tertidur.
...***...
"Sialan! bisa bisa Aku gila!" Batinku sambil mengacak ancak rambut hitamku.
"Huffff" Aku membuang nafasku agar kembali bersikap tenang dan merapikan rambutku
"Kak, Sudah pagi, Kakak nggak bangun ?" Tanyaku yang berusaha tenang.
"Ya, Aku sudah bangun" Suara serak Kak Liam sambil duduk dan belum membuka matanya.
Detakan jantungku terus berdebar.
"Laura, Kau tidur nyenyak ?" Tanya Kak Liam.
"Ah! nyenyak Kak ! Nyenyak sekali!" Aku langsung menjawab cepat pertanyaan Kak Liam tanpa melihatnya.
Kak Liam berdiri.
"Hari ini, Ikut keliling Kerajaan ? Aku sudah lama tidak berkeliling di Dynantya" Tawar Kak Liam.
"Gimana ya ? Kalau Aku menolaknya, Kak Liam pasti berfikir kalau Aku mendengar ucapan Kak Liam tadi malam" Batinku.
"Apa luka Kakak sudah sembuh ?" Tanyaku.
"Sudah!" Tegas Kak Liam yang kembali duduk dikasur menghadapku sambil tersenyum.
"Sialan, Jangan tersenyum begitu" Batinku.
"Lebih baik Kak Liam periksa dulu luka Kakak di Dokter. Bila luka Kakak sudah sem...." Aku belum usai bicara tiba tiba Kak Liam mendekatkan wajahnya kewajahku.
"Eh?" Aku memundurkan wajahku perlahan.
"Dia Kakakku! Kenapa jantungku berdebar ?"
"Tumben, biasanya Kau yang paling semangat diajak jalan jalan di Dynantya ?" Tanya kak Liam.
"Heh?!" Aku langsung memalingkan wajahku.
"Ya, kan dulu Kak. Sekarangkan beda" Jawabku.
"Heh~ Kau nggak pengen keluar karena Dera ? Hayo.... jujur~" Goda Kak Liam bernada.
"Kenapa Dia bersikap biasa saja seperti tidak terjadi apa apa ?"
"Enggak ya Kak ! Aku malas keluar kerena mendung!" Tegasku sambil menunjuk jendela yang terlihat langit mendung.
"Banyak sekali alasanmu. Sekarang, mandilah lalu temani Aku berkeliling" Paksa Kak Liam.
"Idih! Kenapa Kakak maksa banget sih ?!" Tanyaku sambil melihat wajah Kak Liam yang terlihat memerah.
"Laura, turunkan nadamu. Jangan marah marah. Nggak baik loh untuk gadis muda sepertimu banyak marah seperti ini. Aku tunggu dibawah 30 menit lagi" Kata Kak Liam sambil berdiri dan pergi.
"Kak Liam maksa banget. Aku malas sekali keluar" celotehku sambil berjalan kekamar mandi.
30 menit kemudian.
Kak Liam sudah menungguku didepan kamarku
Padahal, Dia berkata akan menungguku dibawah.
"Aku meminta Kakek agar Kita sarapan diluar. Dia sedang ada tamu spesial yang tidak bisa Kita ganggu" Kata Kak Liam.
"Siapa Kak tamunya?" Tanyaku.
"Ya, 12 cucu laki laki kakek. Mereka semua berlomba lomba untuk datang pagi pagi sekali kemari. Lebih baik Kita menghindari Mereka" Kata Kak Liam.
"Kenapa harus menghindari mereka ?" Tanyaku.
"Saat ini, Kita tinggal di Dynantya tanpa sepengetahuan cucu Kakek yang lainnya. Daripada salah satu dari mereka merasa Kakek pilih kasih, lebih baik Kita tidak menampakkan diri dulu sebelum sore hari" Kata Kak Liam.
"Ada benarnya juga, Kita mau sarapan dimana Kak ?" Tanyaku.
Kak Liam mengajakku disebuah tempat makan yang kecil dan tidak terlalu ramai.
"Sialan. Pagi pagi Dia memberiku makanan cokelat. Yang benar Saja ?!" Batinku sambil melihat Kak Liam yang sudah tak sabar memakan kue didepannya.
Kak Liam melihatku.
"Kenapa ?" Tanya Kak Liam.
"Menjengkelkan! Tak!" Tegasku sambil memakan kue cokelat itu.
Aku memakannya karena Aku sangat lapar.
"Hemffffhh" Kak Liam terdengar terkekeh kecil.
"Laura, Apa Kau tau dimana tempat kesukaan nenek dulu saat Ia sedih ?" Tanya Kak Liam sambil jalan disampingku.
Aku melihat Kak Liam yang tersenyum sambil menatap langit.
"Dimana Kak ?" Tanyaku.
Aku heran bagaimana bisa Kak Liam tau tempat nenek untuk menenangkan dirinya saat sedih.
"Nah, Ayo!" Kata Kak Liam sambil mengulurkan tangannya padaku.
"Ah, Aku bisa jalan sendiri kak" Kataku sambil jalan kedepan Kak Liam.
"Oh, baiklah" Lirih Kak Liam sambil mengimbangi jalanku.
Karena kejadian tadi malam, Aku merasa tidak nyaman didekat Kak Liam.
Sepanjang jalan, Kak Liam sesekali mengajakku bicara.
Kami, sampai disebuah danau dibelakang istana.
Air danau itu terlihat sangat jernih hingga Aku bisa melihat ikan ikan kecil yang berenang disana.
Kak Liam duduk dipinggir danau.
"Ini juga tempat kesukaan ibu saat ibu masih kecil" Lirih Kak Liam yang melepas sepatunya.
Aku medekat ke Kak Liam dan berjongkok disebelahnya.
"Kak, Kakak hebat sekali" Kataku
"Hebat ? hebat apanya?" Tanya Kak Liam sambil menurunkan Kakinya didanau itu.
"Kakak bisa tau semuanya tentang keluarga Ibu" Kataku.
"Ya, Kakek yang memberitahuku semua saat Aku dalam masa pengobatan disini setelah kecelakaan dulu" Kata Kak Liam.
"Kak, Kakak masih ingat apa yang terjadi dengan Kakak dulu saat kecelakaan ?" Tanyaku.
"Ingatanku hanya samar samar. Sepertinya Aku diserang oleh hewan buas. Tapi, Aku rasa ini bukan ulah hewan buas" Kata Kak Liam.
"Lalu ?" Tanyaku.
"Sepertinya, Aku telah dikutuk" Kata Kak Liam.
"PFFTTTT" Aku langsung menahan tawa.
"Eh ? Kenapa tertawa ?" Tanya Kak Liam.
"Maafkan Aku Kak. Kakak lucu sekali. Zaman sekarang, nggak mungkin kutukan berlaku" Kataku sambil tertawa.
"Ya, Aku juga berfikir begitu. Tapi yang jelas, Kakek tau semuanya tentang kecelakaan yang menimpaku. Aku ingin sekali bertanya padanya. Dan apa Kau percaya Laura, akhir akhir ini Aku bermimpi berada ditempat yang gelap dan Aku melihatmu didepanku melambaikan tangan padaku" Kata kak Liam.
Aku berhenti tertawa dan melihat Kak Liam.
"Aku berharap agar Aku bisa berumur panjang. Aku masih ingin melihatmu bahagia bersama orang yang Kau sukai" Kata Kak Liam sambil menunduk dan melihat pantulan bayangannya di air.
"Jangan membuatku sedih Kak" Kataku.
"Ha ?" Tanya Kak Liam sambil melihatku.
"Jangan membuatku sedih! Kakak harus semangat hidup! Jangan membuatku kecewa! Kalau Kakak mati, Siapa yang akan menghiburku saat sedih ?!" Tegasku sambil melihat Kak Liam.
Kak Liam membelalakan matanya kemudian tersenyum.
"Haha, Kau memang lucu Laura. Suatu hari nanti, yang bernyawa pasti akan kembali. Semua orang pasti akan mengalami kematian. Kematian itu tidak bisa diubah. Kita hanya harus bersiap saja. Bila hari ini Kau merasa senang, suatu hari nanti pasti akan merasakan kesedihan. Takdir itu seperti roda. Selalu berputar terus tanpa melihat drajat maupun martabat seseorang" Kata Kak Liam sambil melihatku dan menepuk nepuk kepalaku.
"Jadi, Bila Kau merasa sedih, carilah cara agar Kau bisa bahagia. Larut dalam kesedihan itu tidak baik. Ingat itu Laura" Pesan Kak Liam.
"Ha, Iya Kak" Aku mengangguk.
"Mau kue cokelat ?" Tanya Kak Liam.
"Enggak!" Tegasku.
Aku bosan makan kue cokelat.
"Ya sudah, Jangan lupa berak setelah makan" Kata Kak Liam sambil tersenyum.
"Hilangkan nasihat itu dari list kata mutiaramu Kak" Kataku dengan nada malas.
"Hahaha, ngak bisa. Itu pasti harus dilakukan" Kata Kak Liam.
"Menjengkelkan" Lirihku.
"Mau kembali ke Istana ?" Tanya Kak Liam.
"Mari Kak" Kataku sambil berdiri.
"Baiklah, Tunggu sebentar, Kakiku terselip disepatu" Kata Kak Liam sambil menarik sepatunya.
"njir"