
Liam berlari masuk kedalam Aula dengan nafas yang tidak beraturan.
Liam melihat sosok yang mengenakan seragam tim penyidik itu sedang berbicara dengan Pelayan pribadi Laura yang mengangguk angguk.
"Hah ?! Apa apa ini ?" Liam sangat terkejut melihat sosok berseragam tim penyidik itu, berhenti di mejanya Laura yang sedang mendengarkan serius perkataan Raja Dyanantya.
...***...
Baru Liam melihat kearah meja Laura, Pelayang pribadi Laura itu telah menghilang.
"Sial! Kemana Dia pergi ?!" Batin Liam sambil berjalan kearah mejanya Laura dan teman temannya.
Sekarang, Liam sedang mencari tau siapa wakil yang mereka maksud diluar tadi.
"Tep!" Liam menaruh tangannya di meja Laura.
Laura yang merasa tak enak pada Liam ingin meminta maaf.
"Bagaimana makanannya, Apa Kalian semua menikmatinya ?" Tanya Liam sambil melihat kearah dua teman Laura.
"Kami sangat menikmatinya" Jawab Veronicca dan Scarlette.
"Ah, Baguslah kalau begitu" Kata Liam.
Liam melihat Pria dibelakang Laura yang mengenakan seragam tim penyidik.
Pria itu sedikit membungkuk pada Liam.
"Kenapa Kau disini ? Apakah tugasmu diluar sudah selesai ?" Tanya Liam.
"Ah, itu Pangeran, Dia yang menjaga Saya selama disini" Kata Scarlette.
"Gawat" Batin Liam.
Ia berusaha senatural mungkin dan melihat kearah Raja Dynantya yang masih berpidato.
Liam, melihat pelayan pribadi Laura yang sedang berbicara dengan Gevand.
"Bagus, secara tidak langsung Kau membantuku Gevand" Batin Liam sambil kembali melihat Scarlette.
"Ah, Begitu...." Kata Liam.
Liam sangat bingung dengan keadaan ini sebab, Liam tau ada dua musuh diruangan yang banyak tamunya.
Ia tidak bisa bertidak gegabah agar tidak menimbulkan keributan diruangan ini.
Pria yang mengenakan seragam itu terus melihati pelayan pribadi Laura.
"Putri, Ada yang ingin kubicarakan. Ini sangat penting" Kata Liam sambil melihat Laura tanpa ekspresi.
"Apa Kak Liam marah padaku ? Aku harus meminta maaf padanya. Aku sudah keterlaluan padanya" Batin Laura sambil berdiri.
"Scarlette, Veron, Aku tinggal sebentar ya" Kata Laura.
"Baik Putri" Kata Veronicca dan Scarlette bersamaan.
Laura mengikuti Liam yang berjalan kearah Gevand yang masih berbincang dengan Pelayan pribadi Laura.
"Tep!" Liam memegang bahu Pelayan Pribadi Laura.
"Pangeran Liam, ada yang bisa Saya bantu ?" Tanya Pelayan Pribadi Laura.
"Tentu saja ada. Gevand, apa Kau ada urusan dengan Pelayan ini?" Tanya Liam.
"Hoi, Kau cari pelayan yang lain saja. Habis ini, Dia harus membawakan Pedang dan Jubah Putra Mahkota" Kata Gevand.
"Ternyata Gevand tidak tau apa pun" Batin Liam.
Scarlette dan orang yang memakai seragam itu melihati Liam.
"Nona, bisakah Kita bicara sebentar ?" Tanya Orang itu.
"Tentu. Veronicca, Aku keluar sebentar" Kata Scarlette sambil berdiri.
"Ya, sendirian dong. Yaudah cepet kembali ya...." Kata Veronicca.
Scarlette mengangguk dan pergi bersama orang itu.
...***...
"Gevand, Kau carilah pelayan yang lain. Gelas Kakek hampir pecah loh" Liam memberi kode pada Gevand dengan menekan kata Gelas Kakek.
"Hah ?!" Gevand langsung melihat Raja Dynantya yang tidak memegang gelas.
Gevand langsung paham dan melihat Liam dengan serius.
"Yah! Mau gimana lagi ? Kakek selalu menganti gelasnya tiap saat. Aku akan mencari Pelayan yang lain saja" Kata Gevand sambil pergi.
Liam tersenyum.
Pelayan Laura mulai mencurigai tingkah Liam yang tidak biasa.
Liam melihat kearah meja teman teman Laura yang sudah tinggal Veronicca saja.
"Mereka kemana ?" Batin Liam.
"Kak, Kita mau kemana ?" Tanya Laura yang membangunkan lamunan Liam.
"Ada yang mau kuambil dari gudang. Ayo, tolong bantu Aku" Jawab Liam sambil berjalan keluar dan mengengam tangan Laura.
Liam menyingkirkan rasa sakit hatinya.
Bagi Liam, "Nyawa tidak akan bisa kembali. Tapi, rasa sakit ini pasti akan sembuh"
Pelayan itu mengikuti Liam dari belakang.
Liam masuk kedalam gudang dan manarik tangan Laura untuk bersembunyi disampingnya.
Laura tidak paham maksud Liam dan Ia hanya mengikuti Liam saja.
Pikir Laura, "Kak Liam ini, Suka sekali jahil pada orang Lain".
"Tap" Pelayan itu masuk didalam gudang.
Liam langsung, "Duagggh!!!! Bruukkkkk!" Menyikut dengan keras hidung bagian bawah pelayan itu, sentak pelayan itu yang merasakan rasa sakit yang luar biasa langsung terjatuh.
"KAK! APA YANG KAKAK LAKUKAN!!!" Teriak Laura yang terkejut.
"PRAKKKK!!!!" Liam yang tidak memperdulikan teriakan Laura langsung melesatkan tendangannya diwajah Pelayan itu.
"CRAT!" Darah muncrat dari wajah Pelayan itu yang terkena tendangan Liam yang mengenakan sepatu bajanya yang berwarna hitam itu.
"Bruk!" Pelayan itu yang wajahnya sudah berlumuran dengan darah langsung pingsan dihadapan Liam dan Laura.
Laura yang sangat terkejut langsung menarik jas hitam Liam hingga terdengar suara sobekan dari jas Liam itu.
"APA YANG KAKAK LAKUKAN ! APA KAU GILA!!!" Teriak Laura.
"Laura, Dia musuh Kita. Dia ada hubungannya dengan peniru Arlo" Kata Liam sambil melihat ke Laura.
Laura membelalakan matanya.
"Itu tidak mungkin. Dia Pelayan kepercayaan Ayah dan Ibu" Lirih Laura sambil menggeleng.
"Scarlette, Dia juga seorang musuh. Kau tetaplah disini jangan kemana mana" Kata Liam sambil memegang kedua bahu Laura.
"PLAK!!!" Laura langsung menampar pipi Liam.
Air mata Laura menetes sedangkan Liam termangun melihat Laura yang telah menamparnya.
"Semarah itukah Kau padaku ?! Scarlette itu teman yang sangat ku percaya! Tidak mungkin kalau Dia seorang musuh!" Tegas Laura.
"PFFT!" Lagi-lagi, sosok didalam diri Liam menertawakannya.
"Laura, Dia memiliki sihir. Dia sangat berbahaya. Dia bukan temanmu" Kata Liam yang berusaha menenangkan diri Laura dan dirinya.
"Kau boleh marah padaku! Tapi jangan menyalahkan temanku!" Tegas Laura.
"Aku tidak marah padamu Laura. Dia benar benar musuh kita" Bujuk Liam.
"TINGGALKAN AKU! WAJAHMU ITU! MEMBUATKU MUAK! AKU INGIN KAU MENGHILANG SAJA !!!!" Teriak Laura.
"DEGH!" Hati kecil Liam serasa hancur berkeping keping.
Sosok yang ia cintai, sosok yang ingin ia lindungi, dan sosok yang menurutnga seperti sinar matahari yang menghangatkan, menginginkan Liam untuk menghilang.
Liam melepaskan bahu Laura.
"Tentu, Aku akan pergi. Jangan pernah menyalahkan dirimu tentang apapun yang terjadi hari ini. Wussh..... Trash!" Kata Liam sambil mengeluarkan Pedang sihirnya yang berwarna biru terang kemudian menebaskannya pada leher Pelayan yang tak sadarkan diri itu dan langsung pergi meninggalkan Laura digudang itu sendirian.
"Bruk!" Laura membelalakan matanya dan langsung jatuh karena Kakinya lemas.
"DASAR MOSTER!!!! MOSTER SEPERTIMU TAK LAYAK HIDUP!!!!" Teriak Laura yang menanggis melihat Pelayan kepercayaan Ayahnya dipenggal dihadapannya.
Liam meninggalkan Laura tanpa melihat kebelakang.
"Percuma saja Aku mempertahankan ini" Batin Liam yang terus berjalan dan mengusap air matanya.
Liam menghilangkan pedang sihirnya.
"PANTAS SAJA KAK KYLE MEMBENCIMU!!!!" Suara teriakan Laura yang masih terdengar ditelinga Liam.
"AKU MEMBENCIMU!!!!!!!"
"Jangan katakan itu" Lirih Liam yang terus berjalan kearah Aula istana tempat pesta Gevand.
"Aku tak akan bisa membencimu" Batin Liam sambil masuk kedalam Aula.