
POV AUTHOR
Sebelum Laura terbangun.
Di alam mimpi Liam.
Hanya kegelapan saja yang dilihat oleh Liam.
"Ini semua salahmu. Dia mati karenamu. Laura pasti akan membencimu" Suara yang didengar oleh Liam.
Liam melihat ke segala arah yang sangat gelap dipenglihatannya.
"Kau itu, hanya beban dikeluarga ini" Tiba tiba suara itu disamping Liam.
"Syuut!!!" Liam langsung melemparkan tendangannya dan berusaha merasakan darimana aura dari asal suara itu.
"Lamban. Duagghhhh!!!!! wuushhhtttt!!!" Ucap sosok itu dan langsung menendang perut Liam hingga Liam terlempar kebelakang jauh.
"Khuk!"
Liam tidak bisa mengeluarkan suaranya.
"Sial, Dimana ini sebenarnya. Apa yang terjadi ? Laura, Apa Kau tak melihatku ?" Batin Liam yang melihat Laura sedang duduk di ayunan ditempat yang sangat terang dan penuh dengan bunga warna warni.
"Wush....." Jejeran obor tiba tiba menyala dihadapan Liam dan mengarah disebuah singgah sana yang terbuat dari tengkorak dan tulang belulang yang terjejer berserakan.
Liam melihat kearah singgah sana itu.
Sosok remaja laki laki dengan rambut hitam dan matanya yang merah menyala terlihat dimata Liam.
Liam membelalakan matanya.
"Dia Lagi ?" Batin Liam dan langsung mengambil ancang waspada.
"Jadi, menyerahlah. Sekarang saatnya Aku yang bersinar" Ucapnya sambil menaruh pipinya di pungung telapak tangan kirinya.
"Hah ? Apa apaan orang itu ?" Batin Liam.
"Hei, Apa Kau sudah bersenang senang di dunia ini ?" Tanya sosok yang duduk disinggahsana itu.
Liam memikirkan cara untuk keluar dari tempat gelap ini.
"Sudah sudah~ menyerah saja. Tidak akan ada gunanya untukmu keluar dari kegelapan ini"
Sosok itu, seolah olah bisa membaca pikiran Liam.
"Kau lihat gadis yang disana itu ? Iya, ditempat terang itu..." Kata sosok itu.
"Siapa Dia ini. Aku ingin cepat cepat keluar dari sini" Batin Liam sambil melirik kekanannya.
"Wosh!" Sosok itu melesat cepat kearah Liam.
"Hei, Aku berbicara denganmu. Kenapa Kau tidak memperhatikanku ?"
Mata merahnya sangat menyala.
Liam membelalakan matanya tapi, Ia tak merasa takut sedikit pun.
"Jump!" Liam langsung melompat kekiri.
"Hoh ? Kau cepat juga. Ya, Aku tidak heran juga sih~ Apa yang Kau bisa, semua akan menjadi milikku. Kita kan, sama. Bedanya, kekuatanku Dua kali lebih hebat darimu" Ucapnya sambil menyeringai dan mengeluarkan api biru dari telapak tangan kirinya.
"CTAK!!!" Sosok itu mematikkan jari tengah dengan ibu jari tangan kanannya.
"Wushhh!!!!" Angin kencang langsung keluar dari hasil patikkan jari itu.
Liam menutup matanya dan Ia terkejut sebab, tempatnya berbeda.
Liam membuka matanya
Langit langit berwarna kuning emas terlihat dipandangan Liam.
"Apa ? Ini, di Dynantya ?" Batin Liam.
"Kau pasti tak asing dengan tempat ini"
Liam melihat sosok yang berada dikegelapan tadi.
Ia langsung membelalakan matanya karena rupa mereka sangat mirip.
"Kenapa ? Apa Kau terkejut dengan wajahku yang sangat rupawan ?" Dia meniru gaya bicara Liam pada Laura.
"Sayang sekali Kau tidak bisa bicara ya disini. Jadinya, Kau tidak bisa membalas ucapanku" Ucapnya.
"Ya, Aku tidak butuh balasan kalau bercerita, Sekarang dengarkan Aku" Lanjutnya.
"Dia Gila!" Batin Liam.
"Kau tau, Bila Laura memilikimu. Dia akan menjadi milikku" Ucapnya sambil memajukan wajahnya dan mengusap bibirnya dengan ibu hari tangannya.
Liam semakin tidak paham dengan ucapan sosok itu.
"Kau memang naif diriku. Apa Kau tau ? Dia membalas ciumanku. Tep!" Ucap sosok itu sambil menyeringai dan menepuk kepala Liam dengan tangan kirinya yang masih mengeluarkan Api biru.
"BLINK!" Liam langsung membuka matanya.
Nafasnya tidak teratur.
Ia melihat kebelakangnya.
Laura, sedang duduk sambil membaca buku.
Liam melihat jam dinding yang masih berbunyi dan berada dipukul 06.35.
Liam memegang kepalanya yang terasa sedikit panas dan menarik rambutnya kedepan.
Ia melihat perubahan warna rambutnya.
"Apa, Aku akan berubah menjadi seperti sosok dimimpiku ?"
Laura yang sedang membaca buku mendengar suara helaan napas Liam dan Ia langsung melihat kebelakang.
"Kak Liam sudah bangun ? Mau ku ambilin sarapan dulu ?" Tanya Laura sambil berdiri.
"Terima kasih Laura. Nanti saja sarapannya bersama Pangeran yang lain" Jawab Liam sambil duduk.
Laura merasa nada bicara Liam berubah menjadi tidak bersemangat seperti Liam yang biasanya.
"Apa Kakak baik baik saja ?" Tanya Laura.
"Ya, Aku baik baik saja" Jawab Liam sambil membuka pakaiannya.
Laura perban dipunggung dan dilengan Liam yang masih terlihat basah.
"Tadi malam, apa Aku melakukan hal yang aneh aneh ?" Tanya Liam sambil membuka perbannya.
"Tidak Kak. Kakak hanya sedikit mengigau" Laura berbohong.
Ia tak ingin Liam khawatir dan Ia juga, tak ingin menceritakan hal yang Ia lakukan tadi malam.
Seluruh perban Liam telah terbuka.
"Syukurlah kalau begitu. Aku takut Kau terluka karena Aku" Kata Liam sambi melihat luka dipunggung dan dilengannya yang tidak menghilang.
Laura terkejut dengan luka luka Liam yang tidak menghilang.
"Kak, Apa Kakak tidak kehutan untuk menyembuhkan luka Kak Liam ?" Tanya Laura sambil mendekat ke Liam.
"Itu sudah tidak mempan sejak meninggalnya Ayah" Jawab Liam sambil tersenyum menunduk dan membersihkan darahnya dengan kasa yang Ia bawa ditasnya.
Laura melihat perut bagian kiri Liam yang terlihat agak membiru.
"Kak, Itu kenapa perut kakak bisa berwarna biru bengkak ?" Tanya Laura.
"Ya, Aku ceroboh terkena tendangan Gevand" Jawab santai Liam yang masih mengusap lengannya.
"Mau, kubantu Kak ?" Tanya Laura dengan hati hati.
"Boleh kah ? Apa Aku tidak merepotkan mu?" Tanya Liam.
"Aku tidak merasa kerepotan Kak" Jawab Laura sambil mengambil kain kasa yang lain.
"Ya, sebenarnya. Nanti saja membantunya, Aku belum mandi, dari pada kerja dua kali lebih baik Aku mandi dulu" Kata Liam sambil berdiri.
"Oh! Apa tidak apa apa luka Kak Liam yang banyak ini terkena air ?" Tanya Laura.
"Terkena air atau tidak, ini sama saja. Tidak akan sembuh" Kata Liam sambil berjalan kearah kamar mandi.
"Kak Liam" Panggil Laura.
"Ya ?" Tanya Liam sambil membalik tubuhnya melihat Laura.
"Mau periksa kedokter dulu ? Aku akan mengantar Kak Liam"
Laura sangat mengkhawatirkan Liam.
Liam tertawa kecil.
"Eh ? Kenapa Kak Liam tertawa ?" Tanya Laura.
"Aku heran, kenapa Kau masih baik padaku. Kau sudah tau kenyataannya kan ? Kalau Aku ini bukan Kakakmu ? Tapi, kenapa juga Kau masih memanggilku Kakak ?" Tanya Liam sambil membelakangkan rambutnya.
"Apakah Aku harus baik kepada keluargaku saja ? Dan apakah Aku harus memanggil Kakak pada Kakak kandungku saja ?" Tanya Laura sambil berjalan kearah Liam.
Senyuman diraut wajah Liam menghilang.
"Grep!" Laura memeluk Liam.
Mata Liam terlihat sayu.
"Kak, teruslah semangat. Jangan menunjukkan senyuman Kak Liam yang barusan padaku. Aku tidak menyukainya. Aku lebih suka Kak Liam yang tersenyum saat makan cokelat kesukaan Kakak" Kata Laura.
Laura mendengar detakan jantung Liam yang memompa dengan cepat, begitu pula dengan jantungnya juga.
Liam tidak membalas pelukan Laura.
Ia hanya terdiam ditempat.
"Kak, Ceritalah bila Kakak ingin bercerita. Aku memang tidak ahli dalam memberi kata kata pada orang lain. Tapi, Aku bisa menjadi pendengar setia Kakak" Kata Laura.
"Laura memang sangat pengertian. Harusnya, Aku tidak membuatnya sedih" Batin Liam.
Liam tersenyum.
"Apa Kau sudah makan ?" Tanya Liam.
"Ah, Sudah Kak" Jawab Laura.
"Ya, Moga aja Kak Liam nggak ngitung kuenya" Batin Laura yang telah menghabiskan empat kue cokelat Liam.
"Kalau begitu, Apa Kau sudah berak ?" Tanya Liam.
"Sialan. Dia memang Kakakku. Kurasa, Aku tak perlu mengkhawatirkannya" Batin Laura sambil melepaskan pelukannya dan melihat Liam.
"Kenapa ?" Tanya Liam.
"Kakak bau asam. Mandilah sana" Kata Laura yang berbohong.
"Eh!" Spontan Liam langsung menutupi dadanya yang tak berkain.
Wajah Liam langsung semu memerah dan mundur kebelakang beberapa langkah.
"Lagi lagi jangan memeluk orang lain saat baru bangun tidur. Cklek!" Kata Liam sambil masuk kekamar mandi dan menutup pintunya.
Laura terkekeh kecil.
"Ternyata, Kak Liam masih saja mudah untuk dibohongi " Batin Laura.