LIAMARLO

LIAMARLO
MASA LALU bag.2 Persahabatan Aneria dan Arlo



Sampai di rumah Arlo.


"Duduklah dengan nyaman, Aku hanya memiliki air putih saja. Jadi, jangan banyak minta" Kata Arlo.


"Baik baik" Kata Aneria sambil melihat sekelilingnya.


"Rumahmu terawat ya... Hebat untuk seorang lelaki yang hidup sendirian" puji Aneria sambil menghirup aroma kayu cendana di rumah Arlo.


"Hehehe" Arlo hanya terkekeh kecil sambil mengaruk lehernya yang tidak gatal.


Aneria membuka sarung tangannya.


Dan mengulurkan tangannya pada Arlo.


"Tumben ?" Tanya Arlo.


"Pasti ada maunya" Batin Arlo.


"Kau mau tidak ?" Tanya Aneria yang ingin memberikan sedikit darahnya pada Arlo.


Arlo mengangguk dan langsung memegang pergelangan tangan Aneria.


Arlo mulai mengigitnya dan menghisap darahnya.


Aneria sudah terbiasa jadi, Ia tidak terlalu sakit.


"Kita sudah berteman sejak usiaku 12 tahun. Aku penasaran dengan kehidupanmu. Ceritalah sedikit padaku, Akukan sahabatmu Ya! Buk! Buk!" Pinta Aneria sambil menepuk nepuk kasar kepala Arlo.


Mata Arlo berkedip setiap kepalanya dipukul oleh Aneria.


Arlo membereskan bekas gigitannya itu dipergelangan tangan kanan Aneria dengan jilatannya.


Setelah selesai, Arlo kembali duduk di kursi kayunya.


"Rumor yang beredar tentang Aku itu semuanya adalah omong kosong" Kata Arlo.


"Hah...." Aneria menghela napas.


"Sebenarnya Arlo, Aku itu sedikit sedikit percaya pada rumor itu. Sebab, wajahmu yang rupawan itu, bjsa saja Kau dulu mengunakan wajahmu itu untuk menarik perhatian wanita" Kata Aneria sambil memakai sarung tangannya kembali.


"Ckck! Sudah kuduga Kau mengakui ketampananku. Bagaimana kalau kita menjalin hub-" Ucap Arlo yang belum usai.


"Jangan macam macam. Gini ini, Aku sangat set- Ah, lalu bagaimana dengan kehidupanmu dulu sebelum kau begini ? Apa Kau bisa kembali normal ?" Tanya Aneria yang tiba tiba menganti topik.


Arlo menunduk.


"Aku sudah tidak bisa kembali menjadi normal. Aku sangat rindu dengan mata biruku yang dulu" Kata Arlo.


"Eh ? Matamu dulu biru ? Bagaimana bisa berubah menjadi merah ?" Tanya Aneria.


Arlo menutup mata kanannya dengan tangan kanannya.


"Ini akibat kutukan yang diucapkan oleh Ibuku" Jawab Arlo.


207 TAHUN YANG LALU.....


Sosok laki laki berambut hitam dengan mata biru sebiru lautan yang kelam, Dia adalah Arlo.


Seorang Putra dari pasangan suami istri ahli sihir Kerajaan Dynantya dan juga, seorang kakak dari adik wanitanya yang bermata merah dengan rambut berwarna cokelat emas.


Gadis itu, sangat mirip dengan Ayahnya, sedangkan Arlo wajahnya persis dengan ibunya.


Kini, usia Arlo menginjak 24 tahun, sedangkan adiknya 18 tahun.


Arlo sangat terkenal dengan wajahnya yang rupawan, berbakat akan hal sihir, dan sifatnya yang menurun dari Ayahnya yang suka menggoda gadis gadis disekitarnya. Namun, Arlo bukanlah seorang pemabuk seperti Ayahnya.


Ayah Arlo, meninggal disaat usia Arlo yang mengijak 15 tahun.


Ia meninggal saat bertugas di Medan perang melawan Kerajaan Nelzefvia dulu.


Dan karena perjuangannya kini, Nelzefia dan Dynantya berhasil berdamai setelah peperangan itu dimenangkan oleh pihak Dynantya akibat permasalahan perbatasan hutan dan hak hutan.


Kehidupan Arlo berubah semenjak saat itu.


Ibunya yang menjadi tulang pungung keluarga menyekolahkan kedua anaknya, kini naik pangkat menjadi Kepala Ahli Sihir Dynantya yang disingkat Kepala ASDY ,atau itu nama panggilannya saat ini.


Ibunya yang jarang pulang, membuat Arlo harus mengurusi adik wanitanya yang masih berusia 11 tahun.


Hingga Diusia Arlo yang mengijak 19 tahun, Ia mulai merasakan jatuh cinta pada teman perempuan Adiknya yang bernama Naysyla.


Selama setahun Ia memendam perasaannya pada Naysyla yang sering kerumahnya untuk belajar sihir padanya bersama Yve adik Arlo.


Arlo sering bertanya pada Yve tentang Naysyla.


Yve sadar kalau Kakaknya menyukai Sahabatnya itu.


Hingga, Arlo benar benar menyatakan cintanya pada Naysyla.


Yve tidak ingin sahabatnya berpacaran dengan Kakaknya.


Yve mencengkram erat lengan Naysyla


Naysyla sedikit merasa kesakitan.


Arlo melihatnya.


"Em... Kak Arlo, Beri Kami waktu sebentar" Ucap Naysyla sambil menahan tangan Yve agar tidak mencengkramnya lebih dalam lagi.


"Tentu, Aku tunggu disini hingga sore" Jawab Arlo sambil meringgis pada Naysyla dan menarik poni rambut hitamnya kebelakang.


Naysyla tersenyum menunduk dan pergi bersama Yve.


Sampai di sebuah pohon besar jauh dari tempat Arlo.


"Yve ! Sakit! Kenapa kamu mencengkram lenganku ?!" Tanya tegas Naysyla sambil melepas kasar tangan Yve.


Yve memeluk Naysyla.


"Maafkan Aku. Tolong jangan terima cintanya Kakakku. Kau terlalu baik untuknya" Kata Yve.


Naysyla mendorong kedua bahu Yve.


"Dia mirip seperti Ayahku! Ibuku sering menanggis saat Aku kecil karena ulah Ayah ! Aku tidak ingin Kau seperti ibuku!" Tegas Yve.


"Maafkan Aku Yve, Aku sebenarnya suka juga pada Kakakmu. Dia tidak seburuk dengan apa yang Kau pikirkan" Kata Naysyla.


"Percayalah padaku Naysyla ! Aku lebih mengenalnya ! Aku adiknya!" Tegas Yve untuk meyakinkan Naysyla.


"Yve, Apa Kau tak ingin Aku, sahabatmu dan Kakakmu bahagia ? Ya, walau belum tentu kami takdir" Kata Naysyla sambil menatap mata sahabatnya itu dengan penuh keyakinan.


Yve mengerutkan keningnya dan langsung melepaskan tangan Naysyla yang ada dibahunya dengan kasar.


"Hubungan Kalian nggak akan lama berjalan ! Dia hanya akan membuat hidupmu lebih sedih Naysyla! Kalau Kau lebih memilihnya ya sudah! Terima saja cintanya! Tapi, jangan anggap Aku lagi sahabatmu!" Tegas Yve dan langsung meninggalkan Naysyla sendiri.


Arlo, sengaja mengikuti mereka.


Dan mendengar percakapan mereka lalu kembali lagi ditempat dimana Arlo menunggu Naysyla.


Mata Naysyla memerah dan terasa pedih.


"Yve pasti akan berbaikan lagi denganku. Dia tidak mungkin bertidak kenakan kanakan seperti ini" Batin Naysyla sambil mengusap air matanya dan kembali berjalan ketempat Arlo.


Arlo melihat Naysyla yang berjalan kearahnya.


Arlo sudah siap untuk ditolak.


"Dimana Yve ?" Arlo sengaja bertanya hal itu pada Naysyla.


"Ah, itu Kak, tadi katanya Yve mau pulang duluan dia lagi dapet" Naysyla membohongi Arlo.


Ia terlihat sangat netral dan santai.


"Bagimana ? Mau dipikir pikir lagi pertanyaanku tadi ?" Tanya Arlo.


"Aku terima Kak" Jawab Naysyla.


Mereka berdua menjadi pasangan kekasih sejak hari itu.


Kedua orang tua Naysyla dan Ibunya Arlo sangat senang dengan hubungan mereka berdua.


Mereka terlihat bahagia.


Disisi lain, Yve memiliki seorang kekasih yang merupakan seorang anak terpandang didesa mereka.


Tapi, tanpa sepengetahuan Yve, Kekasihnya bermain wanita dibelakangnya dan diketahui oleh Arlo.


Saat Kekasih Yve kerumah Arlo.


Kekasih Yve sedang menunggu Yve yang sedang berdandan.


Arlo duduk didepannya sambil membaca buku sihir.


"Waktu itu, Aku melihatmu keluar dari tempat seorang wanita menjual tubuhnya. Dan Aku melihatmu berjalan dengan seorang wanita muda. Apa yang Kau lakukan disana dan Siapa Dia ?" Tanya Arlo sambil sedikit melirik kekasih Yve.


"Ah, wanita itu Kakak sepupuku dan Dia ingin menemui temannya ditempat itu" Jawab kekasih Yve.


"Em... Jangan buat adikku menanggis" Kata Arlo.


Yve mendengar ucapan Arlo barusan.


"Apaan sih Kak! Ayo berangkat Vin !" Tegas Yve yang baru muncul.


Arlo melihat pakaian yang dikenakan oleh adiknya.


Itu sangat pendek.


Arlo langsung memegang tangan Yve.


"Ih ! Apaan sih Kak ?!" Tanya Yve sambil mengibaskan tangan Arlo yang memegangnya.


"Ganti pakaianmu, Ibu akan marah bila tau Kau memakai pakaian ini" Kata Arlo.


"Ya jangan bilang Ibu dong ! Cupu!" Ejek Yve sambil mengandeng tangan kekasihnya.


Arlo langsung berdiri dan menarik lengan Yve.


"Ganti pakaianmu atau Kau tidak boleh keluar !" Tegas Arlo yang menahan amarahnya.


"Apaan sih Kak ! Aku mau kepesta ! Aku malu bila pakai pakaian yang seperti Ibu ibu yang dibelikan Kakak !" Tegas Yve sambil menarik lengannya agar terlepas dari Arlo.


Arlo menarik adiknya.


"Kalau begitu Kau pergi dari sini, jangan ajak adikku untuk keluar" Kata Arlo yang menurunkan nadanya sambil mendorong Kekasih Yve keluar rumah.


"Kak!" Yve sangat kesal pada Arlo.


"Pergi dari sini, jangan dekati adikku lagi" Ucap Arlo sambil mengeluarkan Auranya.


"Baik. Yve, mulai hari ini Kita putus. Lagi pula, Gadis yang mencintaiku bukan hanya Kau saja. Bye ~" Ucapnya bernada sambil meninggalkannya.


"B*NGS*T" Batin Arlo.


Arlo langsung menutup pintu.


"Kak! Kakak itu emang ngak suka ya liat Aku bahagia ?!" Tanya Yve.


"Aku melakukan ini agar Kau-" Kata Arlo yang belum usai.


"Agar apa Kak ?!" Teriak Yve.


"Agar masa depanmu-" Arlo belum usai menyelesaikan kalimatnya.


"Kau sama seperti Ibu ! Tidak pernah memikirkan perasaanku ! Kalian memang tak ingin Aku bahagia disini ! BRUAK!!" Yve marah dan langsung membanting pintu kamarnya.


"Yve ! Ibu akan marah bila Kau begini! Yve !"


Malam itu, Rumah Arlo menjadi sunyi seketika.


Keesokan harinya, Arlo mendapatkan surat dari Ibunya.