
"Turunkan pedangnya Putri~~" Kata bernada Pria dibelakangku.
Aku melepaskan pedang Ayahku yang sudah kulepaskan sarungnya dihadapan Ayah.
Ayahku tersenyum padaku.
Dan dengan cepat, Ayahku langsung mengambil pedang itu dan tanpa pikir panjang.
"SYUUUUT!!" Ayah langsung melepar pedangnya kearah sosok bertopeng dibelakangku.
"JLEB! CRAT! BRAKKK!!!!" Pedang perak Ayahku, Langsung menembus kepala sosok beropeng itu, dan darahnya sedikit muncrat mengenai pipiku, serta sosok bertopeng itu menghantam pohon dibelakang jendela kereta kuda Kami.
Tragisnya, Ayahku tidak menghiraukan pria bertopeng dibelakangnya.
"JLEEEBBBB" Pedang besi milik pria bertopeng dibelakang Ayah menembus dada Ayah dari belakang.
"Sialan, kenapa Kau membunuh rekanku ?" Tanya pria bertopeng putih dibelakang Ayah.
Aku membelalakan mataku dan Aku tak bisa menjerit.
"CRAT! COUGH!" Darah dada Ayah muncrat mengenai baju hitamku dan Ayah langsung batuk darah didepanku.
"La...ri...." Lirih Ayahku.
Aku ingin berteriak
Aku ingin menolong Ayah dan pergi dari sini bersama.
Mulutku seperti ditutup oleh sesuatu.
Tubuhku bergetar
Aku sangat ketakutan dan tubuhku sangat lemas hingga Aku tak bisa berdiri.
"LARI!" Tegas Ayahku.
Dan dengan spontan Aku langsung berdiri dan berlari keluar dari kereta kuda.
Jantungku terus berdegup dengan kencang.
" Aku harus mencari bantuan untuk menolong ayah! " Batin ku sambil berlari dengan kencang.
Aku hanya seorang Putri biasa yang tak bisa memegang pedang.
"DRAP! DRAP !" Aku terus berlari dengan mengangkat tinggi tinggi gaun hitamku.
"Bruk!"
Bodohnya Aku, sempat sempatnya Aku bisa terjatuh dalam keadaan genting seperti ini.
"Berhenti disana !" Teriak sosok bertopeng itu yang terus mengejarku.
Aku langsung melepas sepatu tinggiku.
Aku kembali berdiri dan berlari.
Kakiku terasa sangat sakit.
Mungkin ini karena Aku terjatuh tadi.
DEGH
DEGH
DEGH
Jantungku terus mompa dengan cepat.
Rasa sesak mulai terasa didadaku.
"Siapapun.... Tolong Kami !" Batinku sambil terus berlari.
Satu cahaya lampu rumah warga tak terlihat dimataku.
Aku mulai memasuki hutan yang dimitoskan itu.
Darah dileherku terus mengalir saat Aku berlari.
Walau tak dalam, Aku masih bisa merasakan rasa perihnya.
"Drap ! kreak!" Aku terus berlari masuk kedalam hutan.
Aku tak peduli lagi dengan keindahan gaunku itu.
"Krak!" Kulit kakiku tergores oleh duri duri tanaman yang ada dihutan.
Aku tak mendengar suara langkah kaki lagi.
Aku memperlahan laju lariku sambil melihat kebelakang.
"Tep! Grusak!!" Pria bertopeng itu ternyata masih mengejarku.
Saat Aku kembali berlari......
"SRUUUUUAKKKKKK! Duaghhh!!!!!!" Aku tergelincir saat berlari dan Dahiku terhantuk dahan pohon yang roboh.
Kepalaku langsung pusing.
Aku tak kuat untuk berdiri lagi.
Kaki kiriku mati rasa.
Aku melihat pria bertopeng itu diatasku sambil mengeluarkan pedang besinya.
Cahaya bulan sangat terang dimalam ini.
Apa Aku akan mati ?
"Angap gelang ini sepertiku dan ucapkan...." Aku mendengar suara Kak Liam saat Ia memberikanku gelang bemata biru ini.
Aku tersenyum sambil mengangkat tangan kananku yang bergelang itu.
Gelang pemberian Kak Liam bercahaya saat mengenai terangnya sinar rembulan.
Aku lupa bagaimana cara memanggilnya.
"Kak Liam...." Panggil Batinku.
"Traaashh!" Pria bertopeng itu menebaskan Pedang besinya.
"Tep!" Batu yang ada digelang pemberian Kak Liam terputus dari tempatnya dan terjatuh dileherku yang berdarah.
"Aku tidak akan merusak barang indah sepertimu. Kau pasti akan sangat mahal bila dijual" ucap pria itu.
"Sudah tidak ada harapan lagi" lirihku sambil merentangkan kedua tanganku.
Aku pasrah
"WUSHHHHH!" tiba-tiba ada angin kencang yang menerpa pohon pohon disekitar Kami.
Mataku mulai mengabur karena merasakan rasa sakit dan perih dari tubuhku.
Aku melihat dengan kabur sosok berjubah gelap panjang dengan rambut berwarna putih dihadapan pria bertopeng itu dan membelakangiku.
"Apa.... Dia Kak Liam...? Tapi, Dia terlalu tinggi dan lebih gagah dibandingkan dengan Kak Liam" Batinku.
Sosok itu melirikku.
Aku tak begitu jelas melihat wajahnya.
"Ah! Pen... PENYIHIR ARLO!" Teriak pria bertopeng itu.
Aku ingin melihat wajah penyihir yang kupikir seorang kakek berbadan kotet itu.
"WOSH!!!!" Empat lingkaran sihir berwarna putih terang digelapnya malam itu mengelilinggi Pria bertopeng yang mengejarku.
"AM... PUNI AKU!!!!" Teriak Pria bertopeng itu.
"Hanguskan" Ucap sosok pria berambut putih itu.
"ARGGGGG!!!" Teriak pria bertopeng didalam api biru itu.
Sosok itu bermata merah menyala melihat kearahku.
Mataku terasa sangat berat.
Aku hampir kehilangan kesadaranku.
"Wosh!" Sosok itu tiba tiba berada dihadapanku dan membuka mulutnya yang bertaring panjang itu.
"Jleb! Crat" Ia memiringkan kepalaku dan menusukkan giginya yang bertaring itu keleherku.
Aku yang takut langsung tak sadarkan diri.
...***...
"Blink!" Aku langsung membuka mataku saat Aku merasa benar benar tersadar.
Aku sudah berada dikamarku.
Badanku terasa sangat sakit sekali.
Aku memegang leherku yang diperban dengan kain kasa.
Aku melihat kekananku dan disana Kak Liam tertidur sambil duduk.
Aku mengangkat tangan kananku yang kembali memakai gelang kain bermata biru pemberian Kak Liam itu.
"Ayah! Bagaimana mana dengan Ayah ?" Aku langsung duduk dari kasur.
Kak Liam terbangun dan melihatku.
"Laura! Kau sudah sadar ?" Tanya Kak Liam sambil memegang keningku.
"Kak! Mana Ayah?!" Tanya Ku.
"Ayah.... Dia, tidak bisa diselamatkan" Jawab Kak Liam sambil melepas keningku.
"Degh!"
"Dia kehabisan darah sebelum bala bantuan datang" Jelasnya.
Badanku terasa lemas.
"Harusnya waktu itu Aku tidak meninggalkan Ayah" Lirihku.
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri Laura. Ini sudah takdir untuk Ayah. Dan Empat hari lagi adalah hari pengangkatan untuk Kak Kyle" Kata Kak Liam sambil memegang tangan kiriku.
"Kak, berapa hari Aku pingsan ?" Tanyaku sambil melihat Kak Liam.
"Tiga hari" Jawabnya.
"Kak, Siapa yang menolongku?" Tanyaku.
Kak Liam menunduk sambil menaruh tangan kiriku dikeningnya.
"Aku tidak tau, saat Aku datang Kau sudah tergeletak di perbatasan hutan" Jawabnya.
Aku langsung melihat ke Kak Liam yang menunduk.
"Kak, Bagaimana bisa Kakak menemukan ku ? Jarak tempat kejadian dengan Istana sangat jauh kan ? Bahkan membutuhkan waktu Dua jam untuk sampai disana ?" Tanyaku.
"Tsuuuutsss....." Kak Liam menyuruhku berhenti dengan menaruh jari telunjuknya dibibirku.
Aku terdiam
"Kau masih sakit, Istirahatlah dulu. Aku akan mengambilkan makanan untukmu" Kata Kak Liam sambil berdiri.
"Kak, Aku bertemu Penyihir Arlo" Kataku.
Kak Liam langsung berhenti dari jalannya dan melihat kearahku.
"Dia menghisap darahku" Kataku.
Kak Liam hanya diam mendengarkanku.
"BADUM!" Jantungku berdegup kencang.
"Apa, Aku akan baik baik saja ?" Tanyaku sambil memegang leherku.
Kak Liam tersenyum padaku.
"Kau pasti baik baik saja. Bila terjadi sesuatu denganmu, Aku akan langsung mencarinya dihutan untuk menghajarnya" Kata Kak Liam sambil kembali berbalik dan berjalan kearah pintu kamarku.
"Cklek" Kak Liam berhenti ditempat.
"Laura...." Panggilnya.
Aku melihat Kak Liam.
"Bukankah Kau tak percaya dengan adanya Mitos ?" Tanya Kak Liam.
"Benar juga! Bisa jadi Saat itu Aku hanya bermimpi bertemu dengannya" Kataku untuk mengalihkan topik.
"Tunggu sebentar ya Laura, Aku akan mengambil makanan untukmu" kata Mam Liam dan pergi.
Saat itu, Aku jelas jelas melihat sosok yang dipanggil penyihir oleh pria bertopeng itu.
Walau pandangan mataku buram tapi, Aku jelas jelas melihat sosok itu berambut putih.
Tak mungkin Kak Liam yang melakukannya.
Bila Kak Liam adalah Arlo pasti Dia tidak akan berani menghisap darah saudarinya sendiri.
Aku berdiri untuk ganti baju dan mencari jawaban siapa itu Arlo.
"Ouch!" Kaki kiriku yang bengkak terasa sakit saat berjalan.
Dan kenapa Rambut Arlo mirip dengan Kak Liam.
Atau jangan jangan, Kak Liam itu anak gelap Ibu dengan Arlo.
Itu tidak mungkin.
Aku mengambil piama tidurku.
Ibu pernah berkata kalau cinta Arlo terbalaskan, Kehidupan Arlo akan berakhir.
Tidak mungkin Kalau Ibu memaksa Arlo ataupun sebaliknya untuk berhubungan Intim.
Semakin Aku berteori semakin pula tak kumengerti.
"Ah, Sudahlah Aku harus ganti baju dulu. Pakaian ini sudah terkena darahku"
Aku membuka kancing bajuku.
"Cklek!" Kak Liam kembali sambil membawa senampan makanan.
"Ah!" Aku terkejut tiba tiba Kak Liam masuk tanpa mengetuk pintu.
"Adanya hanya Ini. Dari tadi Aku mencari pelayan tidak ada yang muncul, apa karena sudah mal.." Tanya Kak Liam sambil berjalan kearahku dan melihatku.
"Ah!" Kak Liam terdiamsejenak dan membelalakan matanya.
Aku langsung menutup dadaku dengan piama yang kupegang.
"HUAHH!! SIALAN! JANGAN MELIHAT KEARAHKU!" Teriakku sambil melempar pakaian dari lemariku.
"HUAH! MA...MAAAFKAN AKU! Bruak!" Teriak Kak Liam dan langsung keluar dari kamarku dengan membanting pintu.
Jantungku memompa dengan kencang.
Wajahku memanas dan memerah karena malu.
"Sialan...." batinku.