LIAMARLO

LIAMARLO
Ternyata hanya mimpi



"Nona! Anda mau kemana ?!" Teriak Kusir itu.


"Mencari Kak Liam!" Teriakku sambil berlari.


Aku tau apa yang kulakukan saat ini bukanlah sikap yang baik untuk seorang putri kerajaan.


Tapi, Kurasa Kak Liam sedang sakit.


Pupilnya yang membesar dan napasnya yang berat itu.


Dia pasti mau berak gara gara kebanyakan makan kue cokelat tadi sore.


Tapi, Kenapa Dia harus pakek acara lompat dari kereta kuda ?


...***...


Aku terus berlari masuk kearah kegelapan itu.


Aku, teringat dengan sosok yang dipanggil Arlo oleh pria bertopeng waktu itu.


Aku, sampai didepan rumah kosong.


Aku tidak menyangka ada rumah kosong besar didaerah sini.


Aku melihat sekelibat bayangan jendela bagian atas rumah kosong itu.


"Apa disana Kak Liam berada ?" Tanyaku sambil berjalan perlajan kearah rumah kosong itu.


"Permisi....Kreaaak..." Ucapku sambil membuka pintu.


Suara pintu itu sedikit membuatku merinding.


Aku memasuki rumah tua itu.


Hawa pengap dan lembab mulai terasa.


"Pranggkkkkkk!!!!!!" Suara barang pecah dari lantai atas.


Pikiranku lari kemana mana.


Aku, takut sesuatu yang buruk terjadi pada Kak Liam.


Aku langsung menaiki tangga dimana suara itu berasal.


"Prangggggg!" Suara barang pecah yang berasal dari ruangan yang berada didepanku.


"KReeakkkk" Aku membuka perlahan pintu itu dan Aku melihat sosok laki laki yang mirip dengan Kak Liam namun, lebih tinggi dan tegap.


Sebuah lilin panjang menerangi ruangan itu.


Aku melihat jubah biru gelap dengan bagian ujung bawahnya penuh dengan robekan.


Aku memasuki ruangan itu yang seperti kamar.


"Kak Liam ?...." Panggilku sambil mendekatinya.


Ia tidak melihatku.


Ia malah duduk dikasurnya sambil menunduk.


Aku melihat kuku panjangnya yang berwarna biru gelap.


"Kakak, kalau mau berak jangan menakut nakutiku seperti tadi" Kataku yang berdiri dihadapan Kak Liam itu.


Ia tetap menunduk.


"Kak! Tep!" Panggil ku sambil memegang bahunya.


Dia langsung melihatku.


Matanya, merah menyala seperti Sosok berambut putih yang mengigit bahuku.


"Syuut! bruk!" Dia langsung menarikku dan menjatuhkan dirinya diatas kasur.


Aku, jatuh diatasnya.


Aku membelalakan mataku.


Suara detakan jantungku terdengar di telingaku.


Ia menatapku sambil mengusap pipiku.


Ia menarik pipiku.


Degh


Degh


Dan mendekatkan bibir merah dan giginya yang bertaring itu didekat telingaku.


Aku tak bisa membuka mulutku.


"Jadilah, milikku.." Bisiknya.


"Blink!" Aku membuka mataku.


Jantungku bedegup dengan kencang.


Aku berkeringat dingin.


Dan, ternyata tadi itu hanya bermimpi.


"Sudah bangun?" Tanya Kak Liam yang memakai topeng matanya.


Aku duduk tegak melihat Kak Liam yang telah meminjamkan bahunya selama Aku tertidur.


"Kak. Sejak kapan Aku tertidur ?" Tanyaku.


"Entahlah. Tapi itu sudah lama. Bahuku sampai pegal" Jawab Kak Liam.


Aku mengipasi leherku yang berkeringat.


"Itu, Kau kenapa mandi keringat sampai segitu banyaknya ? Apakah karena hawa malam ini lebih panas?" Tanya Kak Liam.


"Aku, bermimpi Kak Liam melompat dari kereta kuda yang masih jalan dan lari kedalam tempat yang gelap karena Aku menyentuh Kakak" Jawabku.


"Hah?!" Tanya Kak Liam.


"Tapi sebelum itu, mata Kak Liam yang pupil merah itu membesar dan saat Aku menyentuh Kakak, Kakak langsung mencakarku" lanjutku.


"Pffft! Apa apaan itu ? Enggak mungkin Aku ini seperti itu" Kata Kak Liam.


"Ya, namanya aja mimpi Kak" Kataku.


"Terus lanjutannya ?" Tanya Kak Liam.


"Didalam mimpiku, Disana ada rumah tua dan Aku bertemu penyihir Arlo yang mirip sekali dengan Kak Liam" jawabku.


"Terus ?" Tanya Kak Liam sambil mengubah posisi duduknya dan melepas topeng matanya.


"Dia berkata kepada untuk menjadi miliknya" Jawabku.


"Hah? Yang benar saja ?! Kau menerimanya ?" Tanya Kak Liam.


"Aku kaget lah Kak! untung bisa bangun!" Tegasku.


"Hahaha..., Lagian itu hanya mimpi. Kau tidak percaya dengan Mitoskan ? Laura, Dia adalah mitos. Jadi, angap saja ini sebagai mimpi biasa karena Kau masih kepikiran dengan kematian dan kelelahan" Kata Kak Liam sambil melihatku.


"Iya Kak" Jawabku.


"Lagipula, masa! si Arlo itu bodoh ?! Kalau Dia mendapatkan orang yang Dia sukai! Dia pasti bakalan mati!" Tegas Kak Liam dengan wajah yang optimis.


"Ya, sudah. Ayo turun" Kata Kak Liam sambil tersenyum padaku.


"Eh? emangnya sudah nyampe ?" Tanyaku.


"Sudah. Dari tadi malah" Jawab Kak Liam.


"Hah?! Kenapa Kakak tidak membangunkaku dari tadi ??" Tanyaku.


"Kau terlihat sangat capek. Jadi ya, Aku tunggu sampai Kau bangun" Kata Kak Liam.


"Ya sudah Kak kalau gitu Ayo turun. Mungkin Kak Kyle sudah menunggu" Kataku sambil membuka pintu kereta kuda.


"Tentu. Mau lewat mana ?" Tanya Kak Liam.


"Lewat belakang saja" jawabku sambil turun.


Kak Liam berjalan disampingku sambil memasukkan kedua tangannya di saku jas hitamnya.


Aku masih kepikiran dengan mimpi itu.


Itu terlalu terasa nyata.


Ah tapi sudahlah, untung hanya mimpi.


Aku memang tak percaya dengan mitos.


Tapi kurasa, Dia yang dimitoskan memang benar benar ada.


Aku memakai topeng mataku dan Kak Liam ikutan memakainya.


Sampai diaula.


Semua orang telah hadir dan memakai topeng wajah mereka yang beraneka ragam.


"Jangan bilang Aku hadir ya" Lirih Kak Liam.


Aku mengangguk.


Untung saja Kak Liam menyemir hitam rambutnya.


Andai saja Ia tidak menyemirnya, mungkin Ia akan menjadi pusat perhatian orang karena rumor buruk Kak Liam yang baru baru ini menyebar karena kematian Alter.


Kak Liam masih dalam keadaan tersangka.


Para penyidik dari Kerajaan Alter sering keistana untuk mencari Kak Liam.


"Treng!" Suara gelas diketukkan dengan garpu.


Pandangan mata kami tertuju pada asal suara itu.


"Mohon perhatiannya" Kata Kak Kyle.


Aku melihat Kak Liam disampingku sambil menyemil makanan yang ada di tangan kanannya.


"Terima kasih atas kehadiran Anda semua kemari"


Kak Kyle mulai berpidato.


Aku mendengarkan Kak Kyle yang berpidato.


Kak Kyle berpidato menceritakan kebaikan tentang Ayah dan rencananya dimasa yang akan datang.


Setelah pidato Kak Kyle selesai, acara dansa mereka berdua akan dimulai.


Istri Kak Kyle yang kini bernama Ratu Nelzefvia Viona duduk sambil tersenyum dibelakang Kak Kyle.


Lampu ruangan mulai diredupkan.


"Aku tidak suka dengan wanita itu" kata Kak Liam sambil melihatku.


Aku melihat mata Kak Liam yang bersinar diredupnya ruangan itu.


"Kenapa Kak tidak menyukainya ?" Tanyaku.


"Kalau Aku jadi wanita itu, Aku pasti tidak akan mau bila pernikahannya dipercepat" Kata Kak Liam.


"Maksud Kakak ?" Tanyaku.


"Makam Ayah masih basah. Tidak baik bila seorang anak menikah saat kematian ayahnya belum 40 hari" jelas Kak Liam.


"Tapi kak, bukankah itu sudah wajar apabila seseorang menjadi Raja harus beristri dulu ? Sedangkan keadaan Kak Kyle masih belum beristri ?" Tanyaku.


"Di peraturan dan syarat menjadi Raja. Apabila usia seorang anak laki laki pertama dari Ratu atau Raja menginjak 17 tahun. Ia harus menjadi Putra Mahkota. Dan saat usia Putra Mahkota menginjak 20, minimal Ia harus sudah memiliki seorang tunangan. Kemudian, saat Putra Mahkota itu berusia 25 tahun, Ia sudah harus menikah. Setelah pernikahan Usai, seorang raja bisa memutuskas dirinya untuk pensiun dan digantikan oleh keturunannya itu, sesuai aturan dari para petinggi di negri Nelzefvia" Jelas Kak Liam.


"Kemudian, dikasus Kyle. Ayah, mati sebelum usia Kyle mengijak 25. Usia Kyle kini baru 21 tahun. Dia bertunangan dengan wanita itu belum ada setahun. Tujuan bertunangan di usia 20 dan menikah diusia 25, agar dua duanya merasa nyaman dan saling cocok. Dari jangka 5 tahun bertunangan, keduanya bisa tau sifat asli pasangannya itu. Lalu, sebenarnya Kyle bisa saja tidak mempercepat pernikahannya" Lanjut Kak Liam.


"Aku, hadir saat persidangan pengangkatan Kyle. Para petinggi memutuskan untuk pengangkatan Kyle menjadi raja secepatnya. Dan mereka menyuruhku untuk menjadi Kepala Keamanan kerajaan ini. Mereka juga memutuskan untuk tidak terlalu terburu buru untuk menikah. Awalnya Kyle menyetujuinya. Tapi, setelah istirahat selesai. Tiba-tiba Kyle memutuskan untuk mempercepat pernikahannya dengan Viona. Wanita itu lebih muda dariku. Dia bisa apa diusianya yang ke 18 tahun ? Aku tidak yakin bila Dia akan menjadi istri yang baik untuk Kyle" Kata Kak Liam.


Yah, dari perkataan Kak Liam, Aku merasakan kekhawatirannya kepada Kak Kyle dan Kerajaan ini.


"Kak Liam, Kakak khawatir dengan Kak Kyle ?" Tanyaku.


Kak Liam mengalihkan pandangannya melihat Kak Kyle yang berdansa dengan Istrinya.


"Aku tidak Khawatir pada orang yang kebelet kawin seperti Dia. Aku hanya mengkhawatirkan keadaan Kerajaan ini bila dipegang olehnya. Wanita itu, masih ingin bermain main dan masih belum siap untuk berkeluarga diusiannya yang baru segitu" Lirih Kak Liam.


Kak Liam memang tidak bisa berbohong sejak dulu.


Setiap Ia berbohong, Dia selalu berpaling.


"Mau berdansa denganku ?" Tanya Kak Liam sambil membungkuk dan mengulurkan tangan kanannya.


"Ah ? Tentu" Jawabku sambil menerima uluran tangan Kak Liam.


Usia Kak Liam sekarang 19 tahun.


Dulu, saat usia Kak Liam menginjak 19 tahun. Ayah pernah menawarkan kepada Kak Liam untuk bertunangan dengan seorang gadis, anak sulung dari sahabat Ayah yang memimpin Kerajaan Zaber.


Kerajaan Zaber tidak memiliki penerus Laki laki.


Oleh karena itu, Raja Kerajaan Zaber memberikan penawaran itu kepada Ayah.


Raja Zaber memberi penawaran itu, karena Ia memilih ketampanan dan kepintaran Kak Liam yang bisa memperbaiki keturunannya dan mampu memperjaya Kerajaan Zaber.


Anjay


Namun, Kak Liam menolaknya.


Ia berkata padaku didepan makam Ibu sambil duduk menekuk lututnya.


"Kalau, lebih baik Ia mati setelah mendapatkan orang yang Ia dicintai daripada hidup terus dengan orang yang tak Ia cintai"


Saat itu, Aku menjawab ucapan Kak Liam dengan blak blakan.


"Kalau Aku menjadi Kakak, Aku akan berjuang untuk terus hidup agar bisa selalu bersama dengan orang yang kucintai hingga akhir hayatku"


Ya, sejak saat itu Aku menjadi akrab dengan Kak Liam.


Awalnya, Aku sangat takut pada Kakak Liam yang matanya berbeda dengan Kami.


Tapi kata Ibuku, pupil merah Kak Liam adalah keistimewaan baginya.


Ia terus memandangiku saat berdansa.


Dan sesekali Ia memalingkan wajahnya karena balik kupandang.


Terkadang, Aku merasa perlakuan Kak Liam padaku seperti bukan kelakuan Kakak pada adik.


Tapi, Aku lebih nyaman begini.