
Aku menarik tangan Kak Liam untuk melewati pintu dengan benar.
Terkadang, Aku merasa kalau hubungan Kak Liam dan Kakek itu seperti layaknya seorang sahabat karib.
...***...
Aku dan Kak Liam keluar dari rumah, dan ternyata...
"Anda berdua mau kemana ?" Tanya Dera yang menghalangi jalan Kami didepan pintu.
"Mau kehutan" Jawab santai Kak Liam.
"Yang Mulia Raja yang Agung Dynantya telah menyuruh Saya untuk melarang Anda keluar bersama Putri Laura bila akan pergi kehutan. Anda, hanya boleh pergi sendirian kesana" Kata Dera.
"Hah? Aku akan tetap menjaga Laura. Aku bisa melindunginya" Kata Kak Liam sambil memegang lenganku.
"Tetap tidak boleh. Saya lebih tua dari Anda. Jadi, tolong dengarkan ucapan Saya. Saya akan menjaga Putri selagi Anda pergi" Kata Dera.
"Kenapa Kau memaksaku ?" Tanya Kak Liam.
"Harusnya Saya yang bilang Anda jangan memaksa Saya untuk melaporkan Anda pada Kakek Anda. Saya akan bilang kalau Anda memaksa Tuan Putri yang mau tertidur untuk keluar malam" Kata Dera sambil menarik kedua bahuku.
Mereka berdebat.
Kak Liam menarikku.
"Siapa Kau ? berani beraninya menyuruhku dan mengambil Laura dariku?" Tanya Kak Liam sambil menepis tangan Dera.
"Saya adalah Dera. Kusir pribadi Putri Laura. Saya akan melindunginya dari Anda yang sesat" Kata Dera yang blak blakan sambil kembali menepis tangan Kak Liam.
"PFFT" Aku menahan tawa karena ada orang yang berani menepis Kak Liam dan mengatainya sesat
"Hah ? Sesat? PFTT" Tanya Kak Liam dan langsung tertawa.
Kupikir Kak Liam bakalan marah pada Dera.
"TEP!" Kak Liam menepuk bahu Dera.
"Jaga Dia, Aku akan pergi sebentar" Kata Kak Liam sambil memegang kepalaku kemudian, langsung pergi.
Aku melihat Dera, dan Dera melihatku balik.
"Maafkan Saya Putri!" Kata Dera dan langsung bertekuk lutut padaku.
Aku berjongkok.
Seorang Putri harusnya tidak diperbolehkan berjongkok.
Tapi, Aku sudah tak peduli.
"Em, Aku memanggilmu enakkan siapa ?" Tanyaku.
"Anda bisa langsung memanggil nama Saya Dera atau Anda bisa juga memanggil Saya Kusir" Kata Dera.
"Kak Dera, Kau berdirilah" Kataku.
Kusir itu langsung melihatku dengan ekspresi terkejut.
"Tolong panggil nama Saya tanpa sebutan Kakak, drajat Anda lebih tinggi daripada Saya. Saya tidak nyaman mendengarnya" Kata Dera sambil melihatku.
"Memangnya drajat itu lebih penting daripada etika seseorang yang menghormati orang lain ?" Tanyaku.
"Ah!" Ia membelalakan matanya.
"Maafkan Saya! Anda boleh memanggil Saya apapun!" Tegasnya sambil kembali bertekuk lulut.
"Dia.... Lucu sekali!!" Batinku.
"Berdirilah Kak, nanti ada orang lain yang lewat malah mikir yang enggak enggak" Kataku sambil tersenyum padanya.
"Ah! Baik!" Tegasnya sambil melihatku.
Aku berdiri dan mengulurkan tanganku padanya.
"Terima kasih, Saya bisa berdiri sendiri. Anda, langsunglah tidur. Besok, Anda harus melakukan perjalanan jauh. Dan mungkin, hari ini hari terakhir Saya menjadi kusir Anda" Kata Dera.
"Eh ?" Aku baru sadar kalau hari ini, hari terakhir Dia menjadi kusirku.
Keesokan harinya.
Kami bertiga dan pelayan kepercayaan Ayah telah bersiap untuk pergi ke Dynantya.
Tapi sebelum itu.
"Kek, Aku ingin Kak Dera ikut ke Dynantya" Kataku dihadapan Kak Liam dan yang lain.
"Eh?!" Kakek, Kak Dera dan Ayahnya terkejut.
"Kak?" Lirih Kak Liam di sambil melihatku.
"Laura, Kenapa sangat tiba tiba seperti ini ?" Tanya Kakek.
"Maafkan Saya menyela Paduka. Maafkan Saya Putri, Saya tidak bisa meninggalkan Ayah Saya sendirian disini" Kata Dera.
Aku tau, tinggkahku yang sekarang ini seperti bocah yang keras kepala.
"Kau memaksa Laura untuk ikut dengan Kami ?" Tanya Kak Liam pada Kak Dera.
"eh Kak Liam marah?" batinku.
Aku tau kelemahan Kak Liam.
"Grep!" Aku langsung memeluk lengan Kak Liam.
Kak Liam langsung berhenti bicara dan termangun sekejap.
Kak Liam melihatku dengan wajahnya yang sangat memerah.
"Kak, Kan Kak Dera sudah menjagaku dan mengantarkanku dengan Kereta kudanya selama ini. Ayahnya sudah berjasa untuk menyembuhkan pelayan Ayah. Orang seperti itu susah dicari loh Kak. Ya Kak ajak Mereka ya" Pintaku sambil membujuk Kak Liam.
"Tapi, Nak. Pindah kependudukan itu sulit loh urusannya" Kata Kakek.
"Kak...." Lirihku sambil sedikit menarik narik lengan baju Kak Liam.
Aku memang malu melakukan ini.
Tapi, bila tidak begini, Mereka berdua bakalan berurusan dengan Kak Kyle.
Dan, itu akan menyusahkan Mereka.
"Laura, Kau pasti punya alasan lain untuk mengajak Dia kan ?" Tanya Kak Liam.
Ternyata, Kak Liam mengenalku dengan sangat baik.
"Ya ! Aku ingin belajar gitar dari Kak Dera" Ini memang Alasan lainku untuk mengajak Kak Dera.
"Aku bisa mengajarimu main biola" Kata Kak Liam.
"Kak, Biola dengan gitar itu beda ya Kak" Kataku sambil menatap Kak Liam yang wajahnya masih memerah.
"Yang pentingkan alat musik yang menggunakan senar" Kata Kak Liam sambil menutup wajahku.
"Beda Kak! Jangan maksa gitu ya Kak!" Tegasku sambil memegang tangan Kak Liam yang menutupi wajahku.
"Kau itu yang maksa" Kata Kak Liam sambil membuka tangannya.
Aku menarik bahu Kak Liam yang tinggi dan mendekatkan mulutku dutelinganya untuk berbisik.
"Nanti, kubeliin Kue cokelat dah" Aku menyogok Kak Liam selagi Kakek dan Ayahnya Kak Dera berbincang.
"Aku nggak suka kue cokelat lagi" Kata Kak Liam.
Dia kelihatan bohong banget.
"Kalau gitu, apa yang Kakak minta?" Bisikku lagi.
Kak Liam langsung melihatku dan mendekatkan mulutnya ditelingaku.
"Tidur bareng" Bisiknya.
"Eh? baiklah" kataku.
"Tepati janjimu ya, waktu sampe di Dynantya nanti" lirih Kak Liam.
Aku menganggu angguk.
"Hei Tua bangka! Turuti ucapan Laura. Nanti, Kau akan kuberi hadiah!" Kata Kak Liam dengan lantang.
Aku dan yang lain terkejut.
Aku tidak menyangka kalau Kak Liam bakalan berani memanggil Kakek begitu dihadapan orang lain.
"Dasar penyihir cilik! Kau disogok apa dengan Laura?" Tanya Kakek.
"Gila..... Kakek nggak marah.....Aku kalau gitu, mana berani" Batinku.
"Itu rahasia. Dan bukan urusanmu. Jadi, perbolehkan mereka pindah menjadi Rakyat Kerajaan Dynantya nanti Aku akan memberimu hadiah" Kak Liam berkata begitu pada Kakek seolah olah Ia mengangap Kakek seperti bocah.
"Apa yang ingin Kau berikan padaku ?" Tanya Kakek.
"Itu~~ yang seperti biasa~" Kode Kak Liam bernada.
"Dua botol" Pinta Kakek.
"Hah? Apanya yang dua botol? Kakek mau minum Alkohol?" Batinku yang membeku ditempat.
"Baik" Jawab Kak Liam dengan santai.
"Baiklah, Kalian berdua, Ikut Kami kekerajaan Dynatya" Kakek menyetujuinya.
"Cucu emas memang berbeda. Hanya dengan diberi kode sogokan begitu langsung disetujui" Batinku.
Akhirnya, Kami berenam berangkat Kekerajaan Dynantya menggunakan dua kereta kuda.
Kami melakukan perjalanan ke Kerajaan dimana pusat hukum, pendidikan dan kemiliteran terbaik di Negri Ardan.