LIAMARLO

LIAMARLO
Kebenaran tentang Liam dan sosok itu bag.1



Dia adalah Pangeran Gevand yang memanjat keloteng Kamar Laura.


"Putri, maaf menggangu boleh Aku masuk ?" Tanya Gevand dengan raut wajahnya yang sedikit ketakutan dan berkeringat.


"Tentu, silahkan masuk" Kata Laura.


...***...


"Maafkan Aku, Apa Aku mengganggu waktu putri ?" Tanya Gevand dengan tangan yang sedikit gemetar.


"Tidak apa apa Pangeran. Anda minumlah dulu" Kata Laura sambil memberikan segelas minuman pada Gevand.


"Terima kasih. Sebenarnya Aku tidak sengaja melihat sesuatu" Kata Gevand sambil menerima gelas dari Laura dan masih gemetaran.


"Tenanglah dulu Pangeran, tarik napas perlahan" Kata Laura.


Gevand mengatur nafasnya.


"Aku melihat-" Cerita Gevand yang belum usai.


"Tep! Laura, Aku meminta janjimu. Aku juga bawa kue cok..... Gevand ! Apa yang Kau lakukan disini ?!" Tanya Liam yang baru datang.


"Huah! Liam!" Gevand terlihat sangat terkejut dan langsung berdiri.


"Hei! Kau kayak ngelihat setan saja. Apa yang sedang Kau lakukan ?" Tanya Liam.


"Ah, Hanya meminta air minum saja pada Putri. Bagaimana Kabarmu ? Apa Kau baik baik saja ?" Tanya Gevand.


"Idih! tumben tumben tanya kabarku ?" Tanya Liam sambil menaruh kue cokelat diatas meja belajar Laura.


"Tingkah Pangeran Gevand aneh. Apa Dia baik baik saja?" Batin Laura.


"Ya, apa salahnya bertanya" Kata Gevand sambil menyilangkan tangannya yang masih gemetar didadanya.


"Kau alergi cokelatkan jadi jangan dimakan. Ini untukku dan Laura. Lihat saja biar Kau ngiler" Goda Liam sambil mengambil Air laura untuk Gevand lalu meminumnya.


"Eh Kak! Itu punya Pangeran Gevand!" Tegas Laura.


"Tidak apa apa Putri. Sepertinya Pangeran Liam sedang kelelahan" Kata Gevand.


Liam berhenti minum dan berjalan kearah Gevand.


Gevand hanya diam ditempat.


"Hari ini Kau aneh sekali Gevand, Apa Kau baik baik saja ?" Tanya Liam sambil mendekatkan wajahnya kewajah Gevand.


"Apa ? Aneh dari mananya ?" Tanya Gevand sambil mendorong wajah Liam yang berada didepannya.


"Kau aneh sekali, Biasanya kau ... Woi Liam! sekarang. Huah! Liam ?! Seperti orang takut. Apa Kau takut padaku ?" Tanya Liam yang telah meniru gaya bicara Gevand yang biasanya teriak teriak.


"Apa Aku begitu ?" Tanya Gevand sambil melihat kearah Laura.


Laura mengangguk.


"Ya, Kurasa hari ini Aku terlalu senang sampai sampai sering terkejut" Kata Gevand.


"Sepertinya, Pangeran Gevand memang menyembunyikan sesuatu. Dan Ia ingin mengobrol denganku. Ini hanya dugaanku saja. Apa Pangeran Gevand takut pada Kak Liam ?" Batin Laura.


"Jangan terlalu senang gitu dong! Bruk! bruk! Hari ini Kau harus istirahat ! besok pengangkatanmu kan?" Tanya Liam sambil menepuk nepuk bahu Gevand.


"Ya Aku harus istirahat. Jumpa besok lagi ya Putri" Kata Pangeran Gevand sambil keluar melewati pintu.


"Semoga, Putri Laura baik baik saja" Batin Gevand sambil berjalan pergi.


"Jumpa besok ya putri.... Aku nggak dijumpai juga ?" Tanya lirih Liam.


"Kak, Jangan begitu. Kasihan Pangeran Gevand. Sepertinya Dia sangat gugup untuk besok" Kata Laura sambil berjalan kearah kasurnya.


"Laura, Aku menagih janjimu" Kata Liam sambil berjalan kearah Laura dan menunjukkan keningnya


"Ah Kak, Jangan minta itu dong.... Kakak kan bukan anak kecil lagi...." Kata Laura sambil tidur dan langsung berselimut.


Liam duduk disamping Laura.


"Ya, Kalau begitu, Srukkk" Liam membuka poni rambut Laura yang terurai.


Wajah Laura merah padam.


"Kak, Jangan gini lagi, Aku bukan anak kecil" Kata Laura.


"Ya, setua tuanya Kau, Bagiku Kau tetap seperti adik kecil" Kata Liam.


"Hentikan ucapan Kak Liam itu. Membuatku malu saja" Kata Laura sambil menutup wajahnya dengan selimut.


"Eh, benarkah ? Laura bisa malu juga ?" Tanya Liam dengan wajahnya yang semu memerah.


"Ya tentu saja Kak! Aku ini cewek! Sedangkan Kak Liam itu cowok. Apapun itu, yang selalu Kak Liam lakukan padaku seperti bukan kakak beradik saja" Kata Laura.


"Sudah lama Aku ingin mengatakan hal ini padanya" Batin Laura.


"Apa Kau tidak nyaman ?" Tanya Liam.


Laura langsung membuka selimutnya.


"Bukan gitu maksudku Kak. Hanya saja Aku malu Kak. Kalau Kak Liam memperlakukan Aku tidak seperti seorang adik" Kata Laura.


Liam tersenyum pada Laura.


"Ya sudah, Kalau begitu, Jangan anggap Aku sebagai Kakakmu. Anggap Aku seperti orang lain" Kata Liam sambil mendekatkan wajahnya kewajah Laura.


"Eh ? Apa maksud Kakak ?" Tanya Laura sambil mengeser kepalanya.


Liam memegang kedua pipi Laura.


"Bagaimana bila Aku memiliki perasaan padamu ? Sedangkan Dirimu hanya menganggapku sebagai Kakakmu ?" Tanya Liam sambil menaruh keningnya dikening Laura.


"DEGH ! DEGH!" Jantung Laura memompa dengan cepat.


"Apa Kau akan menghindar dan membenciku ?" Tanya Liam.


Nafas Liam terasa dihidung Laura.


"Kak, Sudah malam. Jangan bercanda. Besok lagi bercandanya Kakak dilanjutkan. Ku akui akting Kakak hari ini luar biasa hingga membuat jantungku berdebar kencang" Jujur Laura sambil memegang kedua pipi Liam dan mendorongnya perlahan.


Liam memegang tangan Kanan Laura yang terasa dingin.


"Jantungku juga berdebar dengan Kencang. Aku tidak bercanda dan tidak berakting Laura" Kata Liam dan kembali duduk dan menaruh tangan Laura didadanya.


"Badum! Badum!" Laura merasakan pompaan jantung Liam yang kencang.


Laura langsung menarik tangannya yang dipegang oleh Liam.


Liam hanya terdiam ditempat menunggu jawaban Laura.


Laura duduk dari tidurnya.


"Katakan dulu padaku, Siapa sebenarnya Kak Liam ?" Tanyaku.


"Aku ? Aku ya Aku. Namaku Liam" Jawab Liam.


"Kak, Kakak adalah orang yang cerdas. Pasti Kakak paham atas pertanyaanku barusan" Kata Laura.


"Ya, Aku orang lain. Aku anak adopsi" Kata Kak Liam.


Laura terkejut dan Ia sedikit membelalakan matanya.


"Aku adalah anak dari pelayan Kakek yang diselamatkan oleh nenek saat Aku akan lahir" Kata Liam.


"Nenek sangat berjasa dihidupku. Kata Ibu, Wajahmu mirip dengan nenek. Kakek juga berkata demikian. Dicerita Ibu, Nenek disukai oleh Arlo. Dan sekarang, kata Kakek, Arlo juga menyukaimu. Aku tak ingin Dia memilikimu. Laura adalah Laura. Laura bukanlah nenek dan nenek bukanlah Laura" Lanjut Liam.


"Ibu merahasiakan hal ini dari ku. Hari itu saat Aku baru siuman dari insiden 13 tahun yang lalu Aku mengetahui kebenaranya saat Kyle meneriakiku sebagai anak adopsi dan Aku langsung bertanya pada Ibu. Kyle mulai membenciku sejak hari itu. Dia adalah Kakak yang baik. Ayah juga pernah memarahiku karena Aku suka membuntutinya dari belakang saat Ia berkerja atau pun rapat. Ia mengataiku, Anak haram sepertimu harusnya tidak ada dikeluarga Dynantya maupun Keluarga Nelzefvia. Ayah juga sosok Ayah yang sangat baik pada Anak anaknya. Aku tidak bisa membenci mereka" Kata Liam.


"Di keluarga Nelzefvia, hanya Ibu yang mau menerimaku dan Aku tidak tau tentang bagaimana perasaanmu sekarang mengetahui kebenaran Ini" Lanjut Liam.


Liam membuang nafas dengan perlahan dan panjang.


"Kau boleh membenciku. Tidak apa apa kok" Kata Liam sambil melihat Laura dengan pupil marahnya yang terlihat membesar dan tersenyum pada Laura.


"Tapi, ingatanku tentang diriku yang lalu, sangatlah Kabur. Aku hanya bisa mengingat sefikit sedikit" Lanjut Liam