LIAMARLO

LIAMARLO
Dia diculik



Sore hari diruang Pribadi Raja Dynantya.


"APA ?! Mayat ditepian saluran irigrasi petani ?" Tanya Raja Dynantya yang sangat terkejut.


"Iya Baginda, Mayat yang kami temukan tanpa bagian kepala. Kami tidak bisa mendeteksinya" Jawab Kepala Prajurit yang masih berlutut dilantai.


"Lalu ! Dimana mayatnya sekarang ?" Tanya Raja Dynantya.


"Mayatnya Kami serahkan kepada tim penyidik. Saya meminta izin dari Anda untuk mengirim tim penyidik menyelidiki disekitar aliran sungai untuk menyelidiki hal ini" Kata Kepala Prajurit itu.


"Panggil mereka yang memiliki kewenangan di Tim Penyidik. Aku membutuhkan laporan mereka secepatnya sebelum memulai penyelidikan" Kata Raja Dynantya.


"Baik Paduka. Saya Izin untuk undur diri" Kata Kepala Prajurit itu dan langsung pergi.


"Brak!" Raja Dynantya duduk dengan kasar di tempatnya.


"Apa, Aku telah melakukan kesalahan ? Dera masih belum ketemu, sebentar lagi pengangkatan Gevand. Apa yang sedang terjadi Dinegri ini ? Apa Aku harus menemui Arlo setelah peristiwa 13 tahun yang lalu ? dan Dia masih belum memaafkanku karena kejadian 20 tahun yang lalu" Lirih Raja Dynantya sambil menutup matanya.


"Apa sebaiknya Aku mengasramakan Laura agar aman ? Ah, Tapi bagaimana bila musuh ini mengejar Laura ? Sepertinya, Aku memang harus meminta bantuan Arlo. Kau pasti setuju kan, Aneria ?"


...***...


30 menit kemudian


"Baginda, Tiga orang yang berwenang didalam Tim penyidik telah menunggu didepan pintu" Kata Kepala Prajurit.


"Persilahkan Dia masuk" Kata Raja Dynantya.


Kepala Prajurit itu mengangguk dan langsung membukakan pintu.


"Baginda, Selamat Sore, Saya Ketua Tim penyidik gardu 04 dan yang dibelakang Saya adalah rekan rekam Saya yang menyelidiki mayat laki laki yang ditemukan oleh warga" Kata laki laki disana sambil membungkuk dihadapan Ayahnya para Raja ini.


"Selamat Sore, Silahkan duduk diatas. Kita berlima langsung membicarakan topiknya" Kata Raja Dynantya.


Mereka bertiga dan Kepala Prajurit itu langsung duduk disofa tamu.


"Jadi, Apa Kalian sudah mengidentifikasi mayatnya ?" Tanya Raja Dynantya.


"Mayat itu, Sepertinya seorang pendatang. Kami menemukan ini didalam pakaiannya" Kata Salah satu dari tim penyidik itu.


Yang dikeluarkan tim penyidik adalah Kartu pengenal dengan cap Nelzefvia.


"Devendra" Nama pemiliki kartu pengenal itu.


"Degh!" Suara Jantung Raja Dynantya yang sangat terkejut saat membuka Liontin yang berisikan foto milik pemilik kartu pengenal itu.


"Dia, Aku mengenalnya. Dia Ayahnya Kusir Pribadi Laura" Kata Raja Dynantya yang melihat foto Dera bersama ayahnya.


"Kusir Pribadi milik Putri Laura ? Pemuda yang pintar bermain gitar itu ?" Tanya Kepala Prajurit.


"Iya, Dia dan Ayahnya menghilang setelah mengantarkan makanan ke cucuku" Kata Raja Dynantya.


"Eh, Dua malam yang lalu, saya sempat mendengar suara dentuman keras dari kamar Dia dan ada cahaya yang menyilaukan keluar dari kamar Dia di tengah malam saat Saya berjaga" Kata Kepala Prajurit itu.


"Lalu, Kau langsung mengeceknya ?" Tanya Raja Dynantya.


Tim penyidik mulai menulis.


"Baginda maaf menyela, Saya rasa, Kejadian ini memang telah direncanakan. Peristiwa ini hampir seperti kejadian pemenggalan di Nelzefvia disekitar hutan. Orang yang melakukan ini, adalah orang yang sama. Bila Anda mau, Tolong tunda dulu pengangkatan Pangeran Gevand. Bisa saja, Dia berada disekitar Kita dan berniat buruk pada tamu tamu dan cucu cucu Anda" Saran Ketua tim penyidik.


"Itu tidak bisa. Pengangkatan Gevand sangat penting untuk keberlangsungannya pemerintahan Dynantya. Aku sudah terlalu banyak menunda. Dan juga, Aku tak ingin, para tamu merasa tidak nyaman disini" Kata Raja Dynantya.


"Rencanaku, Aku ingin memperketat penjagaan prajurit di Istana Dynantya selama pengangkatan Gevand berlangsung. Kemudian, Tim penyidik meneliti dan mengawasi orang orang yang terlihat mencurigakan. Aku tau ini tidak akan mudah. Tapi tolong, Aku sangat membutuhkan bantuan dan kerjasama kalian" Kata Raja Dynantya sambil berdiri dan membungkuk.


"Baiklah, Kami akan melaporkan keatasan Kami. Setelah ini, Kami akan mencari bagian kepala dari tubuh itu dan mencari Kusir Pribadi Putri hingga petang dan berlanjut besok subuh" Kata Ketua Tim penyidik gardu 04 itu sambil berdiri.


"Terima Kasih, Kerja sama Kalian sangat membantuku. Tolong rahasia kan pembicaraan Kita dari Rakyat. Jangan sampai merek mendengar ini" Kata Raja Dynantya.


"Baik! Kami pamit undur diri" Kata mereka berempat bersamaan dan membungkuk kemudian pergi.


"Syukurlah, Mereka mau membantuku. Pekerjaanku jadi sedikit ringan diusiaku yang sudah tua ini" Kata Raja Dynantya yang merasa sedikit tenang.


MALAM HARI DITEMPAT DERA


"Apa Aku akan mati ?" Batin Dera yang tubuhnya sudah mulai lemas.


"Syyuut!" Tiba tiba kepala Dera yang memakai ikat kepala ditarik kebelakang dengan kasar oleh sosok bermata merah itu.


"Lihatlah ini, Aku membawakan kepala Ayahmu" Kata sosok itu sambil menjabak rambut dari kepala Ayahnya Dera yang masih Ia bawa dan menyeringai pada Dera.


"Kau pasti akan tenang bila berada didekat Ayahmu. Aku taru disini kepalanya. Tatapi saja matanya yang mulai membusuk ini" Kata sosok itu sambil melepaskan ikat kepala Dera dan menaruh kepala Ayahnya Dera didepan Dera.


"Hei, jangan mati dulu. Aku juga membawa makanan untukmu. Makanlah" Kata Sosok itu.


"Tes...." Dera melihat Air mata keluar dan menetes dari mata sosok didepannya ini.


"Dia menanggis ?" Batin Dera yang hanya bisa melihat sekilas karena poninya menutup matanya.


"Lemah sekali. Kenapa Kau menanggis bodoh ?" Sosok itu berdiri dan mengusap Air matanya.


"Makanlah Buah itu sebelum busuk seperti mata Ayahmu. Aku akan pergi. Dah~ Jangan mati dulu ya. Besok akan ada pesta yang meriah dan menantiku" Ucap sosok itu dan langsung pergi.


"Aku harus keluar dari sini! Aku tidak ingin mati dulu. Nyawa Raja sedang terancam. Maafkan Aku ayah. Aku berjanji tidak akan menyianyiakan pengorbanan Ayah. Berbahagialah disana bersama Ibu" Batin Dera yang mulutnya masih tertali dan mengesek ngesekkan tali yang ngikat tangannya.


Dera terus mengesekkan tali yang mengikat tangannya dan Ia sesekali berhenti karena tangannya terasa perih.


"Ayolah!!!!!" Batin Dera.


Ditempat Laura


"Hah.... Malamku yang tenang. Kak Liam pasti sibuk akhir akhir ini" Kata Laura yang menjatuhkan tubuhnya diatas Kasur.


"Sutttssss.... Tok! tok!" Panggil seseorang sambil mengetuk Jendela kamar Laura.


"Apa itu Kak Liam ?" Tanya Laura dan langsung membuka Jendela.


"Eh ?" Laura terkejut ternyata yang mengetuk jendelanya bukan Liam atau pun Arlo.


Dia adalah Pangeran Gevand yang memanjat keloteng Kamar Laura.


"Putri, maaf menggangu boleh Aku masuk ?" Tanya Gevand dengan raut wajahnya yang sedikit ketakutan dan berkeringat.


"Tentu, silahkan masuk" Kata Laura.