LIAMARLO

LIAMARLO
Tugas terakhir Liam



Alan terus berlari sambil memegang perutnya yang terasa ngilu.


Alan melihat cela kecil diantara dinding dengan peti persediaan makanan.


Alan langsung masuk ke dalam cela itu dan bersembunyi didalam sana.


Ia benar benar menghindari Arlo dan menghilangkan aura miliknya agar tidak ditemukan oleh Arlo


...***...


Alan menghindar bukan karena takut pada Arlo.


Dia hanya tidak ingin kalah di tangan Arlo untuk yang kedua kalinya.


Melihat kondisinya yang seperti ini, cela untuk kemenangan Alan hanya sedikit.


Arlo mencari Alan di tempat itu.


Alan yang menggunakan tubuh Liam yang ramping, sangat mudah sekali untuk bersembunyi.


Ingatan milik Liam mulai terlihat di pandangan Alan.


Dan itu, sangat menganggu pikiran Alan.


"*Jangan lupa berak setelah makan. Apa Kau mencintai Alter ?. Aku.... tidak suka sendirian. Kyle sangat membenciku, Aku tidak masalah, Aku sudah memaafkannya. HUFFF.... teruslah menjadi adikku kecilku. Aku berjanji akan menjagamu hingga Kau mendapatkan Pangeran berkuda putihmu, Itulah janjiku. Bila Aku bertemu dengan Arlo, Aku akan mencabut gigi giginya itu. Nanti ! Kalau Aku sudah sembuh, Aku akan mengajakmu berkeliling Dynantya dengan kudaku. Mau cokelat ? Haha, Aku lah yang akan menang, Rivalku..... Percayalah padaku! Aku tidak membohongimu ! Dia musuh !. Jangan membenciku, Aku..... tidak bisa membencimu..."


"Sial ! Ingatan bocah ini, kenapa tersalur padaku ?! Menganggu sekali*" Batin Alan sambil memegang kepalanya yang terasa cenat cenut.


"Tapi kasihan juga...." Batin Alan sambil mendengus pelan dan tersenyum tepis.


"Haha, Sepertinya, Aku tidak bisa membayar semua janjiku"


Alan langsung membelalakan matanya,


Ia mendengar suara Liam dari dalam tubuh yang Ia pakai.


"Kau, apa di dalam ?" Tanya Alan.


Tidak ada jawaban.


"Aku mungkin salah dengar" Batin Alan yang melihat kaki Arlo yang berada di depan tempat Ia bersembunyi.


"Sebagian besar, sihirku tidak bisa digunakan. Kenapa bisa begini ? Aku sangat kesusahan untuk berpindah tempat. Dan kini, Aku terlihat seperti tikus yang bersembunyi dari Kucing" Batin Alan yang menunggu Arlo untuk pergi.


"Pak Tua, Harusnya saat ini Kau pensiun saja dari obsesimu yang tak masuk akal untuk menjadi penguasa negri ini. Kekanak kanakan sekali. Haha" Sosok dari dalam tubuh yang digunakan Alan tertawa.


Alan benar benar terkejut, Ia sangat yakin kalau Liam masih ada di dalam tubuh itu.


"Bocah, Apa Kau yang menutup sihir sihir yang ku miliki?" Tanya Alan.


"Sihir sihirmu ? Sejak Kapan Kau memiliki sihir ? Bila ingin bisa sihir, berlatihlah lebih keras" Jawab Liam.


"Apa ?"


"JANGAN BERCANDA !! AKU SANGAT MEMBUTUHKAN SIHIR SIHIR ITU ! BUKALAH SEGEL YANG MENUTUPINYA !" Tegas batin Alan yang merasa jengkel pada ucapan Liam.


"Memang Kau siapa ? Seenaknya saja menyuruhku. Aku bukan budakmu" Jawab Liam.


Alan mengerutkan alisnya.


"Bagaimana kalau Kita buat kesepakatan ? asal, Kau mau membuka segel yang menyegel sihir sihirku dan meminjamkan tubuhmu ?" Tanya Alan.


"Baiklah, Apa Kau bersedia untuk meninggalkan tubuhku setelah Aku melepas segel sihirmu ? Kau taukan hukum kesepakatan dalam sihir bagaimana ?" Tanya Liam.


"Percuma saja kalau begitu ! Bila Kau kembali ketubuhmu, Kau akan mati" Batin Alan sambil melihat Arlo yang melangkah maju dan mulai mencarinya.


"*Ya, Kalau begitu, Apa yang akan ku minta dari kesepakatan ini. Bila akhirnya, Aku akan tetap mati ?" Tanya Liam dengan santai.


"Aku, bisa menjalankan janji janjimu yang belum terselesaikan*" Kata Alan.


"Itu tidak buruk, Tapi terima kasih. Aku sudah tidak ada niatan untuk hidup" Kata Liam.


"Apa ?" Tanya Alan.


"*Tapi tenang saja, Kau bisa menggunakan beberapa sihir ringankan ?" Tanya Liam.


"Jangan bercanda ! Bila Aku mati, Kau akan beneran mati* !" Tegas Alan.


"Lah, Kan itu memang tujuanku" Kata Liam.


"Bang$@t!" Batin Alan.


Liam tersenyum di dalam sana.


Dia benar benar puas dengan apa yang Ia ucapkan.


Ia membuka matanya yang berwarna biru terang dialam bawa sadarnya itu.


Ia memang melihat bola besar berwarna merah terang yang dikelilingi dengan lingkaran sihir berwarna biru terang.


Liam mendekat i satu lentera yang masih hidup.


"Kau tau, Kemenangan atau pun kekalahanmu ada ditanganku. Begitu juga dengan dirimu" Kata Liam sambil membelakangkan rambut hitamnya.


"Mau keluar dari sini ?" Suara wanita yang tiba tiba muncul dari belakang tempat Liam berdiri.


Liam membuka matanya.


Tempat yang gelap itu langsung berubah menjadi tempat yang putih dan biru.


Liam melihat ke bawah.


Bayangan dirinya terlihat di pantulan air di bawahnya.


Liam yang terkejut berdiri di atas air langsung terjatuh.


Air yang diduduki oleh Liam langsung mengeluarkan gelombang kecil.


"Haha, Kau lucu sekali. Apa Kau sangat terkejut ?" Suara wanita.


Liam melihat kaki tak beralas di depannya dan Liam langsung melihat wanita itu dari bawah hingga keatas.


"Tak perlu ada yang ditakuti disini, Apa Arlo menjagamu dengan baik ?" Tanya wanita itu.


"Hem.... Kau, mirip sekali dengan Aelius. Apa Dia masih hidup ?"


"Ah ?" Liam tercengang melihat sosok wanita berambut hitam dengan mata biru berdiri di hadapannya.


Rambutnya yang hitam panjang dan tergerai mengingatkan Liam pada Laura.


Liam benar benar tidak percaya dengan apa yang Ia lihat di hadapannya itu.


Dia mirip sekali dengan Laura, Itulah yang dikatakan batin Liam.


Sosok wanita itu tersenyum pada Liam.


"Senyumannya, Apa Dia... nenek ?" Batin Liam yang langsung teringat dengan wajah Aneria yang terpampang jelas di ruangan Aula Istana Dynantya.


"Mau sampai kapan Kau duduk disana ? Berdirilah" Ucap Aneria sambil mengulurkan tangannya.


"wush..." Tangan Liam dan Aneria saling tembus.


Liam membelalakan matanya karena melihat hal ini.


Liam dan Aneria sama sama melihat tangan mereka berdua.


Aneria melihat Liam yang masih melihati kedua tangannya.


Aneria tersenyum.


"Kau, terkejut?" Tanya Aneria.


Liam langsung lihat Aneria.


"Apa yang terjadi ?" Tanya Liam.


Aneria menyilangakan kedua tangannya.


"Apa Kau masih belum mau mati ?" Tanya Aneria sambil berjongkok di depan Liam.


Liam terdiam mendengar pertanyaan itu.


"Aku, masih belum siap untuk mati. Tubuhku dikendalikan oleh orang yang tidak benar. Aku tidak akan bisa tenang kalau begini" Kata Liam.


"Lalu, Kapan Kau akan siap mati ? Apa, Kau harus menunggu orang yang mengendalikanmu mati dulu ? Lalu, bagaimana bila orang orang di dekatmu terluka karena orang yang mengendalikan tubuhmu?" Tanya Aneria sambil tersenyum pada Liam.


Kedua alis Liam terangkat ke atas.


"Apa yang harus Aku lakukan ?" Tanya Liam.


"Apa yang harus Kau lakukan ? Itu, tergantung dengan apa yang Kau inginkan. Tubuhmu, adalah milikmu, bukan orang Lain. Dan orang yang mengambil alih tubuhmu, tidak memiliki hubungan darah denganmu begitu pula dengan orang orang di dekatmu. Kau adalah Kau. Semua keputusan tergantung dengan dirimu" Ucap Aneria sambil berdiri.


Liam melihat Aneria yang berdiri sambil memegang bola sihir yang di selimuti oleh segel sihir itu.


"Pilihlah, Kau membuka segel ini, atau Kau membiarkan orang itu membukanya sendiri ?" Tanya Aneria.


Liam langsung berdiri.


"Tunggu ! Apa maksud ucapanmu itu ?! Apa Kau menyuruhku untuk membuka segel itu ?" Tanya Liam.


"Bila Kau yang membuka segel ini, Kau bisa dengan mudah menggunakan sihir ini dan menjadi pusat mengelolahnya. Kau bisa menghentikan sihir yang di gunakan oleh orang itu sesuka hati mu. Tapi, bila Dia yang membukanya, Kau, tidak akan bisa menggunakan secuil sihir miliknya" Jelas Aneria.


"Tapi, itu semua tergantung denganmu. Nikmatilah pemandangan ini. Disini lebih terang dan tidak pengap" Ucap Aneria yang tubuhnya mulai melenyap.


"Tunggu Nek ! Nenek mau kemana ?!" Tanya Liam.


Alis Aneria langsung berkerut.


"Jangan panggil Aku, Nenek. Itu terdengar tua sekali. Lagi pula, Aku tidak akan kemana mana, Aku akan menunggumu" Kata Aneria yang tubuhnya semakin melenyap.


"Eh ?! Lalu ! Kenapa tubuhmu melenyap gitu ?!" Tanya Liam sambil mendekat ke Aneria.


"Aku, tidak biasa di dalam bentuk ini lama lama. Lagi pula, cepatlah selesaikan tujuanmu. Aku tidak sabar ingin memelukmu, Liam....." Ucap Aneria yang menghilang.


"Nek !" Panggil Liam sambil melihat ke segala arah.


"Jangan panggil Aku nenek ! cepat selesaikan tugasmu!" Tegas Aneria.