
Mereka berdua mulai mengikuti gagak itu yang terus terbang dan memberi tanda disetiap jalan yang mereka lewati agar tidak tersesat, hingga sampai dirumah Arlo.
"Rumah tua apa ini ?" Tanya Ketua TP itu sambil melihat Archie yang memberi kacang tanah pada gagaknya sebagai upah.
"Saya juga baru melihatnya. Apa yang akan Kita lakukan Ketua ? Kita sudah terlalu dalam memasuki hutan" Tanya Archie.
"Kita cek rumah itu. Siapa tau disana ada bukti tentang pembunuhan yang terjadi dengan orang yang dikenal oleh Yang Mulia Raja" Kata Ketua TP sambil melihat Archie yang mengangguk.
...***...
Mereka berdua mulai berjalan perlahan ke rumah Arlo.
Mereka mengintip jendela rumah Arlo yang kacanya pecah.
Arlo sendiri merasakan kehadiran mereka berdua dibawa.
"Aneh sekali, Kenapa Bocah itu menyekap Dia dihutan ini ?" Batin Arlo sambil melirik Dera dari ambang jendela.
Mata Arlo dan Dera bertemu.
"Kau kenapa ?" Tanya Dera yang sambil mengancing baju pinjaman Arlo.
Arlo langsung melihat kebawah jendela dan Dia melihat dua orang dibawah.
"Oh! Ada orang dibawah. Apa Mereka orang orang Dynantya ?" Tanya Arlo yang mengintip dari lantai atas.
"Aku orang baru pindah jadi Aku tidak terlalu tau dengan mereka" Kata Dera yang ikutan mengintip.
"KWAKKK!" Suara gagak Archie yang melihat kearah Arlo.
"Gagak itu! mencuri batu sihirku. Tunggulah disini. Ini sebentar" Kata Arlo sambil melompat kebawah.
"Eh!" Dera terkejut melihat Arlo yang melompat kebawah.
Jantungnya terasa seperti ingin copot.
"Tep!" Arlo mendarat dibelakang mereka berdua.
"KEPAK!!!!" Gagak Archie yang terkejut langsung terbang keatas loteng rumah Arlo.
"Siapa Kalian ?" Tanya Arlo.
"DEGH!" Mereka terkejut dan langsung membelalakan mata mereka.
Mereka berdua perlahan melihat kebelakang.
Mereka sangat terkejut melihat Arlo di belakang Mereka.
Mereka langsung mengeluarkan pedang besi yang mereka bawa.
"Ah! Takutnya~~~" Arlo mengeluarkan suara kecilnya yang dibuat buat dan bernada serta memegang kedua pipinya.
"Siapa orang gila itu ?" Batin ketua TP.
"Apakah Dia sedang mengcosplay dan terjebak dihutan ini ?" Batin Archie.
"Eh ? Kalian tidak terkejut ?" Tanya Arlo.
Tim penyidik gardu empat ini adalah kumpulan orang yang tidak percaya dengan Arlo yang awet muda.
Bagi mereka, orang yang hidupnya hampir tiga ratus tahun itu, tidak mungkin masih bisa berdiri tegak dengan gagahnya.
"Siapa Kau ? Apa Kau sedang terjebak disini ?" Tanya Ketua TP itu.
"Hah ?" Arlo tercengang mendengar pertanyaan mereka.
"Ketua, bisa jadi Dia menyamar menjadi Arlo dan bisa jadi Dia yang memenggal pria itu" Lirih Archie karena Ia melihat sisa darah dipakaian Arlo.
"Ah, benar juga. Dia sangat mencurigakan" Lirih Ketua TP.
"WOI! Kalian berbisik apa sih ?! Aku tak punya waktu banyak! Aku harus ke Istana Dynantya ! Disana ada orang yang berniat jahat pada Aelius! " Tegas Arlo yang sangat marah.
*Aelius adalah nama Raja Dynantya
"Apa ?" Mereka berdua terkejut dan langsung sama sama melihat ke Arlo.
...***...
Di Aula Istana Dynantya.
Liam menuruni anak tangga satu persatu dibelakang Gevand.
"Nah! Itu Pangeran Liam! Tapi kenapa dengan rambutnya? " Tanya Veronicca yang duduk disebelah Laura.
Laura dan Scarlette langsung melihat ke arah tangga.
"Iya, Kenapa dengan rambutnya, Putri?" Tanya Scarlette.
"Ah, itu.... Pangeran Liam sengaja menyimirnya. Katanya Dia lebih suka dengan rambut hitam" Jawab asal Laura.
"Wah, Kalau Pangeran Liam suka dengan rambut hitam, berarti Aku punya kesempatan dong" Kata Veronicca.
"Yah, rambutku pirang. Masa Aku harus mengubah rambutku untuk menjadi hitam ?" Tanya Scarlette.
"Ahahaha.... Kalian berdua bisa saja" Kata Laura.
"Apakah Dia benar benar Kak Liam?" Batin Laura.
"TINGGGGGG!!!" Suara gelas kaca yang berdenting akibat dipukul dengan Garpu oleh Raja Dynantya.
Semua Orang melihat kearah Raja Dynantya.
"Terima kasih atas perhatiannya. Malam ini, mari Kita mulai acara pengangkatan Putra Mahkota Dynantya. Sebelum acara itu dimulai, ada beberapa yang ingin Saya sampaikan" Kata Raja Dynantya.
Liam berjalan kearah Laura dan teman temannya.
"Kya..... Pangeran Liam kemari...." Lirih Veronicca.
Laura sedikit takut.
Liam telah sampai dimejanya Laura dan teman temannya.
"Selamat malam, Putri dan selamat malam juga untuk Veronicca dan Scarlette" Ucap Liam sembari menundukkan kepalanya.
"Huahhhhhhh!!!!!!!! Pangeran Liam mengingat namaku! Astagfirullah! Ingin teriak rasanya!!!!!!!!" Jerit batin Veronicca.
Laura dan kedua temannya berdiri.
"Selamat malam juga Pangeran. Semoga, malam Anda menyenangkan" Ucap salam mereka berdua sambil menunduk dan sedikit mengangkat gaun mereka.
Laura memberanikan diri untuk melihat warna mata Liam.
Bola mata biru Liam, terlihat dimata Laura.
Laura sedikit lega.
"Gaun merah yang Anda kenakan juga terlihat sangat cantik" Puji balik Liam.
"Terima kasih" Ucap Scarlette sembari menutupi wajahnya dengan kipas tangan yang Ia bawa.
Liam melihat Laura yang memandanginya.
Liam tersenyum pada Laura.
"Putri, Bisakah Kita bicara berdua di luar sebentar ?" Tanya Liam sambil mengulurkan tangannya.
"Maaf Pangeran, sebentar lagi acara pengangkatan Pangeran Gevand akan dimulai" Kata Laura yang sedikit mewaspadai dan menjaga jarak pada Liam.
Liam menyadari hal itu dan menurunkan tangannya.
"Tolong lima menit saja. Di ruangan itu, tidak di luar" Kata Liam sambil menunjuk ruang tempat para tamu menyimpan bawaan Mereka yang dijaga oleh Pelayan Pribadi Laura.
"Apakah ini pembicaraan yang sangat penting ?" Batin Laura.
"Baiklah, tapi jangan disana. Cari tempat lain" Kata Laura.
Liam mengulurkan tangannya pada Laura dan Laura menerimanya, kemudian Mereka berjalan ke arah ruangan lainnya yang terlihat tidak ada orang.
"Ah, enaknya jadi Putri Laura......" Lirih Veronicca sambil kembali duduk.
Scarlette tersenyum.
Ditempat Liam.
Liam melepaskan tangan Laura dan langsung melihat kearah Laura di ruangan itu yang cahayanya remang remang.
"Maafkan Aku" Ucap Liam sambil menunduk.
Laura hanya diam dan mendengarkan Liam.
"Aku tidak ingin meninggalkanmu. Aku masih ingin di sini bersama Kakek dan yang lain" Kata Liam.
"Kakak mau kemana ?" Tanya Laura.
"Bagaimana bila Aku pergi jauh dan tidak bisa kembali lagi ?" Tanya Liam sambil duduk dikursi yang ada disana.
"Memang Kakak mau kemana ?" Tanya Laura yang tak berani memegang Liam.
Liam tersenyum, Ia menyadari kalau Laura tak paham dengan maksudnya.
"Kau tau, Aku ingin sekali kepantai dan ingin melihat langit cerah disana sambil mendengarkan deburan ombak laut" Jawab Liam.
"Ah, Kakak mau kepantai ? Ini masih musim hujan, tidak enak kalau kesana untuk saat ini" Kata Laura.
"Ya, Aku tau. Bisakah Kau memelukku ?" Tanya Liam yang menahan tanggisnya.
Laura, takut untuk memeluk Liam.
Ia hanya berdiri didepan Liam dan tidak berani melihat Liam.
"PFFT!" Sosok didalam diri Liam menertawakannya.
"Ah, Iya.... Jangan deh, nanti gaunmu malah rusak. Ya sudah, Aku mau keluar sebentar, ngecek kuda baruku. Besok Kita naik kuda ya...." Ucap Liam sambil menginas ngibaskan tangannya dan langsung berdiri.
Liam benar benar menahan air matanya agar tidak keluar.
Liam langsung pergi meninggalkan Laura yang hanya terdiam di ruangan itu.
"Kenapa ?" Batin Liam yang terus berlajan keluar dari Aula sambil mengusap matanya yang mulai berair.
Liam terus berjalan hingga kedanau dibelakang istana.
Langit masih terlihat sangat mendung bahkan, cahaya bulan tak nampak di kegelapan danau itu.
Liam duduk di kursi kayu depan danau itu.
Sesekali ia mengambil batu dan Ia lemparkan ke danau itu.
"Beginikah ?" Tanya batin Liam.
Liam menanggis digelapnya danau itu.
Ia memejamkan matanya sambil tiduran diatas kursi kayu itu dan mengusap air matanya.
"Lima menit lagi. Pelayan itu akan menusuk Raja Dynantya. Rencana ini sudah benar benar matang" Suara laki laki yang terdengar tak jauh dari tempat Liam.
Liam langsung membelalakan matanya yang melihat Dua orang yang sedang berbicara dibawah lampu tak jauh darinya.
"Bila ini tidak berhasil, wakil Kita yang akan membuat Raja Dynantya agar Ia benar benar terbunuh menggunakan sihirnya" Kata sosok itu.
"Wakil ? Sihir ? Siapa ? Apakah Peniru Arlo sedang berada di dalam Aula ? Tapi, istana ini sudah dijaga dengan ketat. Siapa mereka ?" Batin Liam dan melihat dengan seksama seragam yang dua orang itu kenakan.
Mereka berdua mengenakan pakaian prajurit dan tim penyidik.
"Apa apaan ini ?" Batin Liam.
"Tugasmu sekarang, berada disamping wakil. Tuan dalam perjalan. Lindungi Dia selagi Tuan belum datang" Ucap salah satu dari mereka yang menggenakan seragam prajurit.
"Baik!" Ucap sosok yang mengenakan seragam Tim Penyidik kemudian pergi.
"Ini gawat! Benar benar gawat ! Aku harus melakukan sesuatu!" Tegas batin Liam.
Liam berjalan perlahan kearah pria yang berpakaian prajurit itu dan bertingkah santai sambil membawa sebatang kayu yang Ia ambil disamping kursi kayu itu.
"Anu, Kau!" Panggil Liam.
Prajurit itu melihat kearah Liam.
"PRAK!!!!" Liam langsung memukul dengan kencang dagu Prajurit itu dengan Kayu yang Ia bawa.
"Bruk!" Prajurit itu langsung tak sadarkan diri.
"Ngeser langsung tulang rahangmu! Byurr" Ucap Liam sambil menarik kaki prajurit itu dan membuangnya kedanau.
"Mati beneran Kau! Semoga neraka selalu menemanimu" Ucap Liam dan langsung pergi.
Liam berlari masuk kedalam Aula dengan nafas yang tidak beraturan.
Liam melihat sosok yang mengenakan seragam tim penyidik itu sedang berbicara dengan Pelayan pribadi Laura yang mengangguk angguk.
"Hah ?! Apa apa ini ?" Liam sangat terkejut melihat sosok berseragam tim penyidik itu, berhenti di mejanya Laura yang sedang mendengarkan serius perkataan Raja Dyanantya.