LIAMARLO

LIAMARLO
PENYEGELAN LIAM BERMATA MERAH bag.2 _ Selesai



AELIUS ! MENJAUH !" Tegas Arlo sambil membuat simbol kunci pada jari jarinya.


Aelius langsung menjauh dari Liam dan Aelius.


"Dinding sihir" Arlo mengaktifkan dinding sihir yang mengelilinginya dan Liam yang tidak sadarkan diri.


Arlo merasakan banyak sekali energi sihirnya yang terhisap kedalam tubuh kecil Liam.


"MELEDAK!" Tegas teriak Arlo.


"PRACCCKKKKKKKK!!!!!!" Arlo meledakkan dirinya sendiri untuk memutuskan energi sihirnya pada Liam.


Tubuh Arlo berceceran dimana mana.


"ARLO!!!!!" Aelius langsung berteriak dan tidak menduga kalau Arlo akan meledakkan dirinya sendiri untuk memutuskan energi sihirnya.


"WUSH!" Arlo berhasil menghentikan tubuh Liam yang menghisap energi sihirnya.


...***...


Aelius langsung berjalan mendekat ke diding sihir itu.


"DUAGH !!! DUAGHHH!!! ARLO !!!!" Aelius memukul mukulnya sambil memanggil nama Arlo.


Perlahan Aelius melihat bagian tubuh Arlo yang bececeran itu mengeliat dan berkumpul di satu tempat.


"UGH !" Aelius baru ingat kalau Arlo tidak bisa mati karena kutukannya itu.


Perut Aelius mulai mual melihat bagian tubuh Arlo yang mengeliat itu.


Arlo hampir memakan waktu satu jam untuk menyatukan kembali tubuhnya itu.


Arlo telah menonaktifkan dinding sihirnya.


Aelius melihat Arlo dengan raut yang sangat terkejut.


"Apa yang Kau liat ?" Tanya Arlo sambil menutupi *********** yang tidak memakai kain sehelai pun pada Aelius.


Aelius berdehem.


"Terima kasih banyak Arlo. Kau bahkan, rela mati untuk menyegel Liam. Kau telah melindungi Liam sama seperti Aneria. Padahal Kau dan Aneria itu orang lain untuk anak ini. Kenapa Kau rela melakukannya ? Sedangkan apa Aku ini ?" Tanya Aelius.


Arlo mengaruk lehernya.


"Mana ku tau" Jawab Arlo sambil melihat Liam yang telah berambut putih.


Aelius tersenyum pada Arlo dan berjongkok di hadapannya.


"Aku meminta maaf padamu atas apa yang telah ku katakan dan yang telah ku perbuat 6 dan 7 tahun yang lalu" Kata Aelius sambil menundukkan kepalanya di depan Arlo.


"Kata maaf memang sangat mudah untuk di ucapkan Aelius. Tapi, Aku tidak berhak menerima ucapan maaf itu dari mulutmu. Kau berbuat salah pada Aneria. Kau harus meminta maaf padanya. Percuma kalau Kau meminta maaf padaku. Sampai kapanpun, Aku tidak akan pernah memaafkan kesalahanmu itu. Sampai kematian menjemput Aneria, Kau hanya memperdulikan selingkuhanmu itu. Ditambah lagi, Kau menjadikan anakmu sebagai cucumu. Lelucon macam apa itu ?" Tanya Arlo sambil sedikit terkekeh.


Aelius terdiam.


Ia sudah sadar akan kesalahannya ini.


"Mau bagaimana lagi ? Ini permintaan Scarlette" jawab Aelius.


"Hah ? Coba ulangi lagi ucapanmu itu" Kata Arlo sambil melihat Aelius yang menunduk.


"Ini permintaan Scarlette" Jawab Aelius.


Arlo langsung menarik jubah yang dikenakan oleh Aelius.


Aelius tau kalau Arlo akan marah lagi padanya.


"Aelius, hidupmu ini hanya sekali. Kalau Aku tidak memikirkan kondisi Dynantya, mungkin hari ini, Kau akan mati di tanganku" Kata Arlo.


Aelius diam.


"Apa Kau tau, bagaimana bisa Aneria mati ?" Tanya Arlo.


Aelius tidak menjawab.


"Karena Dia melindungi bocah itu. Dia berkata Kau sangat menginginkan anak laki laki. Benar benar percuma pengorbanan Aneria untuk bocah ini" Kata Arlo.


"Berikan saja bocah ini padaku. Aku akan mendidiknya lebih baik darimu. Saat ini ingatan Dia tentang apa yang telah berlalu telah ku segel juga. Akan sangat mudah bagiku untuk membuat bocah ini melupakan Dirimu dan keluarganya" Kata Arlo.


"Jangan lakukan itu. Aku berjanji akan menyayanginya selayaknya seorang ayah pada anak" Kata Aelius.


"Kau anggap apa sekarang bocah ini ?" Tanya Arlo sekali lagi pada Aelius.


"Putraku. Tapi, Dia akan tetap menyandang sebagai cucuku. Ini, demi kehidupannya. Aku tidak ingin Putri putriku membencinya" Kata Aelius sambil melihat Arlo.


Arlo menurunkan kelopak matanya dan melepaskan Aelius.


Arlo menarik kaki Liam untuk mendekat.


Arlo membuka mata Liam untuk melihat apakah matanha tetap berwarna merah atau kembali ke asal warna matanya.


Mata Liam kembali ke warna asalnya, tapi berpupil merah.


Aelius melihatnya.


"Kenapa warna matanya begitu ?" Tanya Aelius.


"Aku juga tidak tau. Kau kembalilah ke Istanamu dan bawa angkat bocah ini. Jangan lupa untuk memberikan surat yang ku buat untuknya" Jawab Arlo sambil menutup mata Liam dan membuka sihir lubang teleportasinya.


Aelius mengangguk dan langsung mengangkat Liam.


"Terima Kasih Arlo. Dynantya sangat membutuhkanmu. Pintu Istana akan selalu terbuka untukmu Arlo. Terima kasih atas bantuanmu" Kata Aelius sambil berdiri.


"Ya, Cepatlah pulang sebelum ada yang menyadari bocah itu menghilang dari kamarnya" Kata Arlo.


"Ya, terima kasih lagi atas...." Ucap Aelius yang belum usai.


"BERISIK ! CEPATLAH PULANG!!!!!" Tegas Arlo.


ITULAH YANG MEMBUAT JIWA LIAM TERBAGI MENJADI DUA DAN YANG MEMBUAT MATA LIAM BERPUPIL MERAH


...***...


Kembali ke zaman saat ini dimana Liam memaksa Gevand untuk membunuhnya.


Liam mulai bisa melihat apa yang telah Alan liat di masa lalu setiap memejamkan matanya.


Alan selalu mendapatkan perlakuan buruk dari para raja raja di semua penjuru negeri karena matanya yang berwarna merah.


Alan membohongi pengikutnya yang berniat menguasai negri ini sendirian dengan perkataan ingin menghapus aturan mengenai larangan pemakaian sihir di negri ini.


"Siapa yang Kau maksud dengan Dia, Liam ?" Tanya Arlo.


"ALAN" Jawab Liam.


Liam sedikit menceritakan masa masa yang Ia ingat.


"Tolong, Gevand bunuh Aku. Aku tidak ingin menjadi penerusnya" Kata Liam.


"Aku tidak bisa !" Tolak Gevand secara terang terangan sambil menjatuhkan pedang yang Ia pegang.


"Kenapa ?" Tanya Liam.


Gevand menurunkan Laura yang baru tersadar.


"Kau saudaraku ! Kau sahabatku ! Hanya Kau yang mengerti tentangku ! Aku tidak bisa melakukannya Liam !!" Tegas Gevand sambil memegang bahu Liam.


"Minggirlah. Biar Aku yang melakukannya" Kata Arlo sambil memegang kepala Liam dengan halus.


Liam melihat ke Arlo.


"Kau orang yang sangat baik. Aku paham maksudmu tentang hidup sendirian benar benar tidak enak" Kata Liam sambil tersenyum dan berkaca kaca pada Arlo.


Arlo tidak menunjukan ekspresi apapun pada Liam dan melepas kepala Liam yang Ia pegang.


Laura melihat tangan Arlo yang menguarkan cahaya biru yang terang.


Liam tidak siap untuk mati.


Tapi, Dia harus melakukannya demi Negri Ardan.


"Kak.....Kakak masih punya satu janji padaku...." Panggil Laura pada Liam.


Liam tidak melihat Laura walau mendengarkan perkataan Laura.


"Kudaku mati, Aku tidak punya kuda lain untuk menepati janjiku" Batin Liam.


"Aku sudah siap" Kata Liam sambil meneteskan air matanya dan merentangkan kedua lengannya di depan Arlo.


Bibir merah Liam bergetar menahan air matanya.


Gevand memegang tangan Arlo yang dingin dan bercahaya itu.


"Jangan bunuh Liam...." Kata Gevand sambil mengeleng.


Liam melepaskan tangan Gevand dari tangan kanan Arlo.


"Aneria, Aelius, tolong maafkan Aku karena melanggar janjiku. Demi Dynantya dan Negri ini" Batin Arlo yang mengumpulkan energi sihirnya di ujung tangan kanannya itu.


"Kau, Anak baik Liam" Ucap Arlo sambil tersenyum pada Liam.


"JLEEEEB !!!!!!!" Tangan Arlo yang bercahaya dan berkuku panjang itu langsung menembus perut Liam hingga membuat lubang seukuran tangannya hingga kepunggung Liam.


"Kak...." Laura menanggis melihat tangan Arlo menembus punggung Liam.


"KHUKH" Liam terbatuk darah dan menjatuhkan keningnya di bahu kanan Arlo.


"Maafkan Aku.... karena menyusahkanmu dan orang... orang.... di sekitarku.." Lirih Liam.


Arlo diam menahan tangannya yang telah menembus perut Liam hingga di punggungnya.


"Aku senang Kau telah menunjukkan sihir yang bagus untukku....." Bisik Liam.


Arlo merasakan hembusan nafas terakhir Liam.


Setelah hampir 20 tahun lamanya, baru kali ini Arlo meneteskan air matanya kembali.


Ia melepaskan tangannya dan menurunkan jasad Liam perlahan.


Darah Liam masih membengkas di sekujur lengan kanan Arlo.


"Liam!!!!!" Gevand langsung berlutut di samping jasad Liam.


Arlo melihat Laura yang menanggis melihat kematian Liam di depan.


"Kak Liam !!!! Aku belum meminta maaf padamu !!! Kak!!!!!!" Teriak Laura sambil mendekat ke Liam.


"Janji Kakak juga ! Belum Kakak tepati ! Bangun Kak ! Aku belikan cokelat yang banyak ya... bangun yuk....." kata Laura sambil menanggis terseduh seduh di samping Liam.


"Hah....." Arlo menghela napas panjang.


"Aku lelah sekali. Sampai kapan akan seperti ini terus ?" Batin Arlo.


"BLINK !" Tiba tiba Liam langsung membuka matanya.


Arlo, Gevand, dan Laura yang berada di dekatnya langsung terkejut.


"Laura !"


Laura membelalakan matanya.


"Syuuut !" Liam yang terbangun itu tiba tiba berada dibelakang Laura dan langsung memegang leher Laura serta mengarahkan pedang sihirnga yang berwarna merah itu di leher Laura.