
"Karena, Kak Liam adalah Kakakku. Aku tidak akan pernah bisa melihat Kak Liam sebagai orang lain apalagi musuhku. Kak Liam terlalu baik untuk menjadi seorang musuh" Kataku sambil tersenyum.
"Wushh...." Angin kencang berhembus dari arah belakang ku dan menyepoi kedepan rambut hitamku, serta menyepoi kebelakan rambut putih Kak Liam yang sedang membelalakan matanya.
...***...
"Ah, begitu ya.... Ya.... entah kenapa Aku merasa agak kecewa mendengar kannya. Tapi, bila Aku menjadi sosok musuh, mungkin Aku akan menjadi sosok yang sangat menjengkelkan musuh musuhku. Oleh karena itu, Tetaplah jadi Laura adikku ya...." Kata Kak Liam sambil menggusap rambutku.
"Kak, mau kue cokelat ?" Tanyaku.
"Pangeran Andreas gugur !" Tegas Prajurit.
Kak Liam langsung melihat kebelakang.
"Bagaimana bisa Pangeran Zaverias yang menang ?" Tanyaku.
"Dia adalah Ahli beladiri dan seorang Ahli strategi termuda sekarang setelah Aku" Kata Kak Liam.
"Padahal Aku yang ingin mengalahkan Babi biadab itu" Lirihan Kak Liam yang terdengar ditelingaku.
"Prok ! Prok!" Suara tepuk tangan yang meriah.
"Tamunya pilih kasih. Tadi waktu Aku yang menang nggak ada yang memberiku tepuk tangan selain Kakek" Kata Kak Liam.
Kemudian, Pertandingan dilanjutkan dengan satu kali pertandingan melawan sisa Pangeran yang tersisa.
Dari 12 Pangeran, kini hanya tersisa 6 Pangeran dari sisa 6 pangeran itu, Kakek hanya mengambil satu orang yang terbaik diantara mereka.
Mereka akan dipertandingkan secara bersamaan disatu arena pertandingan besok.
Untuk sekarang, Kakek mengistirahatkan Pangeran dan menyuruh untuk Para Pangeran berdamai agar tidak ada dendam diantara mereka.
Acara hari ini, telah ditutup dan dilanjutkan besok.
"Jadi, Siapkan tenaga Kalian dan susun rencana Kalian yang berikutnya. Istirahatlah dengan cukup" Kata Kakek untuk mengakhiri hari ini.
Aku langsung kembali ke Kamarku karena hawa hari ini panas sekali.
"Nanti malam pasti hujan" Lirihku sambil melihat Kak Liam yang sedang mngobrol bersama Kakek.
Sampai didepan kamar.
Aku membuka pintu kamarku.
"Selamat Siang Putri, hari ini, cuacanya cukup bagus untuk kepantai mau pergi kepantai bersamaku ?" Tanya seseorang yang sudah duduk diatas kasurku.
"Hei! Brak!" Aku langsung menutup pintu kamar.
"Arlo! Bagaimana Kau bisa kemari ?!" Tanyaku.
"Aku menggunakan sihirku" Kata Arlo sambil membelakangkan poni rambut putihnya yang menutupi sebagian matanya.
"Ya, sudah kuduga" Lirihku.
"Jadi, Mau ikut denganku dipantai ?" Tanya Arlo.
"Enggak, Aku malas keluar. Kau cepatlah pergi dari sini" Aku mengusir Arlo.
"Jahat sekali Kau Laura. Padahal Aku kemari karena ada orang yang meniruku disekitar sini. menjengkelkan sekali" Kata Arlo.
"Meniru?" Tanyaku.
"Iya, Dia yang membunuh orang orang disekitar hutan dan menuduhku seenak jidatnya itu" Kata Arlo sambil berdiri dan berjalan kearah jendela.
"Siapa Dia ?" Tanyaku.
"Dia orang yang sering berada disekitarmu. Dia juga, dari Kerajaan Nelzefvia. Berhati hatilah saat didekatnya, Dia memiliki aura aneh disekitarnya. Kurasa, ada orang lain yang yang mengendalikannya" Kata Arlo.
"Siapa Dia ?" Tanyaku.
"Iya, ada apa?" Tanyaku sambil melihat kearah pintu.
"Putri..... Anda dipanggil oleh Raja dibawah" Suara lelaki dibelakang pintuku.
"Arlo.... Eh ? Kemana Dia ? Dia sudah pergi ternyata" Lirihku.
"Baik. Saya keluar. Tolong sampaikan pada Baginda, Saya akan segera kesana" Kataku.
"Baik Putri" Jawab pelayan itu dan langsung pergi.
"Baiklah, Kebenaran mengenai siapa dalang dibalik semua tragedi disekitar hutan sedikit demi sedikit mulai terkuak. Dari pengakuan Arlo, Orang yang menyamar menjadi dirinya adalah orang yang dekat denganku dan berasal dari Nelzefvia" Batinku sambil mengambil Baju dengan bawahan celana untuk ganti.
"Dugaanku, adalah Kak Liam yang menyamar menjadi Arlo. Tapi, bila Aku menyalahkan Kak Liam, bukankah Aku tidak ada bedanya dengan Kak Kyle ? Kak Liam tidak mungkin sosok musuh. Tapi, Dia juga bisa sihir walau tak langsung mengatakannya padaku atau, jangan jangan Kak Dera ? Bukankah Dia Kusir Pribadiku dan sama sama dari Nelzefvia? Bisa jadi! Tapi! Tidak mungkin Kak Dera akan mengkhianati sumpahnya pada Ayah!" Aku perang dengan batin dan otakku.
".... Dia memiliki aura aneh disekitarnya. Kurasa, ada orang lain yang yang mengendalikannya" Ucapan Arlo tadi melintas dipikiranku.
"Orang Lain ? Bisa mengendalikan orang ? Apa Dia bisa sihir seperti Arlo ? Aku harus menemui Kakek dan harus langsung mengatakannya" Batinku sambil cepat cepat memakai celana dan sepatu.
"Aku tidak bisa menyalahkan Kak Liam atau Kak Dera tanpa bukti yang kuat. Walau Kak Liam bisa sihir tapi, Dia tidak mungkin mengendalikan orang lain untuk melakukan sesuatu. Kak Liam bukanlah sosok seperti itu ! Dia lebih suka beraksi sendiri diam diam dari pada meminta bantuan orang lain" Batinku sambil bergegas keluar karena telah ditunggu oleh Kakek.
Sampai ditempat Kakek, Beliau telah duduk dikursi didekat pohon besar sambil melihat Kak Liam dan yang lain yang sedang mengobrol.
"Ada apa Kek ? Kenapa memanggilku ?" Tanyaku.
"Duduklah Laura" Kata Kakek.
Aku pun langsung duduk disamping Kakek.
"Apa ada orang yang Kau curigai mengenai beberapa tragedi di Nelzefvia ?" Tanya Kakek.
"Eh ? Apa maksud Kakek ?" Tanyaku.
"Kau ingat dengan peristiwa banyaknya orang yang terbunuh didekat hutan sihir Nelzefvia ?" Tanya Kakek.
"Iya Kek" Kataku.
"Dia membuat ulah disini. Apa Kau mencurigai seseorang ?" Tanya Kakek.
"Kebetulan sekali Kek, Aku juga mau membicarakan hal ini" Kataku.
"Wah bagus kalau begitu, Jadi menurutmu Siapa orang yang melakukan hal ini ?" Tanya Kakek.
"Tunggu Kek, bukankah Kak Liam sudah tau ? Kenapa Kakek tidak bertanya langsung pada Kak Liam ?" Tanyaku.
"Liam itu suka berbelit belit. Jadi, percuma Aku bila bertanya padanya. Jawaban Dia selalu berteka teki. Tadi Aku sudah bertanya Dia menjawab orangnya laki laki yang memiliki dua kaki dan dua tangan" Kata Kakek.
"BRUH! PFFT" Aku langsung menahan tawaku.
"Liam memang begitu. Aku paham maksudnya agar tidak ada orang yang tau dengan apa yang Ia bicarakan. Terkadang juga, bila Dia memang benar benar dalam keadaan yang sangat genting, Dia pasti akan mengirim beberapa sandi yang disertai angka. Menerjemahkannya butuh waktu minimal enam jam hingga sehari" Kata Kakek.
"Kak Liam hebat sekali bisa membuat Kakek kesulitan" Kataku.
"Ya begitulah, Lalu siapa orang yang Kau curigai ?" Tanya Kakek.
"Em... maaf dulu ya Kek. Sebenernya Aku masih belum tau siapa Kek. Tapi, Kata Arlo, Musuh kita adalah orang yang dekat denganku" Lirihku.
"Sudah kuduga. Sepertinya Orang itu mengincar keluarga ini" Kata Kakek.
"Lusa, Seluruh keluarga Dynantya akan berkumpul disini. Penjagaan akan diperketat. Dan setelah ini Aku akan memanggil beberapa orang terbaik Dynantya untuk mengusut dan mencari pelaku itu yang bersembunyi diantara kita semua" Lajut kata Kakek sambil berdiri.
"Laura, Kembalilah keruanganmu. Setelah ini akan ada guru privat yang akan mengajarimu" Kata Kakek.
"Baik Kek. Terima kasih" Kataku sambil membungkuk dan pergi.