
Hari demi hari mulai berlalu.
Kini Kak Kyle telah menjadi Raja Nelzefvia.
Kak Liam masih sering menemaniku saat malam tiba.
Kami sering mengobrol hingga Aku ketiduran.
Dan Kak Liam masih sama tidur dibawah tapi, Ia memakai Kasur lipat yang kubawa dari gudang prajurit.
Siang hari pukul 10.15
Hari ini, adalaah hari pernikahan Kak Kyle dengan putri Viona.
Barang barang milikku sudah dipindahkan dirumah lama milik sejak dua hari yang lalu.
Kondisi Istana sangat sibuk sejak tadi malam.
Banyak pelayan dan orang orang yang bertugas mendekorasi ruangan mondar mandir.
Tema pernikahan Kakakku, bertemakan pesta bertopeng sesuai keinginan calon istrinya itu.
Dan, Dress yang digunakan harus Dress bertemakan gelap.
"Ini sebenarnya pernikahan atau apa sih ? kenapa harus banyak aturan ?"
Aku sudah memesan topeng mata desainanku sediri yang bertemakan bulan sabit.
"Calon Kakak iparku itu sangatlah merepotkan"
Saat ini, Aku sedang perjalanan untuk mengambil topeng pesananku itu menggunakan kereta kuda bersama Kak Liam yang kupaksakan untuk ikut.
Aku mengiming iminginya kue cokelat kesukaannya yang dijual tak jauh dari tempatku memesan topeng penutup mata itu.
Aku tau Kak Liam bakalan tidak akan menghadiri acara pernikahan ini.
Aku akan memaksanya untuk hadir, Aku sudah terlanjur memesankan topeng juga untuk Kak Liam yang berbeda tema denganku.
"Laura, Toko kue cokelatnya kelewatan" Kata Kak Liam disampingku sambil melihat ke jendela kereta kuda.
Aku sedikit takut untuk melihat jendela kereta kuda.
"Kita mampir dulu ditoko topeng. Aku sudah memesan topeng" Jawabku tanpa melihatnya dan memainkan kuku jariku yang panjang.
"Oh, Bagaimana keadaanmu, Apa tubuhmu masih terasa sakit ?" Tanya Kak Liam.
"Sudah enakan Kak. Aku tidak menyangka lukaku akan hilang tanpa membekas seperti ini. Tapi, bekas gigitannya ini apakah tidak bisa hilang?" Tanyaku pada Kak Liam sambil memegang bahuku.
Kak Liam melihat sekejap bahuku.
"Hah.... (Hela Napas). Aku akan mencari penyihir itu. Dan Akan kulepas taringnya satu persatu saat Aku berhasil menemukannya" Kata Kak Liam.
Aku tau Kak Liam bercanda, Dia tidak akan berani saat berhadapan langsung dengan penyihir Arlo itu.
"Kak Liam, Aku dengar dari Kak Kyle kalau Kakak pergi saat upacara pemakaman Ayah dengan melompati tembok setinggi tiga meter. Apa itu benar ?" Tanyaku.
"Tiga meter ? Itu hanya 2.5 meter. Lagian, Aku memanjatnya tidak melompatinya" Kata Kak Liam.
"Apa bedanya Bambang ?!" batinku.
Sampai di tempat tujuan.
Aku memaksa Kak Liam untuk ikut turun.
"Aku disini saja"
Kak Liam malas turun karena dibawa ada beberapa teman temanku yang telah menungguku.
Dan, Aku membawa Kak Liam karena permintaan mereka beberapa hari yang lalu.
Aku turun
"Putri.... Apa Anda sudah sehat? Kami sangat mengkhawatirkan Anda" Kata Scarlette.
"Itu benar Putri" Kata Gisel dan Veronicca bersamaan.
"Terima kasi sudah khawatir pada Saya. Saya sudah suhatan hari ini" Kataku sambil melirik Kak Liam didalam kereta kuda.
"Putri, Kami sangat lama... menunggu Anda, Apakah Anda membawa Pangeran Liam juga ?" Tanya Gisel (Salah satu dari ketiga temanku yang sangat Update dengan kejadian yang terjadi disekitar Kerajaan Nelzefvia.
Kak Liam membelalakan matanya karena mendengar suara dari luar.
"Nah Kak, ayo turun. Jangan membuatku malu pada teman teman" Pintaku.
"Aku, Pergi saja" Kata Kak Liam sambil memegang pintu kereta kuda didekatnya.
"Kak, Aku sudah janji pada mereka" Lirihku sambil melihat Kak Liam dari balik jendela kereta kuda.
Aku memasang wajah memelasku.
Kak Liam memasang wajah tidak enaknya padaku.
"Aku janji deh. Apapun yang Kakak minta kukasih, tapi hanya satu permintaan saja" Kataku.
Karena Aku tau, Kak Liam saat ditoko kue tidak akan hanya beli kue cokelat saja.
"Janji ? Apapun itu ?" Tanya Kak Liam yang tiba tiba bersemangat.
"Dia sesuka itukah pada Kue ?" Batinku.
"Iya.Janji" Jawabku sambil menunjukkan jari kelingkingku.
"Baiklah... Ayo keluar" Kata Kak Liam sambil tersenyum dan turun melewati pintu kereta kuda yang telah kubuka.
"Pangeran Liam, selamat siang. Hari ini sangat indah ya..." Sapa Gisel dan Veronicca bersamaan.
"Iya, Siang ini sangat indah. Gaun yang Kalian kenakan sangatlah indah" Kata Kak Liam sambil tersenyum pada mereka bertiga.
"Pangeran Liam..., Saya, Scarlette. Salam hangat dari Saya untuk Anda" Sapa Scarlette temanku yang penakut itu.
Mereka bertiga, sama sama mencintai Kakakku yang super jahil ini.
Dan, Mereka bersaing untuk mendapatkan cintanya Kak Liam.
Aku ditinggal oleh mereka berempat.
Sampai didalam.
"Ini pesanan Putri" Kata Pemilik toko itu sambil memberiku dua Topeng Mata.
"Yang satu untuk siapa lagi itu ?" Tanya Kak Liam.
"Untuk Anda Pangeran Liam, Mau tidak mau Anda harus ikut. Saya sudah terlanjur memesankannya untuk Anda" Kataku.
"Hem... tumben berbahasa formal Kau padaku Putri ?~" Lirih bernada Kak Liam.
"Berisik. Ini untuk menjaga reputasiku" Lirihku.
"Haha.... Dasar Kau ini..." Kak Liam tertawa sambil mengusap rambutku.
Aku melihat ketiga temanku yang memancarkan Aura membunuh mereka padaku.
"hehe..." Aku langsung melepas tangan Kak Liam dari kepalaku dan langsung mendatangi Ketiga temanku itu.
"Putri, belanja yuuk~~!" Ajak Gisel.
"Iya Putri, Belanja yuk, mumpung bareng sama Pangeran Liam. Kapan lagi kita bisa begini ?~" Tanya Veronicca sambil mengengam keras lenganku.
Dia memaksa sekali, ini sangat menyenangkan.
Aku mulai bisa melupakan kejadian terbunuhnya Ayah karena ada Kakak kakakku dan Teman temanku ini yang selalu menemani ku.
"Baiklah" Jawabku.
Kami berjalan memasuki Mall didekat sana.
Kak Liam berjalan dibelakang Kami seperti Bodyguard.
Kak Liam suka dengan makanan yang ada rasa cokelatnya.
Aku memberitahukan kesukaan Kak Liam itu pada teman temanku.
"Pangeran, apa Anda suka cokelat ?" Tanya Veronicca sambil melihat Kak Liam dibelakang Kami dan memperlambat laju jalannya.
"Aku tidak terlalu suka makanan manis. Aku harus menjaga berat badanku" Jawab Kak Liam.
"Kelihatan bohong banget" Batinku.
Tiba tiba Veronicca melihat kearahku.
Ia pikir Aku menipunya.
Aku berpaling dan mempercepat jalanku.
Sampai di butik tempat biasa mereka membeli pakaian.
Mereka bertiga sedang sibuk sibuknya memilih pakaian yang mereka sukai dan mereka bertiga sesekali meminta saran pada Kak Liam tentang baju yang mereka pilih.
"Kau, tidak membeli pakaian juga ?" Tanya Kak Liam padaku.
"Aku memang suka ke toko pakaian tapi, Aku tidak ada niatan untuk membelinya. Aku hanya ingin lihat lihat saja Kak" Jawabku yang berdiri disebelah Kak Liam sambil melihat gaun gaun yang dipajang.
"Oh jadi, mulai kapan Kita akan pindah ?" Tanya Kak Liam.
"Kita ?" Tanyaku sambil melihat Kak Liam.
"Iya. Aku akan ikut Kau pindah. Aku sudah berjanji kepada Ibu untuk menjagamu hingga Kau mendapatkan sosok yang membuatmu nyaman" Jelas Kak Liam.
"Hah? Lalu, siapa yang akan membantu Kak Kyle untuk mengurusi Istana dan keamanannya ?" Tanyaku.
"Biarlah Kyle yang mengurusinya sendiri. Dia berkata begitu padaku" Kak Liam tidak memanggil Kakak pada Kak Kyle.
Aku tidak tau apa masalah mereka sebenarnya.
Aku akan bertanya bila saatnya sudah tepat.
"Laura, mau coba pakai ini ? Ini bagus untukmu" Kata Kak Liam sambil mengambil dress putih dengan lengan ukuran ¾ dan bawahan selutut.
Ternyata, selera Kak Liam sederhana seperti itu.
Aku akan memberitahu mereka untuk beli pakaian yang sama.
"Baik Kak, Aku ambil ini" Kataku sambil mengambilnya dan berjalan kearah ketiga temanku.
Pada akhirnya,Mereka bertiga membeli dress putih dengan ukuran lebih pendek dan lebih ketat dariku.
"Putri! setelah ini, Anda mau kemana ?" Tanya Scarlette sambil memeluk lengan kananku.
"Ke toko Kue" Jawabku.
"Mau beli kue untuk Anda makan sendiri putri?" Tanya Gisel.
"Bukan Ini untuk Pang" Ucapku yang belum usai.
"Putri Laura, Katanya mau beli Kue untuk acara piknik kalian ? Kalau boleh, Aku mau ikut" Kak Liam memotong pembicaraanku sambil memegang bahu Gisel.
Senyuman Gisel mengembang diwajahnya yang memerah.
Aku tau Gisel pasti senang dipegang oleh Orang yang disukainya.
"Wah, itu bagus dong! Pangeran Liam harus bergabung juga!" Tegas Veronicca yang dianguk i oleh Scarlette.
Aku tau alasan Kak Liam melakukan ini.
Kak Liam pasti malu apabila hal yang Ia sukai diketahui orang lain.
"Baiklah. Kita piknik di rumahku yang baru yuk" Ajakku.
"Yosh! Kita berangkat!" Kata Kak Liam sambil melepas Gisel.
Kak Liam berjalan duluan didepan Kami menuju kereta kuda.
"Astaga astaga ! Jantungku! Aku butuh jantung tambahan! Tarik napas tarik napas!" Gumam Gisel sambil mengipasi dirinya dan menarik napas dalam dalam.
Ya, Aku pasti akan berkelakuan sama seperti Gisel bila orang yang kusukai tiba tiba melakukan hal yang mendadak seperti itu.
"Aku tidak akan mencuci atau membuang pakaianku ini! Aku akan memajangnya dikamarku sebagai warisanku keanak cucuku nanti" Lanjut gumam Gisel.
"Anjay. Tapi, gak gitu juga"