LIAMARLO

LIAMARLO
Jatuh



"Tep!" Kak Liam mendarat diatas loteng dekat jendela yang terbuka itu.


"Kau, baik baik saja Laura ?" Tanya Kak Liam sambil menurunkanku.


Aku masih terkejut.


"Gila... bagaimana bisa ? Kakak Manusia atau manusia super ?" Tanyaku.


"Nanti Aku jelaskan" Lirih Kak Liam sambil mengintip kebawah.


"Ada apa Kak?" Tanyaku sambil ikut ikutan ngintip.


"Tetap sembunyi Laura" Lirih Kak Liam.


Aku, melihat sosok berambut putih yang mamakai jubah merah gelap.


"Arlo?" Tanya lirihku sambil melihat Kak Liam .


Kak Liam melihatku.


"Yang Kau lihat itu bukan Arlo. Lihatlah dengan seksama. Lagipula, Arlo itu tidak ada" Lirih Kak Liam sambil kembali melihat orang berambut putih dibawah.


"Apa Kak Liam pernah bertemu dengan Arlo?" Tanya lirihku.


"Belum" Jawab Kak Liam.


Pria berambut putih itu masuk kedalam rumah tua ini.


"Bagaimana bisa Kakak yakin kalau Dia bukan Arlo. Kalian belum pernah ketemukan ?" Tanyaku.


"Aku, percaya dengan filingku. Dia hanyalah Arlo yang menyamar. Kau tunggulah disini. Disini aman" Kata Kak Liam sambil berdiri.


"Tunggu Kak" Kataku sambil memegang tangan Kak Liam.


"Ada Apa ?" Sekilas Aku melihat perubahan mata Kak Liam.


Apa mungkin, Karena gelapnya malam membuat warna merah pupil Kak Liam terlihat mencolok.


"Mau kemana Kak?" Tanyaku.


"Dia sudah mencoreng nama baikku. Aku ingin tau apa tujuannya mengikutiku" Jawab Kak Liam sambil melepas tanganku.


"Tep! Jump!" Kak Liam langsung melompat dari ketinggian yang hampir 7 meter ini.


"Gila! Kakakku yang itu memang gila!" Lirihku sambil melihat Kak Liam yang melompat dari ketinggian dan langsung lari seperti tidak merasakan sakit apapun.


Aku melihat belakangku.


"Kalo nggak salah, ruangan ini, seperti dimimpiku. Aku pengen cepet balik ke Kakek" Batinku sambil kembali duduk dilantai teras atap.


Beberapa saat kemudian


"Cklek!" Suara dari jendela didepanku.


Aku langsung membelalakan mataku.


Aku melihat bayangan laki laki menggunakan jubah dengan kera yang leber dari dalam Kamar didepanku.


"Sial!" Aku takut kalau Arlo ada didepanku.


Aku langsung berdiri.


"Klak!" Jendela terbuka.


Aku berancang melompat seperti Kak Liam tadi.


"Heh! Laura!" Panggil suara tak asing di telingaku.


"Eh?!" Aku melihat kebelakang.


Ternyata Kak Liam yang membuka jendelanya.


"Mau ngapai Kau ? Ayo turun, bahaya" Kata Kak Liam sambil maju dan memakan apel yang ada di tanganya.


"Iya Ka..."Saat Aku mau turun, Kakiku terselip dengan gaun yang kupakai.


"SYUUTTT.....Eh?" Aku, terjatuh dan sempat melihat Kak Liam yang membelalakan matanya.


"BODOH! Tep! Wust!" Umpat Kak Liam dan langsung melompat Kearahku.


Aku, melihat Kak Liam yang terjun langsung kearahku, Langit malam terlihat penuh bintang.


Kenapa Aku bodoh dan bisa bisanya Aku jatuh begini.


Apa Aku akan mati ?


Aku meraih tangan Kak Liam yang diulurkan kepadaku.


"Greeb!!" Kak Liam langsung memelukku".


"Bruk!!!" Ini terjadi sangat cepat.


Kak Liam terjatuh ditanah duluan dia, melindungi kepalaku dan masih memelukku.


"Kau baik baik saja ?" Tanya Kak Liam sambil mendongakkan kepalaku.


Aku melihat Kak Liam.


Hidung Kak Liam mengeluarkan darah.


Sempat sempatnya Dia menanyakan keadaanku.


"Dasar ceroboh! Apa yang mau Kau lakukan?!" Tanya Kak Liam yang marah padaku.


Entah kenapa, Aku tak bisa menjawabnya.


Jantungku berdebar dengan kencang.


Aku ingin menanggis.


"Maafkan Aku Kak, Kakiku tadi terselip gaunku" Jawabku.


"Lagian! Apa yang mau Kau Lakukan?! Kalau terjadi sesuatu padamu Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri karena lalai menjagamu!" Kak Liam masih marah padaku.


Aku duduk.


Kak Liam duduk sambil mengusap hidungnya yang berdarah.


"Kupikir, tadi yang membuka jendela bukan Kakak, Aku sempat takut. Maafkan Aku Kak" Aku, tak berani menatap Kak Liam.


"Bruk!" Kak Liam jatuh dipahaku.


"Degh!"


"KAK!" Teriakku.


"Kak Liam! hentikan bercandanya Kakak! Ngak lucu Kak!" Teriakku sambil menguncang tubuh Kak Liam.


Aku melihat rambut belakang Kak Liam yang berwarna merah.


"Jangan jangan!" Aku langsung memegang rambut Kak Liam itu.


Ternyata, warna merah dirambut Kak Liam adalah darah.


"Kak! Apa yang harus ku lakukan?!" Tanyaku.


Aku tak bisa menahan air mataku lagi.


Aku, bingung harus melakukan apa.


"Dirumah ini, apa ada persediaan obat ?" tanyaku.


Tadi, Kak Liam menemukan apel, tidak mungkin, kalau tidak ada obat didalam.


"Oh iya, Kak Liam selalu membawa perban"


Aku langsung meraih tas kecil yang selalu Kak Liam bawa dipinggangnya.


Dan, ternyata benar, Kak Liam membawa banyak perban.


Aku berusaha mengangkat Kak Liam dulu.


Aku langsung membawa Kak Liam kedalam rumah itu.


Aku menurunkan Kak Liam dianak tangga yang terlihat dan Aku membuka sepatu hitam yang Kak Liam pakai .


rencanaku, Aku akan membersihkan luka Kak Liam dulu, setelah itu, Aku akan mencari Kakek.


Aku langsung mengambil timba almunium yang terlihat dibelakang pintu untuk mengambil air didepan tadi.


Aku tidak tau tempat Kakek dan yang lain berada.


Tapi, dikeadaan yang seperti ini Aku tak bisa diam saja.


Aku mengambil air dengan timba itu.


"BUUM!" suara ngebas dibelakangku.


Aku langsung membelalakan mataku.


Suara ini, bukan suara Kak Liam.


Disini, hanya ada Aku dan Kak Liam.


Aku tak berani melirik kebelakang.


"Klank! Byur!" Pegangan besi timba itu terlepas dari tiba dan Air tiba jatuh kembali ke kolam kecil itu.


"Wangimu harum seperti biasa" Suara itu.


Bulu kudukku merinding.


Ia memegang rambutku.


"Kenapa Kau tak melihatku ?" Tanyanya.


"Apa Kau kemari untuk menemuiku ?" Tanyanya.


"Aku tidak suka sendirian, Apa Kau mau menemaniku ?"


Jantungku terus berdebar.


Tanganku ikut gemetaran.


"Klank!" Tanganku sangat lemas hingga Aku tak kuat untuk memegang timba rusak itu.


Aku merasa takut.


"Laura, " Dia tau namaku.


"Grep!" Dia memelukku.


Aku semakin takutan.


Mulutku tak bisa mengeluarkan suara.


"Maukah, Kau menghilangkan rasa sakitku ini?" Tanyanya.


Dia, menaruh dagunya dibahu kiriku.


Air mataku keluar begitu saja.


"Aku sangat haus, Aku suka darahmu yang manis" Katanya.


"Bruk!" Kakiku lemas dan Aku langsung terjatuh.


Dia ikutan duduk dibelakangku.


"Slurp" Dia menjilat bahuku.


"Jangan lakukan itu" lirihku.


"Hem?" Tanyanya.


"Jangan Lakukan itu" Kataku sambil memegang bahu kiriku.


"Kenapa?" Tanyanya.


"Aku tidak suka" Aku sangat takut menjawabnya.


"Kalau begitu, izinkan Aku memelukmu saja" Katanya.


"Tidak" Kataku.


"kenapa?" Tanyanya.


"Aku akan membencinya" Jawabku.


"Lalu, bagaimana agar Kau tidak membenciku ?" Tanyanya.


Entah kenapa hatiku terasa linu mendengar pertanyaannya.


"Tinggalkan Aku" Jawabku.


"Tidak bisa, Jangan menyuruhku untuk menjauh. Aku sudah tidak punya siapa siapa" Katanya.


"Aku akan pergi, kemanapun Kau berada. Aku tidak bisa mati"


"Kau, Siapa ?" Tanyaku.


Aku masih tak berani melihatnya.


"Lihat Aku dulu" Pintanya.


Aku tak bisa melakukannya.


"Apa Kau takut denganku ? Bukankah, Kau tak percaya dengan keberadaanku ?" Tanyanya.


Dia berdiri dan berhenti dihadapan ku.


Ia, tak beralas kaki dan Ia menggunakan jubah yang sama yang dipakai oleh Kak Liam.


Aku, melihat tas pinggang yang selalu Kak Liam bawa dipinggang sosok didepanku.


Aku memberanikan diri melihatnya.


Ia berjongkok dihadapanku.


Ia tersenyum padaku.


"Aku Arlo"


Dia sangat tampan dan sekilas, senyumannya mirip Kak Liam.


Matanya berwarna merah menyala itu.....


"Hentikan! Aku tidak boleh kagum padanya!"


"Aku menyukaimu, Jangan melarangku untuk tetap menyukaimu. Bila Kau membenciku, itu adalah hak hakmu. Kau boleh menerima cintaku" Katanya.


"Apa ?" Aku langsung melihatnya.


"Kenapa?" Tanyanya.


Suaranya yang ngebas itu, terdengar halus ditelingaku.


"Kau bisa mati, bila Aku membalas cintamu" Kataku.


"Itu tidak masalah" Jawabnya.


"Hah? Lalu, Kau Kau tidak memikirkan orang yang telah mencintaimu ?" Tanyaku.


"Apa Kau akan mencintaiku balik?" Tanyanya.


"Itu tidak akan!" Tegasku.


"Yasudah, Kalau begitu teruslah begini. Aku akan tetap menyukai mu selalu, hingga, Aku menemukan orang yang bisa membebaskan kutukanku ini" Katanya.


"Kau Playboy ?" Tanyaku.


"Hah?"