LIAMARLO

LIAMARLO
Dia terlalu baik untuk menjadi seorang musuh



"Hah ? Babi ngambil anjing ? Nggak kebalik?" Batinku.


"Begitu, Baiklah. Istirahat 15 menit setelah itu kembali. Jangan lupa bangunkan Gevand" Kata Kakek.


"Terima kasih Baginda, Atas kebaikkan Anda" Jawab Kak Liam sambil membungkuk.


...***...


Aku melihat Kak Liam yang berjalan sambil mengendong Pangeran Gevand dipunggungnya.


"Kek, Bolehkah Aku ke Kak Liam ?" Tanyaku pada Kakek.


"Silahkan" jawab Kakek.


Aku langsung pergi mengikuti Kak Liam.


Sampai didalam istana.


"Kak, Apa Kakak baik baik saja ?" Tanyaku.


"Ya, Aku baik baik saja. Aku hanya mengkhawatirkan kudaku. Semoga, Dia tidak mati karena tertusuk pedang" Lirih Kak Liam dengan nada yang cukup sedih.


"Ditusuk ? Siapa yang menyerang Kakak ?" Tanyaku.


"Seorang Babi biadab yang menyerangku. Tapi, setelah ini....Aku tidak Akan mengalah. Lihatlah..... Diakhir nanti Akulah yang akan menang dan membuatmu tunduk padaku! He he he he" Tegas Kak Liam dan diakhiri dengan tawa psikopatnya


"Kurasa Hari Kak Liam sangat sehat jadi, Aku tak jadi khawatir padanya" Batinku.


"Ne.... Laura, Maafkan Aku ya. Karena kelalaianku Kudaku belum tentu bisa digunakan bekuda bersamamu" Kata Kak Liam.


"Tidak apa apa Kak. Jangan dipikirkan. Pikirkan saja dengan acara ini dulu" Kataku.


"Yasudah. Kalau begitu kembalilah Kekakek. Aku mau ganti baju dan membangunkan Gevand" Kata Kak Liam.


"Baik Kak. Berjuanglah" Kataku sambil pergi.


Tak Lama kemudian Kak Liam bersama Pangeran Gevand kembali sebelum acara dilanjutkan.


Acara berikutnya, disampaikan oleh Kakek.


Beliau berkata, Acara ini adalah acara bertarung yang urutannya sesuai acakan yang Kakek dapatkan.


Para Pangeran yang bertarung, hanya diperbolehkan memakai satu senjata kayu yang telah disiapkan oleh Kakek.


Persyaratan saat bertarung, mereka tidak boleh keluar dari lingkaran hitam yang berdiameter 5 meter. Kemudian, Mereka harus selesai dalam waktu 15 menit. Bagi mereka yang berhasil melahkan lawannya dalam jangka waktu kurang dari 15 menit akan mendapatkan poin tambahan 20 dan bagi mereka yang gagal atau belum menyelesaikan diwaktu 15 menit secara bersamaan akan dianggap gagal.


Kakek mulai mengambil acak nomor sesuai yang ada dinomor dada pangeran yang akan bertarung.


Dari kejauhan, Kak Liam bernomor dada 09, sedangkan Pangeran Gevand bernomor dada 11.


Kurasa, bila mereka berdua bertarung, pertarungan mereka akan menjadi pertarungan yang pantas ditonton.


Kakek mulai menyebutkan nomor acak yang Ia dapatkan dari bola dalam akuarium bundar berukuran tanggung.


"10 dan 05 berada di lingkaran pertama" Lantang Kakek.


10 adalah nomor dada dari Pangeran Zaverias Cucu Terakhir Kakek yang berusia 15 tahun, sedangkan nomor 5 adalah nomor dada dari Pangeran Andreas.


Dari ukuran tubuh dan umur mereka yang berpaut jauh, pasti Pangeran Andreas lah yang menang.


Pangeran Zaverias, kalah pengalaman dan kalah kekuatan, ini hanya opiniku saja.


Kakek kembali mengambil bola didalam Akuarium itu.


"09 dengan 07 di lingkaran kedua" Nomor dada Kak Liam disebutkan oleh Kakek.


Kak Liam melawan cucu tertua Kakek setelah Kak Kyle.


Aku tidak bisa memperkirakan siapa yang akan menang diantara keduanya.


Sebab, Pangeran William itu, menduduki posisi nomor ketiga Ahli Pedang.


Dia juga akan menjadi lawan yang sulit untuk Kak Liam.


Kemudian, setelah Kakek menyebutkan seluruh nomor cucunya, Kakek menyuruh 12 cucunya yang ikut serta untuk memilih senjata mereka masing masing.


Setelah mereka mendapatkannya, Eh ?!


Pandanganku tertuju pada senjata yang diambil Kak Liam.


"Kenapa Kak Liam mengambil tongkat Kayu? kenapa bukan Pedang Kayu yang Dia ambil? Bukankah masih banyak Pedang Kayu yang tersisa ?" Tanyaku yang melihat Kak Liam memasuki lingkaran pertarungan sambil membawa kayu yang berukuran 2.5 meter.


"Karena baginya, itu bukan sembarangan senjata yang bisa diambil untuk bertarung" Jawab Kakek.


"Tapi, bisa jadi senjata itu digunakan Kakak agar tidak tidak terkena hantaman pedang dari Pangeran William dengan cara memukulkannya dari jarak jauh. Tapi bila begitu, Bukankah Dia mau jadi pelawak ?" Batinku.


Semua Pangeran telah memasuki arena bertarung mereka masing masing dan para prajurit berdiri dibelakang setiap Pangeran untuk mengetahui siapa yang gagal atau tereliminasi terlebih dahulu.


"PRIIITTTTTTT!!!!" Suara peluit dibunyikan


Aku melihat Kak Liam yang mulai melangkahkan kakinya.


"Duaggggh!!!" Ia Mendorong keras Pangeran William yang berancang menyerangnya dengan menggunakan tongkat kayu yang Ia bawa.


"Bruak!!!!!" Pangeran William langsung keluar dari dalam lingkaran dan menjatuhi prajurit dibelakangnya.


"Njir....." Batinku.


"PFFTT..." Aku mendengar Kakek sedikit menahan tawanya.


"Pangeran William gugur !" Tegas Prajurit yang tertindih Pangeran William.


"Apa ?! Kok cepat ?!" Semua Pangeran yang bertarung terkejut dan berhenti bertarung sejenak.


"Ha ha ha.... Mangkannya Kalian semua bertarung dengan Otak! Jangan hanya dengan otot!" Tegas sombong Kak Liam.


"Wooooooooo" Kak Liam disorak i tak senang oleh para tamu dan para Pangeran yang berhenti bertarung sejeknak.


"Terima Kasih atas sorakannya......" Kata Kak Liam sambil membungkuk dengan bangga.


Kakek menepuk tangannya dengan keras untuk Kak Liam.


"Sudahlah..... Dia bukan Kakakku" Lirihku yang malu sendiri akibat tingkah Kak Liam.


Kak Liam mendatangiku dan meminta ucapan selamat dariku karena menyelesaikan pertandingan sebelum 10 detik berjalan.


"Enggak! Malu malu in aja!" Tegasku.


"Kenapa?" Nada Kak Liam terdengar agak kecewa.


"Enggak Kak, Aku hanya bercanda ! Tadi Kakak keren sekali!" Ucapku sambil menunjukkan kedua jempolku.


Aku membohongi Kak Liam agar dia tidak turun semangat.


"Tentu saja! Karena ada Kau, Aku harus terlihat ker... Ah! Bukan! Maksudku! Kau harus mencontohku karena Aku seorang Kakak yang hebat dan keren!" Tegas gelagapan Kak Liam dengan wajahnya yang sedikut memerah.


Beberapa hari ini, Aku jarang melihat wajah merah Kak Liam.


"Aku menantikan kemenangan Kakak. Jadi, berjuanglah!" Tegasku.


"Tentu Aku akan terus berjuang!" Tegas Liam.


Aku melihat Kakek yang tersenyum melihat Kami.


"Tapi Kak kalau bisa, jangan buat lawan Kakak malu ya...." Pesanku.


"Untuk apa memikirkan perasaan lawan ? Walau Kami saudara. Saat diarena, Kita adalah musuh dan saat Kita diluar Arena, Kita adalah Saudara. Sebagai seorang kesatria, Seorang Prajurit harus bersikap profesional dan tidak diperbolehkan ternodai dengan rasa emosional mereka. Rasa emosional yang berasal dari hati, bisa menjadi sebuah kekalahan seorang prajurit. Aku memiliki perasaan tapi saat di medan tempur, Aku harus tau kapan saatnya untuk tidak memikirkan perasaanku. Bila suatu hari nanti Kita bertarung, Jangan pernah melihatku sebagai Kakakmu. Tapi, Lihatlah Aku sebagai musuhmu dan orang lain" Kata Kak Liam.


"Kalau itu, Kurasa Aku tidak bisa Kak" Kataku.


"Apa Alasanya ?" Tanya Kak Liam.


"Karena, Kak Liam adalah Kakakku. Aku tidak akan pernah bisa melihat Kak Liam sebagai orang lain apalagi musuhku. Kak Liam terlalu baik untuk menjadi seorang musuh" Kataku sambil tersenyum.


"Wushh...." Angin kencang berhembus dari arah belakang ku dan menyepoi kedepan rambut hitamku, serta menyepoi kebelakan rambut putih Kak Liam yang sedang membelalakan matanya.