
Aneria adalah sosok yang sangat di kagumi oleh semua orang.
Ia begitu tegas dan bisa diandalkan.
Aneria berlari dibelakang para Prajurit dan para Pelayan yang ikut melawan.
"BLARRRR!!!!" Api merah membara membakar Prajurit yang melawan di depan.
" Ratu ! Anda harus berlindung ! Serahkan ini pada Kami !" Tegas Prajurit di depan Aneria.
"Kalian cukup melindungi diri kalian sendiri. Aku akan melindungi diriku dan juga melindungi kalian dari belakang" Kata Aneria.
"Baik ! Kami menunggu perintah Anda !" Tegas para Prajurit.
"Cukup berhati hati saat melawan, dan Lindungi diri Kalian, serta lindungi rekan kalian. Itu saja sudah cukup. Kalian bisa menggunakan jasad jasad sebagai tameng kalian !" Ucap Aneria.
"Baik!" Tegas mereka yang mendengarkan ucapan Aneria.
"DEMI DYNANTYA !!!!" Tegas Aneria sambil mengangkat pedang besinya.
"DEMI DYNANTYA !!!!!" Sahut semua Prajurit dan Pelayan laki laki atau pun perempuan yang bisa bertarung.
...***...
Di tempat Arlo.
Arlo terus berlari mencari asal aroma darah itu.
Taring Arlo memanjang.
Ia sangat ingin meminum darah itu.
"ARLO !!!!!!!! " Aelius berteriak di dalam hutan.
Arlo mendengar suara itu dan langsung berlari keasal suara itu.
Arlo melihat Aelius yang berdiri jauh dihadapannya.
"WOSH!" Arlo langsung melesat kearah Aelius dan langsung mengigit lengan kiri Aelius hingga Aelius terjatuh.
Arlo menghisap darah Aelius.
"Arlo ! Aku butuh bantuanmu ! Anakku akan lahiran, ada musuh di Istana Dynantya. Aku sangat kekurangan pasukan" Kata Aelius yang masih dalam posisi jatuh terlentang dan pedang sihir menusuk lengan kanannya.
Arlo langsung berhenti menghisap Darah Aelius dan melihat Aelius yang wajahnya sudah penuh dengan darah.
"Aneria melahirkan ?" Arlo tidak tau tentang Scarlette.
Darah Aelius mengalir dari taring Arlo.
"Bukan ! Dia dari perempuan lain" Jawab Aelius.
"Apa ?" Arlo yang duduk diatas Aelius sangat terkejut.
"Grrrtt!" Arlo langsung mencekik Aelius.
"Kenapa Kau melakukan itu pada Aneria, Aelius !! Dia kurang apa padamu ?!" Arlo sangat marah.
Aelius terasa sesak, Ia sangat kesulitan bernapas.
"Ma.... af... kan .... Ak..." Aelius kesulitan mengeluarkan suaranya.
Arlo langsung melepaskan cekikannya.
"Kuh.... Gosh gosh...." Aelius langsung ngos ngosan.
"Tolong, bantu Aku, Anakku akan lahir, Dia dalam bahaya" Kata Aelius.
"Benar benar. Kau bahkan tidak mengkhawatirkan Istrimu yang mungkin sekarang sedang bertarung. Ini, terakhir kalinya Aku membantumu, sebagai ganti karena Kau telah memberikan darahmu untuk hari ini. Wosh!" Arlo langsung pergi dengan sihir teleportnya di Istana Dynantya.
Arlo sudah tidak peduli dengan perjanjiannya dengan Aelius.
"Arlo !" Panggil Aelius.
...***...
Beberapa menit yang lalu di tempat Aneria.
"TRASSH!!!!!" Suara tebasan yang menebas prajurit Aneria.
Aneria terus berjuang untuk membunuh semua lawan didepannya.
"Entah itu manusia atau Iblis ! Kalian harus mati !!!" Tegas Aneria yang sudah dalam keadaan penuh luka dan rambut panjang Aneria yang awalnya digelung menjadi terurai.
"Hebat sekali, Sepuluh orangku Kau bunuh hanya dengan menggunakan pedang besimu yang hampir tumpul karena terkena darah. Jadilah wanitaku,.... Aku berjanji tidak akan menyerang kerajaan ini" Kata Alan sambil tersenyum pada Aneria.
"Majulah ! Dan Lawan Aku !" Tegas Aneria yang kini berdiri sendirian disana.
Prajurit dan Pelayan Aneria telah gugur dihadapannya.
Beberapa orang milik Alan melangkahkan Kakinya.
Alan menghalangi mereka untuk berhenti.
"Dia milikku. Kalian pulanglah. Tunggu Aku di perbatasan hingga matahari terbit" Kata Alan sambil tersenyum dan melirik kebelakang.
"Baik Tuan!" Tegas sisa orang orang Alan.
"Baik, Sekarang mari kita berduel, bila Kau kalah, jadilah wanitaku dan Aku tidak akan mengambil kembali Putraku lalu, bila Kau yang menang Aku bersedia mati dihadapanmu" Kata Alan.
"Apapun itu ! Aku tetap menolaknya !" Tegas Aneria sambil menodongkan pedangnya pada Alan.
Alan melihat Kaki Aneria yang sudah bergetar karena sudah hampir kehabisan tenaga dan Aneria juga sudah kelelahan.
Alan hanya tersenyum.
Ia sangat yakin kalau Ia akan menang.
"Drap ! Jump! Drash !" Aneria mulai melesatkan serangannya pada Alan.
Alan menghindari semua serangan Aneria.
"Demi Dynantia!!!!!" Tegas Batin Aneria sambil menebaskan pedangnya.
Alan mempermainkan Aneria.
"Ayo belajar sihir, Kau pasti akan sangat hebat bila digabung dengan Ilmu berpedangmu ini. Luar biasa" Kata Alan sambil menarik dan menahan tangan kanan Aneria yang memegang pedang.
Aneria menatap mata merah Alan yang menatapnya.
Dera, Itu yang dilihat oleh Aneria dari mata Alan.
Alan menarik pedang besi Aneria dan membuangnya jauh jauh.
Aneria yang tangannya dalam keadaan dipegang oleh Alan langsung berbalik menarik tangan Alan lalu menyikut perut Alan dengan keras menggunakan lututnya.
Alan tidak merasakan sakit sedikit pun dari sikutan dan tendangan Aneria.
Yang Ia rasakan hanya sebuah gelitikan.
Mata Scarlette berubah menjadi warna merah.
Ia merasakan Aura milik Ayahnya Dera.
Dengan cepat, Scarlette langsung berdiri dan berjalan perlahan melihat ke jendela yang sedikit terbuka.
Alan merasakan Aura milik Scarlette.
Ia langsung melihat Kearah jendela.
Keduanya saling bertukar pandang.
Alan melihat Scarlette yang mengendong bayi.
"DEGH!" Jantung Scarlette langsung berdegup dengan kencang.
Ia langsung duduk di lantai sangking terkejutnya.
"Hem ? Bayi siapa yang Dia pegang ?" Tanya Alan pada Aneria.
Aneria membelalakan matanya.
Scarlette memasukan sisa energi sihirnya pada Bayinya sebagai tameng bayinya.
Alan langsung mencekik Aneria hingga kaki Aneria terangkat dari tanah.
Aneria yang kesulitan bernapas memegang tangan alan yang mencekiknya agar Ia terlepas dari cekikan Alan.
Alan melihat wajah Aneria yang memucat dan langsung melepaskan cekikannya.
"Bruk! Khukh ! khukh!" Aneria langsung terjatuh dan terbatuk batuk.
"Tetaplah disini. Sedikit saja Kau bergerak atau menghalangi jalanku, Kau akan mati" Ucap Alan sambil berjalan kearah bawah jendela tempat Scarlette berada.
"Wush ! Tap!" Alan melompat kearah jendela itu.
Tubuh Alan yang ramping terlihat sangat ringan.
Kaki Aneria terasa lemas.
Sesekali Aneria terjatuh saat melangkah di anak tangga untuk menuju kamar bersalin Scarlette.
Alan mendekat kearah Scarlette yang ketakutan sambil mengendong bayinya yang baru lahir itu.
Scarlette mundur perlahan.
Alan terus maju ke Scarlette yang mundur.
"Bayi siapa itu ?" Tanya Alan sambil melangkahkan kakinya.
Punggung Scarlette menyentuh dinding.
Alan yang tak berekspresi memegang kedua pipi Scarlette dengan tangan kanannya yang berkuku hitam.
"Jawab pertanyaanku" Tanya perlahan Scarlette.
"Bayiku" Jawab Scarlette.
"Berikan padaku" Kata Alan.
"Tidak ! Kau akan menyakitinya !" Tegas Scarlette yang badannya sudah bergetaran.
"Aku punya urusan denganmu. Tidak dengan bayi ini" Kata Alan sambil mengambil bayi itu.
"Siapa Ayahnya ?" Tanya Alan sambil melihat bayi itu yang matanya berwarna biru.
Scarlette tidak menjawabnya.
"Jangan menjadi perempuan murahan. Kau itu milikku. Dimana Putraku ? Dan siapa nama putraku ?" Tanya Alan.
Scarlette membelalakan matanya.
"Jangan ambil Putraku" Kata Scarlette.
"Aku membutuhkan Putraku itu. Paling tidak beritahu siapa nama anakku" Kata Alan sambil menaru bayi itu di kasur.
Alan duduk di samping bayi itu sambil mrmegang kepala bayi itu.
"Apa yang Kau lakukan ?" Tanya Scarlette sambil berjalan perlahan kearah Alan karena takut bayinya diapa apakan oleh Alan.
"Aku hanya ingin melindunginnya. Sekarang, Siapa nama putraku ?" Tanya Alan.
"Dera" Jawabnya.
"OEEKKKK" Bayi itu menanggis.
Tangan Alan mengeluarkan cahaya berwarna merah yang memasuki tubuh bayi itu.
Alan membelalakan matanya melihat cahaya merah yang keluar dari tangannya masuk kedalam bayi itu.
"Dia, cocok dengan sihirku ?" Batin Alan.
"APA YANG KAU LAKUKAN ?!" Teriak Scarlette sambil mengangkat bayinya yang menanggis.
"Apa Dia laki laki ?" Tanya Alan.
"Iya, Lalu kenapa ?!" Tanya Scarlette.
"Berikan salah satu putramu padaku" Kata Alan sambil berdiri.
Scarlette sangat menolaknya.
"Aku bisa merawat kedua anakku dengan baik !" Tegas Scarlette.
"Berikan saja bayi itu padaku. Saat usianya 17 tahun, Aku berjanji akan mengembalikannya padamu" Kata Alan.
"Untuk apa ?!" Tanya tegas Scarlette.
"Mewariskan sihirku. Aku tidak ingin semua yang kupelajari menghilang begitu saja" Jawab jujur Alan.
"BRAAAKKKKKK !!!!!" Aneria langsung membuka pintu kamar Scarlette dengan keras.
Alan yang sedang berbicara dengan Scarlette sungguh tidak percaya kalau Aneria setangguh itu.
Alan langsung mengambil bayi itu dari tangan Scarlette yang terdiam sejenak.
Scarlette dan Aneria sangat terkejut.
Alan mundur kebelakang sambil memegang dada bayi itu.
"Jangan macam macam dengan Bayi itu mata merah !!!!!" Tegas Aneria sambil menodongkan pedang besi yang Ia pegang kepada Alan.
"Tidak ada putraku, Bayi ini pun bisa kujadikan pewarisku" Kata Alan.
Alan memasukkan sihirnya pada Bayi itu.
"Oeeek!!!!" Bayi itu menanggis dengan kecang.
Aneria dan Scarlette melihat Alan memasukan cahaya merah kedalam tubuh bayi itu.
"Bayiku!!!!" Scarlette langsung terjatuh dan menanggis mendengar tangisan kencang putranya yang baru lahir itu.
"Lepaskan Dia ! Sialan!!!!" Teriak Aneria sambil berlari kearah Alan yang yang masih memasukkan energi sihirnya pada bayi itu.
Alan melepaskan tangannya yang berada di dada bayi itu dan mengarahkan tangan kanannya pada Aneria yang berancang menyerangnya.
"Angin, Hembusan Api. Hempaskan" Ucap Alan.
"Wosh!!! BRUAKKKK!!!!" Api berwarna merah terang yang tidak terasa panas di ikuti dengan angin yang kencang langsung menghempaskan Aneria yang berancang menyerang dan Scarlette hingga keluar dari kamar dan membuat Scarlette jatuh dari lantai Dua.
Aneria hanya terhantam dinding dibelakangnya.
Baju Aneria mulai robek.
Lengan Aneria mengeluarkan darah karena tertusuk pedangnya sendiri.
"Aku tidak bisa menyalurkan seluruh energi sihirku pada bayi ini. Dia akan mati bila kelebihan sihirku melebihi kapasitas tubuhnya. Tidak masalah, Dia anak dari laki laki tadi kan. Sekilas wajahnya mirip dengan Pria itu. Bayi ini keturunan Raja, Dia pasti memiliki kapasitas mana³ yang lebih besar dari bayi biasanya" Batin Alan sambil memasukkan sihirnya.
Alan melihat mata bayi itu yang berubah menjadi merah dan mengembalikannya ke asal warna matanya yang berwarna biru.
Aneria berusaha berdiri.
"Turunkan bayi itu....." Aneria sangat kesulitan mengeluarkan suaranya karena rasa sesak dan sakit di dadanya.
"Tentu" Kata Alan sambil melangkahkan kakinya dan menaruh bayi itu di atas kasur.
Alan berhasil memasukkan 75 % sihirnya kedalam tubuh bayi itu.
Bayi itu masih menanggis dengan kencang.
Aneria tersadar dan merasakan aura aneh dari bayi itu.
"Apa yang Kau lakukan padanya ?!" Tanya Aneria.
Alan mundur lima langkah.
"Meracuninya" Jawab Alan sambil mengeluarkan Lima pedang sihir yang berukuran sama dari depan tubuhnya.
Aneria percaya begitu saja.
Alan mengarahkan dua pedang sihir yang melayang didepannya kearah bayi itu.
"Jangan lakukan itu" Kata Aneria.
Alan hanya menguji kekuatan sihirnya yang baru ia berikan pada bayi itu.
Bila berhasil, pedang pedang itu akan balik menusuk Alan.
"Kalau begitu, selamatkan bayi ini" Kata Alan sambil melepaskan pedang sihirnya.
Aneria yang sudah berdiri langsung berlari didepan bayi itu.
"Jleb ! Jleb!" Dua Pedang sihir itu secara bersamaan menembus dada dan perut Aneria yang melindungi bayi itu.
Alan membelalakan matanya karena tidak menyangka Aneria akan bertindak seperti itu demi melindungi bayi yang bukan dari rahimnya.
"Khuk!" Aneria langsung batuk darah.
Darah Aneria mengenai wajah dan selimut putih bayi itu.
Aneria langsung mengengam tangan kanan bayi itu yang mengenakan gelang batu pemberian Arlo.
"LIAMARLO!!!!!" Teriak Aneria memanggil Arlo.
Bayi itu berhenti menanggis merasakan tangan Aneria yang memegang tanganya kanannya yang mengenakan gelang pemberian Arlo.
...***...
Arlo yang sedang bertarung dengan sisa orang orang milik Alan yang tak sengaja berpaspasan di depan gerbang Istana yang hancur langsung mendengar teriakan Aneria.
³ : Energi sihir.