
"BLINK !" Tiba tiba Liam langsung membuka matanya.
Arlo, Gevand, dan Laura yang berada di dekatnya langsung terkejut.
"Laura !"
Laura membelalakan matanya.
"Syuuut !" Liam yang terbangun itu tiba tiba berada dibelakang Laura dan langsung memegang leher Laura serta mengarahkan pedang sihirnga yang berwarna merah itu di leher Laura.
...***...
Darah terus mengalir hingga menetes di lantai.
Arlo tau, membunuh Liam dengan cara itu bukanlah cara terbaik untuk membunuh seseorang yang bisa sihir.
Di tambah lagi, sihir yang ada di dalam diri Liam adalah jenis sihir warisan.
"Harusnya, Aku memengal kepalanya saja dari awal" Kata Arlo sambil mengeluarkan pedang sihirnya yang berwarna biru.
"Arlo, sosok yang dimitoskan menjaga hutan negeri Ardan berada dihadapanku ? Lama tak berjumpa denganmu" Ucap Liam.
Gevand yang berada di samping Laura, baru paham kenapa Liam harus di bunuh.
Gevand menarik pedang besinya dan mengarahkannya pada Leher Liam dari samping.
"Jangan menganggu keluarga ini lagi. Keluarlah dari tubuh Liam" Kata Arlo.
Dia tersenyum.
"Kemenanganku berada di depan mataku. Tanpa sadar Kau telah membantuku" Kata Liam.
Arlo berfikir harus berbuat apa.
Memengal kepala Liam memang cara yang terbaik untuk sekarang.
Dia pasti kesulitan untuk bergerak karena lubang ditubuhnya yang parah itu.
Sayangnya, Liam menggunakan Laura sebagai sanderanya.
Arlo tidak bisa sembarangan mengeluarkan energi sihirnya.
Di sekitar Arlo, ada orang yang tidak bisa menahan energi sihir.
Ia melihat Gevand supaya Gevand paham dengan maksudnya.
Archie yang berada jauh dari mereka tau dengan apa yang harus Ia lakukan.
Ia menyuruh gagaknya untuk menghalangi pandangan Liam agar Arlo bisa menyerangnya.
Sayangnya, Dia yang berada di dalam tubuh Liam bukan orang yang baru belajar Sihir.
"WUSHHTTSS!!!!! JLEB!" Empat Pedang sihir keluar dari punggung Liam dan langsung melesat dengan cepat kearah gagak itu dan Archie.
Gagak itu, langsung tertusuk dan mati ditempat.
Archie yang berada di belakangnya juga terkena imbasnya.
Lengan Archie tertusuk oleh pedang sihir itu.
"Kau, Bawa yang lain keluar dari sini !" Tegas Arlo pada Gevand.
"Ya... pergi pergilah. Aku tidak punya urusan dengan bocah bocah seperti Kalian" Kata Liam.
Laura memegang tangan Liam yang memegang lehernya.
"Jangan banyak bergerak bila Kau tak mau mati sepert...." Dia melihat mayat Dera di depannya yang sudah dalam keadaan terpenggal.
Dia membelalakan matanya.
"Apa Dia putraku ?" Tanya Sosok yang berada di dalam tubuh Liam.
Gevand membawa Dua tim penyidik itu pergi dari sana bersama saudaranya.
Arlo melihat cela untuk menyerang sosok yang mengendalikan jasad Liam itu.
"WOSH!!" Arlo langsung berpindah tempat tepat dibelakang Liam dan berniat untuk menebaskan pedangnya.
Sosok yang mengendalikan Liam melihat pergerakan Arlo.
Dengan cepat, Sosok itu memutar posisinya dengan Laura.
Pedang sihir milik Arlo telah di ayunkan.
Arlo langsung menghentikan ayunan pedangnya secara dadakan dan langsung melompat mundur.
"Kenapa ? Kenapa tidak menebaskan pedangmu ?" Tanya sosok itu.
Arlo berniat untuk mengunakan sihir jarak jauhnya seperti dulu, saat membunuh Alan dengan meledakkan kepalanya.
Tapi, Ia takut mengenai Laura.
"Laura, Apa Kau bersedia mati ?" Tanya Arlo.
"DEGH!" Suara jantung Laura mendengar pertanyaan Arlo.
Laura masih ingin untuk hidup.
"PFFT... bahkan sosok yang sudah lama bisa sihir pun kewalahan untuk menyerangku ?" Tanya Alan yang ada pada diri Liam.
"Aku tidak kewalahan menyerangmu. Kau itu hanya licik" Kata Arlo sambil menunjuk Alan dengan pedangnya.
Laura masih tak siap untuk mati.
Dia ingin terus berlalri dan meninggalkan diri daei tempat ini.
"Laura ! Kutanya lagi ! Apa Kau bersedia untuk mati ? Demi Dynantya" Kata Arlo.
Air mata Laura lagi lagi, menetes dari matanya.
Mulut Laura di bungkam oleh sosok yang mengendalikan tubuh Liam.
Ia mengangguk sambil melihat Arlo.
"Kalau begitu, Wosh!" Arlo langsung melesat dengan cepat kearah Liam.
"Cih! Bruuuk!" Sosok yang mengendalikan Liam langsung mendorong Laura ke arah Arlo.
"EH ?...." Laura menutup matanya karena takut akan mati.
Arlo sudah menduga kalau hal ini akan terjadi.
Arlo langsung menarik tangan Laura dan mengendong Laura.
"TRANGGGGGG!!!!!!" Pedang sihir milik mereka berdua beradu.
Laura membuka matanya dan terkejut kalau Arlo telah mengendongnya.
"Splart!' Darah dari lubang di perut Liam terus berceceran di lantai.
Tubuh Liam yang digunakan oleh Alan tidak bisa digerakan dengan leluasa.
Kesempatan Alan untuk menang sangatlah kecil.
Alan mundur kebelakang beberapa langkah.
"Sihir Gravitasi......" Ucap Alan untuk memperbesar kemungkinan agar dirinya menang.
"Guncangan tanah!" Tegas Alan dengan lantang .
"KREEEEK" Suara dari dalam tanah.
Arlo merasakan tanah itu mulai bergetar.
Guncangan hebat langsung terasa setelah lima detik Arlo mendengar suara itu.
langit langit Istana mulai runtuh.
Arlo tidak bisa membiarkan tubuh Liam di manfaatkan oleh Alan begitu saja.
Lagi lagi, Arlo langsung melesat kearah Liam untuk menebaskan kepala Liam.
Laura memeluk erat Arlo agar tidak terjatuh dari gendongannya.
"Sihir pemotong" Ucap Alan sambil tersenyum dan mengaktifkan lingkaran sihir berwarna merah di hadapan Arlo.
Arlo sangat terkejut dan langsung-
"WOSH!!!! BRUAKKKK!!!!" Arlo langsung berteleport kerumahnya dan membalik tubuhnya agar Laura tidak terhantam tembok.
Punggung Arlo terhantam tembok rumahnya dengan cukup keras sambil memegangi kepala Laura agar tidak terhantuk.
"Sial ! Orang itu benar benar licik. Benari beraninya, Dia memanfaatkan tubuh Liam" Kata Arlo yang masih dalam keadaan duduk.
"Hic ! hic" Laura menanggis di dalam pelukan Arlo.
Arlo mengusap rambut Laura.
"Tidak apa apa, Aku akan berusaha untuk membebaskan tubuh Liam" Kata Arlo.
"harusnya, dari awal Aku bersembunyi saja dan tidak keluar dari tempat itu. Aku hanya menjadi beban Kalian" Kata Laura.
Arlo memahaminya.
"Tidak masalah. Lain kali, tolong jangan di ulangi lagi" Kata Arlo.
Laura berpindah duduk di depan Arlo.
"Apa yang harus ku lakukan ? Keadaan Kerajaan Dynantya sangat buruk. Kerajaan Dynantya adalah pusat dari segala hukum yang ada di Negri ini. Apa yang harus di lakukan ?" Tanya Laura.
Arlo tersenyum sambil berdiri.
"Kau masih punya Kakak yang menjadi rajakan ?" Tanya Arlo.
Laura mengangguk sambil melihat Arlo.
"Kita minta bantuan dirinya untuk memberitahu semua Kerajaan yang telah menjalin kerja sama dengan Aelius. Kakakmu, pasti akan membantumu" Kata Arlo sambil memegang kepala Laura.
"Lalu, bagaimana dengan Pangeran Gevand dan Pangeran yang lainnya ?" Tanya Laura.
"Mereka sama sama bisa berpedang. Mereka pasti bisa melindungi dirinya sendiri untuk sementara waktu. Aku juga yakin, Para Pangeran itu mungkin hari ini telah mengevakuasi para warga di sekitarnya. Apa Kau bisa mendatangi Kakakmu sendirian dan Aku membantu pangeran pangeran itu mengevakuasi warga ?" Tanya Arlo.
"Baik, Aku akan mengatakannya langsung pada Kak Kyle" Kata Laura sambil berdiri.
"Jangan malam ini. Kau istirahatlah dulu. Kakimu sudah bergetar begitu" Kata Arlo sambil memegang bahu Laura.
"Tapi, lebih cepatkan lebih baik" Kata Laura.
"Pikiranmu masih belum tenang Laura. Gunakan untuk tidur lebih dulu. Aku akan mencari Pangeran pangeran itu dan melihat Keadaan Liam. Siapa tau, orang yang mengendalikannya sedang dalam kondisi yang lemah. Dia sudah terluka parah, Dia tidak akan keluar jauh dari istana" Kata Arlo.
Laura harus bertindak dewasa, Ia tidak boleh egois.
"Tentu, Aku akan beristirahat dulu. Tolong berhati hatilah dan bebaskan Kak Liam" Kata Laura.
Arlo mengangguk kemudian menghilang.
Laura berjalan dan duduk di anak tangga.
Laura menanggis disana.
Ia benar benar merindukan Liam yang Ia anggap sebagai kakaknya itu.
"Mana janjimu yang akan membawaku berkeliling di kerajaan Dynantya menggunakan Kudamu Kak ?" Tanya Laura sambil mengengam gelang milik Arlo pemberian Liam.
"Harusnya, Aku percaya kepadamu dari awal. Padahal, Kau tidak pernah berbohong padaku. Kau selalu ada saat Aku membutuhkanmu. Tapi, kenapa Aku bersikap begini di saat saat terakhirmu Kak ? Aku bahkan.... berkata kalau Aku membencimu. Aku tidak bisa membencimu Kak. Maafkan Aku Kak. Aku adik yang sangat bodoh" Batin Laura sambil meringkuk dan menanggis di anak tangga itu.
Ya, semuanya memang sudah terjadi.
Kematian memang tidak bisa di hindari.
Sejak awal, Liam hanya ingin membuat Laura bahagia, Liam juga paham kalau Laura tidak akan pernah menerima cinta yang Ia berikan karena, Laura melihat Liam sebagai Kakaknya bukan sebagai orang asing.