LIAMARLO

LIAMARLO
Kebenaran tentang Liam dan Sosok itu bag.3



"Eh!" Spontan Liam langsung menutupi dadanya yang tak berkain.


Wajah Liam langsung semu memerah dan mundur kebelakang beberapa langkah.


"Lagi lagi jangan memeluk orang lain saat baru bangun tidur. Cklek!" Kata Liam sambil masuk kekamar mandi dan menutup pintunya.


Laura terkekeh kecil.


"Ternyata, Kak Liam masih saja mudah untuk dibohongi " Batin Laura.


...***...


Laura selama ini memang tidak tau dengan apa yang dialami oleh Liam.


Sosok itu adalah sosok asli dari diri Liam yang telah terkurung didalam dirinya sendiri selama 13 tahun.


Liam sering bertemu dengan sosok itu sejak meninggalnya Ayah angkatnya.


Yakni, Raja Nelzefvia.


Hal itu terjadi, karena Liam selalu menyalahkan dirinya sendiri atas meninggalnya Ayahnya itu.


Lucu sekali, Sosok yang sangat diandalkan oleh semua keluarganya termasuk Kyle sendiri yang mengandalkan Liam, ternyata mereka tidak tau akan hal ini.


Liam menyembunyikan rasa sakitnya sendiri, Ia tak berani mengatakan semuanya pada Laura ataupun pada Kakeknya yang sangat menyayanginya.


Hingga terjadi sebuah tragedi yang harusnya tidak pernah terjadi.


Malam pengangkatan Pangeran Gevand menjadi Putra Mahkota Dynantya.


Ditempat Dera,


Dera, berhasil melepaskan diri setelah ia berusaha keras untuk membuka ikatan yang mengingkat kedua tangan dan kedua kakinya.


"BRUK!" Dera terjatuh karena kakinya sangat lemas.


"Ayolah, berdiri! Sampai kapan mau seperti ini!!" Tegas Dera sambil berusaha mengangkat tubuhnya yang sudah sangat lemas dan lelah.


Hal itu terjadi karena Dera belum makan atau pun minum sejak sosok itu menculiknya dan membawanya kepadalaman hutan.


Ditempat Arlo sendiri, Ia tak pernah terlihat karena terjebak disebuah lingkaran sihir yang mengikatnya.


"Sialan! Tidak kusangka ada orang lain yang bisa menggunakan sihir tingkat tinggi seperti ini! Orang itu, punya rencana buruk pada keluarga Dynantya. Semakin Aku mengeluarkan sihirku, Lingkaran ini ! Menyerap energiku" Kata Arlo yang mulai kesal karena tiga malam terjebak digubuk itu.


Ceritanya, dua hari yang lalu setelah Arlo mendatangi Laura, Ia melihat sosok yang Ia anggap sebagai orang yang menirunya dan Arlo mulai mengikuti orang itu dengan mengubah wujudnya menyerupai Raja Dynantya.


Dan tanpa Ia sadari, Ia terjebak dalam jebakan yang telah disiapkan oleh sosok yang Ia anggap sebagai penirunya itu.


"Gadis itu, akan benar benar mati ditanganku" Kata Arlo.


Selama tiga malam Arlo terus mengaliri energi sihir pada Lingkaran sihir itu.


Menurut Arlo, setiap sihir pasti memiliki kelemahan.


"Lingkaran sihir ini berfungsi untuk menyerap energi sihir. Pasti kelemahannya juga adalah energi sihir itu sendiri. Semakin banyak menyedot energi sihir maka, lingkaran sihir ini akan meledak akibat kelebihan kapasitas" Batin Arlo dua hari yang lalu.


Kapasitas energi sihir milik Arlo memang tak terhingga tapi, Ia juga merasakan kelelahan dan otot ototnya terasa sakit akibat dari mengeluarkan energi sihir secara terus menerus tanpa berhenti.


"Aku juga belum menyatakan cintaku lagi pada Laura! Sialan! Kapan ini selesainya!!!!!" Teriak Arlo.


"Kretek!" Lingkaran sihir berwarna kuning emas itu, retak.


"Bagus!" Arlo sangat senang karena Lingkaran sihir itu mulai retak.


Ditempat Laura.


"Putri, Kami sangat merindukan Anda!!!" Ucap dua sahabat Laura yang ternyata juga diundang khusus oleh Raja Dynantya atas permintaan Liam.


"Aku juga merindukan Kalian" Kata Laura yang dipeluk oleh kedua sahabatnya, Veronicca dan Scarlette.


"Putri, Gaun Anda sangat cantik warnanya cocok dengan warna bola mata Anda yang biru dan rambut Anda yang berwarna hitam" Kata Scarlette yang memuji Laura.


"Terima kasih. Gaun Scarlette juga bagus warna merah terlihat cocok dengan warna rambut Scarlette yang pirang" Balas Laura.


"Terima kasih Putri. Saya sangat senang sekali memakainya. Saya sudah menyiapkan ini sejak lama untuk acara yang sangat khusus" Kata Scarlette sambil menutup wajahnya dengan kipas hitam yang Ia pengang.


"Anu Putri, Pangeran Liam mana ?" Tanya Veronicca.


"Ah, Pangeran Liam ? Sebentar Aku panggil dulu ya, sepertinya Dia masih dikamarnya" Kata Laura yang melihat tidak ada Liam dari tadi.


Laura mengangguk dan pergi kekamarnya.


"Kak Liam itu, dandannya lebih lama dari cewek saja. Apa Dia sedang memakan Kue cokelat ?" Batin Laura sambil menaiki anak tangga yang mengarah kekamarnya.


Laura telah sampai dikamarnya dan langsung membuka pintu kamarnya.


Ia melihat Liam yang sedang duduk diambang jendela dan bagian atas tubuh Liam tertutup oleh gorden jendela yang terkena silir angin malam.


"Kak, Apa Kakak lupa sekarang sudah waktunya untuk turun ?" Tanya Laura sambil memegang bahu Liam.


"Hei Laura, Apa Aku ini jahat ?" Tanya Liam yang masih diam ditempat sambil menatap langit malam yang mendung.


"Eh ? Siapa yang mengatakan Kak Liam jahat ?" Tanya Laura sambil meringgis dibelakang Liam dan membetulkan kipasnya yang tersangkut direnda pinggang gaunnya.


"Apa Kau masih berada didekatku karena Kau mengasihani ku ?" Tanya Liam.


"Ckck! Kakak ngomongnya kok tambah nggak jelas sih ? Syuuut!" Tanya Laura sambil membuka gordennya.


"DEGH!!" Laura langsung membelalakan matanya melihat rambut Liam yang berubah menjadi hitam.


Liam melihat kearah Laura.


Matanya masih tetap sama berwarna biru dengan pupil merah.


"Laura, Katakan padaku kalau Kau membenciku!" Tegas Liam yang dalam keadaan matanya menggembung air mata.


Liam melihat ekspresi terkejut Laura.


"Apa Kau tidak menyukaiku ? Tes" Tanya Liam sambil menunduk dan meneteskan air matanya.


"Tep....Kak, tenanglah. Aku tidak membenci Kakak. Aku menyukai dan menyayangi Kakak" Kata Laura sambil memegang kedua pipi Liam.


"Apa sebenarnya yang terjadi padaku ?" Tanya Liam.


"Kenapa Aku begini ?" Lanjutnya.


Laura mengusap air mata Liam.


"Apa Kakak sudah makan ?" Tanya Laura.


Laura juga hampir menanggis mendengar pertanyaan Liam.


Liam tersenyum.


"Aku sudah makan dan sudah berak" Jawab Liam.


"Grep!" Laura memeluk Liam.


"Kak, kalau sedih menanggis saja. Aku ada disini. Disamping Kak Liam" Kata Laura.


Liam meneteskan air matanya sambil menutup matanya.


Senyuman Liam langsung berubah menjadi seringaian.


"Grep!" Ia memeluk balik Laura.


"Kau tau, saat Kau memelukku, Aku merasa seperti bisa menggapai cahaya yang ingin kuraih diantara kegelapan" Ucapnya sambil memeluk erat Laura.


Liam masih menutup matanya.


Laura melepas pelukannya.


"Ayo turun Kak, Kakak sudah ditunggu oleh teman temanku dibawah. Aku sangat berterima kasih pada Kak Liam karena telah memaksa Kakek untuk mengundang Keluarganya Veronicca dan Keluarganya Scarlette walau keluarganya Scarlette tidak bisa datang karena ada acara lain" Kata Laura sambil mengusap Air matanya dan meringgis menunjukkan gigi giginya yang tersusun rapi.


"Tentu" Jawab Liam sambil membuka matanya.


Laura melihat wajah Liam.


"Degh!" Lagi lagi, Laura terkejut.


Mata Liam berubah menjadi merah.


"Grep!" Liam menarik pinggang Laura.


"Jadi Putri, mau berdansa dengaku ?" Tanya Liam sambil menyeringai.