
Berlatar disebuah Kerajaan yang hampir setengah bagiannya dikelilingi oleh Hutan misterius di sebuah Negri bernama Ardan, Tahun 2043.
Namaku Nelzefvia Laura, Seorang Putri dari Raja Nelzefvia dan Aku tidak percaya dengan mitos itu.
Di ceritakan, Hutan sihir yang berada dibatas utara Kerajaan Nelzefvia dijaga oleh seorang penyihir tua yang sudah hidup berabad abad dengan mengisap aura kehidupan orang yang memasuki hutan itu.
Mitos itu sudah turun temurun di Kerajaanku ini bahkan, Aku selalu diceritakan kisah itu oleh Ibuku sebelum Aku tertidur saat Aku masih kecil.
Malam ini usiaku mengijak 17 tahun.
"Aku berharap.... Aku dapat Pangeran tampan yang paling tertampan dinegri ini"
Bagiku, Pria tampan adalah segalanya. Sebab, saat masih kecil pasti tampan, kemudian saat Remaja tambah tampan, saat Dewasa tambah tampan parah! Dan saat mati pun akan mati dengan tampan.
Ya.... walau nanti saat mati hanya membawa selembar kain saja.
"Hehehehe....."
"Tok tok!" Suara ketukan pintu membangunkanku dari lamunanku itu.
Imajinasi ku memanglah liar.
"Tuan Putri, Sudah waktunya untuk Anda turun " Suara salah seorang Prajurit di luar.
"Baik. Saya turun " Ucapku sambil keluar dari kamarku.
Saat Aku masih kecil, Aku pernah bertanya pada Ibuku
Kenapa Kakek tua yang berada dihutan itu menghisap aura kehidupan orang lain ?
Ibuku menjawab
"Karena Dia hanya akan meminum darah orang yang hanya ia cintai saja. Tapi, saat orang yang Ia cintai membalas cintanya juga. Itu akan menjadi akhir dari Kehidupan Penyihir hutan itu yang terkutuk"
"Dia adalah seorang lelaki yang dulunya dikenal sebagai lelaki yang sangat Sombong atas kelebihan yang ia miliki, Dia suka memainkan wanita yang melintas. Dia sangatlah tampan"
Lalu, Aku pernah bertanya
Siapa Namanya dan Apa dia masih hidup ?
Ibuku menjawab
"Namanya Arlo. Dia ahli sihir yang sangat berjaya dizamannya. Siapa tau dia masih hidup ?. Tapi Dia telah dikutuk oleh Ibu Kandungnya untuk terus hidup hingga menyesali semua kesalahannya"
Ya.... Dulu Aku sangat percaya dengan Mitos itu.
Namanya aja masih bocah, apapun yang dikatakan orang pasti akan langsung percaya.
Tapi, kasihan jugan dengan kehidupan Arlo itu.
Ia harus menerima cinta bertepuk sebelah tangannya itu semasa hidupnya.
"PUTRI NElZEFVIA LAURA TELAH DATANG"
Aku turun dari anak tangga satu persatu dengan anggun.
Renda gaun merah mudaku yang panjang menentuh anak tangga itu.
Rambut hitamku yang terurai rapi mengembang saat Aku menuruni tangga.
Aku melihat Ayahku yang tersenyum padaku.
"Mari Saya bantu Princes ~" Kata Kakak laki laki ku yang bernada dan memberikan tangan kanannya padaku.
"Idih! tumben baik ?!" Batinku sambil menerima tangan Kakak keduaku itu.
Dia Nelzefvia Liam, Kakak kedua ku yang hanya berjarak dua tahun denganku, Dia suka usil padaku tapi terkadang Dia sangat perhatian padaku.
"Hari ini.... make up mu menor banget Ura" Lirih Kak Liam sambil tersenyum tanpa melihatku.
"Sisialan ini... mulutnya kenapa enteng banget" Batin ku sambil melihat wajah kakakku itu yang sedikit merona.
"Kak.... Hari ini Rambut kakak yang berwarna putih itu....keliatan norak sekali...."
Niatku mau bilang gitu, Tapi... Dia TAMPAN!!!!!
Bulu matanya yang lentik itu.... membuatku iri sekali saat melihat matanya.
Bibirnya yang tipis itu.... Ugh! Kenapa pedas sekali setiap candaannya!
Aku tidak tau dia ngikut siapa.
Padahal diantara Ibu dan Ayah, Dia tidak ada miripnya sama sekali.
"Hahaha...... Tapi tadi kata Ayah, Aku mirip Ibu loh Kak" Lirihku.
"Hemm..... Masih cantikkan Ibu" Lirih Kakakku itu.
Ibuku, meninggal Dua tahun yang lalu atau Empat hari sebelum Kak Liam berusia 17 tahun.
Diantara Kami berempat, Kak Liamlah yang paling bersedih atas meninggalnya Ibu. Sebab, Ia tak sempat bertemu dengan Ibu selama Lima tahun karena di asramakan oleh Ayah.
Beliau meninggal karena sakit yang Ia derita selama Empat tahun tanpa sepengetahuan Kak Liam.
Aku masih ingat dengan wajah Kak Liam yang sangat murung saat itu bahkan, Kak Liam hampir seminggu tidak keluar dari kamarnya.
"Siapa yang Akan Kau ajak berdansa, Putri ?" Tanya Kak Liam.
"Tentu saja Pangeran Tampan" Lirihku yang sudah sampai diujung anak tangga.
Kak Liam tersenyum padaku lalu, pergi begitu saja.
Acara pun dimulai
"Laura.... Apa yang ingin Kau minta dari Ku ?" Tanya seorang pria berambut hitam dengan mata biru yang mendatang i ku.
Dia Kak Kyle, Kakak pertamaku Dia baik tapi, Aku tidak terlalu dekat dengannya tak seperti Aku dengan Kak Liam.
Kami berjarak Empat tahun.
"Saya.... Ingin Putra Mahkota berbaikan dengan Pangeran Liam" Jawabku sambil tersenyum padanya.
Kak Kyle langsung mengalihkan pandangannya.
"Ku usahakan" Jawabnya.
Mereka berdua bertengkar sejak meninggalnya Ibu.
Kak Liam sangat marah pada Ayah dan Kak Kyle karena Mereka tidak memberitahu tentang keadaan Ibu.
Anehnya, Dia tidak marah padaku.
Bodohnya Dia, Dia yang sangat bersedih sempat menenangkanku yang menanggis.
Aku melihat Kak Liam yang memperhatikanku dari kejauhan.
Dia melambaikan tangan padaku.
"Haha..... Aku sangat kesal padanya tapi, Aku juga menyayangi nya"
Acara utama telah dimulai
Ruangan yang awalnya ramai menjadi sunyi setelah mendengar suara kentingan gelas milik Ayah.
"Hari ini, Putriku akan Ku Jodohkan dengan Putra Mahkota Kerajaan Alter" Seru Ayahku.
"Apa ?!" Aku sangat terkejut dan langsung melihat ke Kak Liam.
"Kami telah merencanakan ini sejak lama. Kalian berdua sangatlah cocok" Lanjut Ayah.
Putra Mahkota Alter mendatangiku
Dia tampan, tapi.... bukan tipe ku
"Mau berdansa dengan Saya Putri ?" Tanyanya sambil mengulurkan tangannya padaku.
Kak Liam masih melihati ku.
Aku tak berani melihat Kak Liam.
Kak Liam bertingkah seperti itu karena, Kak Liam sempat melarangku untuk mendekati Putra Mahkota Alter yang sering Kak Liam lihat keluar masuk dari tempat yang tak layak untuk seorang bangsawan yang terpandang.
Aku tak ingin Ayah malu
Aku menerima uluran tangan Putra Mahkota Alter yang mengajakku untuk berdansa.
"Prokkkk prokkkkk" Suara tepukan tangan terdengar.
Lantunan musik mulai dibunyikan
Aku mulai berdansa dengan Putra Mahkota Alter dan diikuti oleh tamu yang lainnya.
Aku melihat Kak Liam yang mengobrol dengan Ayah.
Dari raut wajah Ayah, Ia nampak tak senang.
"Putri.... tempo Anda terlalu cepat" Lirih Putra Mahkota Alter yang memandangiku terus.
"Maafkan Saya...." Jawab ku dan fokus pada berdansa.
Putra Mahkota Alter menurunkan tangannya yang pada awalnya memegang pinganggku.
Aku sangat tak nyaman sepanjang berdansa.
Setelah berdansa, Aku tak melihat Kak Liam lagi.
Acara hari ini berakhir setelah pukul 22.30
Aku mencari Kak Liam yang biasanya berada dimakam Ibu.
Aku tak melihat Kak Liam dimana pun.
Termasuk diloteng kamarku.
"Ya.... mungkin besok Kak Liam akan kembali"
Aku langsung kembali kekamarku dan langsung tidur setelah mandi.
...***...
"Sruukkkk....... Cup..."
Aku merasakan keningku yang diusap halus lalu dikecup oleh sesuatu.
Nafas hangat kurasakan dipipiku.
"Laura..... Apa Kau mencintai Alter ?" Suara laki laki yang tak asing dan sangat halus ditelingaku.
"Blink!" Aku langsung membelalakan mataku yang sangat perih itu.
Sosok buram terlihat ditepat didepan wajahku
Dia kembali berdiri tegap disampingku.
Aku langsung duduk dan mengosok mataku yang masih mengantuk ini.
"Apa Kau menyukai Alter, Adikku ?" Tanyanya dengan lirih.
Aku melihat jelas bayangan sosok itu yang mengenai sinar bulan dan mengenakan jubah birunya, siapa lagi kalau bukan Kakakku Liam yang bermata Biru langit itu.
Aku langsung menghidupkan lampu tidurku.
"Kak Liam.....ngapain disini ? Dan dari mana saja Kakak ?" Tanyaku.
"Aku hanya ingin bertanya saja padamu Laura. Aku dari Hutan, Aku mencari Pria tampan yang dimitoskan oleh Ibu. Siapa tau.... Dia lebih cocok untukmu " Jawab Kak Liam yang menunduk.
"Degh!" Aku yang Kaget langsung membelalakkan Mataku.
"Sekarang..... Apa Kau mencintai Alter ?" Tanya Kak Liam dengan tatapan tajamnya itu.
Mata Biru Kak Liam dengan pupil merahnya itu membuat ku takut saat ia menatapku.
Aku menunduk.
"Aku tidak menyukainya. Tapi Kalau untuk Kemakmuran Kerajaan ini..." Ucap ku yang belum usai.
"Tep!" Kak Liam memegang kepalaku.
"Jangan menunduk, Kau seorang Putri. Bila Kau sedih, wajahmu sangatlah jelek" Kata Kak Liam.
"Hah ? Kakak niatnya ngibur apa nggak sih?!" Tegasku.
"Suttsssss....... Jangan teriak.... nanti Aku ketahuan kesini....." Iirih Kakakku itu.
Aku langsung membungkam mulutku.
Kak Liam tersenyum padaku.
"Dua hari ini, Aku akan pergi. Aku akan berbicara dengan Alter. Baik-baiklah disini. Peganglah ini simpan ini baik baik" Kata Kak Liam sambil memberiku gelang dengan batu biru yang menyala seperti warna matanya dimalam hari.
"Untuk apa ini Kak ?" Tanyaku.
"Sudah pakai saja, angap gelang ini seperti diriku. Jangan bawa gelang ini dikamar mandi dan bila ada apa apa, Usap gelang itu dan ucapkan Liamarlo. Aku pasti akan datang" Kata Kak Liam.
Aku menyipitkan mataku.
"Kakak.... punya niat mesum padaku ya ?" Tanya ku.
"Eh ?! Apanya ? Enggak!" Lirih kak Liam dengan wajahnya yang sedikit merona.
"Lalu kenapa Kakak melarangku membawanya kekamar mandi ? Pasti ini ada jampi jampinya ya...... Atau, Kakak beli ini di penyihir yang ada dihutan itu yang katanya pernah jadi buaya darat semasa hidupnya sebelum dikutuk oleh ibunya untuk melihatku...." Kataku yang belum usai.
"Singkirkan pikiran jorokmu itu. Lagian, Batu itu Aku membuatnya sendiri. Aku juga bilang, Angap batu itu sepertiku. Sekarang ku tanya, Apa kau mau mandi bersamaku ?" Tanya Kak Liam sambil menyilangkan kedua tangannya didadanya.
"Ah?! Eh ! .... ya kali....Nggak lah !" Tegasku sambil berpaling karena malu.
"Nah! Mangakannya! Ya sudah..... Baik baik ya.... selama Aku pergi. Jangan bilang pada siapapun ya.... Aku tak ingin menikah dengan Alter kan?" Tanya Kak Liam.
Hari ini, Kak Liam sangatlah berbeda.
Ia terlihat sangat Khawatir padaku.
Aku tersenyum padanya
"Iya Kak. Aku tak ingin menikah dengannya. Aku hanya ingin menikah dengan Pangeran berkuda putihku" Jawabku.
"Kalau begitu, Aku pergi dulu. Jangan lupa berak setelah makan" Kata Kak Liam dan langsung pergi melompat keluar jendelaku yang berada di lantai dua.
"Sehari tanpa ngelawak sepertinya dia nggak bisa. Tapi, Kenapa Kak Liam mencium keningku ? Apa cuma perasaanku saja ya ?" Batinku sambil kembali tidur dan mematikan lampu kamarku.
...***...