LIAMARLO

LIAMARLO
MASA LALU bag.7 Kematian Aneria



Arlo yang sedang bertarung dengan sisa orang orang milik Alan yang tak sengaja berpaspasan di depan gerbang Istana yang hancur langsung mendengar teriakan Aneria.


Arlo sangat terkejut mendengar suara teriakan Aneria.


Orang orang dari pihak Alan menyerang Arlo dengan sihir mereka secara bersamaaan.


Arlo benar benar kewalahan karena jumlah mereka yang tidak sedikit.


Arlo tidak ingin membuang buang waktu lagi.


Arlo mengangkat tangan kanannya ke udara.


"Sihir gravitasi" Ucap Arlo.


"WUHHHTTT!!!!!" Tujuh lapis lingkaran sihir berukuran besar dan lebar berwarna Biru terang melayang di atas Arlo.


Kabut mulai turun akibat munculnya lingkaran sihir itu.


"Apa apaan ini ?" Orang orang Alan terkejut melihat Lingkaran sihir sebesar itu.


"Penekanan" Ucap Arlo sambil menurunkan tangan kanannya.


"WUUUUSSSSHHHHHHH.....PRACKKKK!!!!!!!!" Kilatan cahaya terang keluar dari lubang lingkaran sihir itu dan menghantam tanah disekitarnya.


"WOSH!!!" akibat serangan itu, Angin kencang berhembus dan membawa bebatuan hingga membuat bebatuan itu terlempar kemana mana.


Arlo yang tidak sempat melihat lawannya karena tertutup dengan angin debu langsung berteleport di depan pintu Istana Dynantya.


Arlo membelalakan matanya.


Arlo melihat Aneria yang lengannya tertusuk Pedang besi dan tubuhnya yang tertusuk pedang sihir dari bawah.


Arlo juga melihat Alan yang berdiri di dekat jendela sambil menjambak rambut panjang Aneria.


Arlo langsung menujuk kepala Alan dengan jari telunjuknya.


"Aconitum......Napelus.......biru, Wuuuutsssss!!!!!" Mana yang telah dipadatkan berukuran seperti peluru berwarna biru keluar dari jari telunjuk Arlo dan langsung melesat cepat tepat di kepala Alan.


"Explosion " Lanjut ucap Arlo sambil meneteskan Air matanya sambil menggerakkan jari telunjuknya keatas.


"PRACCCCCKKKK!!!!!! CRATTTT!!!!" Kepala Alan langsung meledak dan darah Alan muncrat di dalam ruangan itu.


"Bruk!" tubuh Alan langsung terjatuh.


Aneria melihat Arlo yang dibawahnya.


"Sudah ku duga Kau akan datang, Arlo !" Ucap Aneria sambil tersenyum dan memegang dinding.


"DRAAAASHHHHH" Hujan deras tiba tiba turun.


Arlo yang diam di bawah, menanggis melihat keadaan Aneria yang masih tertusuk pedang besi dan masih bisa memberikan senyuman padanya.


Arlo berteleport masuk kedalam ruangan itu.


Ruangan itu telah hancur berantakan.


Arlo langsung melihat Aneria yang sedang mengendong bayi bermata biru itu.


"Jaga bayi ini, Aelius sangat menginginkan anak laki laki" Lirih Aneria sambil mengusap pipi bayi itu yang terdapat darah Alan.


Arlo berusaha menutup luka Aneria dengan sihirnya.


"Jangan pikirkan bayi itu. Pikirkan saja dirimu" Kata Arlo sambil menyuruh Aneria duduk.


Wajah Aneria memucat.


Aneria kehilangan banyak darah.


"Katakan pada Aelius dan Ibu bayi ini kalau Aku sudah memaafkan mereka. Beritahu Aelius untuk memberi nama Bayi laki laki itu Liam. Aku mengambil nama depanmu, Aku ingin Dia sepertimu yang selalu melindungi orang yang Dia sayangi tanpa memikirkan dirinya sendiri. Dia pasti akan menjadi anak yang tampan seperti Aelius saat dia muda" Kata Aneria sambil memegang tangan Arlo yang hangat.


Arlo mengkerutkan keningnya.


"Katakan itu sendiri pada Aelius. Aku akan menyembuhkanmu" Arlo tersadar kalau Aneria terkena racun dari senjata yang menusuknya.


Mata Arlo berkaca kaca merasakan dinginnya tangan Aneria yang memegangnya.


Pegangan tangan Aneria mulai melemah.


Aneria menutup matanya sambil menaruh keningnya di dada Arlo.


"Aneria...." Panggil Arlo.


Aneria tidak menjawab.


"Aneria ! Jangan tinggalkan Aku,..... Berapa banyak kematian lagi yang harus Aku lihat ?" Tanya Arlo sambil memeluk tubuh Aneria yang dingin.


"Harus berapa kali Aku merasakan kehilangan Orang yang kusayangi Aneria ? Bawa Aku bersamamu" Kata Arlo sambil mengusap Air matanya yang menetes.


"Oeeekkkkk" Bayi Liam menaggis karena pelukan dari Arlo.


Arlo melepaskan pelukannya sambil melihat bayi itu yang menanggis di gendongan Aneria.


Arlo merasakan energi sihir dari bayi itu.


"Diam atau ku bunuh" Kata Arlo sambil mengambil Liam yang menanggis itu dan meletakannya di lantai.


Kemudian Arlo mengendong Aneria untuk ditidurkan dikasur dan kembali mengendong Liam yang menanggis dengan kencang itu.


Tangan mungil Liam keluar dari gedongan kain.


Arlo melihat batu sihirnya untuk Aneria di kenakan oleh Liam.


"Aneria sangat menyayangimu. Jadi Diamlah" Kata Arlo sambil mengusap ubun ubun bayi itu dan membawanya keluar dari kamar.


"Apa Dia Ibumu ?" Tanya Arlo pada Bayi yang baru diam itu.


Bayi itu menguap.


"Aku ingin sekali mencekikmu dan membunuhmu. Tapi, Aneria telah berpesan padaku untuk menjagamu. Setelah ini, Aku benar benar akan meninggalkan bapakmu yang biadap itu" Kata Arlo sambil menuruni tangga dan membiarkan Scarlette tergeletak di lantai.


Bayi itu tertidur.


Arlo membawa bayi itu keluar untuk memberikannya pada Aelius.


Tapi, Arlo tidak langsung membawanya ke Aelius karena hujan.


Arlo membawa bayi itu kerumahnya.


Arlo masih waspada takut ada musuh yang masih sembunyi di Istana Dynantya.


"Namamu Liam, jangan meniruku. Aku menyayangi Aneria dan Kau yang membuatnya mati, jadi jangan menyanginya" Kata Arlo sambil menanggis melihat bayi itu.


Arlo memegang bibir mungil bayi itu yang menguap terus.


Bayi itu menghisap Ibu jari Arlo.


"Kau haus ? Tunggulah sebentar, Aku akan membawamu ke Ayahmu" Kata Arlo sambil melihat hujan di malam hari yang masih deras.


Dengan terpaksa Arlo memberi Bayi itu Air biasa.


Tak lama kemudian ada suara totokan pintu.


Arlo melihat Aelius yang di bawah dengan tubuh yang penuh luka.


Arlo langsung turun sambil membawa Bayi itu dan membukakan pintu untuk Aelius.


Aelius terkejut melihat bayi yang digendong oleh Arlo.


"Apa itu bayiku ? Dimana Scarlette ?" Tanya Aelius.


Arlo mengerutkan keningnya dan membiarkan Aelius masuk, serta menutup pintunya.


"BRAKKKK!!!!" Arlo membalik tubuhnya dan langsung menendang Aelius hingga menghantam meja kayu miliknya.


"Khuk! khuk!" Aelius terbatuk.


"Arlo ! Kenapa Kau menendangku ?!" Aelius sangat terkejut dan langsung berdiri sambil melihat Aelius.


"Sialan ! Kenapa pertanyaan yang keluar dari mulutmu bukan menanyakan Aneria terlebih dahulu ? Kau anggap apa istrimu itu Aelius ?!" Bentak Arlo yang marah sambil menarik kera baju Aelius yang sudah berantakan dan penuh darah.


"Aneria pasti bisa melindungi dirinya sendiri ! Aku percaya padanya!" Tegas Aelius sambil menarik keranya balik dari tangan Arlo.


Arlo melihat Aelius dengan tatapan tidak percaya.


"Hah!" Arlo tertawa sambil menyerahkan bayi itu pada Aelius.


"Aneria berkata Dia telah memaafkanmu dan Dia memberi nama bayi ini Liam, Dia mengambil nama depanku, Liamarlo. Kemudian Aku mengistirahatkan Aneria di kasur, Dia mungkin sudah lelah. Lalu, Ibu bayi ini ku biarkan tergeletak di lantai mungkin saja Ibu bayi ini sudah mati" Kata Arlo sambil menyeringai pada Aelius.


"Apa ?! Kenapa Kau tidak menolong Scarlette juga Arlo?!" Tanya Aelius sambil mengambil Liam dari tangan Arlo.


"Apa urusanku ? Harusnya Aneria tidak bersamamu sejak dulu. Dan ini, dariku untuk bayi ini. Berikan pada bayi ini bila dia bisa baca. Ingat, namanya adalah Liam,


Aneria memberikan nama bayi ini mengambil dari nama depanku" Kata Arlo sambil menyelipkan surat di kain Bayi itu.


"Untuk Apa Kau mengulang ulang nama Bayi ini. Dan kenapa juga Aneria seenaknya memberi nama bayi Scarlette dengan nama depanmu ?!" Tanya Aelius.


"Pulanglah. Jangan temui Aku lagi. Ini terakhir kalinya Aku memberikan bantuan padamu Aelius." Kata Arlo sambil membuka pintu rumahnya.


Hujan masih deras diluar.


"Arlo ini masih hujan ! Kau tega membiarkan bayi ini kehujanan ?" Tanya Aelius.


"Apa urusanku ? Yang mati juga Kalian bukan Aku" Kata Arlo sambil menyeringai pada Aelius.


"BAIK ! TERIMA KASIH ATAS BANTUANMU SELAMA INI PADAKU ARLO! JANGAN PERNAH MENGINJAKKAN KAKIMU DI ISTANAKU LAGI!" Tegas Aelius.


"Tentu, dengan senang hati" Ucap Arlo sambil menutup pintunya.


Tak lama setelah kepergian Aelius, Arlo berniat untuk membunuh dirinya sendiri dengan sihir miliknya.


Kepala Arlo terpenggal tapi, kepalanya tersambung kembali.


"SIAL !!!!! KENAPA AKU HARUS MENDAPATKAN KUTUKAN SEPERTI INI !!!!!! Pyaarrrrrr!!!!!!" Teriak Arlo sambil melemparkan barang barangnya yang membuat kaca jendelanya rusak.


Arlo berjalan kekamarnya dan duduk dikasurnya.


lima dari enam lilin mulai mati.


Satu lilin masih hidup walau agak redup terkena angin dan air hujan.


Rumah Arlo yang awalnya rapi menjadi berantakan.


"Di kehidupanmu yang kedua, Kau harus menerima pernyataan cintaku Aneria" Kata Arlo sambil meneteskan air matanya.


catatan :


Surat dari Arlo untuk Liam adalah surat yang berisi tentang kegunaan gelang batu yang Arlo berikan untuk Aneria.


Arlo juga menyertakan kalau tidak boleh membawanya di kamar mandi dengan menambahkan candaan dari Aneria yang berkata kalau akan mengintip saat di bawa di kamar mandi.


oleh karena itu, Liam berkata seperti itu pada Laura karena sangat percaya dengan isi surat tersebut yang terdapat nama Aneria di bawah surat itu.


Liam percaya kalau surat itu diberikan oleh neneknya.