LIAMARLO

LIAMARLO
Kau tak pantas dicintai



"Ckckckck" Suara laki laki yang tak asing dan berasal dari jedela.


Aku langsung terbangun dan membelalakan mataku.


"Hei Putri, Kalau mandi itu, tutup jendelanya juga. Jangan hanya gordennya"


"Degh!" Aku langsung melihatnya dan Aku terkejut.


...***...


"Arlo" Lirihku.


Dia masuk kekamarku dan Aku menutup tubuhku dengan handuk didekatku.


"Pergi! Siapa yang menyuruhmu masuk ?!" Aku sangat marah sambil berdiri.


"Aku kemari hanya untuk berkata kalau Aku menyukaimu" Kata Arlo sambil tiduran diatas kasurku.


"Hah.... Empuk juga kasurnya" Kata Arlo sambil membuang nafas panjang.


"Pergilah dari sini! Aku mau ganti baju!" Tegasku.


"Ckckck, Kalau mau ganti baju ya sudah ganti saja, Apa sulitnya" Kata Arlo sambil menompangkan pipi kanannya di telapak tangan kanannya yang tiduran dikasurku.


"Kau itu laki laki! pergilah dari sini! Menjijikkan. Pelayan!" Aku mulai memanggil pelayan.


"Putri, tenanglah sedikit. Aku sudah membuat ruangan ini kedap suara. Kau gantilah baju, Aku berjanji tidak akan melihatmu" Kata Arlo sambil duduk.


"Tidak! Kau dan Kak Liam sama! suka berbohong! jadi cepatlah keluar!" Kataku sambil menarik tangan Arlo yang terasa aneh dipeganganku.


"Diluar hujan. Apa Kau tega membiarkanku kehujanan ?" Tanya Arlo sambil berdiri.


"Apa peduliku ! Cepatlah ke! lu! ar!" Tegasku sambil mendorong punggung lebar Arlo yang sangat tinggi.


"Hah....(Hela napas) Baiklah, Aku tunggu diluar" Kata Arlo sambil membalik badannya dan memegang tangan Kananku.


"Aku akan menunggumu diluar setelah selesai ganti baju, izinkan Aku masuk" Katanya sambil menaruh tanganku dipipinya yang sangat dingin.


Aku menarik tanganku.


"Sudah! Keluar!" Tegasku sambil mendorongnya dari jendela.


"Aku tunggu disini" lirihnya sambil duduk diteras kamarku.


"Aku tidak peduli! Brak!" Tegasku sambil menutup keras jendela kamarku.


"Kenapa seenaknya saja masuk dikamar seorang gadis!" celotehku sambil mengambil baju kaos pendek dengan celana pendek yang biasa kugunakan untuk bersantai.


Setelah berpakaian Aku duduk dikasurku dan meminum jahe hangat tadi.


Para pelayan sudah masuk dan membersihkan air didalam bak tadi kemudian keluar.


"CTARRRR!!!!" Suara guntur yang mengelegar diluar rumah.


"Yang penting gak ada kilat" Batinku sambil tiduran.


Baru memejamkan mataku Aku teringat ucapan Arlo yang menungguku diteras kamarku.


"Ah sudahlah. Apa peduliku" Lirihku sambil menutupi wajahku dengan selimut hangatku.


Nyatanya, Aku tidak bisa tidur karena merasa bersalah pada Arlo.


"Cklek" Aku membuka jendela kamarku.


Dan, ternyata.....


Arlo masih tetap duduk disana menungguku.


Dia kehujanan.


Aku sedikit merasa kasihan padanya.


"Anu, masuklah" Kataku sambil membuka lebar jendela Kamarku.


Arlo yang duduk dibawah jendela menunjukkan senyumannya padaku.


"Sudah kuduga Kau akan membukakan jendela untukku" Katanya sambil berdiri.


"Aku hanya merasa tidak enak membiarkanmu kehujanan. Aku ambilkan sesuatu untukmu" Kataku sambil berjalan dan mengambilkan sebuah kain untuk handuk Arlo.


Aku memberikan Kain itu pada Arlo.


"Terima kasih" Kata Arlo sambil duduk dibawah.


"Eh! duduklah diatas nanti Kau kedinginan" Kataku.


"Tidak apa apa. Nanti Aku malah merepotkanmu bila duduk diatas" Jawabnya.


"Suka kue coklat ? ini, Kakakku selalu meninggalkannya disini. Silahkan dimakan" Kataku sambil ikutan duduk dibawah.


"Haha" Arlo tertawa.


"Kau, seorang Putri, bukankah tidak elok bila Kau duduk bawah ?" Tanyanya.


"Itu semua karna mu yang tidak ingin duduk diatas" jawabku.


Arlo hanya tersenyum.


"Apa Kau perlu ganti pakaian ?" Tanyaku.


"Tidak perlu" Jawabnya.


"Tidak apa apa, Kalo nggak salah, Kak Liam meninggalkan beberapa pakaiannya disini" Kataku sambil berdiri dan mengambil baju Kak Liam yang terlihat pas ditubuhnya.


"Maafkan Aku Kak Liam. Semoga, Kak Liam nggak sadar bajunya ku ambil satu" Batinku yang berdoa sambil mengambil baju kaos putih Kak Liam yang terlihat masih baru.


"Kau memberiku ini, nanti yang punya nggak marah ?" Tanya Arlo.


"Kak Liam itu baik. Bila Dia marah, Aku akan memberinya cokelat yang banyak untuknya" Kataku.


Arlo langsung berdiri dan membuka pakaian yang ia pakai dihadapaku.


"Hei! Apa yang Kau lakukan ?!" Tanyaku yang terkejut dan membelalakan mataku bersamaan


Arlo membetulkan sabuknya yang terlihat longar.


"Aku menganti pakaianku" Jawab santai Arlo.


"Dihadapanku gini ?!" Tanyaku yang sangat malu karena ulahnya.


Dia mengelus perutnya yang terdapat six pack.


"Ugh" Aku melihat perutnya kemudian Aku berpaling.


"Anjay! anjay! Anjay! Puja roti sobek!" Batinku yang memaksa diriku agar tidak melihatnya.


"Kenapa ? Aku tidak malu" Jawabnya.


"Kau memang tidak punya malu! gantilah dikamar mandi!" Tegasku sambil mendorong Arlo yang mengalungkan kain yang kuberikan untuk handuknya dikepalanya.


"Sudah! Gantilah pakaian mu disini! Brak!" Aku langsung menutup kencang pintu kamar mandi.


"Hah.... apa salahku, kenapa hari ini Aku dapat cobaan bertubi tubi dari dua orang tampan yang nggak punya malu itu" Lirihku sambil buang napas.


Arlo keluar dari kamar mandi dan mengosok rambut putihnya yang basah.


Dari belakang, Dia mirip sekali dengan Kak Liam.


"Arlo, Apa Kau yang menyelamatkanku dari pria bertopeng waktu itu dihutan ?" Tanyaku.


"Iya" Jawabnya.


"Terima kasih" Kataku.


"Terima kasih? Untuk apa ?" Tanya Arlo.


"Kau sudah menyelamatkan nyawaku" Kataku.


"Tidak masalah. Aku, datang karena Aku men- Ah karena itu sudah tanggung jawabku" Jawabnya.


"Tangung jawab ?" Tanyaku.


"Ya, tanggung jawabku untuk selalu menolong wanita karena mereka punya-" Kata Arlo yang belum usai.


"Nggak usah dilanjutkan. Aku tau apa yang akan Kau katakan" Kataku yang menyela Dia.


Suara guntur dan angin kencang masih terdengar diluar.


Arlo duduk disebelahku dan Aku mengeser dudukku.


"Apa Kau takut padaku ?" Tanya Arlo.


"Tentu saja Aku takut padamu. Kau adalah penjaga hutan yang memiliki kekuatan sihir" Jawabku.


"Kau sangatlah jujur. Apa Kau mau menjadi, kekasihku ?" Tanya Arlo.


"Enggak!" Sahutku dan langsung melihatnya.


Arlo menunduk.


"Aku sudah hidup beratus ratus tahun. Dan hanya Kau dan nenekmu yang tidak lari saat kuajak bicara" Kata Arlo.


"Dia pasti merasa sangat kesepian" Batinku.


"Apa Aku terlihat jahat?" Tanyanya.


"Iya, wajahmu sangat menyeramkan dengan mata merah itu" Kataku.


"Ugh! Ayolah. Jangan terlalu jujur dan dingin padaku Laura. Berbohonglah sedikit agar Aku senang" Kata Arlo.


"Enggak" Jawabku sambil melihatnya.


"Apa Kau sudah menyukai seseorang ?" Tanya Arlo.


"Rasa berdebar, rasa senang saat didekatnya, selalu ingin dekat dengan Dia, tidak ingin jauh jauh darinya, dan terkadang ingin melompat saat Dia melihat atau menyapamu ?" Tanya Arlo.


Yang ada dibayanganku adalah Kak Liam.


"Kurasa tidak" Jawabku.


Arlo memegang tanganku.


"Aku benar benar menyukaimu. Berilah ruang untukku. Aku berjanji Aku akan membuatmu senang" Kata Arlo.


"Membuat senang ?" Tanya ku.


"Iya" Jawabnya.


"Kau tak pantas dicintai Arlo" Kataku.


Arlo membelalakan matanya.


"Apa maksudmu ?" Tanya Arlo sambil melepaskan tanganku.


"Kau berjanji untuk membuatku senang bila Aku menerima cintamu. Kenyataannya, yang Aku dapatkan afalah kematianmu. Dan, itu tidak akan membuatku bahagia Arlo" Kataku sambil memegang tangan Arlo yang melepas tanganku.


Pandangan mata Arlo menjadi sayu.


"Aku hanya ingin merasakan kebahagiaan dengan orang yang kusukai. Aku selama ini menderita. Maafkan Aku karena tidak memikirkan perasaanan mu" Kata Arlo.