
Kami melanjutkan perjalan dengan menaiki Kereta Kuda yang Kami bawa.
Kak Liam tertidur disampingku setelah membeli Kue cokelat kesukaannya yang Ia sembunyikan dari teman temanku.
Dia belum menagih janjiku.
Dia, menyederkan kepalanya dibahuku.
Aku bukan bantalMu!
Aku ingin sekali menghatukkan kepalanya kejendela kereta yang ada disebelahnya itu.
Tapi, itu bukan perbuatan beretika untuk seorang putri kerajaan sepertiku.
15 menit kemudian kami sampai dirumahku.
Aku tidak tinggal dirumah cabang milik keluarga Nelzefvia.
Melainkan, Aku tinggal dirumah lama Ibuku yang masih dirawat oleh beberapa pelayan pribadi kepercayaan Ayah.
Rumah cabang akan dipegang oleh Kak Liam selaku pewaris Ayah selain Kak Kyle.
Kak Liam telah terbangun dari tidurnya dan langsung keluar tanpa berkata apapun seperti orang kesurupan.
Aku keluar dari kereta kuda.
Teman temanku yang berada dikereta kuda lain ikut keluar.
Aku melihat Kak Liam menyentuh pintu kayu rumah.
"menakutkan. Dia kesurupan apa coba ?" Batinku.
Kak Liam melihat kearahku.
"Laura, Ayo masuk" Dia memanggilku tanpa kata Putri sambil membukakan pintu rumah ibu yang Ia bawa kunci cadangannya.
"Wah, Anda dengan Pangeran Liam seakrab itu, Putri ? Wah, andai Kakakku berani memanggil langsung namaku seperti itu. Pasti Aku dan Kakakku akan akrab" Kata Veronicca.
Aku tidak tau Kak Liam itu sengaja atau keceplosan.
"Mari masuk. Kita main hingga sore. Apa Kalian mau menginap juga ?" Tanyaku.
"Ah, Kalau menginap Saya harus izin dulu kepada orang tua Saya" Kat Scarlette.
"Saya juga sama" Kata Veronicca.
"Saya ingin menginap. Tapi, Nanti malam Saya harus menghadiri ulang tahun adik sepupu Saya" Kata Gisel.
"Sudah~ Kan ada Aku. Aku akan menemanimu seperti janjiku pada ibu" Kata Kak Liam.
"Ah..... Pangeran.... Jadikan Saya adik anda juga..., Saya akan menukar kakak Saya yang super duper gak jelas dan jahil itu dengan Anda" Pinta Veronicca.
"Hei katanya kau ingin jadi istri kakakku ?" Lirihku dibelakang Veronicca.
"Jadi adiknya juga gak papa deh...." Jawab lirih Veronicca.
Kak Liam tersenyum pada Kami semua.
"Subhanallah, Aku melihat cahaya ilahi dibelakang Pangeran Liam. Tapi gak papa. Pesaingku jadi berkurang" Lirih Gisel.
"Aku sedang tidak membuka lowongan untuk mencari adik" Kata Kak Liam.
"Akh! Serasa ditusuk tapi tidak berdarah!" Lirih Veronicca.
"Pffttt" Gisel dan Scarlette menahan tawa mereka.
"Tapi, Aku buka Lowongan selir untuk Kalian" Kata Kak Liam.
"Aku, Jadi selir pun tak masalah" Ucap lirih mereka bertiga bersamaan.
"Astaga~" Ucapku sambil mengelus dada.
Kami berempat langsung menuju kamarku, sedangkan Kak Liam masuk dikamar kosong yang lain untuk menghabisakan kue cokelatnya sendiri.
"Putri putri! Coba kenakan baju putih yang kita beli tadi! Ini akan menjadi piknik santai yang pernah kita lakukan" Pinta Gisel.
"Ah, tidak.... Kak Liam akan ikut. Aku malu kalau Kalian memakai baju pendek dan ketat seperti itu" kataku sambil geleng geleng.
"Putri~ Ayolah... lagi pula ini tidak pendek dan ketat. ini memang style nya" Kata Veronicca.
"Tapi, Kak Liam tidak suka kalau ada gadis memakai baju ketat dan pendek begitu" Aku membohongi mereka.
"Ah ?! benarkah ? Yah,.... sia sia dong beli baju ini ?" Kata mereka bersamaan.
Mereka percaya padaku.
Aku melakukan ini karena Aku tak ingin teman temanku dipandang rendah oleh Kak Liam.
Malam hari tiba.
Teman teman ku telah lama pulang.
Aku dan Kak Liam telah bersiap untuk pernikahan Kak Kyle.
Dan, Kami tak lupa membawakan hadiah untuk Istri Kak Kyle.
Kak Liam terlihat sangat dewasa saat menggunakan Baju formalnya.
Kak Liam menyemir rambut putihnya dengan semir hitam yang bisa hilang bila terkena air.
Aku tidak bisa menjelaskannya dengan kata kata.
"Kak, kenapa Kakak menyemir hitam rambut Kakak ?" Tanyaku.
Kak Liam menarik kebelakang rambutnya yang berwarna hitam.
"Kyle tidak mengizinkanku datang. Aku melakukan ini hanya untukmu"
lagi lagi, Dia langsung memanggil nama Kak Kyle.
Aku ingin bertanya, tapi kurasa ini bukan saatnya.
"Saat dipesta nanti. Jangan bilang Aku datang" Kata Kak Liam sambil membukakan pintu kereta kuda untukku.
Aku masuk ke kereta kuda itu lalu, Kak Liam baru masuk.
Sepanjang perjalanan Kak Liam hanya terdiam sambil melihat keluar jendela.
"Kak, Apa Kakak merindukan Ayah atau Ibu ?" Tanyaku untuk menghilangkan kesunyian diantara Kami.
"Tidak" Jawabnya tanpa melihatku.
"Kenapa Kak ?" Tanya Ku.
"Semakin Kau merindukannya, Kau akan membuat jiwa mereka tidak tenang. Kita harus mengikhlaskan semua yang telah pergi" Jawab Kak Liam yang masih melihat keluar jendela.
Aku mendekat ke Kak Liam dan mengintip apa yang dilihat oleh Kak Liam.
Ia, melihat bulan purnama yang sangat terang dan besar tanpa ada awan dilangit.
"Sruk!" Tiba tiba Kak Liam memakai topeng matanya dengan cepat.
Kak Liam menutup wajahnya sambil menekuk wajahnya di lututnya.
Aku langsung kaget.
"Kak?! Kak Liam kenapa ?!" Tanyaku yang sangat khawatir.
"Jauh i Aku sebentar!" Tegas Kak Liam yang setengah membentak.
Aku yang tersentak dengan bentakan Kak Liam.
Aku langsung terdiam dan pindah duduk dikursi depannya namun Aku memojok.
Jantungku berdegup dengan kencang karena baru pertama kali ini Aku dibentak oleh Kak Liam.
"Kak Liam, Apakah dia sakit ?" Pertanyaan itu terus terusan muncul dibenakku.
Aku tak berani melihat Kak Liam.
Kak Liam lama sekali dalam posisi itu.
Aku meliriknya sesekali.
Nafas Kak Liam terlihat berat.
Aku menekat untuk mendekati Ia.
"Tep!" Aku memegang lengan Kak Liam.
Kak Liam mendongak dan-
"Plak! CRAT!" Kak tiba tiba menepis tanganku dengan kukunya yang tiba tiba memanjang berwarna biru gelap.
Tanganku mengeluarkan darah akibat goresan kuku Kak Liam.
Kak Liam membelalakan matanya yang berwarna biru dengan pupilnya berwarna merah yant tiba tiba membesar dan itu terlihat sangat bercahaya saat mengenakan topeng hitam itu.
"Ah!" Aku melihat ekspresi terkejut Kak Liam yang sama sepertiku.
"DRRRAK!" Kak Liam langsung berdiri
"Maafkan Aku. Tep!" Ucap Kak Liam dan langsung melompat dari kereta kuda yang masih berjalan.
"Kak Liam!" Teriakku yang melihat Kak Liam berlari kearah kegelapan.
"Nona! Ada apa ?!" Tanya Kusir.
"Pak ! Hentikan kudanya!" Teriakku sambil melepas sepatu sandal tinggiku.
"Baik Nona!" Kusir itu langsung menghentikan Kudanya.
"Tep! Drap!" Aku langsung turun dan berlari ketempat Kak Liam tadi berlari.
"Nona! Anda mau kemana ?!" Teriak Kusir itu.
"Mencari Kak Liam!" Teriakku sambil berlari.
Aku tau apa yang kulakukan saat ini bukanlah sikap yang baik untuk seorang putri kerajaan.
Tapi, Kurasa Kak Liam sedang sakit.
Pupilnya yang membesar dan napasnya yang berat itu.
Dia pasti mau berak gara gara kebanyakan makan kue cokelat tadi sore.
Tapi, Kenapa Dia harus pakek acara lompat dari kereta kuda ?