LIAMARLO

LIAMARLO
Keputusan Kak Kyle



"Nah! Setelah Pangeran Nelzefvia yang rambutnya masih berwarna hitam dibawa pulang di Kerajaannya untuk dirawat pribadi. Pangeran Nelzefvia, keluar keluar sudah berambut putih. Mungkin, perubahan rambut Pangeran Nelzefvia itu, bisa diakibatkan oleh reaksi tubuh Pangeran Nelzefvia pada obat yang dikonsumsinya" Cerita Guruku usai.


"Madam, Bagaimana Anda bisa tau banyak ?" Tanyaku.


"Karena saat itu, Madam adalah Anggota tim penyidik yang mengusut kasus kecelakaannya Pangeran Nelzefvia" Jawabnya.


"Berarti, perubahan pupil Kak Liam bisa juga karena reaksi yang diberikan oleh obat yang Ia konsumsi ?" Tanya Batinku.


......***......


"Sekarang, mari kembali ketopik" Kata guruku.


"Kemudian, Suatu hal yang membuat Arlo dikutuk oleh Ibunya adalah, Dia melecehkan Ibunya sendiri" Kata Madam.


"Astaga"


"Lalu, Ibu Arlo sangat marah pada padanya, yang saat itu, diceritakan kalau Ibu Arlo adalah seorang penyihir pengguna suara. Ya, akhirnya Arlo dapat kutukan dari Ibunya sendiri dan Arlo dikucilkan dihutan. Anda semua tau kan bunyi kutukan itu ?" Tanya Guruku.


"Semasa hidup Arlo, Dia hanya akan merasakan rasa cinta bertepuk sebelah tangan. Dan saat mendapatkan jawaban cinta dari orang yang Arlo cintai, itu akan menjadi akhir kisahnya" Jawab Kami semua serempak.


Ya, karena kutukan itu telah tertulis dibuku, mangkannya Kami bisa serempak.


"Sekarang, mari kembali ketopik" Kata guruku.


"Kemudian, Suatu hal yang membuat Arlo dikutuk oleh Ibunya adalah, Dia melecehkan Ibunya sendiri" Kata Madam.


"Astaga"


"Lalu, Ibu Arlo sangat marah pada padanya, yang saat itu, diceritakan kalau Ibu Arlo adalah seorang penyihir pengguna suara. Ya, akhirnya Arlo dapat kutukan dari Ibunya sendiri dan Arlo dikucilkan dihutan. Anda semua tau kan bunyi kutukan itu ?" Tanya Guruku.


"Semasa hidup Arlo, Dia hanya akan merasakan rasa cinta bertepuk sebelah tangan. Dan saat mendapatkan jawaban cinta dari orang yang Arlo cintai, itu akan menjadi akhir kisahnya" Jawab Kami semua serempak.


Ya, karena kutukan itu telah tertulis dibuku, mangkannya Kami bisa serempak


Kelasku memang seperti ini,


Aku suka sekali dengan pelajaran sejarah kerajaan karena Madam Xalarisa, selalu memberikan materi sambil bercerita hal hal yang menarik.


Hari ini berlalu begitu cepat.


Saat Aku sampai dirumah, rumah Ibuku sudah hancur berantakan dan ada bercak darah dimana mana.


"Apa yang terjadi disini ? Dimana Kak Liam dan pelayan yang lain ?" Tanyaku sambil turun dari Kereta Kuda.


Aku dan Pak Kusir sangat terkejut dengan keadaan rumah Ibuku.


"Putri, Saya akan membantu Anda untuk mencari pelayan didalam. Anda tetaplah berada didalam Kereta Kuda. Jangan keluar dulu sebelum Saya kembali" Kata Pak Kusir itu sambil mendorongku perlahan untuk masuk didalam Kereta Kuda.


"Tunggu Pak!" Panggilku yang kembali masuk di Kereta Kuda.


"Tetaplah disini. Bila Anda terluka sedikit, Saya bisa kehilangan kepala Saya" Kata Kusir itu sambil menutup pintu Kereta Kuda.


Baru pertama kali ini Kusir muda itu berbicara denganku.


Kusir itu, seumuran dengan Kak Kyle.


Dia berpawakan tinggi, tegap dan berambut hitam yang ditutupi dengan Ikat kepala dikeningnya yang berwarna merah serta, warna bola mata sedikit hitam kecoklatan


Aku, khawatir dengan keadaan Kak Liam dan para pelayan pribadi Ayah yang menjaga rumah.


Aku ingin keluar dari Kereta Kuda dan ingin mengecek sendiri keadaan rumah.


Tapi, bila terjadi sesuatu denganku aku akan merepotkan Pak Kusir itu.


Aku tak punya pilihan lain, selain menunggu kusir itu datang.


Tak lama kemudian, Kusir itu kembali.


"Tuan Putri, tolong buka pintunya" Pinta Kusir itu.


Aku langsung membuka pintu nya dan Aku melihat Kusir itu membawa salah satu pelayan yang penuh dengan luka dan berdarah darah.


"Yang lain mana ?" Tanyaku.


"Hanya Dia yang Saya temukan Putri" Jawab Kusir itu.


"Lalu, bagaimana dengan Kak, ah sudahlah. Kita bawa Dia dulu untuk diobati. Tempat berobat yang dekat disini dimana ?" Tanyaku.


"Rumah sakit dari sini jaraknya hampir 3 KM bila Anda mau, Izinkan Saya nembawa Dia kerumah Saya yang tak jauh dari sini. Ayah Saya adalah seorang tabib" Kata Kusir itu.


"Tentu. Langsung saja kesana!" Tegasku.


Aku sangat khawatir dengan keadaan Kak Liam.


Tapi, nyawa pelayan ini, harus diutamakan terlebih dahulu.


Sampai dirumah Kusir itu.


Ayah, Pak kusir itu membubuhkan sesuatu pada luka yang ada disekitar wajah pelayan laki laki yang tak sadarkan diri itu.


Kemudian, Ayah dari pak kusir itu memperban lengan pelayan yang terluka ini.


Aku menahan rasa khawatirku dan menunggu sampai pelayan itu tersadar.


30 menit kemudian


Pelayan itu tersadar dan langsung melihatku.


"TUAN PUTRI!! SELAMATKAN PANGERAN LIAM!!!!" Teriak pelayan itu yang langsung duduk.


"Pelan pelan saja kalau bicara. Ada apa dengan Kak Liam ?" Tanyaku sambil mengaruk telapakku yang tidak gatal.


"Tuan Putri! Cepatlah pergi ke Istana Nelzefvia ! Pangeran Liam ditangkap paksa oleh orang orang milik Kerajaan Alter atas tuduhan pembunuhan yang terjadi pada Putra Mahkota Alter, dan pembunuhan orang orang yang terjadi disekitar hutan, serta tuduhan sebagai Penyihir Arlo yang menyamar" Jelas pelayan itu.


"DEGH!" Suara jantungku.


"Itu tidak mungkin..." Lirihku sambil berdiri.


"Mereka menyelinap dan menembakkan bius pada Pangeran Liam. Pangeran Liam sampat menyerang balik, Kami sudah berusaha untuk membantu Pangeran Liam. Tapi, Sayangnya... Mereka membuat Saya dan para pelayan yang lain terluka. Dan, Saya harus kehilangan empat nyawa teman Saya. Pangeran Liam dibawa dalam kondisi tertusuk pedang besi dibagian paha kanannya. Tolong, selamatkan Pangeran, Putri. Saya yakin, Pangeran tidak terlibat apapun dengan hal ini" Lanjut Pelayan itu.


"Antar Aku ke Istana" Kataku.


Aku langsung berangkat keistana.


Kusir muda itu, tidak membawaku dengan kereta kuda.


Melainkan dengan Kudanya langsung, Ia memacu kudanya dengan kencang menuju Istana.


Tidak sampai 15 menit Kami sampai di gerbang Istana.


Aku turun dari Kuda karena didepan Istana sangat ramai.


Aku mendekati keramaian itu bersama kusir kuda yang mengantarku.


"Aku tidak menyangka ternyata Pangeran Liam adalah Penyihir Arlo. Dia pantas untuk mati" Ucap bisik bisik orang yang berkerumun.


Aku melanjutkan jalanku dan memilih untuk tidak mendengarkan ucapan mereka yang membaca majalah dinding besar yang terpampang di tembok dekat gerbang Istana.


Aku memasuki Istana yang telah ramai dengan kedatangan para petinggi dari beberapa Kerajaan. Termasuk, Kakekku yang masih awet muda hadir disana.


Aku melewati Kakekku untuk mendatangi Kak Kyle.


"Laura!" Panggil Kakekku.


Aku tidak mendengarkannya dan terus berjalan mencari Kak Kyle.


"Tep! Nak! Tunggu!" Kakekku memegang bahuku.


Aku terpaksa untuk menolh dan menyapanya.


"Tenanglah Nak, Kakek usahakan agar Kakakmu tidak bersalah" Ucap Kakek.


Aku langsung membelalakan mataku.


Aku tau yang dikatakan oleh Ayahnya para raja ini tidak akan berbohong.


Tapi, itu tidak akan semudah apa yang ia ucapkan.


Kerajaan Alter adalah kerajaan yang berpengaruh juga setelah Kerajaan Nelzefvia.


Hukum di kerajaan ini memang masih menggunakan keputusan Rakyat.


Tapi, dari yang kudengar tadi, Tidak ada seorang rakyat pun yang membela Kak Liam.


Apa Kesalahan Kakakku ? Kenapa semua orang membencinya dibelakang dan pura pura menyukainya didepan ? Aku membenci orang yang seperti itu.


"Dimana Kak Kyle ?" Aku tak peduli dengan status Kak Kyle maupun Kakek.


"Kyle sedang berada di ruangannya, Ia mencoba berbicara baik baik dengan Raja Alter" Jawab Kakek.


"Kenapa Kakek tidak menegahi mereka ?" Tanyaku.


"Kyle melarang Kakek. Laura tetaplah disini dan jangan membuat keributan ya..." Pesan Kakekku.


"Baik Kek" Kataku sambil berjalan menuju ruangannya Kak Kyle.


"Nak! Kau mau kemana?" Tanya Kakekku.


"Menemui Kak Kyle untuk bertanya sebentar Kek" Jawabku.


Aku, sampai didepan ruangan pribadi Kak Kyle.


Pintu ruangan pribadi Kak Kyle sedikit terbuka.


Aku melihat didalam ada Ratu Viona dan Raja Alter beserta Putri Zenovia (Adik Putra Mahkota Alter).


Aku berdiri disebelah ruangan itu untuk menunggu Kak Kyle selesai bicara.


"Lagian suamiku, bukti bukti yang diberikan oleh para tim penyidik dari Kerajaan Alter telah memperkuat kalau Pangeran Liamlah yang membunuh Putra Mahkota Alter" Suara Istrinya Kak Kyle yang jelas terdengar ditelingaku.


"Itu memang benar, terakhir kali, Putraku keluar katanya Ia ditunggu oleh Pangeran Liam didekat danau, Dan keesokan harinya, salah seorang Prajurit yang bertugas telah menemukan Putraku dalam keadaan kepalanya yang telah terpenggal. Para tim penyidik berkata kalau mereka menemukan rambut putih yang terpotong dan sedikit darah didekat danau" Kata Raja Alter.


"Saya juga! Sempat melihat Kakakku keluar dari Istana bersama Pangeran Liam! Intinya ! Nyawa harus dibayar Nyawa! Karena ulahnya! Kerajaan Alter tidak memiliki penerus laki laki!" Suara Putri Zenovia.


"Aku ingin sekali mengeser tulang rahang nenek lampir cilik itu" Batinku.


"Suamiku, nyawa memang harus dibayar dengan Nyawa. Aku tak ingin Namaku buruk karena ulah adikmu itu. Bila Kau tidak memutuskannya dengan benar dan cepat. Aku akan kembali ke Ayahku dan Aku akan..." Kata Istri Kak Kyle dengan nada sok dramatis.


"Sialan..." Batinku.


Aku hanya diam menunggu keputusan Kak Kyle dan Aku berusaha untuk bersikap tenang.


"Liam harus mati" jawab Kak Kyle.


"DEGH!" suara Jantungku sambil membelalakan mataku.