
Akhirnya, Kami menginap dirumah kusir itu karena tidak menemukan tempat menginap yang sesuai dengan keinginan Kakek.
Kakek, lebih suka dengan sesuatu hal yang tidak menyambutnya dengan hal yang mewah.
Kakekku memang aneh, Dia lebih aneh dari Kak Liam.
Beliau mengganti semua pakaiannya yang mewah dengan pakaian kaos milik Kak Liam.
"Kakek dan cucu sama saja" Batinku.
...***...
Kakek menemui pelayan yang terluka itu karena melindungi Kak Liam.
Kakek sangat berterima kasih pada pelayan itu, sampai-sampai memeluk erat pelayan itu yang lukanya masih basah.
Sedangkan Kak Liam, dari tadi hanya menatapi Kusir muda itu.
Kusir muda itu sesekali melihat ke Kak Liam lalu berpaling lagi.
Aku tak paham kenapa Kak Liam membuat Kusiri tu merasa tak nyaman.
"Saya, akan menyiapkan makan malam" Kata Kusir itu sambil pergi keluar.
"Aku, ikut. Aku juga bisa memasak" Kata Kak Liam sambil mengikuti Kusir itu.
"Liam, jangan membuat nak,... siapa namamu ?" Tanya Kakek sambil melepas pelukannya dan menunjuk Kusir muda itu.
"Dera" Jawabnya.
"Iya! Liam! jangan membuat Nak Dera kesal" Tegas Kakek.
"Iya Kek~ Aku nggak janji" Jawab Kak Liam sambil menarik keluar Dera.
"Jangan heran bila Kakakmu seperti itu" Kata Kakek.
"Memang kenapa Kakak bertidak seperti itu Kek ?" Tanya Ku.
"Wajahmu, mirip sekali dengan Alm nenekmu. Kakakmu, sangat mencintai dan menyayangi Nenekmu" Jawab Kakek.
"Lah, Kek. Bukankah, Nenek meninggal sebelum lahirnya Kak Kyle ? Kan berarti Kak Liam belum ada ? Bagaimana Kakek bisa tau kalau Kak Liam sangat mencintai nenek ?" Tanyaku.
Kakekku tersenyum.
"Semua cucu pasti menyayangi Kakek dan neneknya. Sekarang, Apa Laura tau dengan suara nenek ?" Tanya Kakek.
"Seperti Ibu ?" Tanyaku.
"Tidak. Suara nenekmu, seperti lantunan musik yang terbawa angin malam. Begitu halus dan menenangkan" Jawab Kakek.
Aku tidak tau maksudnya.
"Yah! intinya! Rasa kasih sayang dan cintanya Kakakmu pada nenekmu turun kepadamu karena banyak kemiripan diantara Kalian berdua" Jawab Kakek.
"Jadi, Kak Liam menyayangiku bukan karena mengangapku sebagai adiknya ? Tapi, Karena Kak Liam menganggapku nenek ?" Tanyaku dengan nada malas.
"Pantas saja, sifat Dia begitu padaku" batinku.
"Aih! Bukan begitu maksud Kakek. Kau pahamkan Nak pelayan ?" Tanya Kakek sambil melihat pelayan yang tadi dipeluk oleh Kakek disebelahnya.
"Ehm" Pelayan itu berdehem.
"Pemikiran Saya, sama seperti Putri Laura. Rasa sayang Pangeran Liam itu dari penjelasan Anda, Seperti rasa sayang pada neneknya secara berlebihan atau bisa disebut, perasaan yang tidak normal" Jelas pelayan yang sepemikiran denganku.
"Ah, sudahlah. Percuma saja Aku menjelaskannya pada Kalian. Intinya, Liam itu sangat menyayangi neneknya" Kata Kakek.
Ya, diiya in saja.
Kakek, tidak suka bila Aku berbicara formal dengannya.
"Kakek, tadi Aku sempat mendengar Kakak Liam berkata Mana. Apa itu Mana ?" Tanyaku.
"Mana itu, bisa disebut dengan energi sihir. Sebetulnya, bila Arlo membunuh seseorang, Dia tidak pernah menebaskan pedangnya pada kepala musuhnya. Karena, bila Arlo menebas dengan pedang, pasti musuhnya akan menyerang balik Arlo dan Itu akan membuang tenaga Arlo. Arlo itu, lebih suka membakar orang hidup hidup menggunakan sihirnya sampai tak tersisa. Karena alasan, Dia lebih suka mendengar, jeritan orang saat dibakar hidup hidup" Kata Kakek.
Cerita Kakek tentang Arlo, memang seperti yang kulihat hari itu.
"Apa Kakek, pernah bertemu dengan Arlo ?" Tanyaku.
"Pernah" jawabnya.
Aku dan pelayan disebelah Kakek langsung melihatnya.
"Kapan dan dimana Kakek bertemu dengan Arlo ?" TanyaKu.
"Waktu, Kakek baru baru bertunangan dengan nenekmu. Dan Kakek juga sempat digigit oleh Dia. Lihatlah" Kata Kakek sambil menunjukkan lengan kirinya yang ada bekas gigitan yang sama sepertiku.
"Aku, salfok dengan kulit Kakek yang masih kenceng"
"Wuh, apa Anda tidak merasa kesakitan ?" Tanya pelayan disebelahnya.
"Hoho! ya, tentu saja tidak tidak sakit!" Kata Kakek.
"Hah? Tidak tidak sakit ? Maksud Kakek, sakit gitu ?" Tanya ku.
"Ya, tentu ~ Kalau digigit dan dihisap darahnya nggak mungkin nggak sakit" Kata Kakek.
Anjay
"Apa mungkin, Aku ngerasa sakit juga ya ? waktu itu, Aku sempet pingsan selama Empat hari" Batinku.
"Tapi, Arlo bisa menghilangkan rasa sakit yang diderita orang lain dengan cara mentransfer rasa sakit yang diderita orang lain kepada dirinya sendiri" Kata Kakek.
"Ya, caranya dengan Dia menghisap darah Kakek tadi, dulu itu kalo nggak salah, Dia menghisap darah Kakek saat melindunginya dari serangan warga yang mau membakar hutan tempat tinggalnya" Kata Kakek.
"Lalu, Kakek bisa sakit karena apa ?" Tanyaku.
"Saat itu, Kakek masih menjadi Putra mahkota dan Kakek diutus oleh Ayah Kakek untuk mencari Provokator yang bersembunyi diantara warga desa yang mengamuk. Anda saja Kalian tau, Arlo itu orangnya sinting. Padahal Dia sudah tau kalau semua warga sedang naik pitam. Dan Dia juga sudah tau kalau orang orang sedang mencarinya" Cerita Kakek.
"Padahal Dia tau semua itu. Dan bodohnya Dia, Dia yang sedang tidur tiduran diatas dahan pohon malah bertepuk tangan dan tertawa kencang yang membuat semua warga langsung terdiam. Hingga, seorang yang diduga sebagai provokator membuka mulutnya. Dan karena provokasinya yang berkata kalau Kakek dan Arlo berkerja sama. Amarah para warga langsung memuncak dan melempari Kakek dengan api dan senjata yang mereka bawa" Lanjut Kakek.
"Kemudian, Kakek tidak terlalu ingat kelanjutannya gimana. Tapi, saat Kakek membuka mata, Arlo sudah menggigit lengan Kakek dan menghisap darah kakek. Serta, disekitar Kakek sudah diselimuti dengan Api biru yang masih membakar orang orang yang sudah terjatuh ditanah" Cerita Kakek.
"Oh! Apa barusan yang Anda ceritakan ini tentang insiden Arlo dan Api biru yang sempat terkenal di tahun 1990 itu ?" Tanya Pelayan disebelah Kakek.
Kak Liam masuk kedalam dan duduk disebelahku.
"Nah! Benar! bagaimana bisa Kau bisa tau ?" Tanya Kakek.
"Kakak ngak jadi masak ?" Lirihku.
"Nggak diboleh i. Mereka ngomongin apa ?" bisik Kak Liam.
"Mereka cerita tentang Arlo" jawab lirihku.
Kak Liam ikut mendengarkan mereka bercerita.
"Alm, Ayah Saya, sangat mengagumi Arlo" jawab pelayan itu.
mereka berdua, tidak sadar Kak Liam masuk dan duduk disebelahku.
"Wah, Apa Ayahmu pernah bertemu dengan Arlo ?" Tanya Kakek.
"Pernah, Kata beliau, Arlo bisa berubah menjadi sosok apapun yang Ia mau. Ciri khasnya, selalu berambut putih" Jawabnya.
"Ayah Saya menceritakan itu pada semua orang. Dan, Ayah Saya dianggap bodoh dan gila oleh orang orang" Lanjutnya.
"PFFT!" Kak Liam menahan tawa.
Dia, benar benar tidak bisa membaca situasi.
"Kenapa Anda tertawa Pangeran ? Apa cerita Saya ini lucu ?" Tanya Pelayan itu.
"Tentu saja tidak lucu. Aku hanya tetawa karena, sepertinya Kau membenci Arlo yang belum tentu ada sekarang. Benarkan Laura ?" Tanya Kak Liam.
"Jangan bawa bawa Aku Kak!" Lirihku sambil menyikut lukanya.
"ADUH!" Kak Liam langsung memegang pahanya yang terluka itu.
"Entah itu ada atau tidak. Bagi Saya, Apa yang diucapkan oleh Ayah Saya tidak pernah bohong" Kata Pelayan itu.
"Ya ya ya, Itu semua tergantung dengan keyakinan orang masing masing kal-" Kak Liam belum usai bicara.
"Liam, hentikan bicaramu. Dan keluarlah. Biarkan Dia beristirahat" Kata Kakek sambil berdiri.
"Kek tunggu, Aku ingin ngobrol berdua dengan kakek. Mau kan ?" Tanyaku.
"Tentu saja. Ayo" Kata Kakek.
Aku ingin mengatakan kalau Arlo mengigit bahu kiriku dan menghisap darahku.
Setelah mendapatkan tempat yang enak untuk berbicara.
Aku bercerita tentang kejadian yang menimpaku saat Aku masuk kehutan.
Aku juga menunjukkan bahuku yang masih ada bekas gigitan Arlo yang tidak menghilang.
Kakek terkejut melihatnya.
"Tidak apa apa. Mungkin saat itu, rasa sakit yang Arlo miliki membuat Ia kehausan" Kata Kakek.
Aku pernah mendengar kata kata ini dari seseorang.
"Tapi, Aku sangat takut Kek" Kataku.
"Tidak apa apa, bila sewaktu-waktu hal ini terjadi lagi padamu, tolak saja Arlo. Dan berkatalah, Kau boleh mencintaiku tapi, Aku tidak akan bisa membalas cintamu" Kata Kakek.
"Kenapa Aku harus menjawabnya begitu ?" Tanyaku.
"Arlo, tidak seburuk dengan apa yang dirumorkan" Jawab Kakek sambil mengusap kepalaku.
Malam hari telah tiba.
Aku tidur dikamar milik Dera sendirian sedangkan Kakak Liam dan Kakek tidur dikamar milik Ayahnya Dera.
Aku, kepikiran dengan ucapan Kakek yang berkata kalau, Arlo tidak seburuk dengan apa yang dirumorkan.
Seolah olah, Kakek seperti mengenal Arlo dengan baik.
Aku ingin menemui Arlo untuk menanyakan hubungan Dia dengan Kakek.
Tapi, Aku takut Dia menghisap darahku lagi.
Tapi, Aku penasaran dengan rumah tua yang ada dimimpiku.
"Apa rumah itu, memang benar benar ada ya ?" Batinku.
Aku tak bisa tidur.
Baru pertama kali ini Aku tidur dikamar cowok.
"Hawanya memang beda, Apa karena ini ya, Aku tak bisa tidur ?"
Aku berdiri dari dudukku dan berjalan kearah jendela karena mendengar suara gitar dari luar.
Aku membuka jendela.
Dan ternyata Dera, memainkan gitarnya sambil tiduran di kain yang diikatkan dikedua sisi pohon tak jauh dari jendela kamar ini.
"Dia terlihat keren" Batinku.
"BESSSSS" seseorang membisikku dari belakang.
Aku langsung terkejut dan dengan spontan Aku langsung menyikutnya.
"Tep!" Ternyata, Kak Liam dibelakangku dan Ia menahan sikutan lenganku.
"KAK! Kenapa harus ngageti sih ?!" Tanyaku sambil mencubit i Kak Liam.
"Aduh! Aku nggak niat ngejutin! Kaunya yang tidak mendengar ketukan pintuku !" Jawab Kak Liam.
"Lalu! Siapa suruh Kakak masuk sembarangan ?!" Tanyaku sambil berhenti mencubitinya.
"Aku hanya ingin lihat keadaanmu saja" Jawab Kak Liam.
"Hah ? Kenapa Kakak harus mengkhawatirkan keadaanku? Kak sendiri masih dalam keadaan terluka ! ditambah lagi, Kenapa luka Kakak tidak ingin di obati?!" Tanyaku.
"Ya, nanti, setelah dari hutan lukaku akan langsung sembuh. Mau ikut kehutan?" Tawar Kak Liam.
Aku memang penasaran dengan apa yang Kak Liam yang Ia lakukan dihutan.
Tapi, ini sudah malam.
"Kalau nggak mau ya sudah. Aku akan kesana sendirian. JUMP! TEP" Kata Kak Liam sambil melompat kejendela di sampingku.
"Astaga Kak ! Kaki Kakak apa nggak sakit ?!" Tanyaku yang ikutan merasa perih dipaha kananku.
"Ini kalau sakit, pasti darahnya keluar banyak" Kata Kak Liam sambil tersenyum padaku.
Aku melihat darah Kak Liam yang menembus hingga dicelananya yang berwarna keabu abuan.
"Kak, sepertinya Kakak memang harus dibawa kedokter. TEP!" Kataku sambil menepuk keras paha Kak Liam yang terluka.
Kak Liam berekspresi biasa dan tidak merasakan sakit saat ku tepuk pahanya.
"TEP! TEPTEPTEP!" Aku menepuk nepuk pahanya.
"eh ? Apa yang Kau lakukan Laura ?" Tanya Kak Liam sambil menarik keatas alis kanannya.
"Kakak, Apa kulit Kakak sudah mati rasa?" Tanya Ku.
"Kau pikir, Kau tepuk tepuk tidak sakit ? Puk Puk Puk" Tanya balik Kak Liam sambil menepuk nepuk Kepalaku.
"Oh! Ya, maafin Kak, Kakak sendiri bilang nggak sakit" Kataku sambil mengusap telapak tanganku yang ada darahnya Kak Liam ke baju Kak Liam.
Kak Liam melihat tanganku.
Kak Liam hanya sedikit tertawa.
"Kau ini, Mau ikut gak ?" Tanya Kak Liam.
"Aku izin ke Kakek dulu" Kataku.
"Duh, gak usah pakek izin izinan ke si tua bangka yang gak inget umur itu. Gak lama lagi Dia juga bakalan mati. Ayo" Kata Kak Liam sambil menarik tanganku.
"Cucu kurang ajar" Batinku.
Tapi, Kakek membiarkan Kak Liam memanggilnya Tua bangka.
Aku menarik tangan Kak Liam untuk melewati pintu dengan benar.
Terkadang, Aku merasa kalau hubungan Kak Liam dan Kakek itu seperti layaknya seorang sahabat karib.