LIAMARLO

LIAMARLO
Aku, kenapa ?



Sampai diIstana


Aku melihat para pelayan dan beberapa prajurit yang mulai menata halaman belakang istana didekat danau untuk acara besok.


"Oi! Liam!" Panggil seseorang remaja laki laki yang mendatangi Kami.


Aku dan Kak Liam melihat keasal suara itu,


Sosok laki laki yang hampir sepantaran dengan Kak Liam dan berambut sedikit cokelat berada didepan Kami.


"Grep!" Dia langsung mengalungkan tangannya dibahu Kak Liam.


"Lama tak berjumpa Liam! Anda pasti Putri Laura adik nya Si Liam ini kan ?" Tanyanya sambil sedikit membukuk, dan Kak Liam ikut membungkuk karena Pangeran Gevand mengalungkan tangannya dibahu Kak Liam.


"Iya, Selamat sore Pangeran Gevand" Salamku sambil menunduk dan sedikit mengangkar gaunku.


Pangeran Gevand adalah cucu termuda dari kerajaan Xexelia.


Ibunya Pangeran Gevand adalah adik pertama Ibuku yang usianya sama seperti Kak Liam.


Dan juga, Ibunya Pangeran Gevand adalah seorang selir kedua dikerajaan Xexelia.


Dikeluarganya, Dia memiliki 6 saudara yang terdiri dari 2 perempuan dan 4 laki laki.


Posisi untuk menjadi Putra Mahkota di Kerajaan Xexelia telah diisi oleh Anak kedua Raja Xexelia dari Ratu Xexelia yang bernama Xexelia Zen.


"Iya selamat sore juga. Kau pasti disiksa sama Kakakmu ini ya?" Tanya Pangeran Gevand.


Aku hanya tersenyum sambil sedikit membungkuk.


"Duagh!" Kak Liam menyikut perut Pangeran Gevand.


"Aduh!" Pangeran Gevan langsung melepas Kak Liam.


"Gevand, Aku dengar, Kerajaan Xexelia mengusir Putra pertama sang Ratu ? Apa itu benar ?" Tanya Kak Liam.


"Kau ini, baru datang sudah tanya tanya hal yang nggak harusnya ditanyakan" Kata Pangeran Gevand.


"Yah, Kitakan Saudara, jadi, apa salahnya Aku bertanya" Kata Kak Liam.


"Ya, begitulah. Aku tidak tau masalah mereka. Tapi, Gimana Kondisimu ? Aku dengar hubungan Dynantya dengan Nelzefvia tidak baik?" Tanyanya.


"Maaf Pangeran, bolehkah Saya pergi untuk undur diri ?" Tanyaku yang merasa tidak enak ikut pembicaraan mereka.


"Yo, santai saja~ Tetaplah disini. Kakak Anda pasti tidak akan membiarkan Anda pergi jauh jauh darinya" Kata Pangeran Gevand.


"Tetaplah disini Putri, Kalau jauh jauh Anda bisa dimakan para buaya disana" Kata Kak Liam.


Harusnya, Aku takut padamu


"Baiklah" Lirihku.


"Mengenai pertanyaanku tadi gimana?" Tanya Gevand.


"Ya, Hubungan Kami baik baik saja. Berita yang menyebar itu hanya bohongan. Mau duduk disana dulu ?" Jawab dan tanya Kak Liam.


Kak Liam berbohong, Apa mungkin, Dia tak ingin Kerajaan Nelzefvia menjadi buruk dipandangan orang lain ?


"Boleh boleh" Kata Pangeran Gevand.


Aku tidak menyangka kalau Kakak dan Pangeran Gevand Seacademi dan sekamar asrama.


Mereka berdua terlihat sangat akrab.


Malam hari pun tiba.


Seperti biasa, Dia duduk diambang jendela kamarku.


"Kak. Apa Kakek tidak memberimu kamar ?" Tanyaku.


"Dia memberiku. Hanya saja Aku tidak suka baunya. Baunya seperti jeruk. Kalau disini, baunya manis dan ada bau kue cokelat" Jawab Kak Liam sambil tersenyum dan mengayun ngayunkan kedua kakinya.


Aku ingin sekali menghindarinya.


"Hah?! Kalo gitu tinggal ganti saja pengharum ruangannya!" Tegasku.


"Hahaha, Aku malas menganti pengharum ruanganku" Kata Kak Liam sambil tertawa.


"Sialan" Lirihku.


Kak Liam berhenti tertawa.


Aku melihat Kak Liam yang berhenti tertawa dan ruangan kamarku menjadi sunyi seketika.


Kak Liam melihat keluar jendela.


Aku mendekat karena merasa ada yang aneh dengan Kak Liam.


"Kenapa Kak ?" Tanyaku.


"Barusan, Aku merasakan aura membunuh seseorang. Berhati hatilah dan jangan jauh jauh dariku" Kata Kak Liam sambil melihatku.


"Kak, mau lapor ke Kakek ?" Tanyaku.


"Tapi boong" Jawab Kak Liam sambil tersenyum dan menunjukkan kedua telapak tangannya.


"Sialan! Kenapa Kakak membohongi ku lagi ?!" Teriakku sambil mencubiti Kak Liam diambang pintu.


"Aduh duh! duh! hahahah.... sakit!" Kata Kak Liam sambil tertawa.


"Mana ada orang kesakitan sambil tertawa!" Batiku yang masih mencubiti Kak Liam.


"Laura," Panggil Kak Liam.


Aku berhenti mencubit i Kak Liam.


"Yang ini Aku nggak bohong. Tetaplah berhati hati. Siapa tau peniru Arlo mengincar keluarga Kakek. Kurasa, Dia punya dendam pada Keluarga Kakek" Lirih Kak Liam.


"Kak, tapikan Kakak sudah tau orangnya. Kenapa tidak langsung tangkap saja ?" Tanyaku.


Kak Liam melihat keluar jendela.


"Aku masih belum punya banyak bukti. Tapi, tenang saja, Aku berjanji Aku akan melindungimu dan Kakek. Bila dia melukaimu atau kakek sedikit saja-" Kak Liam menyeringai.


"Aku tak akan segan membunuhnya" Kata Kak Liam.


"Psikopat!" Tegasku.


"Hah ?" Tanya Kak Liam.


"Mana mungkin Kak Liam bisa membunuh orang. Liat darah aja udah gemetaran dan pingsan" Ejekku.


"Pfft, Ya, siapa coba yang nggak takut liat darah. Tapi, bener juga, Aku nggak ingin mengotori tanganku dengan darah orang" Kata Kak Liam sambil melihat tangannya.


"Kak, Kakak nggak pergi makan malam ?" Tanyaku.


"Ya, pergi, Kau- Oh iya, Kau kan tetap disini ya?" Tanya Kak Liam sambil menunduk.


"Tep!" Aku memegang kedua pipi Kak Liam dan Aku mengangkat wajah Kak Liam yang menunduk.


"He'! DEGH!" Aku terkejut melihat wajah Kak Liam dan Aku melepas wajah Kak Liam dari tanganku.


wajahku terasa sedikit panas.


"Kak! Cep cepatlah keluar dan ikut makan malam. Aaa.. Aku akan baik baik saja! Nanti juga pelayang akan mengantariku makanan" Kataku sambil memalingkan wajahku.


Entah kenapa, jantungku berdegup dengan kencang dan Aku tak berani melihat Kak Liam.


"Hem ? Tumben Kau ngomong sambil liat tembok ? Eh...... Apa Kau sakit Laura ? Wajahmu merah sekali" Tanya Kak Liam sambil berdiri.


"Ah! I Iya! Kurasa Aak Aku sakit Kak!" gelagapanku yang tetap tak bisa melihat Kak Liam.


Kak Liam memaksa melihatku dari samping dan Aku perlahan berputar menghidari Kak Liam.


"Jangan Liat Aku Kak! Plak!"


"Ugh!" Aku, tak sengaja memukul wajah Kak Liam.


"Ah! Ma maaf Kak!" Tegasku sambil melihatnya.


Kak Liam tersenyum dan memegang keningku dengan tangan Kanannya serta memegang tanganku yang tak sengaja memukul wajah Kak Liam dengan tangan kirinya.


"Tanganmu dingin tapi, keningmu sedikit hangat. Apa Kau masuk angin ? Aku panggilkan pelayan dulu ya untuk menyiapkan air hangat untukmu ?" Tanya Kak Liam sambil melepas tanganku dan menutupi wajahnya dengan tangan kirinya.


Aku sangat malu dan jantungku tak berhenti berdebar.


"Ya Kak! Kurasa Ak Aku masuk angin!" setengah teriakku sambil melepas tangan Kak Liam yang ada dikeninku.


"Baiklah, tunggu disini dan istirahatlah" Kata Kak Liam sambil pergi dan tetap menutupi wajahnya dengan tangan kirinya.


Kak Liam menutup pintu kamarku.


"Bruk!" Aku menjatuhkan diriku diatas Kasur.


"Sialan! Apa yang terjadi denganku ?!" Tanyaku sambil menutup wajahku dengan bantal.


"Memalukan sekali...." Lirihku sambil membuka sedikit bantal yang menutupi wajahku dan memiringkan tidurku.


Tak lama kemudian Kak Liam dan pelayan yang membawakan bak dan air hangat datang kekamarku.


"Laura, Aku akan turun. Cepatlah sembuh" Kata Kak Liam dan pergi.


Aku mengangguk.


"Putri, Anda pasti lelah. Kami sudah menyiapkan Air hangat. Anda berendamlah kemudian minum jahe hangat yang sudah kami siapkan dan jangan lupa untuk istirahat. Setengah jam lagi Kami akan kemari, Apa Anda butuh Kami temani ?" Tanya seorang dayang dihadapanku.


"Tidak, Kalian bisa meninggalkanku" Kataku.


"Baiklah, kalau begitu, Kami pamit" Kata mereka kemudian, menutup semua gorden jedelaku.


Setelah mereka pergi Aku mulai berendam dan Aku sempat ketiduran didalam bak.


"Ckckckck" Suara laki laki yang tak asing dan berasal dari jedela.


Aku langsung terbangun dan membelalakan mataku.


"Hei Putri, Kalau mandi itu, tutup jendelanya juga. Jangan hanya gordennya"


"Degh!" Aku langsung melihatnya dan Aku terkejut