
DIALAM BAWAH SADAR LIAM
"Bagaimana ? Waktumu sudah habis loh"
"Apakah salam perpisahanmu berjalan dengan baik ?"
"Aku, sudah lelah" Ucap Liam.
"Hoh.... Kau bisa bicara ternyata.... Bagus bagus! Prok! Prok!" Sosok itu memberi tepukan tangan pada Liam yang bermata biru.
Dia, berjalan kearah Liam yang sedang berjongkok sambil menekuk lututnya.
Sosok itu berjongkok didepan Liam.
"Kau adalah Aku dan Aku adalah Kau. Kita ini satu. Tanpa Kau, Aku tidak akan bisa sihir atau pun ilmu pedang dan yang lainnya. Begitu denganmu, Tanpa ada keberadaanku, Kau akan selalu merasakan rasa sakit ditubuhmu" Ucapnya.
"Siapa Kau sebenarnya ?" Tanya Liam sambil melihat Sosok didepannya.
"Aku adalah tiga perempat dari jiwamu. Maukah bersatu dan membunuh mereka yang membuatku terpisah serta terkurung disini selama belasan tahun ?" Tawar Sosok itu.
Liam merasakan Aura kebencian yang sangat pekat darinya.
Liam menatap mata merah itu yang sangat pekat, menyala, dan menakutkan.
Sosok itu menatap Liam sambil menyeringai dan mengulurkan tanganya.
Liam menerima uluran tanganya.
Mata biru Liam, berubah menjadi merah pekat seperti mata Liam yang Asli.
...***...
"Blink!" Liam membuka matanya dan bola matanya berubah menjadi merah bercahaya.
"BLAAAR!!!!!!" Tanpa berbicara Liam langsung mengeluarkan sihir apinya yang dan langsung menyambar Cleux yang masih menyembuhkannya sambil melihat Eagle.
"HUAHHH!!!!!" Cleux yang terbakar langsung menjerit dengan keras.
Seisi ruangan langsung terkejut, termasuk Raja Dynantya.
"Pedang Sihir" Ucap lirih Liam.
"Tep! Wussht!!" Liam langsung jongkok dan melesat kearah Eagle yang baru melirik kebelakang.
"Cepat sekali" Batin Eagle sambil menggerakan kipasnya untuk mengibaskan Liam.
"Lambat" Ucap Liam sambil menyeringai.
"Trash!" Liam langsung menebas tangan Eagle.
Sihir pengurung dan sihir yang menghentikan Gevand milik Eagle menghilang.
"Crat!" Darah tangan Eagle yang ditebas oleh Liam muncrat mengenai pipi Laura dan Kemeja biru tua Liam.
Potongan tangan kanan Eagle terjatuh ditanah.
Eagle membelalakan matanya.
Tebasan Liam membuatnya terasa sangat kesakitan hingga air matanya keluar begitu saja.
Eagle langsung mengambil kipas miliknya dari tangan kanannya yang terpotong.
Gevand langsung berlari memutar kearah Laura dan langsung mengendongnya ketempat yang aman.
"WUUUSH!!!!!!" Eagle langsung mengkibaskan dengan keras Kipas miliknya yang dipenuhi oleh darahnya sendiri itu.
"Wosh! BRUAKKKK!!!" Liam langsung terpental jauh hingga membuat Liam menghantam pintu kayu Aula hingga pintu itu rusak.
"Sialan..... tanganku yang indah!!!" Teriak Eagle sambil melihat lengan tangannya yang sudah tidak utuh.
"KAU HARUS MENGGAN!!!" Teriak Eagle yang belum usai karena melihat Laura sudah tidak ada dibelakangnya.
"Tetaplah disini" Kata Gevand sambil melepas jasnya dan menaruhnya di kedua bahu Laura yang terbuka.
Gevand membawa Laura dibawah tangga sambil berancang pergi.
Laura memegang kemeja Gevand.
Gevand melihat kebelakang.
"Ada apa Putri ?" Tanya Gevand.
"Tolong, jangan halangi Aku. Aku sangat berterima kasih karena Pangeran telah menolongku" Kata Laura sambil melepas kemeja Gevand.
Gevand melihat mata biru Laura yang kehilangan cahayanya.
Laura berjalan melewati Gevand.
"Tolong lepaskan Aku. Aku tidak pantas dipanggil Putri" Kata Laura sambil meneteskan air matanya.
"Tetaplah disini. Jangan buat Liam marah padaku. Dia sangat menyayangimu" Kata Gevand.
"Itu tidak berlaku untuk sekarang" Ucap Laura sambil melepaskan tangan Gevand dan melangkah pergi.
"PINTUNYA TERBUKA!!!! KELUAR DARI SINI!!!!!!" Teriak Tamu tamu.
Semua tamu langsung berlari keluar Aula, termasuk para Pangeran kecuali Gevand, Andreas dan Zaverias, serta Raja Dynantya.
"Wosh!!" Liam langsung melesat dengan cepat kearah Eagle yang sedang mencari Laura.
"TRASH!!!!!!" Kepala Eagle terpenggal bersamaan dengan datangnya Dera dan yang lain.
"Glundung....." Kepala Eagle mengelinding kearah Kaki Dera yang tak jauh dari tempat mereka teleport.
"EAGLE!!!" Teriak Dera yang sangat terkejut.
Liam yang menebas kepala Aegle langsung melihat kebelakang mendengarkan suara Dera.
"KAU!" Liam sangat terkejut melihat Dera bisa lolos dari hutan.
"SIAPA YANG MEMBEBASKAN DIA ?! DRAP!" Teriak tanya Liam sambil berlari kearah Raja Dynantya.
Liam, berdiri membelakangi Raja Dynantya.
Arlo masih terkejut melihat kepala wanita didekatnya dan melihat disekitarnya terdapat tiga jasad yang tergeletak dan satu jasad masih terbakar.
"Apa apaan ini?" Tanya Arlo sambil melihat Liam.
Arlo, berfikir Liam melakukan semua ini.
"DERA! Siapa Kau sebenarnya?!" Tanya tegas Raja Dynantya sambil berjalan disemping Liam.
"Tua bangka! Kau dibelakang ku saja!" Tegas Liam sambil menarik tangan Raja Dynantya.
"Bruk!" Dera menjatuhkan kepala Ayahnya kelantai sambil menunduk.
Ia melepaskan ikat kepalanya dan menjatuhkannya begitu saja, poni Dera menutupi sebagian matanya.
"Haha.... Kau benar benar sudah kelewatan Liam" Ucap Dera sambil membelakangkan poninya.
Mata merah Dera terlihat di mata orang orang yang berada disana.
Arlo yang berada disampingnya langsung terkejut dan membawa pergi dua orang Tim Penyidik itu dengan sihir teleportnya didekat Laura.
"Dia peniru Arlo yang sebenarnya. Dan Dia juga membuatku dituduh sebagai peniru Arlo serta Dia mengaku ngaku sebagai Kakakku" Lirih Liam sambil melirik Raja Dynantya.
"Apa ?" Aelius teringat sesuatu.
"Hei.... Apa Kau lupa dengan Apa yang Kau lakukan pada Ibuku Charusheel Aelius ?" Tanya Dera sambil menelengkan kepalanya.
"Kalian tetaplah disini. Turut i ucapanku termasuk Kau Laura. Disana berbahaya" Ucap Arlo sambil berjalan meninggalkan mereka di tempat itu.
"Apa yang Kau maksud ?" Tanya Raja Dynantya.
Dera mendengus.
"! Seorang Raja yang berkuasa bertidak tercela pada pelayannya dan membunuh pelayannya dengan menuduhnya kalau dia dihamili oleh Prajurit sehingga Dia berpisah dengan ku. KAU MELUPAKAN HAL ITU ?!!!!" Teriak tanya Dera dengan matanya yang berair.
Liam melirik Aelius.
"Benar benar! Raja yang patut dicontoh" Ucap Dera sambil menepuk kedua tangannya sambil berjalan mendekat kearah Aelius.
Liam menghalangi jalan Dera.
Liam benar benar sangat mewaspadai Dera sebab, Ia tau kalau Dera lebih kuat darinya.
"Menyingkirlah dari Aelius. Yang Kau cari adalah Aku. Aku yang membunuh ibumu 20 tahun yang lalu" Ucap Arlo sambil berjalan kearah Dera.
Dera melihat kearah Arlo.
"PFFT!" Dera terkekeh.
"Kenapa Kau berbohong ? Aku benar benar melihatnya membunuh Ibuku dengan cara memenggal kepalanya dihadapan para warga" Kata Dera.
"Dia benar benar memfitnah Ibuku" Kata Dera sambil memegang dadanya.
Liam benar benar tidak tau apa apa dengan masalah ini, termasuk sisa orang orang yang masih ada disana dan Laura yang mendengarkan perkataan Dera yang mengema diruangan Aula yang luas itu.
"Aku yang menyebarkan fitnah itu pada orang orang. Jangan salahkan Aelius. Bila ingin membalaskan dendammu padaku Ayo diluar saja" Ucap Arlo yang berbohong pada Dera.
"Jangan berbohong padaku. Aku berada di Istana Dynantya dan melihat Dia menyebarkan rumor tak benar itu pada orang orang setelah Ibuku melahirkan Liam" Ucap Dera.
"Apa ?!" Liam dan yang lain langsung terkejut serta, secara bersamaan mereka membelalakan mata mereka.