LIAMARLO

LIAMARLO
Kakek



"Suamiku, nyawa memang harus dibayar dengan Nyawa. Aku tak ingin Namaku buruk karena ulah adikmu itu. Bila Kau tidak memutuskannya dengan benar dan cepat. Aku akan kembali ke Ayahku dan Aku akan..." Kata Istri Kak Kyle dengan nada sok dramatis.


"Sialan..." Batinku.


Aku hanya diam menunggu keputusan Kak Kyle dan Aku berusaha untuk bersikap tenang.


"Liam harus mati" jawab Kak Kyle.


"DEGH!" suara Jantungku sambil membelalakan mataku.


......***......


Emosiku meluap karena ucapan Istrinya Kak Kyle.


Tanpa sadar, Aku masuk diruangan itu dan-


"PLAAAKKKKK!!!" Aku menampar Istri Kak Kyle dihadapan dua orang raja dan seorang Putri Mahkota.


Seketika, ruangan itu menjadi senyap.


"PLAKKKK! LAURA! APA YANG KAU LAKUKAN?!" Kak Kyle berani menamparku dan membentakku dihadapan orang lain.


Aku tersenyum pada Kak Kyle.


"Bangs*t ! Kau memilih kehilangan nyawa adikmu sendiri dari pada kehilangan istrimu yang tidak benar ini ?" Tanyaku sambil melihat ke Kak Kyle.


Putri Zenovia memegang pipi kirinya.


"Jaga Etika mu Laura ! Ingatlah! Kau berhadapan dengan siapa ?!" Bentak Kak Kyle.


"Memang, Kau sebut apa dirimu ini ? Raja ? Apakah seorang Raja bersikap seperti ini ? Seorang Kakak ? Apa Seorang Kakak dengan santainya dan tanpa berfikir panjang memutuskan untuk menghukum mati adiknya yang belum tentu bersalah ? Seorang Suami ?Apa menurutmu Dia adalah istri yang beretika dan pantas untukmu ? Oh, Itu memang benar. Itu Kau semua kan ? Yang beranggapan kalau semua ucapan istri jal*ngmu ini benar. Kau berani menampar adikmu dan mempermalukan adikmu. Sialan, bangs*t, banj*ngan! Malulah dirimu menyebut dirimu sebagai seorang Raja dan Kakak!" Tegasku.


"LAURA !" Bentak Kakak Kyle.


Aku melihat wajah Kak Kyle yang sangat marah.


"KELUARLAH KAU DARI ISTANA INI!! KAU TAK PANTAS DISINI !!" Bentak Kak Kyle.


Entah kenapa Aku tak sedih ataupun terkejut mendengar ucapan Kak Kyle.


"Baik! Aku keluar dari keluarga ini! Kau berubah sejak ada Wanita sialan ini" Kataku dan keluar dari ruangan itu.


Aku kecewa dengan Kak Kyle


Selama ini, Dia hanya berpura pura menjadi Kakak yang baik untukku.


Kakek berada dibalik pintu yang tertutup.


Ia menatap Kak Kyle dengan wajah datarnya dihadapanku.


"Kakek..." Lirih Kak Kyle.


"Laura, mulai hari ini, Kau dan Liam akan tinggal di Dynantya bersamaku. Aku akan memutus semua aksesku dengan Kerajaan Nelzefvia dan biarkan Aku sendiri yang mengusut kematian Putra Mahkota Alter. Bila bukan Liam yang membunuhnya, bersiaplah kehilangan tanganmu yang menampar cucuku, Kyle. Lalu, bila memang Liam yang membunuh Alter, Aku sendirilah yang akan memenggal kepala Liam dihadapan Kalian berempat. Hari ini, Aku menolak untuk ikut serta dalam rapat para petinggi ini karena, bukti yang kalian berikan tidak cukup kuat untuk menyalahkan Liam. Dan Alter, bawa tim penyidikmu yang melukai cucu kesayanganku Liam" Kata Kakek sambil memegang bahuku dan membawaku pergi.


"Baik, Baginda Yang Agung Dynantyan Raiez" Kata Raja Alter sambil sedikit membungkuk.


Aku hampir menanggis mendengar ucapan Kakek yang memihakku dan Kak Liam.


Kak Liam, memang cucu kesayangan Kakek.


Aku dan Kakek berjalan ke sel tahanan dimana Kak Liam berada.


Aku melihat Kak Kyle yang duduk diatas kursi kayu dalam keadaan terikat dan pedang besi yang masih menusuk paha kanannya.


Hatiku ngilu melihat kondisi Kak Liam yang seperti itu.


"Kak..." Aku memanggil Kak Liam yang penuh darah dan menekuk pandangannya.


"Prajurit buka sel Cucuku!" Tegas Kakekku.


Kak Liam melihatku dengan senyuman kecilnya.


Aku meneteskan air mata melihat kondisi Kak Liam itu.


Padahal, baru tadi malam kami bercanda.


"Dasar cengeng! Jangan menanggis karena merasa kasihan padaku" Kata Kak Liam sambil tersenyum padaku.


"Cklek" Pintu sel dibuka.


Kakek langsung datang dan membuka tali yang mengikat Kak Liam.


"Sakit ?" Tanya Kakek.


"Eh ?" Aku terkejut mendengar Kakek bertanya seperti itu pada Kak Liam.


"Tidak Kek, Kakiku hanya sedikit tergajal" Kata Kak Liam sambil memegang pedang besi yang menusuk pahanya.


"TRAASHHH!" Kak Liam langsung menarik pedang besi yang tembus dipaha kirinya keluar.


"WEHHHHHH?!!!!!!!! GIMANA BISA GITU?!!!!" Tanyaku yang terkejut dan ngilu secara bersamaan.


"Apanya yang bisa gitu ?" Tanya Kak Liam dengan santai sambil mengambil perban dari tangan Kakek.


"I... It.. Itu loh Kak! Kok ngelepas pedangnya enak gitu ? Apa Kakak enggak sakit ?" Tanyaku yang masih syok.


Kak Liam mengikat perban dipahanya.


"Hal ini tidak bisa menyakitiku Laura. Lalu, bagaimana dengan keadaan Lima pelayan dirumah ?" Tanya Kak Liam.


"Empat orang mati dan satu orang selamat" Jawabku.


Kak Liam langsung melihatku dengan wajah tidak percaya.


"Itu benar Kak. Tadi Aku kemari diatar oleh kusir dengan kuda hitamnya" jelasku.


"Hah ?! Kau diboceng kusir itu dengan Kuda ?" Tanya Kak Liam.


"Iya Kak, memang kenapa ?" Tanyaku.


"Saat lukaku kering nanti, Aku akan membawamu jalan jalan dengan Kuda putihku. Setelah ini Aku harus berterima kasih pada Pelayan itu dan Aku akan berbicara dengan Kusir itu " Kata Kak Liam.


Kakek hanya geleng geleng dibelakang Kak Liam.


"Lalu Kek, bagaimana bisa Kakek melepaskan ku begini ?" Tanya Kak Liam.


"Aku adalah pemimpin tertinggi di Negeri Ini. Mereka bisa apa bila Aku marah ?" Jawab Kakek.


"Heh, lagi lagi, menyalah gunakan kekuasaan ya ?" Lirih Kak Liam sambil tersenyum pada Kakek.


mereka berdua terlihat lebih akrab dari yang Aku kira.


Mereka seperti teman.


"Aku tidak membunuh Alter. Malam itu, Aku hanya berbincang biasa dengannya. Dan bukti rambut yang mereka temukan memang rambutku. Saat itu, memang ada orang yang memakai jubah gelap berlari kearahku dan dia memotong sebagian rambut belakangku yang agak panjang didekat danau sebelum Aku menemui Alter" Kata Kak Liam sambil kembali duduk.


"Ya, Aku paham kalau Kau tidak akan membunuh orang. Tapi, apa yang Kau bicarakan dengan Alter ?" Tanya Kakek.


"Ya...., Aku berbicara dengan Alter tentang perjodohan Laura dan Alter. Alter bersedia untuk membatalkan perjodohan mereka asal Aku mengakui kalau, Dia lebih tampan dariku dan Aku berkata Aku punya bukti kalau Dia punya banyak wanita. Alter itu, masih seperti bocah. Dia langsung menepuk bahuku dan mengajak untuk makan malam bersama direstoran terdekat setelah Dia berkata untuk membatalkan perjodohannya dengan Laura" Cerita Kak Liam.


"Oh, berarti, setelahmu pasti ada orang lain kesana menemuinya" Kata Kakek.


"Ya. Itu sudah pasti Kek. Lagian, Aku melihat orang berpakaian jubah gelap itu lagi melewatiku saat Aku mau kehutan" Jelas Kak Liam.


Aku menyimak pembicaraan mereka.


"Kau ingat jubahnya ?" Tanya Kakek.


"Aku tak ingat jubah. Tapi, dari auranya, Aku tau siapa Dia. Dia orang yang sama yang menyamar menjadi Arlo dan orang yang membunuh orang orang disekitar hutan dengan memberi bubuk yang sifatnya hampir mirip dengan Mana" Kata Kak Liam.


"Mana ?"


*Mana adalah energi sihir.


"Kalau sudah tau, mau langsung menangkap Dia ?" Tanya Kakek.


"Santai dulu saja Kek. Aku ingin tau alur cerita yang Dia buat. Aku juga masih penasaran, kenapa Dia membuat rumor buruk tentang Arlo" Kata Kak Liam sambil tersenyum.


Tingkah Kak Liam, Dia seolah olah Dia kenal dengan Arlo.


"Baiklah, Kalau gitu, Ayo pulang" Kata Kakek.


"Pulang kemana ?" Tanya Kak Liam.


"Ke Istana Dynantya" Jawab Kakek.


"Apa Kakek nggak capek baru datang dari Kerajaan Dynantya mau kembali lagi ?" Tanyaku.


"Kita menginap dulu ditempat lain" Kata Kakek.


Kakek pergi diam diam dari istana tanpa membawa seorang prajurit setelah ia berkata membatalkan pertemuan dadakan ini pada semua petinggi Negri Ardan.


Akhirnya, Kami menginap dirumah kusir itu karena tidak menemukan tempat menginap yang sesuai dengan keinginan Kakek.


Kakek, lebih suka dengan sesuatu hal yang tidak menyambutnya dengan hal yang mewah.


Kakekku memang aneh, Dia lebih aneh dari Kak Liam.


beliau mengganti semua pakaiannya yang mewah dengan pakaian kaos milik Kak Liam.


"Kakek dan cucu sama saja" Batinku.