LIAMARLO

LIAMARLO
MASA LALU bag.8 Penyesalan selalu di akhir _Selesai



Aelius sangat kecewa pada Arlo karena mengusirnya di malam yang hujan deras.


Sesekali, Aelius melihat wajah putranya yang terlihat kedinginan.


Setelah sampai di gerbang Istana, Aelius benar benar sangat terkejut.


Tanah disekitarnya yang hancur dan banyak mayat yang bertumpukan.


Aelius langsung berlari masuk kedalam Istananya dan melihat Scarlette yang masih dalam keadaan tidak sadarkan diri di lantai yang dingin.


Kondisi Istana masih sangat sepi.


Aelius membangunkan Scarlette dan Scarlette pun tak lama kemudian terbangun.


Aelius sangat heran dengan apa yang di lakukan Aneria sekarang.


"Katanya Dia sanggup melindungi Scarlette dan Bayi ini. Tapi, Apa maksudnya ini ? Kenapa Aneria membiarkan Scarlette tergeletak di lantai dan menitipkan bayi ini pada Arlo ? Ditambah lagi, Apa apaan dengan nama yang Aneria berikan pada bayi ini. Padahal Dia bukan Ibunya" Batin Aelius.


Andai saja bila Aneria tau isi hati Aelius mungkin, Aneria akan benar benar kecewa padanya.


Scarlette yang terbangun langsung mencari Aneria.


"Dimana Ratu ?! Apa Beliau baik baik saja ?!" Tanya Scarlette yang baru sadar.


"Sudah jangan pikirkan Aneria, Dia pasti baik baik saja" Kata Aelius sambil memberikan Bayinya pada Scarlette.


"Ratu tidak baik baik saja Baginda ! Mungkin Ratu saat ini sedang terluka parah diatas. Saya harus menolongnya" Kata Scarlette sambil berdiri dan mengendong bayinya.


"Aneria itu bisa diandalkan. Kau Istirahatlah, biar Aku yang melihatnya" Kata Aelius sambil berdiri.


"Hati-hati Baginda, mungkin diatas masih ada musuh yang bersembunyi" Kata Scarlette sambil mengusap ubun ubun bayinya.


Aelius mengangguk dan menaiki anak tangga satu persatu.


Aelius melihat darah yang berceceran di ambang pintu kamar yang digunakan Scarlette untuk bersalin.


Aelius masuk kedalam kamar itu.


Ia melihat jasad yang tergeletak tanpa kepala.


"Aneria memang bisa di andalkan. Musuh sekuat apapun pasti mampu dikalahkannya" Batin Aelius.


Aelius melihat ke sosok yang tidur diatas kasur yang tubuhnya ditutupi dengan selimut hingga di kepalanya.


"Aneria, Bangunlah kenapa Kau bersantai ? Dan kenapa Kau memberi nama bayi itu dengan nama depan Arlo ?" Tanya Aelius.


Aneria tidak menjawab ataupun bergerak sedikitpun.


"Aneria, Harusnya biar Aku yang menamai bayi itu. Apa Kau berbuat begini karena Kau kesal padaku ?" Tanya Aelius.


Aneria sudah meninggal, Aelius tidak tau akan hal itu.


Aelius mulai merasa kesal karena Aneria tidak menjawab pertanyaannya satu pun.


Aelius pun berjalan mendekati selimut yang menyelimuti Aneria dan langsung membukanya.


"Aneria ! Jangan !..."


"DEGH !" Aelius berhenti membentak dan Ia melihat tubuh istrinya yang penuh dengan luka tusukan dan kulitnya yang pucat.


"Aneria...." Aelius langsung memegang kedua pipi Aneria yang dingin.


"Kemudian Aku mengistirahatkan Aneria di kasur, Dia mungkin sudah lelah"


Aelius teringat ucapan Arlo.


"Aneria ! Bangun ! Aneria !" Air mata Aelius membanjiri pipinya.


Ia menguncang tubuh Aneria yang sangat dingin dan pucat.


"Aneria ! Maafkan Aku ! Harusnya Aku tidak mengandalkanmu dari awal !" Aelius memeluk tubuh Aneria.


Scarlette yang di bawah mendengar suara Aelius.


Ia takut terjadi apa apa dengan Aneria karena musuh Aneria bukanlah orang biasa.


Scarlette langsung menaiki tangga untuk melihat keadaan Aneria.


Penyesalan memang selalu datang di akhir.


Scarlette melihat Aelius yang memeluk jasad sosok wanita yang telah menolong hidupnya itu.


"RATU!!!!!!" Hati Scarlette pecah melihat sosok yang telah menolongnya itu kehilangan nyawa.


Scarlette benar benar tidak bisa memaafkan dirinya sendiri atas apa yang telah ia perbuat bersama Aelius.


Seisi istana terkejut mendengar kematian Aneria yang sangat tiba tiba.


Aneria memang sosok yang sangat dihormati di Kerajaan Dynantya.


Kabar duka atas meninggalnya Aneria tersebar ke seluruh kerajaan yang berada di negri Ardan.


Upacara pemakaman Aneria di penuhi oleh isak tangis seisi kerajaan Dynantya.


Arlo melihat upacara pemakaman Aneria dari kejauhan.


Aelius memberi nama putranya dengan panggilan Liam.


Tapi, tidak ada satu orang pun tau kalau Liam adalah putra Aelius kecuali Dera putra Scarlette.


Scarlette sangat memaksa Aelius untuk memberikan hukuman mati padanya.


Awalnya Aelius menolak hal itu.


Tapi, Scarlette membuat nama dirinya menjadi buruk dipandangan semua orang.


Para warga berdemo di depan istana Dynantya untuk menghukum mati Scarlette karena Scarlette dianggap wanita murahan dan selalu menggoda laki laki di dalam Istana ataupun di luar istana.


Akhirnya, hakim Kerajaan Dyanantya memberikan hukuman mati.


Scarlette dihukum mati dihadapan semua orang atas permitaannya sendiri.


Sebelum kematiannya, Scarlette berpesan pada Aelius untuk tidak membongkar Liam adalah putra Aelius.


Aelius menyetujuinya demi martabatnya sebagai seorang Raja.


Aelius berencana untuk menaruh Liam di panti asuhan.


Flyyn menolaknya.


Flyyn teringat dengan Ibunya yang telah berusaha keras untuk membantu Scarlette melahirkan putranya itu.


Flyyn berkata untuk mengadopsi Liam dan telah mendapatkan persetujuan dari Suaminya.


Flyyn tidak tau kalau Liam sebenarnya adalah adiknya dari Ibu yang berbeda.


Aelius melihat secerca harapan dari mata Flyyn yang sangat ingin merawat putranya ini.


Aelius juga sangat berat untuk melepaskan Liam.


Tapi harus bagaimana lagi ? Ini demi martabatnya sebagai seorang Raja.


Dera yang masih kecil melihat kematian Ibunya di depan matanya sendiri.


Ia mulai membenci Aelius karena telah membiarkan Ibunya mati dalam keadaan tidak terhormat dan memberikan adiknya yang merupakan satu satunya peninggalan Ibunya pada orang lain.


Dera mulai di asramakan oleh Aelius bersama dengan Kyle.


Dera yang bermata merah, telah berubah menjadi mata yang agak kecoklatan karena sihir milik Scarlette yang diturunkan padanya.


Tapi, kehidupan Dera berubah sejak Ia bertemu dengan salah satu orang Alan, Dia adalah Ayahnya Eagle, yang mengajarkannya tentang sihir dan telah menjadi guru pribadi Dera diluar Asrama.


Ayahnya Eagle (Ayah Kekasihnya Dera) Memberitahu semua tentang rencananya Alan untuk mengembalikan sihir agar kembali di gunakan di negri ini dengan cara menakhlukan semua kerajaan di negri Ardan.


Dera yang masih berusia 10 tahun membodohi orang itu dengan berkata akan menundukkan semua kerajaan di negeri ini demi cita cita Ayahnya.


Mendengar ucapan Dera itu, Ayah Eagle sangat senang.


Padahal, Dera hanya ingin memanfaatkan orang itu agar bisa membalaskan dendamnya atas kematian Ibunya pada Aelius.


Bagi Dera, Menundukkan seluruh kerajaan di negeri Ardan adalah hal yang mustahil.


Ibunya juga, pernah berkata kalau ayahnya adalah orang yang hebat dan pintar, namun jahat.


Dera tidak ingin menyakiti hati Ibunya yang sangat ia sayangi itu demi cita cita ayahnya yang sangat tidak masuk Akal.


...***...


KEMBALI KE ZAMA SEKARANG, MALAM PENGANGKATAN GEVAND.


Dera meneteskan Air matanya mengingat kejadian itu.


Aelius yang teringat kejadian itu melihat ke arah Arlo yang berusaha menutupi hal itu dengan cara menyalahkan dirinya sendiri.


Liam melihat ke Aelius yang ada di belakangnya.


"Apa yang Kau sembunyikan dari Kami Kek ?" Tanya Liam pada Aelius.


Aelius membelalakan matanya melihat mata merah Liam yang menatapnya.


"Kek, Jawab !" Tegas Liam.


"Kau, Putraku. Dari Ibunya Dera" Jawab Aelius.


Sisa orang yang berada di Aula istana itu terkejut termasuk Laura yang bengong dari tadi.


Liam tidak percaya akan hal itu.


Dia mengigit keras gigi giginya sambil mengarahkan pedang sihirnya yang berwarna biru di leher Aelius.


Dan bersamaan, Arlo mengarahkan pedangnya di leher Liam.


"Turunkan pedangmu bocah" Kata Arlo pada Liam.


"Jangan ikut campur. Ini adalah urusan keluargaku. Orang seperti Dia harusnya tak layak untuk hidup" Kata Liam.


"Dia telah membuangku dan Kalian berdua telah mengurungku 13 tahun ditempat yang gelap dan hampa. Apa menurutmu Dia pantas di sebut sebagai seorang Ayah ?" Tanya Liam.


Liam yang saat ini bukanlah Liam yang dikenal oleh Laura.


"Itu, Karena Kau membunuh seluruh prajurit, pelayan yang menjagamu, hampir membunuh Laura saat berusia empat tahun dan di tambah lagi, Kau menyakiti dirimu sendiri akibat sihir yang belum bisa Kau kendalikan" Jelas santai Arlo.


Liam tersenyum sambil menunduk.


"Tapi kenapa Kalian mengurungku ? Aku tidak sadar melakukannya" Kata Liam.