
"Apa Kau akan mencintaiku balik?" Tanyanya.
"Itu tidak akan!" Tegasku.
"Yasudah, Kalau begitu teruslah begini. Aku akan tetap menyukai mu selalu, hingga, Aku menemukan orang yang bisa membebaskan kutukanku ini" Katanya.
"Kau Playboy ?" Tanyaku.
"Hah?"
"Jangan tanya akan hal itu" Katanya.
...***...
"Ternyata, Kau sama seperti yang dirumorkan" Kataku.
Aku memberanikan diri untuk berbicara dengannya.
Aku ingin bertanya hubungan Dia dengan Kakek.
Dia berdiri dan membuka jubahnya.
"Pakai ini. Malam ini sangat dingin" Katanya sambil memberikan jubah biru gelapnya padaku.
Dia mencuci wajahnya dan rambutnya yang terlihat sedikit memerah di bagian belakangnya.
"Apa Kau dan Kak Liam satu orang yang sama?" Aku tak suka menyimpan pertanyaan yang membuatku bertanya tanya.
Dari yang kulihat, itu sudah cukup membuktikan kalau Dia dan Kak Liam sama.
"Liam? Siapa dia ?" Tanyanya.
"Kakakku, Dia berambut putih dengan mata biru dan pupil merah" Jawabku.
"Oh, bocah yang sering berendam disini dan meninggalkan baju serta tas pingangnya sembarang itu?" Tanyanya dengan santai tanpa melihatku.
"Eh? Jadi, tas yang Kau pakai itu punya Kak Liam yang dia tinggalkan disini ?" Tanyaku.
"Ya, Aku nggak tau fungsi dia bawa perban banyak ditasnya. Dia meninggalkan empat tas yang sama dan berisi banyak perban Dia cocok dipanggil duta perban" Katanya.
"PFFT!" Aku hampir tertawa.
"Kalau mau tertawa, tertawa saja" Katanya sambil menyisir rambutnya kebelakang dengan tangan kanannya.
"Itu, tadi rambutmu kenapa?" Tanyaku.
"Biasa, hidup dihutan tidaklah muda" Jawabnya.
"Kata Kakekku, Dia pernah bertemu denganmu dan Kau menghisap darahnya. Apa itu benar ?" Tanyaku.
"Oh, Iya. Kami berteman" Jawab santainya.
"Eh? Kau dan Kakek berteman ? Bagaimana bisa ?" Tanyaku.
Aku lupa dengan Kak Liam yang terluka.
"Ya, Aku menyukai istrinya" Jawabnya.
"Heh?!" Aku sangat terkejut.
"Saat itu, Aku berfikir. Mungkin mencintai tunangan orang lebih baik. Karena Aku pasti tidak akan bisa mendapatkan secuil balasan cintanya" jelasnya.
"Saat itu, Aku menyatakan perasaanku sambil berkata, jangan membalas cintaku"
"Aku dulu masih ingin hidup. Tapi, sekarang sudah tidak lagi. Aku menyukaimu sejak usiamu empat tahun" Katanya.
"Njir" Batinku.
"Aku berubah karena ucapan Dia yang berkata, Cobalah untuk mencintai orang yang menurutmu spesial. Rupa Dia mirip sekali denganmu" Kata Arlo.
"Lalu, kalau Aku mirip dengan Nenek, jangan paksa Aku untuk" Kataku belum usai.
"Aku tidak memaksamu untuk menjadi seperti Dia. Kau adalah Kau. Jadilah dan percayalah dengan dirimu sendiri. Menerima diri sendiri itu lebih baik sebelum Kau menerima orang lain" Katanya.
"Kata katanya sangat bijaksana, tapi tidak dengan dirinya yang pernah melecehkan ibunya sendiri itu" Batinku sambil melihatnya.
"Apa ucapanku salah ?" Tanyanya.
"Tidak" Jawabku.
"Raut wajahmu itu meragukan. Laura, Aku sangat kesakitan menahan ini. Izinkan Aku meminta darahmu sedikit saja" Pintanya.
"Tidak! Kau tidak boleh melakakunnya! Gigitanmu! masih membekas dibahu kiriku!" Tegasku.
"Aku bisa menghilangkannya" Katanya.
"Kalau gitu! cepat hilangkan !" Tegasku.
"Aku tidak mau melakukan itu. Kau sendiri, pasti tidak mau bila Aku melakukannya" Katanya sambil tersenyum dan duduk di depanku.
"Melakikan hal apa yang Kau maksud?" Tanyaku.
"Menjilat area bekas gigitanku" Jawabnya.
"Ugh! Menjijikan" Lirihku.
"Kan, Kau pasti tidak mau Aku melakukannya, apa lagi Aku" Kata Arlo dengan nada yang menjengkelkan.
Dia sama menyebalkannya dengan Kak Liam dan sama sama mesumnya, Tapi, Aku lebih suka dengan Kak Liam.
"Menyebalkan. Apa Kau bisa mengobati Kakakku ?" Tanyaku.
"Hah? Kau mau menolong orang harus liat gender dulu?" Tanyaku.
"Tentu saja. Kalau laki laki Aku tidak mau menolongnya" Jawabnya dengan santai.
"Hah?!" Aku benar benar terkejut mendengar jawabnnya.
"Aku suka menolong cewek karena ada duing duingnya" Katanya sambil menaruh dagunya di punggung tangan kanannya.
"Sialan! Kau mesum sekali! Pergi Kau dari sini !" Teriakku.
"Kenapa Aku harus pergi ? Ini rumahku dan ini wilayahku" Kata Arlo.
Ini memalukan sekali.
"Yasudah! Aku yang pergi!" Kataku sambil berdiri dan membalik badanku.
"Yasudah, hati hati dijalan~" Dia mengeluarkan suara bernada.
Ah iya, Aku lupa tanya jalan pulang.
"Arl.." Aku belum selesai memanggilnya Dia telah menghilang dibelakangku.
"Njir, jangan jangan yang tadi itu...."
"Wushhhhhh" Sepoian angin malam membuat ku merinding.
"Drap!!" Aku langsung berlari kedalam rumah dan masih mengenakan jubah Arlo itu.
Didalam rumah Aku melihat Kak Liam sudah duduk sambil menggosok kepala bagian belakangnya.
"Darimana saja Kau Laura ?" Tanya Kak Liam.
"Aku cari air untuk membersihkan darah dibelakang kepala Kak Liam" Jawabku.
"WOH! Kau peduli padaku Laura ?" Tanya Kak Liam.
"Tentu saja Kak! Kakak terluka karena Aku, Maafkan Aku Kak" Kataku sambil mendekat dan membungkuk.
"Hei hei~ sudahlah~ Aku tadi hanya mengantuk dan tidak terluka lihatlah. Darahku sudah hilangkan ? Kepalaku juga nggak terluka" Kata Kak Liam sambil berdiri dan memegang kedua bahuku.
Aku melihat Kak Liam yang tersenyum padaku.
"Kak, apa Kakak bukan manusia?" Tanyaku.
"kenapa Kau tanya begitu ?" Tanya Kak Liam.
"Kakak mencabut pedang yang tembus menacap paha kakak, lalu Kakak bisa melompat tinggi dan sekarang, Kakak jatuh dari ketinggian hampir 7 meter. Kakak seperti.." Ucapku belum usai.
"Tsuuutsss" Kak Laim menutup mulutku.
"Aku hanya manusia biasa. Hanya saja, Aku sudah terlalu banyak berlatih dan mengalami masa masa sulit" Kata Kak Liam sambil tersenyum padaku.
"GREP!" Aku langsung memeluk Kak Liam.
Tubuhku bergerak dengan sendirinya.
"Kak Liam jangan melakukan hal itu lagi...." Aku menanggis sambil memeluk erat Kak Liam.
Aku mendengar suara detakan jantung Kak Liam yang bedebar kencang.
"Laura, Aku tidak akan mati dulu sebelum melihatmu bahagia. Jadi jangan nanggis. Kau membuatku merasa bersalah" Kata Kak Liam.
"Jangan melarangku menanggis! ini salahku!" Tegasku dan masih memeluk Kak Liam.
"Hehe... Bolehkah Aku memelukmu balik?" Tanya Kak Liam.
"Biasanya langsung peluk! Kenapa sekarang malah bertanya?" Tanyaku.
Kak Liam memelukku balik.
Pelukan Kak Liam terasa nyaman dan hangat.
Wanginya juga khas, seperti rumput terkena air.
Kak Liam mengusap rambutku.
"Laura, apapun yang terjadi padaku, jangan bilang Kakek. Aku tak ingin Dia khawatir. Mau kembali sekarang ?" Tanya Kak Liam.
Aku mengangguk sambil melepas pelukanku.
"Mau ku gendong ? Kau pasti lelah" Kata Kak Liam sambil menunjukkan punggungnya.
"Tidak Kak, Aku bisa jalan sendiri" Kataku sambil berjalan disamping Kak Liam.
"Kalau nggak kuat jangan dipaksa" Kata Kak Liam dengan santai.
Harusnya, Aku yang bilang gitu
Kak Liam berjalan disampingku sambil mengosok kepala bagian belakangnya.
"Kak, habis dari sini, Kakak harus istirahat" Kataku.
"Ya, Kau pasti Khawatir denganku ya ?" Tanya Kak Liam.
"Dah lah. Gak usah dijawab. Nanti malah kepedean" batinku.
Kami telah kembali ketempat Kakek dan Keesokan harinya,
Siang hari, Kami telah sampai di istana Dynantya.