LIAMARLO

LIAMARLO
Pertarungan 2



"Brakkkk!!!!!" Gevand menabrak Pangeran Zaverias dibelakangnya hingga tangan Pangeran Zaverias keluar garis.


"Pangeran Zaverias gugur!" Teriak Prajurit yang menjaga garis.


...***...


"Braak!!! Sruuukkk" Liam menyikut perut pangeran yang lain dan menarik senjatanya, dan senjata yang afa ditangan Gevand, serta Zaverias lalu dibuang keluar.


"Woi! Curang!" Teriak Gevand.


"Nggak ada aturan yang mengatakan tidak boleh membuang senjata lawannya!" Tegas Liam.


"Kek, lagi lagi Kak Liam membuat aturan sendiri" Lirih Laura.


"Ya, Dia memang pintar memanfaatkan keadaan" Kata Raja Dynantya.


"Ayo! Sisa tinggal empat lagi!" Batin Liam untuk menyemangati dirinya sendiri dan membetulkan kuda kudanya.


"Drap! Wusht!" Gevand dan tiga Pangeran lainnya menyerang dengan cara melepaskan tendangan, tinjuan dan tebasan senjata kayu mereka.


"TEP! PRAK!!! " Liam berhasil menghindar dari tinjuan dan tebasan pedang kayu tiga Pangeran, tapi tidak dengan tendangan Gevand yang memukul bagian kiri perutnya.


"Khukh!"


"Duagh!!! Bruakkkk!" Liam langsung menedang perut salah satu Pangeran itu hingga keluar dari batasnya.


"Ayo! Tinggal tiga lagi !" Tegas Liam dengan lantang.


"Duaggghh!!!!" Gevand langsung menedang keluar salah satu Pangeran yang berdiri didekat garis putih akibat tendangan Liam yang tidak sampai membuatnya keluar.


"Duagh!" Liam memukul tengkuk bagian belakang lawannya.


"Bruk!" Lawan Laim langsung jatuh pingsan.


"Cih! Pada akhirnya Kau curang juga Gevand" Kata Liam sambil melempar keluar lawannya yang tak sadarkan diri itu.


"Tidak ada yang namanya curang dalam bertarung! Drap!" Tegas Gevand sambil berlari Zigzag kearah Liam.


Liam mundur perlahan mendekat ke garis putih.


"Loh, Kek, Kenapa Kak Liam mundur kalau Dia ketendangkan Dia bisa gugur ?" Tanya Laura.


"Lihatlah dulu" Kata Raja Dynantya.


"Jump! Syuuuut" Gevand langsung berlari dan melompat Kearah Liam dan Liam langsung menghidar kesamping.


"Apa ! Bruk!!!" Gevand keluar.


"Selesai! Pangeran Liam lolos!" Ucap Prajurit itu.


"Curang !!! Kau Curang Liam!!! Ulangi lagi! Aku minta pertarungan ulang!!!" Teriak Gevand.


"Ingat, tidak ada yang namanya curang dalam bertarung" Liam mengulangi ucapan Gevand.


"Sialan!!!!! Graaaaa!!!!!" Teriak Gevand.


Liam berlari kearah Laura.


"Nah, Aku menang Kan ? Hehehe....." Tawa Liam.


"Nanti saja ya Kak. Malu kalo disini" Kata Laura.


"Harusnya Aku tidak memaksa sisialan ini" Batin Laura.


"Kek, Aku mundur untuk jadi Raja. Tolong jadikan Gevand saja sebagai rajanya, Dia yang bertahan sampai terakhirkan Kek" Pinta Liam.


"Kau yakin ? Tidak mau diposisi itu ?" Tanya Raja Dynantya.


"Iya Kek. Lagi pula Aku tidak berhak diposisi itu" Kata Liam sambil memegang perut kirinya yang terasa sedikit sakit akibat tendangan Gevand tadi.


"Lagi lagi, Dia begini" Raja Dynantya.


"Baiklah" Kata Kakek.


"Mohon perhatiannya!" Tegas Raja Dynantya.


Semua pandangan tertuju kapada Raja Dynantya.


"Karena suatu alasan, Pangeran Liam dinyatakan gugur dalam pertandingan ini dan Pangeran Gevand akan menjadi Putra Mahkota Dynantya !" Tegas Kakek.


"Apa?!" Semua orang terkejut kecuali Laura.


"Aku tadi tidak melihat Pangeran Liam melakukan kecurangan" Kata Prajurit yang menjaga garis.


Gevand mendengarnya.


"Baginda! Kenapa Pangeran Liam dinyatakan gugur?! Saya tidak akan menerima posisi itu bila Pangeran Liam mengugurkan dirinya sendiri!" Tanya tegas Gevand.


Liam memang melakukan hal itu dan Dia memang sengaja melakukannya.


"Memukul tengkuk? Apa itu termasuk larangan ?" Tanya beberapa Prajurit yang menjaga garis.


Prajurit yang menjadi pembaca acara melihat Kearah Raja Dynantya yang menganggukkan kepalanya.


"Iya, itu termasuk. Jadi, karena Pangeran Chile pingsan terlebih dulu sebelum Pangeran Gevand keluar . Maka, telah ditetapkan bahwa Pangeran Gevand yang telah memenangkan pertandingan ini" Kata Prajurit yang membacakan isi acara.


"Prok Prok" Suara tepuk tangan untuk Pangeran Gevand.


"Entah kenapa Aku tidak senang akan hal ini. Kau sengaja membuat dirimu gugurkan Liam ? Aku mengenalmu, Kau bukanlah orang yang ceroboh dan tidak sengaja memukul tengkuk orang" Batin Gevand.


"Baiklah, Karena acara hari ini telah selesai. Esok pengangkatan Pangeran Gevand akan berlangsung pukul 18.00. Terima kasih atas partisipasi cucu cucuku yang terbaik. Sekian" Salam penutup Raja Dynantya.


...***...


Diruang belajar.


"Grep!" Laura membayar janjinya.


"Aku senang Kak Liam berhasil memenangkannya" Kata Laura.


"Tentu saja. Terima kasih Laura, sudah mau menepati janjimu. Besok tinggal janjiku ya...." Kata Liam sambil membalas pelukan hangat Laura.


"Em.... Anu, Sampai kapan Kalian akan berpelukan didepan Saya ?" Tanya Hiro yang sudah menyiapkan buku pelajaran Laura.


"Berisik. Sudah kukatakan Kau tidak akan bisa melangkah sesenti pun kan didepan ku" Kata Liam yang memeluk Laura semakin erat.


Laura terasa sesak.


"Ah, Apa Pangeran berfikir Aku akan menjadi rivalnya untuk merebut adiknya ?" Batin Hiro yang baru sadar.


"Kak.... se saakkkk....." Lirih Laura sambil memukul mukul bahu Liam.


"Ah! Maafkan Aku!" Kata Liam sambil melepas pelukannya.


"Baiklah, sekarang Kita lanjut kepelajarannya" Kata Hiro.


"Sisanya nanti ya, Aku akan keluar dulu. Selamat Siang" Kata Liam dan langsung pergi.


"Baik Pangeran. Nggak usah kembali lagi" Kata Laura.


"Ya, Dah...." Kata Liam dan pergi.


"Baik lah Putri, Kita kepelajaran Bahasa...."


...***...


DI ISTANA NELZEFVIA


"HARUSNYA! AKU TIDAK MENIKAH DENGANMU!!!!!!" Teriak Istrinya Kyle dari ruangan pribadi Kyle.


"Aku kasihan pada Baginda Raja" Kata salah seorang pelayan yang melintas.


"Itu sudah karmanya Dia" Kata Pelayan yang satunya.


"PRANKKKKK!!!!!!" Suara barang dilempar dan pecah.


"Ayo pergi, Ratu sudah mulai mengila" Kata Pelayan itu dan langsung bergegas.


"Aku akan mengurus surat perceraiannya. Sekarang Kau pulanglah kerumah Ayahmu. Aku masih belum menyentuh apapun milikmu selama Kau menjadi Istriku" Kata Kyle dengan santai dan tetap fokus pada pekerjaannya.


"Tidak! Aku tidak ingin bercerai denganmu!" Tegas Istrinya Kyle.


"Lalu, Kau berkata tidak ingin menikah denganku kan ?" Tanya Kyle.


"Iya! Tapi! Aku tak ingin menjadi janda!!!" Tegasnya.


"Lalu kenapa Kau ingin cerai denganku bila tak ingin jadi janda ?" Tanya Kyle.


"Perhatikan Aku! Aku ini Istrimu, Aku ini mencintaimu. Kenapa sejak Kau menjadi Raja Kau tak pernah sedikitpun memperhatikanku ? Berbeda denganmu saat masih bertunangan denganku" Kata Istrinya Kyle.


"Jangan egois Viona. Aku juga tak ingin begini. Ini adalah tugasku sebagai seorang Raja. Kerajaan Kita sudah putus hubungan dengan Kerajaan Dynantya. Untung saja Raja Dynantya tidak menarik Academinya yang ada disini" Kata Kyle.


"Kau tak perlu memikirkan Kerajaan Dynantya. Masih ada Kerajaan Ayahku yang mau membantu Kita. Lain kali kalau Kyle sengang, mari piknik kecil kecilan di taman" Kata Viona sambil berjalan kearah Kyle.


Kyle tersenyum.


"Tentu. Tapi berjanjilah untuk tidak minta cerai lagi denganku. Aku tak ingin Kau meninggalkanku sendirian disini" kata Kyle yang masih fokus menandatangi dokumennya yang menumpuk.


"Tentu, Aku minta maaf" Kata Viona sambil memeluk Kyle dari belakang.


"Iya, Aku maafkan" Jawab Kyle sambil memegang tangan Viona.