LIAMARLO

LIAMARLO
MASA LALU bag.3 Arlo



Keesokan harinya, Arlo mendapatkan surat dari Ibunya.


"Yve ! Ada surat dari Ibu!" Panggil Arlo


Yve keluar dari kamarnya dalam keadaan mata yang sebam dan langsung duduk disofa tanpa berbicara satu kata pun.


Arlo mulai membaca surat itu.


"Ibu akan pulang hari ini. Kita harus memasakkan sesuatu untuk Ibu" Kata Arlo.


Yve berfikir itu tidak penting dan langsung berdiri kemudian masuk dikamarnya lagi.


Arlo menghela napas panjang karena hal itu dan langsung berdiri, kemudian berjalan kearah kamar adiknya.


Arlo mulai mengetuk pintu kamar adiknya sambil memanggil nama Yve.


Yve membuka pintu kamarnya.


"Mengenai kemarin, tolong maafkan Aku. Hari ini Ibu akan pulang, tolong jangan membuat Ibu merasa sedih atau kecewa" Kata Arlo.


Yve mendengarkan perkataan Arlo.


"Lagi pula, diluar sana masih ada banyak laki laki yang lebih baik darinya" Kata Arlo.


"Tentu, Aku memaafkanmu" Ucap Yve sambil tersenyum pada Arlo.


Yve, merencanakan sesuatu.


"Ah, Syukurlah. Terima kasih. Setelah ini, mari pesiapkan semuanya. Aku yang kepasar dan Kau yang menata rumah" Arlo membagi pekerjaan mereka.


"Tentu, serahkan yang dirumah padaku" Kata Yve.


"Baiklah, Aku langsung pergi kepasar" Kata Arlo.


Arlo mulai pergi kepasar untuk membeli semua keperluannya sebagai jamuan Ibunya.


Arlo sangat memuja dan sangat sayang pada Ibunya.


Setelah sampai pasar Ia kembali dirumah.


Saat itu, jam jatuh pada pukul 12.45.


Arlo baru selesai masak yang dibantu oleh Yve.


Arlo membawa makanannnya untuk Yve dan dirinya.


"Yve, makan ini dulu. Mungkin, Ibu akan telat datang- Yve, kancing bajumu dengan benar." Arlo terkejut melihat Yve yang lagi lagi mengumbar tubuhnya.


Dada Yve terlihat


Arlo memalingkan wajahnya dan menaruh makanan mereka.


"Kenapa Kak ? Aku ini kepanasan" Kata Yve sambil sambil mengibas ngibaskan keranya.


"Hah... Yasudah" Kata Arlo sambil mengambil makanannya dan duduk disofa.


Yve yang duduk dibawah ikutan duduk di sofa.


Yve mulai memakanan makanannya.


"Ini kurang garam Kak" Kata Yve.


Arlo langsung mencoba makanannya.


"Benar juga, Aku akan tambah garam dulu sebelum lupa" Kata Arlo sambil kembali ke dapur.


Yve mengikutinya.


Yve mulai menjalankan rencana buruknya pada Arlo.


Yve memeluk Arlo yang sedang menyipi makanan dari belakang.


Arlo terkejut.


"Yve, Apa yang Kau lakukan ?" Tanya Arlo.


"Aku adikmu, apa Aku tidak boleh memelukmu ?" Tanya Yve.


Arlo pun membiarkannya.


Arlo menambahkan garam.


Tangan Yve merabah ditempat yang lain.


Arlo sangat terkejut langsung melepaskan dirinya dari pelukan adiknya itu.


Yve diam ditempat.


"Apa Kau baik baik saja Yve ?" Tanya Arlo yang mengkhawatirkan keadaan adiknya.


"Memang Aku kenapa Kak ?" Tanya Yve yang pura pura polos.


"Tidak apa apa. Tolong tunggulah di depan" Kata Arlo.


"Baik Kak" Yve membalik badannya dan Ia terlihat tersenyum licik.


Arlo memang benar benar tidak beruntung memiliki seorang adik yang seperti Yve.


Arlo menghilangkan pikiran buruknya mengenai tidakan Yve barusan dan ia kembali kedepan.


Arlo melihat adiknya yang kesulitan menggelung rambut cokelat keemasannya.


Yve sengaja melakukan hal itu.


"Apa Kau sudah lupa cara menggelung rambut ?" Tanya Arlo sambil duduk di sofa.


"Aku agak kesulitan Kak. Tangan kananku tadi terkena pecahan piring saat mencuci" Kata Yve sambil menunjukkan telapak tangan kanannya yang terdapat goresan besar disana.


Yve memang terkena pecahan piring.


Dia benar benar memanfaatkan hal itu.


"Lagi lagi jangan ceroboh. Setelah ini, perban tanganmu" Kata Arlo sambil berdiri dan mengelungkan rambut adiknya.


Lengan bahu kiri Yve terbuka dan Arlo membetulkan.


Arlo benar benar terlihat seperti seorang Ibu dimataku.


Wkwkwkwk


"Jadi teringat masa kecil saat ibu baru pergi ya" Kata Arlo.


"Iya" Jawab Lirih Yve.


Arlo selesai mengelung rambut Yve.


"Terima kasih Kak. Aku menyayangimu" Kata Yve.


"Aku juga" Jawab santai Arlo sambil kembali makan.


Ia akan melancarkan rencana terakhirnya dan menunggu saat saat yang tepat.


"Hubungan Kami sangat baik. Aku ada rencana ingin melamarnya. Tapi, Aku menunggu restu Ibu" Kata Arlo.


Yve benar benar tak sudi bila Naysyla menjadi Kakak Iparnya.


Yve merasakan Aura milik Ibunya.


Tapi, tidak dengan Arlo, saat ini Arlo sedang menonaktifkan sihirnya.


Yve membuka semua kancing bajunya.


Arlo melihatnya.


"Apa Kau tidak malu membuka semua kancingmu didepan Kakak laki lakimu ?" Tanya Arlo sambil melihat makanannya dan memakan makanannya.


"Khukh!" tiba tiba Arlo tersedak.


Yve memberikan minumannya pada Arlo.


"minum dulu Kak" Kata Yve.


Hal ini, terjadi tanpa sengaja.


Arlo tidak tau kalau itu adalah Alkohol.


Arlo langsung menghabiskan minumannya itu segelas penuh.


"Hah.... Terima kasih. Minuman apa ini rasanya aneh" Kata Arlo yang wajahnya sudah memerah.


"Mangkannya Kak ! Kalau makan jangan sambil ngomong" Kata Yve.


Yve tidak tau kalau Arlo tidak bisa minum, minuman beralkohol.


Arlo menghentikan makananya dan memejamkan matanya karena terasa sangat pusing.


"Yve....., tutup pakaianmu dengan benar. Aku tidak suka Kau mengumbar tubuhmu dihadapanku ataupun dihadapan orang lain" Kata Arlo sambil menunduk.


Yve sadar nada bicara Kakaknya berubah.


Ia melihat Arlo.


"Apa Dia mabuk ? Diakan sifatnya mirip ayah, kenapa baru segelas saja sudah mabuk ?" Batin Yve.


Yve merasakan Aura milik Ibunya.


Ia melancarkan rencana terakhirnya.


Ia berdiri dan duduk disebelah Arlo yang sedang memejamkan matanya.


Yve memeluk Arlo.


Arlo membuka matanya.


"Apa yang Kau lakukan ?" Tanya Lirih Arlo.


"Aku ingin didekat Kak Arlo" Kata Yve.


Arlo berfikir adiknya sakit karena kejadian tadi malam.


"Yasudah, tidurlah disin-, Bruk! Dagh!" Arlo belum menyelesaikan kan ucapannya dan Yve langsung mendorong Arlo hingga kepala bagian belakang Arlo terhantuk pinggiran sofa dengan keras.


"Aduh... Kepalaku ini sudah pusing, kenapa dibuat pusing lagi ?" Tanya Arlo sambil melihat Yve dengan matanya yang terbuka sebelah.


Yve menindih i Arlo sambil membelakangkan rambut hitam Arlo yang menutupi sebelah mata Arlo.


"Boing boingmu terasa mengenai dadaku. Menyingkirlah, nanti bila Ibu datang dan melihat ini, Beliau akan salah paham" Kata Arlo sambil mendorong bahu adiknya.


"Biarkan. Mau merasakannya lagi ?" Tanya Yve sambil membuka kancing kemeja Arlo.


"Apa yang Kau lakukan ? Tanya Arlo sambil mengangkat kepalanya.


Yve memegang dada bidang Arlo dan mengelusnya.


"Kenapa Kau tampan sekali Kak ? Itu membuatku jengkel sekali" Kata Yve sambil mengusap wajah Arlo.


"Hehe, karena Aku mirip ibu" Kata Arlo sambi mendorong bahu Yve yang terus ingin menepel padanya.


"Kak, Apa Kau tidak tertarik padaku ?" Tanya Yve.


Arlo berhasil duduk.


"Bodoh sekali, Aku adalah Kakakmu. Aku tidak mungkin tertarik denganmu. Tapi, Aku tetap menyayangimu karena Kau adik kecilku" Kata Arlo sambil meringis dan memegang kepala Yve.


Pusing Arlo mulai menghilang karena tubuh Arlo otomatis menyembuhkan dirinya sendiri.


"Tep!" Yve memegang privasi Arlo.


"Besar ?!" Yve terkejut dan wajahnya sedikit memerah.


Arlo melihat kebawah.


"Yve, singkirkan tanganmu" Kata Arlo sambil memegang tangan Yve yang memegang Privasinya.


Yve tidak melepaskannya melainkan malah mencengkramnya.


"Ah! Yve ! Jangan membuatku marah" Kata Arlo sambil menarik tangan adiknya dan memajukan wajahnya.


Arlo merasa nyeri akibat dicengkram oleh Yve.


Yve melepaskannya dan kedua tangannya langsung menarik wajah Arlo, lalu mengulum bibir Arlo.


Arlo benar benar sangat terkejut.


Yve menjambak rambut hitam Arlo dan mengigit bibir Arlo yang Ia tarki sambil menjatuhkan tubuhnya disofa.


Arlo menarik kepalanyanya sediri agar terlepas dari adiknya.


Tak kehabisan akal.


Arlo langsung mencekik adiknya dan kedua tangan Yve yang baru terlepas langsung Ia pengang dikedua pergelangan tangan Yve menggunakan tangan kanannya.


Arlo melepas cekikannya.


"Yve ! Apa Kau sudah gila ?!" Arlo sangat marah pada Yve.


Ibu Arlo datang dan membuka pintu.


Ia melihat Arlo dan Yve diposisi yang seperti itu.


Ibunya langsung menjatuhkan barang bawaannya.


Arlo dan Yve melihat kearah pintu.


"Ibu !" Arlo sangat terkejut.