LIAMARLO

LIAMARLO
Malam pengangkatan Gevand bag.2



"Baginda, biar Saya saja yang mendatanginya" Bujuk Gevand sambil tersenyum.


"Oh, tentu kembalilah dengan cepat. Para tamu sudah mulai berdatangan" Kata Raja Dynantya.


Gevand mendatangi Liam. Ia, tau sesuatu tentang Liam yang berambut hitam.


...***...


Laura yang sudah berada dianak tangga terakhir melihat Gevand yang mendekat.


"Selama malam Pangeran Gevand, semoga malam ini berjalan dengan lacar" Sapa Laura sambil membungkuk dan sedikit mengangkat gaun birunya.


"Terima kasih" Jawab Gevand sambil sedikit membungkuk dan menaruh tangan kanannya nya didadanya dan tangan kiri di belakang punggungnya.


Laura dan Gevand berdiri dengan tegak.


"Anda mau kemana Pangeran ?" Tanya Laura sambil menutup kipas ditangannya.


"Menemui Liam" Jawab Gevand.


"Ah, anu Pangeran, lebih baik jangan berada didekatnya dulu. Aku akan menemui Kakek untuk berbicara dengan Kak- Pangeran Liam" Kata Laura yang memaksa senyumannya.


"Putri, ada baiknya jangan. Saya paham kenapa Anda ingin menemui Kakek" Lirih Gevand.


Laura sangat terkejut dan sedikit membelalakan matanya.


Malam hari yang lalu saat Gevand menemui Laura, Ia ingin mengatakan hal ini dengan Laura.


Sebab, dimalam Dera menghilang, Gevand yang sedang duduk didekat danau melihat Liam yang rambutnya berubah menjadi hitam sambil mengeluarkan pedang biru yang sangat bersinar.


Saat Gevand ingin mendatangi Liam tiba tiba Liam langsung melihat kearahnya dengan matanya yang berubah menjadi merah menyala dan menyerangnya dengan serangan acak yang belum pernah Gevand lihat saat berlatih dengan Liam di Academi maupun Di ruang pelatihan Dynantya.


Saat Liam akan melesatkan tebasan pedangnya, Gevand yang berdiri di tepian danau langsung melompat ke danau yang sangat dalam dan airnya yang sangat dingin itu.


Tak lama setelah Gevand menceburkan dirinya ke dalam danau itu, Liam langsung menghilang dari tempatnya.


Setelah Ia dipermukaan, Gevand langsung naik kedarat dan berlari kekamarnya, serta cepat cepat mengganti bajunya untuk memperingati Laura.


"Anda, tau apa yang terjadi ?" Tanya Laura.


"Saya tidak tau apa yang terjadi. Tapi, Saya sudah melihatnya. Untuk sekarang, percayakan Liam pada Saya" Kata Gevand sambil mengangguk.


"Baiklah. Tolong berhati hati" Kata Laura sambil pergi keteman temannya.


Gevand menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan.


"Oi Liam~~" Sapa bernada Gevand sambil mendatangi Liam.


"Oh! Oi juga..." Liam tidak tau nama Gevand tapi, Ia ingat dengan wajah Gevand yang sempat Ia serang malam itu.


"Tep!" Gevand berusaha sesantai mungkin sambil menaruh lengan kirinya dibahu Liam.


"Hei Liam, Kau kenapa pakai kaca mata hitam. Kakek pikir Kau orang gila loh" Kata Gevand sambil membalik jalan Liam dan kembali menaiki tangga bersama Liam.


"Eh, Benarkah ? Kakek tua itu mengataiku gila ?" Tanya Liam yang mengikuti jalannya Gevand.


"Iya, Dia juga bertanya kenapa rambutmu disemir hitam" Kata Gevand.


Liam berhenti.


"Apa ini aneh ? Rambutmu sendiri berwarna hitam" Kata Liam.


"Ya! Tidak aneh sih, hanya saja Kakek sedikit heran denganmu. Sekarang, bilas rambutmu agar tidak hitam begini. Lagipula, Liam itu sangat cocok dengan rambutnya yang putih. Mata birunya akan mencolok dan terlihat sedikit lebih baik" Kata Gevand sambil kembali membawa Liam agar mau berjalan.


"Tunggu ini mau kemana ?" Tanya Liam sambil melepas lengan Gevand.


"Mengantarkanmu untuk menghilangkan semir hitammu" Jawab Gevand.


"Ini rambut asliku" Kata Liam sambil membelakangkan rambutnya yang berwarna hitam.


"PFFTT!" Gevand sengaja menahan tawanya.


"Apa yang lucu ?" Tanya Liam.


"Sejak kapan rambut aslimu berwarna hitam ? hahaha......, Jangan membuatku tertawa! buk! buk!" Kata Gevand sambil tertawa dan menepuk nepuk pungung Liam.


"Sekarang, lepaskan kaca matamu. Kau terlihat aneh sekali. Malam malam memakai kaca mata" Kata Gevand sambil melepaskan kaca mata yang dipakai oleh Liam.


"Tunggu!" Tegas Liam sambil memegang tangan Gevand yang telah melepaskan kaca mata hitamnya.


"Eh....? Loh ? Kenapa matamu ?" Tanya Gevand.


"Cih!" Liam langsung pergi keatas dan meninggalkan Gevand.


"Hah....... jantungku rasanya ingin copot!!!!! Aku takut sekali!" Batin Gevand sambil melihat tangannya yang memegang kaca mata hitam yang gemetaran.


Gevand melihat kebelakang, dan mata Gevand bertemu dengan mata Scarlette dan mata Laura.


"Baiklah! Demi kepercayaan dan keselamatan Tuan Putri dan Kakek!" Batin Gevand sambil melangkahkan kakinya untuk kembali ke Liam.


"Tap!" Gevand melangkah i dua anak tangga sekaligus dengan setengah berlari.


Ia melihat Liam yang masuk kekamar Laura.


"Liam!" Panggil Gevand yang memberanikan diri untuk menemui Liam yang sangat Ia takuti untuk saat ini.


"Apakah Dia benar benar bukan Liam yang Kukenal ?" Batin Gevand sambil mempercepat langkahnya dan langsung berlari kearah kamar Laura.


"Siapa orang itu ? Kenapa Dia terlihat seperti sangat mengenalku ? Apa Dia masih kerabatku ?" Batin Liam yang sangat berhati hati dengan tindakannya untuk saat ini.


"Tes...." Lagi lagi Dia menanggis.


Liam mengusap Air matanya yang membanjiri pipinya.


"Baiklah. Hanya malam ini saja Aku memberimu kesempatan. Jaga tubuh ini baik baik. Kau sangat menyedihkan diriku. Jangan lupa untuk mengucapkan selamat tinggal pada orang yang Kau sayangi" Lirih Liam sambil menyeringai dan duduk dikasur.


Ia memejamkan matanya.


"Aku masih belum siap" Lirih Liam sambil membuka matanya yang kembali berbola mata biru dengan pupil merah.


Liam meneteskan Air matanya.


Rambut Liam masih berwarna hitam.


"Kreek" Gevand membuka pintu kamar Laura.


"Liam...." Panggil Gevand dengan waspada dan masuk kemar Laura yang telah Ia buka perlahan.


Liam menunduk sambil menanggis dikamar Laura.


"Hei Liam, Apa Kau baik baik saja ?" Tanga Gevand sambil mendekat ke Liam.


"Gevand, Kau adalah sahabatku. Apa yang harus Aku lakukan ?" Tanya Liam yang mengusap air matanya dan tidak berani melihat Gevand.


Gevand menyadari, cara bicara Liam berubah dengan cara bicaranya yang tadi.


"Apakah Dia benar benar Liam ? Tapi warna rambutnya" Batin Gevand sambil berhenti didepan Liam.


"Apa maksudmu bodoh ?" Tanya Gevand sambil berjongkok.


"Bila hari ini, hari terakhirmu didunia ini. Apa yang akan Kau lakukan ?" Tanya Liam sambil melihatke Gevand yang berjongkok.


Gevand membelalakan matanya melihat warna bola mata Liam yang kembali berwarna biru.


"Kau pasti sudah menyadarinyakan ? Dia muncul saat Aku bersama Laura. Aku takut Dia melukai Laura" Lirih Liam sambil tersenyum tipis.


Gevand berdiri.


"Duaghh!!!!" Gevand langsung memukul pipi Liam.


Liam termanggun ditempat.


"Kenapa Kau memukulku ?" Tanya Liam sambil memegang pipinya yang terasa sakit.


Gevand menarungkan alisnya.


"Sadarlah sialan! Apa Kau akan seperti ini dihari penangkatanku menjadi Putra Mahkota Dynantya ?!" Tanya tegas Gevand.


"Kau tidak seperti Liam yang kukenal!" Tegas Gevand.


Bibir Liam langsung bergetar karena menahan tanggisnya.


"Tep!" Gevand memegang bahu kiri Liam.


"Kau memang Pangeran tercengeng yang kukenal. Basuh wajahmu dan ayo turun. Para tamu dan yang lain sudah menungguku. Kau merepotkan saja" Kata Gevand.


"Gevand, andai kalau Kau seorang perempuan. Aku pasti akan memelukmu dan menanggis dibahumu" Kata Liam sambil meringis dan mengusap air matanya.


"Idih jangan membuatku geli. Cepatlah turun, Aku akan turun duluan" Kata Gevand yang sedikit merinding mendengar ucapan Liam yang terdengar homo di telinganya.


"Ya, Aku menyusul" Jawab Liam sambil berdiri.


Liam, memang tidak pernah menyembunyikan apapun yang menjadi rahasianya kepada Gevand, termasuk menceritakan tentang dirinya yang bukan keluarga asli Nelzefvia. Ia sangat mempercayai Gevand, begitu pun dengan sebaliknya. Liam juga, selama tidak berada dikamar Laura, Ia berada dikamar Gevand dan menumpang tidur disana.


Kebiasaan Liam setelah Ia mengalami kecelakaan itu, Ia tidak pernah berani untuk tidur sendirian dikamarnya.


Saat di Nelzefvia dulu, setelah kematian Ibu angkatnya atau Ibu kandungnya Laura, Liam selalu tidur ditaman kesayangan ibunya kalau tidak ketiduran di hutan saat Ia merendamkan dirinya di kolam depan rumah Arlo.


Liam tidak pernah tidur dikamarnya sendiri setelah keluar dari Akademi yang diceritakan sekamar dengan Gevand.


Liam memasuki Academi Dynantya saat usianya mengijak 10 tahun dan langsung masuk kekelas tingkat Lima dasar setelah empat tahun masa pemulihan dan sekolah privatnya yang telah berjalan empat tahun.


Sedangkan Gevand adalah murid teladan dan sempat menduduk i siswa terpintar di akademi Dynantya. Kemudian, Gevand langsung dinaikkan tingkat Lima dasar seperti Liam.


Dan saat kemunculan Liam di Academinya, Gevand sempat merasa tak suka dengan Liam yang merebut posisinya tapi setelah perkelahian mereka yang tidak ada pemenangnya dan berakhir mendapatkan hukuman sekamar selama tiga semester yang tersisa di tingkat dasar.


Ya, walau pun mereka berakhir menjadi akrab dan bersahabat seperti saat ini. Ini semua berkat hukuman itu.


...***...


Tak Lama kemudian, di tempat Arlo.


Arlo berdiri dari duduknya.


Energi sihir Arlo telah pulih. Ia merasakan adanya aura kehidupan yang memasuki hutan dan aura kehidupan yang samar samar.


"Apa yang mereka lakukan diwilayahku ? Apa mereka orang orang Dyantya ?" Tanya Arlo.